Proses Terjadinya Pulau Madura

Dalam Negara Kertagama (balada XV, ayat 2) ada pernyataan bahwa Madura baru terpisah dari Jawa pada awal abad ke-3 Masehi. Apakah ini benar ? Mungkin sukar membuktikannya, tetapi pemisahannya diyakin hanya masalah susut-genang laut saja, bukan karena peristiwa tektonik. 

Secara geologi, perbukitan gamping di Rembang dan area sebelah utara Surabaya (ada gamping Kujung dan Paciran) masih menerus ke Pulau Madura, terutama sebelah utaranya. Maka, Madura sebenarnya masih bagian jalur geologi sebelah utara Jawa Timur. Dari Rembang di barat sampai area Sakala di sebelah timur Kangean merupakan jalur sesar sinistral besar bernama RMKS (Rembang-Madura-Kangean-Sakala) Fault Zone. Sesar yang terjadi sesudah Miosen Tengah ini juga merupakan jalur deformasi inversi yang kuat dengan ditandai betapa banyaknya flower structuring sepanjang jalur itu. Pulau Madura, adalah pulau yang menderita pengangkatan paling kuat dari RMKS FZ tersebut. Dengan cara terangkat paling tinggi melebihi jalur sebelah barat (Rembang-Pangkah) dan sebelah timur (Kangean-Sakala) maka Pulau Madura muncul dari laut dan menjadi pulau. 


Dari Jalur Rembang-Sakala itu, sebenarnya Pulau Madura yang muncul pertama, yang lainnya masih laut dangkal, baru kemudian menyusul area Rembang-Pangkah muncul dan area Kangean-Sakala. Maka, Pulau Madura sebenarnya tak pernah memisahkan diri dari Jawa dalam gambaran retak lalu hanyut, ia memisahkan diri dari jalur Jawa karena terangkat lebih dulu dibandingkan yang lain.

Mengapa Pulau Madura terangkat paling kuat. Sebab, selain karena deformasi inversi, ia juga naik melebihi yang lain oleh gaya isostasi untuk mengimbangi area laut Selat Madura di sebelah selatannya yang merosot dengan cepat sebab merupakan bagian paling tenggelam dari Kendeng Deep, selain ia secara tektonik pun dibebani oleh jalur deformasi inversi Kendeng di sebelah utara Pasuruan sampai Situbondo. Siapa yang pernah bekerja di area Selat Madura tentu tahu bahwa batugamping Kujung di sini baru ditemukan di kedalaman sesudah 4000 meter, sementara di utara Pulau Madura batuan yang sama justru tersingkap. Nah, suatu ekstremitas beda tinggi dalam geologi pada jarak yang tak terlalu jauh.

Mengapa alur Jembatan Suramadu aman atau relatif statik dibandingkan alur penyeberangan lain, misalnya Selat Sunda ? Sebab alur Surabaya-Kamal tidak berposisi di "engsel busur kepulauan". Namanya engsel, tentu suka bergerak, Surabaya-Kamal tak punya engsel seperti di Selat Sunda. Bagaimana dengan reaktivasi RMKS Fault Zone ? Alur Surabaya-Kamal di sebelah selatannya, bukan di dalam jalur sesar ini. Lagipula, tak ada bukti reaktivasi RMKS Fault Zone pada masa kini. 



Oleh : Awang Satyana

Photo Koleksi : Bangkalan Memory

0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: