Tampilkan postingan dengan label BENDA SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BENDA SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Februari 2019

Asal Muasal Arca Shiwa di Dusun Mincay Desa Patenteng

Desa Patengteng merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Modung Kabupaten Bangkalan yang perlu mendapatkan perhatian kita semua dalam hal peninggalan sejarah dimana Desa Patengteng berkaitan erat dengan terjadinya prahara antara antara kerajaan Daha dan Tumapel (Kediri dan Singasari).

Menurut informasinya bahwa konon pasukan Tar-Tar setelah dikalahkan oleh Majapahit dan dipukul mundur hingga akhirnya tercerai berai, bahkan sebagian dari mereka ada yang terdampar sampai di Desa Patengteng yang dulunya bernama Mincay. 

Nama Patengteng sendiri diduga sebagai nama yang berasal dari bahasa China, yaitu Paiting ting. Sebaran kelompok etnis yang menghuni Mincay selanjutnya dikenal sebagai kaum yang bercocok tanam padi dengan menggunakan sumber air yang ada. Pasukan Tar-Tar tersebut merupakan sekelompok orang China. 

Selanjutnya orang-orang cina tersebut bermaksud untuk mendirikan sebuah kerajaan kecil didusun Mincay. Lambat laun akhirnya orang China tersebut mulai mendirikan kerajaan. Kepercayaan yang dianut oleh sekelompok orang China tersebut adalah agama Hindu. Mereka mulai membuat sebuah arca yang bentuknya berbeda-beda dan menyerupai dewa. Dalam agama Hindu, Trimurti (atau Tritunggal Hindu) adalah tiga aspek Tuhan yang beraliran Waisnawa yang memuja Wisnu secara khusus.

   


Arca-arca tersebut dipercayai sebagai dewa yang bisa memberikan kesejahteraan dan kemakmuran dalam hidupnya. Ritual yang dilakukan adalah menyembah arca-arca tersebut dengan maksud berdoa untuk meminta keselamatan dari segala bahaya. Akan tetapi ritual dan tradisi yang dilakukan oleh sekelompok orang China tersebut kurang diterima baik oleh warga setempat dusun Mincay dan beberapa dusun lainnya di Desa Patengteng tersebut. 

Hal ini mengakibatkan masyarakat di dusun Mincay merasa resah dan takut dengan keberadaan sekelompok orang China tersebut yang akan menyebarkan agama Hindu kepada warga di dusun Mincay Desa Patengteng. Warga dusun Mincay yang mayoritas beragama Islam  berusaha untuk membujuk orang-orang China tersebut untuk beralih memeluk agama Islam dan kalau tidak mau maka warga Desa Patengteng akan membunuhnya, namun mereka menolaknya bahkan orang-orang China tersebut malah membunuh warga Dusun Mincay.

Akibatnya masyarakat Dusun Mincay marah dan terjadilah pertumpahan darah di dusun tersebut yang mengakibatkan kedua belah pihak ada yang terluka dan meninggal. Karena jumlah warga Dusun Mincay lebih banyak akhirnya orang China tersebut menyerah, namun sebelum mereka ditangkap mereka berkata "sebelum kami dibunuh, ijinkan kami untuk memeluk arca yang kami sembah terlebih dahulu". Arca yang dimaksud adalah patung emas yang besar yang dipercaya dapat melindunginya dari bahaya. Sebelum dibunuh oleh warga Desa Patengteng, akhirnya orang China tersebut meloncat ke dalam kobaran api yang sangat besar dan akhirnya meninggal.

Proses kematian dengan meloncat ke dalam kobaran api yang besar tersebut dipercayai oleh orang China yang beragama Hindu bahwa mereka akan langsung berengkarnasi setelah meninggal. Tetapi, ada pula sebagian memilih untuk melarikan diri dari Desa Patengteng karena takut akan dibunuh oleh warga setempat.

Di dusun Mincay tersebut banyak ditemukan kuburan orang China yang letaknya dimana-mana. Namun menurut salah penuturan warga Dusun Mincay yang pernah menggali kuburan orang China tersebut ternyata didalamnya tidak terdapat apa-apa (mungkin sudah menjadi tanah karena kejadiannya memang sudah lama sekali). Selain ditemukan beberapa kuburan, juga ditemukan beberapa arca Shiwa yang diduga arca laki-laki, kemudian juga ditemukan sepasang Lingga Yoni dan juga sebuah lumpang (lesung).  



Dahulunya lumpang tersebut dipercaya oleh warga Dusun Mincay dapat memberikan keturunan. Dengan cara pasangan suami istri datang ketempat lumpang tersebut dengan membawa air dan memasukkan air tersebut kedalam lubang lumpang yang ada alu (semacam pemukul). Dari air yang dimasukkan kedalam lumpang tersebut kemudian ditaruh dimangkuk dan diminum dengan berdoa ingin diberi keturunan. Sekarang ini, kebiasaan tersebut sudah tidak dipercayai lagi dan sudah ditinggalkan, meskipun ada juga yang 1 atau 2 orang mempercayainya.

Saat ini ketiga benda bersejarah tersebut masih berada ditempatnya masing-masing yaitu dusun Mincay desa Patengteng meskipun kini kondisinya sudah tidak untuh seperti dahulu lagi. Benda peninggalan tersebut menjadi saksi bisu bahwa di Desa Patengteng khususnya di Dusun Mincay memiliki sebuah sejarah yang cukup menarik untuk digali kebenarannya lebih dalam lagi. 

Dengan ditemukannya benda-benda bersejarah tersebut, sudah seharusnya bagi kita untuk merawat dan menjaga benda tersebut sebagai bentuk kepedulian kita terhadap peninggalan sejarah karena merupakan salah satu cagar budaya di Kabupaten Bangkalan yang harus dilindungi khususnya di Dusun Mincay Desa Patengteng.. (IDR)


Sumber Photo : patengteng.blogdesa.net
Sumber Informasi : Penuturan warga setempat dan media online patengteng.blogdesa.net
Share:

Minggu, 01 Mei 2016

Sekilas Tentang Peneng atau Plombir di Bangkalan

Peneng mulai diperlakukan di Indonesia sejak tahun 50an, demikian juga di Kota Bangkalan baru diberlakukan pada tahun 60-an. Ketika itu bentuknya masih berupa surat yang harus dibawa disaat bepergian menggunakan sepeda (kalau saat ini mungkin sama dengan STNK kendaraan bermotor). Baru memasuki tahun 70-an sudah berubah menjadi stiker, hal ini dimaksud untuk mempermudah pemeriksaan.

Share:

Senin, 19 Oktober 2015

Sabtu, 23 Mei 2015

Sejarah The Tjakraningrat Bell atau Lonceng Tjakraningrat

Sejarah tentang asal usul Bell yang ada di Jawa di 18 dimana dalam menterjemahkan tiga baris Jawa prasasti bell tersebut,  bahwa bell tersebut berspekulasi pada sejarah, maknanya simbolis dari bell tersebut dibuat di daerah Gresik yang kemudian di lempar/ditempatkan di Gresik, Surakarta dan Madura.



Share:

Rabu, 17 Desember 2014

Sekilas Tentang Bejana Perunggu Yang Ditemukan Di Sampang

Bejana Perunggu, ditemukan di Indonesia hanya dua buah, yaitu di Sumatra dan Madura. Bejana perunggu berbentuk bulat panjang seperti kepisi atau keranjang untuk tempat ikan yang diikatkan di pinggang ketika orang sedang mencari ikan. Bejana ini dibuat dari dua lempengan perunggu yang cembung, yang diletakan dengan pacuk besi pada sisi-sisinya. Pola hias pada bejana ini tidak tidak sama susunannya. 


Share:

Jumat, 12 September 2014

Betoh Cenneng Desa Jaddih Barat Kecamatan Socah

Perjalanan kami dalam menyusuri Jejak Sejarah yang ada di Kabupaten Bangkalan, membuat kami melangkahkan kaki ke suatu tempat yang menurut penuturan babarapa warga setempat berada di lokasi Desa Jaddih Barat Kecamatan Socah Kabupaten Bangkalan merupakan tempat dimana terdapat sebuah batu besar yang apabila di pukul terdengar bunyi lonceng. Batu tersebut dinamakan "Betoh Cenneng".

Kebanyakan dari para pemerhati pasti bertanya-tanya, Apa itu Betoh Cenneng? Dan mengapa dikatakan Betoh Cenneng? Betoh Cenneng yang terdiri dari dua kata, kata Betoh yang berarti Batu dan kata Cenneng yang merupakan sebutan dari Batu ini. Nama Betoh Cenneng di dapat dikarenakan Batu keunikan tersendiri, berbeda dengan batu lainnya yang ketika bertumbukan dengan benda keras akan berbunyi “tok tok” atau sejenisnya, Batu Cenneng ini ketika bertumbukan dengan benda keras akan menghasilkan bunyi yang berbeda yaitu berbunyi layaknya dua buah besi yang betumbukkan, “Teng Teng Teng”, maka dari Itu mengapa Batu ini dinamakan "Betoh Cenneng".


Konon Betoh Cenneng tersebut berfungsi untuk mengumpulkan para warga di sekitar daerah Betoh Cenneng dengan maksud agar para warga mendapatkan informasi dari dari tokoh masyarakat sekitar atau bahkan dari utusan kerajaan yang pada waktu itu diperintah oleh Pangeran Undakan atau Tjakraningrat II pada tahun 1648 – 1707 dimana lokasi Kratonnya berada di Kecamatan Burneh.


Menurut pengamatan kami, bunyi yang tidak lumrah ini dihasilkan karena menurut ilmu geologi, jenis batu gamping (carbonat) ini, yang membedakan dengan batu gamping lainnya adalah kepadatannya dan cenderung kristalin, pengalaman teman yang pernah melakukan penelitian bahwa di daerah bandung, terdapat juga jenis batu gamping yang menyerupai marmer, karena demikian keras dan padatnya batu gamping tersebut. Batu marmer sendiri memang berasal dari batu gamping yang mengalami metamorfosa akibat tekanan dan temperatur yang sangat tinggi sehingga merubah sifat fisiknya.

Batu gamping sendiri terbentuk dari aktifitas biota laut yaitu terumbu karang (non klastik) ataupun pelarutan terumbu karang yang terendapkan/sedimentasi (klastik). Pada gambar adalah pengangkatan dasar air laut akibat pergerakan kerak bumi, dan disitu menunjukkan bahwa dulunya daerah tersebut adalah lautan.


Harapan kami bahwa batu tersebut diteliti dan di observasi oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) sehingga nantinya Batu Cenneng di Desa Jaddih Barat tersebut dimasukkan sebagai situs Cagar Budaya di Kabupaten Bangkalan... [DI] 


Sumber : Indra Bagus Kusuma
Photo Koleksi : Bangkalan Memory


Share:

Sabtu, 23 Agustus 2014

Peninggalan Hindu Budha di Bangkalan

Bangkalan dulunya lebih dikenal dengan sebutan Madura barat. Penyebutan ini, mungkin lebih ditekankan pada alasan geografis. Soalnya, Kabupaten Bangkalan memang terletak di ujung barat Pulau Madura. Dan, sejak dulu, Pulau Madura memang sudah terbagi-bagi. Bahkan, tiap bagian memiliki sejarah dan legenda sendiri-sendiri.

Menurut legenda, sejarah Madura barat bermula dari munculnya seorang raja dari Gili Mandangin (sebuah pulau kecil di selat Madura) atau lebih tepatnya di daerah Sampang. Nama raja tersebut adalah Lembu Peteng, yang masih merupakan putra Majapahit hasil perkawinan dengan putri Islam asal Campa. Lembu Peteng juga seorang santri Sunan Ampel. Dan, Lembu Peteng-lah yang dikenal sebagai penguasa Islam pertama di Madura Barat.

Namun dalam perkembangan sejarahnya, ternyata diketahui bahwa sebelum Islam, Madura pernah diperintah oleh penguasa non muslim, yang merupakan yang berasal dari kerajaan Singasari dan Majapahit. Hal ini diperkuat dengan adanya pernyataan Tome Pires (1944 : 227) yang mengatakan, pada permulaan dasawarsa abad 16, raja Madura belum masuk Islam. Dan dia adalah seorang bangsawan mantu Gusti Pate dari Majapahit.

Pernyataan itu diperkuat dengan adanya temuan – temuan arkeologis, baik yang bernafaskan Hindu dan Bhudda. Temuan tersebut ditemukan di Desa Kemoning, berupa sebuah lingga yang memuat inskripsi. Sayangnya, tidak semua baris kalimat dapat terbaca. Dari tujuh baris yang terdapat di lingga tersebut, pada baris pertama tertulis, I Caka 1301 (1379 M), dan baris terakhir tertulis, Cadra Sengala Lombo, Nagara Gata Bhuwana Agong (Nagara: 1, Gata: 5, Bhuwana: 1, Agong: 1) bila dibaca dari belakang, dapat diangkakan menjadi 1151 Caka 1229 M.

Lingga
Temuan lainnya berupa fragmen bangunan kuno, yang merupakan situs candi. Oleh masyarakat setempat dianggap reruntuhan kerajaan kecil. Juga ditemukan reruntuhan gua yang dikenal masyarakat dengan nama Somor Dhaksan, lengkap dengan candhra sengkala memet bergambar dua ekor kuda mengapit raksasa.

Berangkat dari berbagai temuan itulah, diperoleh gambaran bahwa antara tahun 1105 M sampai 1379 M atau setidaknya masa periode Singasari dan Majapahit akhir, terdapat adanya pengaruh Hindu dan Bhudda di Madura barat.

Sementara temuan arkeologis yang menyatakan masa klasik Bangkalan, ditemukan di Desa Patengteng, Kecamatan Modung, berupa sebuah arca Siwa dan sebuah arca laki-laki. Sedang di Desa Dlamba Daja dan Desa Rongderin, Kecamatan Tanah Merah, terdapat beberapa arca, di antaranya adalah arca Dhayani Budha.

Arca Dhayani Budha
Temuan lainnya berupa dua buah arca ditemukan di Desa Sukolilo Barat Kecamatan Labang. Dua buah arca Siwa lainnya ditemukan di pusat kota Bangkalan. Sementara di Desa Tanjung Anyar Bangkalan ditemukan bekas Gapura, pintu masuk kraton kuno yang berbahan bata merah.

Arca Siwa
Di samping itu, berbagai temuan yang berbau Siwais juga ditemukan di makam-makam raja Islam yang terdapat di Kecamatan Arosbaya. Arosbaya ini pernah menjadi pusat pemerintahan di Bangkalan. Misalnya pada makam Oggo Kusumo, Syarif Abdurrachman atau Musyarif (Syech Husen). Pada jarak sekitar 200 meter dari makam tersebut ditemukan arca Ganesha dan arca Bhirawa berukuran besar.

Arca Ganesha
Arca Bhirawa
Demikian pula dengan temuan arkeologis yang di kompleks Makam Agung Panembahan Lemah Duwur, ditemukan sebuah fragmen makam berupa belalai dari batu andesit.

Dengan temuan-temuan benda kuno yang bernafaskan Siwais di makam-makam Islam di daerah Arosbaya itu, memberi petunjuk bahwa Arosbaya pernah menjadi wilayah perkembangan budaya Hindu. Penemuan benda berbau Hindu pada situs-situs Islam tersebut menandakan adanya kontinuitas antara kesucian. Artinya, mandala Hindu dipilih untuk membangun arsitektur Islam.

Arosbaya merupakan pusat perkembangan kebudayaan Hindu di Madura Barat (Bangkalan) semakin kuat dengan temuan berupa bekas pelabuhan yang arsitekturnya bernafaskan Hindu, dan berbentuk layaknya sebuah pelabuhan Cina... [DI]


Photo Koleksi : Berbagai Sumber
Share:

Rabu, 30 Juli 2014

"SARIMUNA" Perahu Peninggalan Syaichona Kholil Di Tanjung Bumi



Kata "Sarimuna" sebetulnya berasal dari Kata "Sarimina" yang mempunyai makna Inti dari Ikan, dikisahkan begini : "Sewaktu Syaichona KH. Moch. Kholil mengajak beberapa nelayan melaut/Majhang Perahu yang dipergunakan adalah sebagaimana yang ada pada gambar dibawah.

Sesampainya di tengah laut, perahu tersebut diikuti oleh berbagai jenis ikan diantaranya adalah Juko' Mondung (sejenis Hiu kecil/lumba-lumba) konon jenis Ikan ini tidak diperbolehkan dimakan, karena sejak dulu, nenek moyang orang Madura apabila terjadi marabahaya di tengah laut jenis Ikan Mondung ini yang menolong para Nelayan untuk diselamatkan dibawa kepinggir pantai.

Perahu "Sarimuna"

Apabila ada yang memaksa memakannya maka kulit muka dan sekujur tubuhnya akan belang-belang..... nach, jenis ikan lainnya yang menghampiri Perahu tersebut ada Pindang, Cakalan, Sombal, Lajur, Kakap dan Pare (Pe) serta jenis Nus (Sotong)... akhirnya beliau tidak jadi menurunkan Jala Ikan karena ikan-ikan pada berkumpul mengitari Perahu tersebut sampai ke pinggir pantai dan akhirnya nelayan diperintah menangkap ikan seperlunya saja. Dikemudian hari Perahu tersebut juga masih dipakai oleh para nelayan itu sekalipun tidak bersama beliau, karena lidah orang madura kesulitan apabila ketemu konsonan kata yang menggigit ( i ) akhirnya dirubahlah menjadi "SARIMUNA"..... [by : Doink].

Video "SARIMUNA" Perahu Peninggalan Syaichona Kholil Di Tanjung Bumi:




Photo Koleksi : Bangkalan Memory



Share:

Selasa, 22 April 2014

"Thuk - Thuk" Alat Musik Dari Madura

Thuk-thuk merupakan sebuah peralatan tradisional masyarakat Madura yang berfungsi sebagai alat komunikasi yang diperlukan untuk memanggil dan mengumpulkan penduduk maupun perangkat-perangkat desa. Thuk-thuk yang ada pada gambar merupakan thuk-thuk yang berasal dari Madura, khususnya daerah Sumenep. Thuk-thuk ini bukanlah bentuk dari thuk-thuk yang asli, akan tetapi merupakan duplikatnya saja. Dibuat di Sumenep pada tahun 1992, milik seorang Budayawan bernama Edi Setiawan.

Pada pembuatan ukiran, maka hasil karya seniman sangat dipengaruhi oleh tempat, situasi dan kondisi dimana seniman itu berada. Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila bentuk thuk-thuk asal Sumenep ini dibuat menyerupai bentuk perahu. Hal ini disebabkan karena seniman pembuat thuk-thuk bertempat tinggal dan berasal dari suatu wilayah kepulauan yang sudah tentu kehidupan utama bagi penghuninya adalah kehidupan lautan. Dengan demikian seniman ukir daerah Sumenep, ukirannya juga berkisar pada motif perahu atau yang berkaitan dengan perahu.


Selain berbentuk perahu, thuk-thukjugadihias dengan motif binatang naga. Naga bagi masyarakat Madura mempunyai arti sebagai lambang dari dunia bawah. Selain itu, pada masing-masing ujung badan thuk-thuk diperindah dengan ukiran kepala naga, mulutnya ferbuka lebar sehingga terlihat keempat taringnya yang tajam dan lidahnya yang menjulur keluar. Selain itu, masing-masing kepala naga juga diberi hiasan berupa mahkota dengan motif paruh burung phonix dan sulus daun yang distilir membentuk ekor burung phonix. Selain motif burung phonix, mahkota tersebut juga diperindah dengan motif bunga melati.

Adapun motif burung dan bunga melati bagi masyarakat Madura bukanlah merupakan sembarang motif yang diukir begitu saja oleh pengukirnya, akan tetapi motif tersebut memiliki makna tertentu sebagai filosofi masyarakat Madura. Motif burung khususnya burung phonix bagi masyarakat Madura merupakan motif sebagai lambang kehidupan, kebahagiaan dan lambang burung sorga serta sebagai lambang dari dunia atas. Begitu pula halnya dengan motif bunga melati yang dianggap sebagai

lambang dari sikap bangsa Madura yang cinta terhadap alam semesta dan juga mencerminkan rasa nasionalisme serta sebagai simbol dari keindahan dan romantik.

Bagian badan thuk-thuk diberi hiasan berupa ukiran badan dan ekor naga bersisik, sedangkan pada bagian kaki thuk-thuk, diukir membentuk huruf “M” dan diperindah dengan hiasan berupa kuntum bunga melati. Selain dari itu, bagian kaki juga dihias dengan ukiran dua ekor Kuda Terbang. Motif Kuda Terbang ini merupakan “kebanggaan” bagi masyarakat Sumenep yang disebut juga sebagai Kuda Sembrani.

Fungsi Thuk - Thuk

Thuk-thuk seperti ini biasanya diletakkan pada setiap balai desa, yaitu sebagai kentongan yang berfungsi untuk memudahkan komunikasi antar penduduk dan perangkat-perangkat desa. Selain di balai desa, biasanya di setiap pedukuhan memiliki thuk-thuk atau kentongan yang bentuknya lebih kecil dari bentuk thuk-thuk yang ada di balai desa. Suatu saat apabila desa tersebut kedatangan tamu dan saat itu Kepala Desa tidak berada di tempat, maka thuk-thuk tersebut akan dipukul sehingga mengeluarkan suara yang keras dan nyaring. Bunyi thuk-thuk tadi nantinya akan terdengar ke seluruh lingkungan pedesaan.

Apabila saat itu Kepala Desa sedang berada pada salah satu dukuh, maka perangkat desa yang berada pada dukuh dimana Kepala Desa berada, akan membalas bunyi thuk-thuk dengan memukul thuk-thuk yang ada di dukuhnya. Dengan demikian segera dapat diketahui dimana Kepala Desa berada.


Alat pemukul thuk-thuk juga terbuat dari kayu, dimana bagian umumnya dibalut dengan kain. Untuk menggunakan alat pukul ini, harus dilakukan berdasarkan ketentuan tertentu. Misalnya untuk memanggil Kepala Desa, maka thuk-thuk hanya dipukul sekali saja dan untuk memanggil carik (Sekretaris Desa), maka thuk-thuk dipukul sebanyak dua kali. Dengan demikian wajarlah apabila penduduk dan perangkat-perangkat desa, mengetahui dan paham dengan makna dari jumlah bunyi thuk-thuk yang dipukul.

Terdapat suatu sikap orang Madura terdapat seni ukir dimana di kalangan orang yang mampu (kaya) sangat bangga bila banyak memiliki barang-barang yang berukir. Hal ini desebabkan oleh adanya kesan bahwa niakin banyak barang-barang berukir yang dimiliki seseorang, maka makin kayalah orang tersebut dan akan naiklah statusnya, wibawadan martabatnya dalam masyarakat.

Cara Pembuatan Thuk - Thuk

Adapun kayu yang biasa digunakan untuk membuat thuk-thuk adalah jenis kayu nangka. Jenis kayu nangka sebagai pilihan disebabkan oleh karena jenis kayu nangka dapat menghasilkah suara yang keras dan nyaring.

Cara membuat thuk-thuk sangat memerlukan ketelitian, kesabaran dan ketekunan, oleh karena itu mereka bekerja dengan sangat hati-hati agar dapat menghasilkan thuk-thuk yang sesuai dengan yang dikehendaki.

Cara membuat thuk-thuk, mula-mula kayu bulat besar dipotong sesuai dengan panjang badan thuk-thuk yang dikehendaki, yaitu sekitar 240 Cm. Kemudian kayu besar tersebut dibelah dua sehingga menjadi dua buah papan besar. Kedua papan tersebut lalu diukir secara simetris sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Dalam mengukir, khususnya ukiran Madura kemungkinan lebih banyak dikerjakan dengan palu dan pahat dari pada dengan penyol (pisau pengeruk dan meraut).

Setelah diukir, kedua papan tersebut dibentuk menyerupai bentuk perahu dan kemudian kedua papan di bagian tengahnya dibuat rongga, be gitu pula bagian atasnya dibuat rongga sehingga apabila kedua papan tersebut disatukan (ditemukan), maka bagian dalam dan atas thuk-thuk terdapat rongga sebagai sumber suara. Rongga bagian atas thuk-thuk berbentuk empat persegi panjang, dengan panjang rongga sekitar 50 Cm dan lebarnya sekitar 3 Cm.

Tahap selanjutnya adalah membuat ukiran kepala naga dengan sistem knock-down atau sistem bongkar pasang. Ukiran kepala naga ini akan dipasang atau diletakkan pada kedua ujung thuk-thuk. Begitu pula bagian kaki thuk-thuk juga dibuat ukiran dengan sistem knock-down atau bongkar pasang.

Setelah semua bagian thuk-thuk selesai dibuat dan diukir, maka tibalah saatnya-pada tahap pemberian warna. Dahulu dalam pemberian warna dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan pewarna alam. Misalnya untuk warna merah diperoleh dari bahan daun jati, warna kuning diperoleh dari buah kunyit dan warna hijau dipetoleh dari daun lamtoro (petai cina).

Saat ini pemberian warna pada thuk-thuk, tidak lagi menggunakan zat pewarna dari bahan tumbuh-tumbuhan, akan tetapi telah menggunakan cat.

Pada thuk-thuk terlihat adanya kombinasi pemberian warna berupa warna hijau, kuning keemasan, merah dan hitam. Bagi masyarakat Madura, pemberian warna merah diartikan sebagi lambang keberanian dan warna kuning keemasan diartikan sebagai lambang dari kebesaran, keagungan dan kesempurnaan. Sedangkan warna hitam diartikan sebagai lambang dari kelanggengan, kekekalan, ketenangan dan kemantapan dan warna hijau diartikan sebagi lambang dari kelembutan dan pengharapan... [DI]


Photo Koleksi : Bangkalan Memory



Share:

Sabtu, 19 April 2014

Kentongan, Alat Komunikasi Pada Masa Lalu

Alat komunikasi merupakan sarana yang sangat penting dalam kehidupan manusia, dimana setiap manusia yang satu dengan manusia lainnya saling membutuhkan demikian juga sebaliknya. Karena dengan alat komunikasi tersebut kita bisa saling berhubungan, saling interaksi dan saling memberikan informasi-informasi kepada yang lainnya.

Dalam cakupan yang sederhana, alat komunikasi antar manusia bisa dilihat pada bahasa isyarat. Pada tataran selanjutnya bisa dimungkinkan bahwa bahasa lisan yang dikeluarkan melalui alat ucap dapat menghasilkan suatu bentuk komunikasi antar manusia.

Dalam perkembangannya alat komunikasi dapat diwujudkan dalam beragam bentuk. Salah satu contoh berupa telepon, surat, e-mail, handphone, interkom, HT, dan sebagainya. Dalam konteks yang sederhana, kentongan juga dapat dikatakan sebagai  alat komukasi yang efektif pada masanya, dimana pada masa listrik belum masuk desa, kentongan menjadi alat komunikasi yang begitu diandalkan.

Melalui kentongan inilah sebuah komunitas, katakanlah desa bisa menjalin komunikasi dan jaringannya bisa menjangkau seluruh rumah bahkan seluruh desa, asalkan masyarakat bisa memahami sistem dan perangkat komunikasi ini.

Di Bangkalan, kentongan atau alat bunyi-bunyian lain juga banyak digunakan sebagai perangkat atau alat komunikasi. Karena kentongan dapat dijadikan sebagai alat komunikasi yang dulunya dapat kita temukan hampir di setiap rumah warga, kalaupun tidak, kentongan mungkin masih bisa didapatkan setidaknya di pos-pos gardu atau poskamling. 

Akan tetapi keberadaan alat ini nyaris tidak lagi digunakan (dibunyikan). Pada masanya kentongan bisa digunakan sebagai penanda berita atau peristiwa akan kematian, kedatangan orang asing, datangnya musibah, adanya pencuri, tertangkapnya pencuri, dan lain-lain. 

Untuk menandai tentang berita kematian misalnya, tokoh desa (dukuh/dusun) cukup membunyikan kentongan besar (milik desa) dengan irama tertentu. Kentongan besar ini biasanya memiliki suara yang berbeda dengan suara kentongan yang dimiliki oleh warga pada umumnya karena kentongan milik warga biasanya berukuran kecil karena biasanya terbuat dari tonggak bambu atau satu ruas bambu.


Dengan kentongan besar yang umumnya terbuat dari satu potong gelondongan kayu atau tonggak pohon kelapa, maka bunyi kentongan yang dihasilkannya akan terdengar lebih besar (gandem) dan gemanya terasa jauh. Jika bunyi kentongan semacam ini terdengar, umumnya warga desa akan memasang pendengarannya baik-baik. Jika yang didengar adalah irama tertentu, itu artinya ada kematian. Jika yang terdengar adalah irama titir, yang biasanya berbunyi cepat tong-tong-tong-tong.... nyaris tanpa putus, itu artinya ada musibah datang (banjir, gempa, kebakaran, perampokan, dan lain-lain).


Dengan demikian, warga desa pun mesti paham dengan irama atau sistem komposisi bunyi dari kentongan yang ada di komunitasnya. Dengan hanya mendengar bunyi kentongan seperti itu warga desa akan segera tahu apa yang seharusnya mereka lakukan saat itu. Kini, kentongan mungkin tinggal menjadi hiasan atau pada 20 tahun ke depan ia akan menjadi barang antik. Kentongan telah tergantikan oleh HP, e-mail, telepon, dan sebagainya... [DI]


Share:

Sabtu, 22 Maret 2014

Asal Usul Madura dan Tombak Se Nanggala dan Se Alugoro

Pulau Madura ini bermula terlihat oleh para pelajar pada jaman purbakala sebagai pulau yang terpecah-pecah sehingga merupakan beberapa puncak-puncak tanah yang tinggi dan beberapa dataran yang rendah apabila air laut surut kelihatan dan apabila air laut pasang tidak kelihatan. Puncak-puncak yang terlihat itu diantaranya yang sekarang disebut Gunung Geger di daerah Bangkalan dan Pegunungan Pajudan di daerah Sumenep.


Diceritakan bahwa pada jaman purba ada suatu kerajaan yang bernama Kerajaan Mendangkawulan yang diperintah oleh Raja Gilling Wesi. Menurut dugaan orang Madura dikiranya ada disuatu tempat didekat Gunung Semeru didekat puncakala yang bernama Gunung Bromo. Jaman tersebut kira-kira sekitar tahun 929 Masehi.

Padahal Negara Mendangkawulan itu sendiri adanya di tengah laut Jawa daerah Tuban berdasar Peta yg dibuat oleh Kerajaan China pada tahun 998 M . 

Raja tersebut mempunyai seorang putri yang masih gadis. Pada suatu hari, putri tersebut bermimpi kemasukan rembulan dari mulutnya terus masuk ke dalam perutnya dan tidak keluar lagi. Setelah beberapa bulan setelah kejadian itu, putri tesebut menjadi hamil dan tidak ketahuan siapa ayah dari calon bayi tersebut. Beberapa kali ayahnya bertanya tentang sebab musababnya, tapi putrinya sama sekali tidak menjawab karena iapun juga tidak mengetahui apa yang telah terjadi pada dirinya.

Raja tadi amat marah dan memannggil Patihnya yang bernama Pranggulang. Patih tersebut diperintah untuk membunuh putri tersebut dan membawa kepala putrinya ke hadapan raja tersebut. Apabila Patih tersebut tidak sanggup memperlihatkan kepala putrinya itu maka Patih tidak diperkenankan menghadap raja dan tidak dianggap lagi sebagai Patih di Kerajaannya.

Maka berangkatlah Patih dengan membawa sang Putri keluar dari Kraton menuju hutan rimba. Setelah sampai disuatu tempat di dalam hutan belantara, maka Patih menghunus pedangnya dan mulai memegang leher Putri tersebut, akan tetapi hampir pedang tersebut sampai ke lehernya pedang tersebut terjatuh ke tanah. 

Setelah kejadian tersebut sang Patih termenung dan berpikir bahwa hamilnya Putri tersebut tentu bukan dari kesalahannya, tetapi tentu ada hal yang luar biasa dan akhirnya Patih Pranggulang mengalah untuk tidak kembali ke rajanya dan mulai saat itu ia berubah nama menjadi Kijahi Poleng (Poleng artinya dalam Bahasa Madura yakni kain tenunan Madura) dan ia merubah pakaian yaitu memakai kain, baju dan ikat kepala dari kain poleng. Ia memotong kayu-kayu untuk dijadikan perahu (oleh orang Madura dinamakan Ghitek atau orang Jawa bilang Getek).

Sebelum Putri tadi diberangkatkan, Kijahi Poleng memberikan beberapa bekal berupa buah-buahan serta berpesan bahwa jika sang Putri memerlukan pertolongannya supaya sang Putri menghentakkan kakinya ketanah sebanyak 3 kali maka seketika itu Kijahi Poleng datang untuk menolongnya.

Putri tersebut oleh Kijahi Poleng didudukkan diatas ghitek itu yang kemudian ditendangnya Ghitek tersebut menuju "Madu Oro" (pojok di ara-ara) artinya pojok menuju ke arah yang luas. Diceritakan bahwa sebab inilah Pulau ini bernama Madura. Ada juga yang mengatakan bahwa nama Madura itu dari perkataan "Lemah Dhuro" artinya tanah yang tidak sesungguhnya yaitu apabila air laut pasang tanahnya tidak kelihatan, apabila air laut surut maka tanah akan kelihatan.

Singkat cerita Ghitek tersebut terdampar di Gunung Geger (disitu asalnya tanah Madura) dan memang menurut Babad-babad apabila ada yang tertulis perkataan tanah Madura, maka yang dimaksudkan adalah Kabupaten Bangkalan juga termasuk Kabupaten Sampang, sedangkan apabila ada yang menyebutkan daerah-daerah disebelah Timur dari daerah-daerah tersebut maka dimaksudkan adalah Kabupaten Sumenep atau Sumekar atau Sumanap dan dituliskannya Pamekasan.

Pada suatu ketika perut sang Putri mulai terasa sakit seolah akan menemui ajalnya, disitu ia menghentakkan kakinya ketanah 3 kali guna meminta pertolongan Kijahi Poleng. Maka seketika itu Kijahi Poleng datang dan iapun bila bahwa sang Putri akan segera melahirkan. 

Tidak lama kemudian lahirlah seorang anak laki-laki yang roman mukanya amat bagus yang kemudian diberi nama "Raden Segoro" (Segoro artinya lautan). Keluarga itu menjadi penduduk pertama di Madura. Setelah itu Kijahi Poleng menghilang lagi, tetapi ia sering datang mengunjungi sang Putri dengan membawa makanan atau buah-buahan.

Diceritakan bahwa perahu-perahu orang dagang yang berlayar dari beberapa kepulauan di Indonesia apabila pada waktu malam hari melalui lautan dekat tempatnya Raden Segoro tersebut, maka mereka melihat cahaya yang terang seolah-olah cahaya rembulan, maka mereka akan berhenti untuk berlabuh ditempat itu Geger Madura dan akan membuat selamatan makan minum disitu serta memberi hadiah kepada yang bersahaja itu.

Setelah berumur dua tahun Raden Segoro sering bermain-main di tepi lautan, dan pada suatu hari dari arah lautan datanglah dua ekor naga yang amat besarnya mendekatinya. Dengan ketakutan, maka Raden Segoro berlari sambil menangis dan menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. Merasa khawatir takut anaknya dimakan ular naga tersebut, maka ibunya memanggil Kijahi Poleng. Dan seketika itu Kijahi Poleng datang menemui si Ibu, maka si ibu menceritakan kejadian yang menimpa putranya tersebut. Kemudian kijahi Poleng mengajak Raden Segoro bermain-main di tepi laut. 

Tidak beberapa lama datanglah dua ekor naga raksasa itu, lalu Kijahi Poleng menyuruh Raden Segoro agar memegang ekor ular dan membantingkannya ke tanah. Raden Segoro menolak permintaan Kijahi Poleng, tetapi karena paksaan tersebut akhirnya Raden Segoro memenuhi permintaan tersebut. Kemudian dipegangnya dua ekor naga raksasa tersebut dan dibantingkannya ke tanah. Seketika itu juga dua ekor ular naga raksasa tersebut berubah menjadi dua bilah tombak.



Kedua bilah tombak tersebut kemudian diberikan kepada Kijahi Poleng untuk dibawa menghadap ibunya raden Segoro. Tombak satunya diberi nama "Kijahi (si) Nenggolo" dan satunya diberi nama "Kijahi (si) Aluquro"


Tombak Se Nanggala
Berfungsi untuk memusnahkan musuh yang ada di luar kraton

Tombak Se Aluquro
Berfungsi untuk keamanan di dalam kraton
                                                     
Pada usia 7 tahun Raden Segoro pindah dari Gunung Geger ke Desa Nepa. Nama Nepa itu karena disitu banyak sekali pohon Nepa. Pohon nepa atau Bhunyok yaitu pohon sejenis kelapa tapi lebih kecil dan tidak besar seperti halnya pohon kelapa, daunnya dapat dibuat atap rumah, yang masih muda dapat dibuat rokok (seperti klobot). Desa tersebut letaknya berada di daerah Ketapang Kabupaten Sampang dipantai sebelah Utara (Java Zee) dan hingga sekarang masih banyak keranya.

Pada suatu ketika, Kerajaan Mendangkawulan kedatangan musuh dari Tjina. Didalam peperangan tersebut Raja Mendangkawulan berkali-kali kalah sehingga rakyatnya hampir habis dibunuh oleh musuh. Didalam keadaan bingung dan susah tersebut, suatu malam Raja 

Mendangkawulan bermimpi bertemu dengan orang tua yang berkata bahwa di sebelah pojok Barat Daya dari Kraton tersebut ada Pulau bernama Madu Oro (Lemah Dhuro) atau Madura. Disitu berdiam seorang anak muda bernama Raden Segoro. Raja disuruhnya untuk meminta pertolongan kepada Raden Segoro apabila ingin memenangkan peperangan.

Keesokan harinya Raja memerintahkan Pepatihnya supaya membawa beberapa prajurit ke Madura sesuai dengan Mimpinya tersebut. Sesampainya di Madura, Pepatih langsung menemui Raden Segoro dan menceritakan tentang kejadian yang menimpa kerajaannya serta meminta pertolongan Raden Segoro untuk membantunya. Dan juga meminta ijin kepada ibunya agar ibunya mengijinkan putranya untuk membantunya. 

Si ibu memanggil Kijahi poleng untuk mendampingi Raden Segoro guna membantu peperangan raja itu dari serangan musuh (Tjina). Kemudian berangkatlah Raden Segoro, Kijahi Poleng serta Pepatih dan prajuritnya menuju Kraton Mendangkawulan dengan membawa pusaka tombak Kijahi Nenggolo.

Kijahi Poleng ikut serta akan tetapi tidak kelihatan oleh yang lain kecuali Raden Segoro. Dan sesampainya di negara tersebut, Raden Segoro langsung berperang dengan tentara Tjina dengan didampingi oleh Kijahi Poleng. Pusaka Kijahi Nenggolo hanya ditujukan kearah tempat sarang-sarang musuh maka banyak musuh yang mati karena mendadak menderita sakit dan tidak lama kemudian semua musuh lari meninggalkan negara Mendangkawulan.

Raja Mendangkawulan mengadakan pesta besar untuk merayakan kemenangan perang dan memberi penghormatan besar kepada Raden Segoro serta memberi gelar "Raden Segoro alias Tumenggung Gemet" yang artinya semua musuh apabila bertarung dengannya maka akan habis (Gemet = Bahasa Djawa).

Raja Sanghiangtunggal berhajat untuk mengambil anak mantu kepada Tumenggung Gemet dan menghantarkan dia (suruhan Pepatih dan tentara kehormatan) dengan disertai surat terima kasih kepada ibunya. Raja menanyakan siapa ayahnya, maka Raden Segoro akan menanyakan kepada ibunya nanti. Kemudian Raden Segoro mohon ijin kepada Raja Mendangkawulan untuk kembali ke Madura.

Setelah sampai, maka Raden Segoro kembali menanyakan perihal ayahnya kepada ibunya. Ibunya merasa kebingungan dan menjawabnya bahwa ayahnya adalah seorang siluman. Maka seketika itu pula lenyaplah ibu dan anaknya serta rumahnya yang disebut dengan sebutan Kraton Nepa.

Demikian riwayat asal usul tanah Madura, yang oleh orang tua-tua dikesankan bahwa Raden Segoro telah membalas hutang-hutangnya yang menghinakan ibunya dengan pembalasan yang baik yaitu menolong di dalam peperangan.

Diceritakan pula bahwa dikemudian hari Kijahi Nenggolo dan Kijahi Aluquro oleh Raden Segoro diberikan kepada Pangeran Demong Plakaran (Kijahi Demong) Bupati Arosbaya (Bangkalan). Dan mulai saat itu kedua bilah tombak tersebut (Kijahi Nenggolo dan Kijahi Aluquro) menjadi Senjata pusaka Bangkalan... [DI]



Dikutip dari :
Sejarah Tjaranya Pemerintahan Daerah di Kepulauan Madura Dengan Hubungannya

Photo Koleksi : Bangkalan Memory

Share:

Kamis, 28 November 2013

Keris Sultan Cakra Adiningrat II


Keris pemberian Sultan Cakra Adiningrat II kepada Raja William I pada tahun 1835, dimana didalam sebuah surat yang menyertainya, Sultan menyatakan beribu-ribu terima kasih atas pengangkatannya sebagai Panglima Orde Belanda Lion.

Keris bertabur 117 batu berlian ini dua berlian yang terdapat di dekorasi sarungnya telah hilang.


Sumber : Museum Belanda bernama Rijksmuseum (baca : Reiksmuseum)


Share:
Copyright © BANGKALAN MEMORY | Powered by Bangkalan Memory Design by Bang Memo | Kilas Balik Bangkalan Tempo Dulu