Tampilkan postingan dengan label EKSPEDISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EKSPEDISI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 April 2016

Sekilas Tentang Kerkhov van Kertasada Kalianget Sumenep.

Ekspedisi Kertasada Kalianget - Sumenep
Mengungkap Kompleks Pemakaman Belanda Kuno Yang Terlupakan

Suatu saat kami diminta oleh seorang Keluarga di Negeri Seberang untuk menelusuri keberadaan Makam Kuno Belanda di Kertasada Sumenep. Akhirnya kami putuskan untuk aksi pada hari Minggu 3-4-2016.


Share:

Selasa, 26 Mei 2015

Menelusuri Benteng Pertahanan Jepang di Gunung Kampek Burneh

Gunung Kampek merupakan Sebuah Bukit namun kata Orang Madura menyebutnya sebuah Gunung) dimana termasuk di dalam Koordinat 7° 1' 57.6'' Bujur Timur dan 112° 49' 23.1'' Lintang Selatan. Kalau melihat dari bentuknya, Gunung yang mirip Capit Kepiting orang Madura menyebutnya “Kampek” berada diwilayah Desa Alas Kembang Kecamatan Burneh Kabupaten Bangkalan Jawa Timur, sehingga gunung ini dikenal dengan istilah “Gunong Kampek” dalam Bahasa Madura “NONG KAMPEK” yang menyimpan banyak mistery didalamnya.

Share:

Senin, 27 April 2015

Menelusuri Petilasan Ke' Lesap di Gunung Kampek Burneh Bangkalan

Mengawali ekspedisi di Gunung Kampek tanggal 1 Januari 2013 yang lalu, Perjalanan kali ini kami melakukan penelusuran ke beberapa tempat yakni tempat dimana tapak kaki kuda Ke' Lesap berada di Desa Arok, Makam Sayyid Hamdani di Sebelah Barat Puncak Gunung Kampek, Tempat Petilasan/Bertapanya Ke' Lesap dan Benteng Pertahanan Pasukan Jepang di Puncak Gunung Kampek.


Share:

Senin, 25 Agustus 2014

Ekspedisi Benteng Pulau Karang Jamuang atau Nyamoghen di Bangkalan

Namanya sering disebut-sebut jika ada cuaca buruk. Ya, Pulau Karang Jamuang atau dikenal dengan nama "Nyamoghen" berada di Barat Laut Pulau Madura ini memang sering jadi tempat transit para nelayan tradisional jika terjebak cuaca buruk di perairan Selat Madura. Pulau seluas 4 hektare ini jaraknya sekitar 35 kilometer dari Pelabuhan Tanjung Perak dan dapat ditempuh menggunakan perahu motor selama 2,5 jam.

Karang Jamuang terletak diambang luar pada posisi 06o-53’-34” Lintang Selatan dan 112o -43’-46” Bujur Timur dengan kedalaman perairan 12 meter LWS. Letaknya yang strategis di mulut pintu masuk Surabaya menyebabkannya memiliki sejarah panjang. Terekam pula jejak-jejak administrator pelabuhan kolonial Belanda di sana berupa puing bangunan mess petugas pemandu pelayaran. 


Tampaknya Pemerintah Belanda memang menganggap penting pulau ini. Buktinya, plengsengan jaman Belanda hingga kini masih berdiri kokoh di sana. Panjangnya hampir 2 kilometer mengelilingi pulau. Ini untuk menjaga agar ombak tidak menggerus pulau tersebut.




Disamping itu di pulau tersebut terdapat sebuah tangkis laut atau break water yang terhubung dengan Tanjung Piring, manakala air laut surut maka tangkis laut atau break water yang disusun seperti domino, meskipun di beberapa titik terdapat kerusakan akibat ulah manusia dan gelombang. Jalan ini hanya tampak pada saat air laut surut sehingga kita bisa berjalan menuju Pulau tersebut tetapi harus ekstra hati-hati karena tangkis tersebut selain ada yang rusak, tangkis tersebut sangat licin.


Di pesisir Utara pulau ini, terdapat 3 bunker pertahanan pantai peninggalan Belanda. Namun sekarang hanya tersisa 1, itupun telah berkarat dan tak terurus.


Semenjak ditinggal Belanda, pulau ini tetap berfungsi sebagai pemandu pelayaran. Sebuah mercusuar dengan ketinggian sekitar 40 meter dibangun di sana bersamaan dengan dibangunnya kantor navigasi untuk panduan kapal-kapal yang ingin masuk ke Pelabuhan Tanjung Perak dan Gresik, dimana sarana dan Prasarana yang tersedia disana diantaranya perlengkapan komunikasi antara lain :
  1. VHF radio telephone, frequency channel 12, power 25 watt, standby selama 24 jam non stop.
  2. Sebuah kapal pilot type MP I dengan sarana komunikasi VHF radio telephone pada frequency channel 16-12-14, power 10 watt.
  3. Menara suar listrik setinggi 40 meter dengan jarak tampak 21 mill laut.




Sedikitnya ada 10 orang yang tinggal di sana. Seluruhnya bukan penghuni lokal, melainkan petugas pemandu pelayaran dari Dirjen Perhubungan Laut Departemen Perhubungan. Sehari-harinya mereka bertugas mengoperasikan menara suar dan memandu perjalanan kapal.

Namun di balik fungsinya sebagai pemandu kapal yang lewat Selat Madura, Pulau Karang Jamuang punya pesona lain. Vegetasi dan pasir putihnya cukup menawan dinikmati. Sejumlah burung bangau menjadikan hutan Bakau di sisi Selatan pulau ini sebagai habitatnya. Selain itu tampak pula spesies reptil Biawak yang biasa berjemur di sekitar bunker meriam peninggalan Belanda. Pasirnya yang putih di pesisir Selatan juga terlihat eksotis.

Daya tarik ini ditambah, dimana di perairan Utara Karang Jamuang ini biasanya banyak orang baik dari Bangkalan maupun dari Surabaya yang datang untuk memancing di akhir pekan karena melimpahnya berbagai jenis ikan yang layak dipancing terdapat pula ikan Hiu kecil di sana... [DI]




Photo Koleksi : Bangkalan Memory dan Berbagai Sumber


Share:

Jumat, 22 Agustus 2014

Ekspedisi ke Pulau Pulau Nyamoghan 19 Oktober 1945


Jatuhnya markas Kompeitai ke tangan Pemerintah RI menandai berakhirnya kekuasaan Jepang di Surabaya. Perasaan Lega dan bangga menyelimuti masyarakat Surabaya, karena markas tersebut merupakan simbol kekuasaan dan kekejaman Jepang. Perasaan tersebut sirna ketika mendengar dari nelayan Madura bahwa di Pulau terpencil antara Gresik dan Madura masih terdapat orang dari pasukan Jepang dengan senjata lengkap.


Marine Keamanan Rakyat selanjutnya mengontak pimpinan Jepang yang berada di darat agar pasukannya yang berada di Pulau Nyamukan segera menyerah ke Pemerintah RI.


Pulau Karang Jamuan / Nyamoghan


Pulau Karang Jamuan / Nyamoghan


Ditemani 2 orang perwira Angkatan Laut Jepang, maka berangkatlah Ekspedisi kapal S-115 dan kapal-kapal lainnya dibawah pimpinan Perwira J. Sulamet. Ketika rombongan mendekati pantai, tentara Jepang siap mengadakan perlawanan. Dengan isyarat bendera diberitahukan bahwa diatas kapal terdapat 2 Perwira Jepang yang membawa perintah dari pucuk pimpinan Jepang, sehingga mereka membatalkan perlawanannya. Pertempuranpun dapat dihindari dan dari misi tersebut berhasil ditawan 419 orang Jepang dengan 217 pucuk senjata dari berbagai jenis.


Sumber : Museum Tugu Pahlawan
Photo Koleksi : Cahya Ilahi

Share:

Kamis, 10 April 2014

Kunjungan Sahabat Roodebrug Soerabaia ke Pulau Madura

Hari Minggu 06 April 2014 merupakan hari yang sangat spesial bagi kami, tatkala sang mentari yang cerah memancarkan sinarnya laksana menyampaikan salam pada teman-teman “Roodebrug Soerabaia” yang datang berkunjung ke kota Bangkalan. Roodebrug Soerabaia merupakan salah satu wadah bagi pecinta, pemerhati sejarah, dan pihak terkait lain yang ingin berbagi informasi tentang edukasi sejarah dan budaya.

Dengan berkendaraan Sebuah Bus yang disampingnya terdapat sebuah Banner yang bertuliskan "PLESIRAN KE POELAOE GARAM” Benteng Tjakraningrat IV" di Bangkalan, Minggu, 06 April 2014 pukul 08:45 WIB, Rombongan Roodebrug Soerabaia yang berjumlah 50 orang tersebut  tiba di Resto Ole Olang yang disambut dengan sajian makanan Khas Madura sebagai pertanda Selamat Datang di Madura oleh Pemilik Ole Olang Resto. Beliau termasuk salah seorang yang sangat peduli sekali pada kegiatan semacam ini, Oleh karena itulah kehebatan yang dimiliki beliau “Mas Abby Ole Olang” ini perlu dijadikan perhatian khusus dimana tidak semua dimiliki oleh lainnya.




Abie Ole Olang
Setelah penyambutan selesai, maka tepat pada pukul 09.00 WIB, rombongan “Roodebrug Soerabaia” ini berangkat menuju ke arah Benteng Cakraningrat IV yang lokasinya berada di Desa Tanjung Piring (Jung Pereng) Kecamatan Bangkalan Kabupaten Bangkalan, yang berdada di bagian Barat Pulau Madura dimana sebagai tuan rumahnya pada kali ini adalah Komunitas Labhang Bhuta, Bangkalan Memory yang berada dibawah nanungan Yayasan Koena Madoera yang Ketua Umumnya adalah Jimhur Saros, dimana khusus untuk menyambut kedatangan Tamu Spesial ini telah dibentuk 2 Tim yang masing masing dibagi beberapa personil diantaranya :

Tim 1 yang stand by di Ole Olang Resto :

1. Jimhur Saros
2. Agus Lempar
3. Hidrochin Sabarudin
4. Yanto Tretan

Tim 2  yang stand by di Lokasi Benteng Cakraningrat IV :

1. Mas Indra
2. Raden Mas Syafii
3. Andrya Satria P.
4. Yudistira Azis

Dengan dibantu personil dari Kodim 0829 Bangkalan dibawah Komando Pasi OPS Kapten Harijadi yang terlebih dahulu tiba dilokasi untuk menyisir daerah lokasi yang dituju supaya aman terkendali sehingga terhindar dari Insiden sekecil apapun.


Kemudian tepat pada pukul 10.00 WIB sampailah rombongan di Lokasi Benteng Cakraningrat IV  yang terletak pada posisi 112 derajat 41 menit 58,7 detik Bujur Barat dan 7 derajat 2 menit 1,2 detik Lintang Selatan dan langsung diadakan Ceremonial menerima kedatangan Rombongan “Roodebrug Soerabaia” oleh Ketua Umum “Yayasan Koena Madoera” Jimhur  Saros, yang kemudian dilanjutkan dengan memberikan Cinderamata berupa sebuah Peta Kuno Rencana Pembangunan Benteng Cakraningrat IV yang dibuat pada tahun 1770 kepada Pimpinan Rombongan Mas Lalu Arief Yanuar Wahyu Wardana, dan selanjutnya juga memberikan Cinderamata kepada Ketua Umum “Yayasan Koena Madoera” Jimhur Saros.


Cindramata yang diberikan oleh Roodebrug Soerabaia kepada Komunitas Bangkalan Memory



Untuk mempermudah dalam menelusuran tersebut, maka Tim di bagi menjadi 2 bagian dimana Tim 1 dipandu oleh Raden Mas Syafii yang beranggotangan sekitar 30 orang menuju ke arah Selatan, sedangkan Tim 2 di pandu oleh Mas Indra yang beranggotakan 25 orang menuju arah Utara. 




Kemudian Tim 1 dan Tim 2 mulai bergerak menelusuri ke masing masing bastion yang sudah ditentukan pada bagian Utara dan Selatan dari pukul 11.00 – 15.30 WIB, bergantian setelah Tim mengitari Bastion kembali ke titik kumpul awal (lapangan) untuk makan siang.


Seiring perjalanan waktu, tepat pada pukul 16.00 WIB setelah sholat Ashar berjemaah di Masjid Ujung Piring (didirikan pada tahun 1960), semuanya bergeser ke arah Lokasi Barat menuju “Mercusuar” yang didirikan pada tahun 1878 oleh Pemerintah Belanda. Mecusuar 


tersebut merupakan kategori Klas II dimana kategori Klas I berada di pesisir Banten. Di lokasi areal Mercusuar tersebut, beberapa dari mereka beristrirahat, ada pula yang mencoba naik ke atas dengan menyusuri tangga Mercusuar yang berjumlah 3.330 anak tangga dalam 17 lantai dengan ketinggian 65 meter untuk bisa sampai ke puncak Mercusuar.









Pada pukul 17.00 WIB, kami berkumpul bersama untuk memberikan informasi seputar Benteng Tjakraningrat IV mulai dari sejarah pendirian sampai dengan fungsi dari masing-masing bastion tersebut serta penyerahan Peta Koena mengenai Perbentengan oleh Mas Ady Setyawan kepada Jimhur Saros.


Mas Indra memberikan penjelasan seputar sejarah Bunker dan fungsi masing-masing bastion

Mas Ady Setyawan selaku wakil dari Roodebrug Soerabaia memberikan penjelasan tentang kaitannya Benteng yang ada di Pulau Jawa dan Madura


Akhirnya tepat pukul 17.30 WIB semua Tim (Roodebrug Soerabaia dan Labang Bhuta) bergerak kembali ke titik awal kedatangan Roodebrug Soerabaia di Ole Olang Resto, untuk melaksanakan Sholat Jemaah Maghrib sekaligus makan malam serta acara ramah tamah untuk persiapan pulang ke Surabaya. 




Setelah foto bersama semua Personil dari Roodebrug Soerabaia dan Personil Labang Bhuta serta Pemilik Ole Olang Resto, maka tiba saatnya perpisahan dengan saling berjabat tangan kami melepas Rombongan Roodebrug Soerabaia, tepat pukul 20.00 WIB. Terlihat pada masing masing wajah mereka luapan kegembiraan yang tiada tara bahwasanya Mereka telah sampai di “Pulau Madura



Demikian sekilas perjalanan “Kunjungan Sahabat Roodebrug Soerabia ke Pulau Madura” dengan harapan persahabatan ini lebih ditingkatkan lagi...[Mas Indra]





By : "Labang Bhuta dan Bangkalan Memory"
Share:
Copyright © BANGKALAN MEMORY | Powered by Bangkalan Memory Design by Bang Memo | Kilas Balik Bangkalan Tempo Dulu