Pangeran Surjonegoro Bupati Pertama di Bangkalan

Bupati pertama di Bangkalan adalah Raden Kasim (Hasim) alias Pangeran Surjonegoro, Putra dari Sultan Tjokroadiningrat II, Paman Saudara Ayah dari Panembahan Tjokroadiningrat VIII, yang kemudian mendapat gelar Pangeran Tjokroadingrat.






Sebagai Adviseur ditempatkan di Madura (di Pamekasan) seorang Residen bernama HJ. Van der Tuuck. Pada waktu itu diatur oleh GG. Dengan beslitnya tanggal 22 Agustus 1885 Nomor 2/c, yang menurut pengesahan Radja Belanda sebagai berikut :


  1. Pencabutan Vorsten Bestuur atau Zelfbestuur di Madura dan Madura dipecah menjadi dua Kabupaten yaitu Bangkalan dan Sampang, yang ada di bawah perintah Residen Madura.
  2. Tanah Pertjaton untuk anggota barisan yang telah pensiun, dicabut.
  3. Anggota-anggota keluarga Kerajaan Madura yang tadinya mempunyai tanah-tanah (desa-desa) sebagai apanage, dicabut apanagenya dan diganti uang kerugian yang ditaksir hasil tahunan menurut besar kecil tanahnya (onvervreemdbare persoonlijke schadeloosstelling).
  4. Menteri-menteri dari Kerajaan Madura yang lampau dicanut tanah pertjatonnya. Mereka diberhentikan dan diberi uang kerugian dari tanah pertjatonnya, pemberian tersebut bernama onderstand (tunjangan).
  5. Upacara-upacara kerajaan Madura yang lampau kepunyaan siapa yang menjadi Panembahan di Madura, juga barang-barang Pemerintah Madura yang lampau yang berupa tanah atau bangunan (onroerende goederen) diambil oleh Pemerintah Belanda. Upacara-upacara tersebut diatas sampai sekarang ditaruh di Musium di Jakarta.
  6. Barisan Madura ditetapkan tetapi ada dibawah pimpinan langsung dari Pemerintah Belanda, sedangkan tanah-tanah pertjaton dari mereka yang termasuk anggota keluarga Raja-Raja Madura yang lampau beserta Menteri-Menterinya yang duduk dikalangan anggota Barisan Madura juga dijabut dan diganti dengan uang tunjangan (onderstand) dari Kas Negeri.
  7. Sejak tanggal 1 Nopember 1885 diangkat :

  • Bupati Pertama di Bangkalan adalah Pangeran Surjonegoro (yang telah tersebut diatas).




  • Bupati Pertama di Sampang adalah Raden Ario Kusumoadiningrat (Raden Bahaudin alias Raden Pandji Singosari yang terkenal dengan nama Kanjeng Ronggo).


Jumlah dari tiga macam uang schadeloosstelling yang tersebut diatas, untuk Kabupaten Bangkalan saja sebesar Rp. 264.030,- setahun. Setelah 50 tahun kemudian maka disebabkan peraturan-peraturan pemerintahan penjajahan hanya tinggal sejumlah Rp. 66.000,- setahun. Disebabkan oleh peraturan-peraturan diatas, segala lapisan rakyat merasa kecewa laksana madat (candu) yang mula-mula diberikannya dengan Cuma-Cuma untuk dibikin madat, maka setelah meminumnya tidak dapat melepaskannya, lalu dicabut dan dipaksa untuk membelinya sendiri. Juga hal tersebu berlaku juga di daerah Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Untuk menolak peraturan-peraturan tersebut, rakyat tidak mampu karena kekuatan militer ada dibawah pimpinan langsung Belanda, untuk mengharap dari pimpinan daerah juga tidak bisa karena mereka juga dipecah belah oleh politik penjajahan yang diluarnya kelihatan kelihatan sebagai politik persatuan, juga karena mereka dibikin mewah dan dibimbing kedalam kehancuran yang mereka sendiri tidak mereka sadari.

Kemudian Rumah Keraton Bangkalan oleh Pemerintah Belanda dianggap bouwvalling  (tidak dapat didiami karena rusak). Karena pada tahun 1891 Rumah Kraton Bangkalan dirusak dan diganti dengan rumah Kabupaten biasa. Anggapan bouwvalling tadi sebenarnya ditujukan kepada rakyat, apa yang merupakan kebesaran ketika sebelum pemerintahannya dan agar rakyat tidak mengenal lain kebesarannya atau keindahan dari pemerintahannya sendiri. Inilah rupa-rupanya pemerintahan penjajahan. Orang arab bilang “Naudhubilla min dhalik” (mudah-mudahan kita dijauhkan dari pada itu).




Maka setelah beberapa tahun Pangeran Surjonegoro menjadi Bupati di Bangkalan Beliau mulai diperkenankan memakai gelar Pangeran Tjokroadiningrat.



Pada tahun 1894 Raden Demang Majangkoro dengan Barisan Bangkalan dikirim ke Lombok untuk ikut serta dengan pasukan Belanda berperang disana. Bupati Bangkalan (Pangeran Tjokroadiningrat) juga mendapat perintah dari Belanda agar mengumpulkan 1.000 orang Madura untuk dikirim ke Lombok untuk pekerjaan kuli disana. Pengiriman itu dilakukan dibawah pimpinan Raden Ario Surjengalogo. Raden demang Majangkoro setelah kembali dari Lombok diangkat sebagai “Officier in de Orde van Oranje Nassau” dan diberi gelar Ario. Beliau pada tahun 1901 mendapat pendiun dan meninggal di tahun 1906.



Sebagai tanda penghargaan Bupati Bangkalan (Pangeran Tjokroadiingrat) oleh Raja Belanda diangkat “Officier der Orde van Oranje Nassau”. Di tahun 1905 Beliau pensiun dan pada saat Beliau diperkenankan memakai “Songsong Djeni” (payung yang didjet dengan warna kuning), Beliau meninggal pada hari Selasa tanggal 28 Dzul Kaidah Tahun 1848 H atau 1916 Masehi di usia 86 tahun dan jenazahnya dimakamkan di Kuburan Mlajah Kelurahan Mlajah Bangkalan..[DI]


Dikutip dari Sumber:
Sejarah Tjaranya Pemerintahan Daerah di Kepulauan Madura Dengan Hubungannya

Photo Koleksi : Bangkalan Memory, KITLV

0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: