Pemerintahan Cokroadiningrat V di Bangkalan

Pada tahun 1762 di Semarang diadakan konfrensi dimana semua daerah Bupati pesisiran, waktu itu Setyoadiningrat berganti gelar Cokroaningrat dan didalam babad terkenal dengan gelar Panembahan Cokroadiningrat V. Ia diangkat menjadi Bupati Wadhono di Bangwetan yang wilayahnya dari Madiun ke Blambangan (seperti wilayah propinsi Jawa Timur) ia mempunyai tiga orang isteri ialah  : Ratu Maduratno, Ratu Adipati dan Ratu Lor, karena perkawinan puteri-putrinya ia mempunyai menantu Adikoro V dan Raden Alsari bergelar Raden Tumenggung Ario Cokroadingrat atau orang menyebutnya “Ghung Seppo” dalam peperintahan Cokroadiningrat V keadaan Negara aman dan tentram tidak ada peperangan, ia meninggal dunia pada tahun 1770 dengan diberi gelar Panembahan Sidho Mukti jenazahnya dimakamkan di Air Mata.


Ia diganti oleh Raden Tumnenggung Mangkuadiningrat adalah anak dari putera tertua yang telah meninggal dunia dengan gelar Panembahan Adipati Setyoadiningrat dalam konferensi para Bupati didaerah Pesisiran Semarang ia merobah namanya dengan Panembahan Cokroadiningrat VI (yang terkenal juga dengan Panembahan Tengah).

Pada tahun 1780 ia meninggal dunia dan dikebumikan di Air Mata yang mengganti di Bangkalan ialah saudara dari ayahnya dengan gelar Panembahan Adipati Cokroadiningrat VII, pada suatu waktu tahun 1800 timbulah peperangan antara Belanda dan Inggris. Kompeni meminta tolong bantuan pasukan kepada Cokroadiningrat VII ia mengirim 500 orang tentara Madura ke Batavia yang dipimpin oleh Puteranya yang bernama Raden Tumenggung Mangkuadiningrat, karena jasa-jasanya Mangkuadiningrat mendapat tanda jasa dari Kompeni sebuah Baki dari Emas yang sekarang ada di Museum Jakarta. Pada waktu pendudukan Inggris di Madura Cokrodiningrat VII menerima gelar Sultan Bangkalan I ia diangkat menjadi Bupati Wadhono Bangwetan.

Untuk membalas rasa dendamnya kepada Kompeni Belanda ialah karena neneknya (Pangeran Cakraningrat IV) dibuang ke Kaap de Goede Hoop, maka ia menangkap semua pegawai Kompeni yang ada diwilayah kekuasaanya dan diserahkan kepada pemerintah Inggris.


Sultan Bangkalan I meninggal pada tahun 1815 dan dimakamkan juga di Air Mata, dalam tahun 1815 Pangeran Adipati Setyoadingrat III oleh Raffles (wakil pemerintah Inggris di Indonesia) diangkat sebagai ganti ayahnya dengan gelar Sultan Cokroadiningrat II atau disebut Sultan Bangkalan II. Dalam tahun ini juga pemerintah Inggris mengembalikan kekuasaannya di pulau-pulau Nusantara kepada Kompeni Belanda, selanjutnya tentara Madura sering diminta bantuan oleh guna memerangi pemberontakan-pemberontakan misalnya, pemberontakan Raden Bagus Idum di Cirebon, perang Bone, perang di Ponegoro, perang Jambi, perang Bali dan sebagainya.

Karena jasa-jasanya maka Raja Madura diberi Bintang jasa oleh pemerintah Belanda, dan selain itu kerajaan-kerajaan di Madura (Bangkalan, Sumenep dan Pamekasan) dianggap sebagai teman-teman sederajat, selain dari pada itu di ijinkan adanya Instansi Militer yang disebut “Corps barisan“.


Dalam tahun 1847 setelah 34 tahun memegang pimpinan pemerintahan maka Sultan Cokroadiningrat II meninggal dunia dan dimakamkan di belakang masjid kota Bangkalan, setelah Sultan Cokroadiningrat II meninggal dunia dan diganti puteranya yang bernama Pangeran Adipati Setyoadiningrat IV dan selanjutnya bergelar Panembahan Cokroadiningrat VII dan pada tahun 1862 ia meninggal dunia dan juga dimakamkan dibelakang Masjid Agung Bangkalan.


Panembahan Cokroadiningrat VII diganti oleh puteranya yang bergelar Panembahan Cokroadiningrat VIII. Pada tahun 1882 ia meninggal dunia dengan tidak menurunkan putera laki-laki untuk ditunjuk sebagai gantinya. Karena itu adalah suatu kesempatan bagi Pemerintah Hindia Belanda untuk menghapuskan Kerajaan Bangkalan dan diganti dengan Jabatan Bupati yang langsung dibawah pimpinan Belanda.



Diketik Ulang Oleh :
Bangkalan Memory

Dari Sumber :
Buku Selayang Pandang Sejarah Madura karangan DR. Abdurrahman


0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: