Tampilkan postingan dengan label CERITA RAKYAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA RAKYAT. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Maret 2016

Asal Usul Desa Banyuajuh Kecamatan Kamal


Pulau madura terdapat wilayah-wilayah atau desa-desa terpencil yang beraneka ragam. Pada masing-masing wilayah atau desa tersebut tentunya memiliki kisah dan cerita yang berbeda-beda antara desa yang satu dengan desa yang lainnya, oleh karena itu kita selayaknya menghormati perbedaan-perbedaan diantara masing-masing desa tersebut dan harus memahami semua perbedaan tersebut agar tidak terjadi kesenjangan sosial diantara desa tersebut.

Desa Banyuajuh berasal dari kata “Banyu” dan  “Ayu”. Dalam Bahasa madura dapat diartikan  “Aeng Raddin”. Jika dalam bahasa Indonesia diartikan air yang jernih, bersih dan juga enak di pandang oleh mata. Awal dari terbentuknya desa Banyuajuh itu bermula pada sebuah desa yang memiliki seorang tokoh ulama yang besar yang bernama KH. Abd Mufid.  Ulama ini berasal dari Desa Kwanyar,  Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan. Akan tetapi tidak ada yang tahu pasti tanggal berapa tepatnya beliau dilahirkan di desa tersebut.

KH. Abd Mufid ini adalah seorang putra dari KH. Hasan yang juga berasal dari Desa Kwanyar. KH. Abd Mufid merupakan seorang tokoh ulama besar yang sangat disegani oleh para penduduk sekitar karena kepatuhannya kepada Allah SWT. Beliau juga sangatlah ramah pada masyarakat disana.

Desa BANYUAJUH  bermula ketika KH. Abd Mufid sedang bertapa di sebuah gua yang tidak ada penghuninya. Beliau bertapa berhari-hari tanpa makan dan minum. Saat beliau bertapa KH. Abd Mufid ini mendegarkan sebuah bisikan dari teliga beliau bahwa akan ada sumber mata air yang jernih keluar secara alamiah yang akan bisa membantu masyarakat sekitar, saat masyarakatnya sedang dalam kesulitan mendapatkan air.

Setelah beliau mendengarkan bisikan tersebut KH. Abd Mufid merenung dan kemudian bergegas pergi mengelana sampai berhari-hari mencari dan menemukan sebuah petunjuk dan beliau berhenti di sebuah kampung yang menyurut orang-orang kampung tersebut merupakan sebuah kampung yang suci dan tidak ada orang yang berani mengusik di kampung itu oleh sebab itu beliau langsung mengambil potongan bambu dan langsung beliau menancapkannya pada tanah dengan perlahan-lahan.

Seketika itu bambu tersebut langsung keluar air dan mengalir tanpa henti. Air tersebut keluar terus menerus tanpa henti dan air yang muncul tersebut airnya sangatlah bersih dan jernih sehingga beliau mencoba merasakan bagaimana rasanya air tersebut sambil berwudhu di sana.

Karena airnya terus menerus mengalir dari tempat tersebut maka beliau memerintahkan warga-warga sekitar untuk membuatkan bendungan air agar air yang mengalir dapat dimanfaatkan dan di kelola dengan baik supaya nanti ketika pada musim kemarau telah tiba masyarakat disana tidak kekurangan air bersih. Masyarakat sekitar menyebutnya “kolla”.

Kolla itu merupakan sebuah tempat dengan ukuran sekitar kurang lebih 5 x 7 meter dengan bentuk balok karna kolla itu sering dimanfaatkan oleh masyarakat disana. Maka, bendungan tersebut di buat dengan rapi dan dibuat menggunakan batu-batu sekitar dan  di susun tanpa menggunakan alat perekat.

Karena masyarakat di sana berpenduduk sangat banyak maka bendungan air tersebut (kolla) dibuat lebih dari satu agar saat musim kemarau tiba masyarakat tidak saling berebut air. Saat pembuatan kolla tersebut warga saling bergotong royong tanpa ada yang paksaan, karena masyarakat sekitar menyadari bahwa kolla tersebut kepentiangan bersama. Ketika kolla tersebut selesai maka warga sangatlah berterima kasih pada seorang ulama yang namanya KH. Abd Mufid.

Karena dari itu KH. Abd Mufid di segani dan disanjung oleh masyarakat disana, bukan hanya menemukan sumber mata air tersebut, namun masyarakat menyanjung karena beliau patuh kepada Allah SWT dan tidak pernah sekalipun meninggalkan yang namanya sholat, puasa atau pun sholat sunnah.

Dan KH. Abd Mufid memberikannya nama pada kampung tersebut yaitu “DESA BANYU AYU”.  Karena beliau sangatlah patuh pada gusti Allah dan rajin sholat maka masyarakat disana menitipkan putra-putri nya dan menyuruhnya mengaji dan belajar sholat kepada KH. Abd Mufid agar nantinya putra-putrinya dapat menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Beliau sangatlah terhormat sehingga nama beliau terdengar sampai seluruh desa yang ada di Kota Bangkalan oleh karena itu banyaklah orang-orang yang diluar desa tersebut untuk menitipkan putra-putrinya pada KH. Abd Mufid, karena terlalu banyak putra-putri yang dititipkan maka beliau, akhirnya beliau membuatkan pondok pesantren beserta masjid-masjidnya, dan nama pondok pesantren tersebut adalah pondok “Nurul Dzolam”.

Seiring dengan berjalannya waktu  KH. Abd Mufid pun wafat, dengan begitu masyarakat sekitar membuatkan makam khusus yang berada di tepat di tengah-tengah desa Banyu Ayu dan dibuatkannya rumah kuburan.  Karena KH. Abd Mufid wafat para masyarakat disana sangatlah merasa kehilangan dan tidak ada lagi yang akan mengurus desa tersebut beserta pondoknya.  Para masyarakat disana khawatir takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan terjadi pada desa tersebut maka masyarakat meminta pada santri-santri tersebut agar secepatnya menemukan pengganti dari KH. Abd Mufid. Dengan demikian santri tertualah yang menjadi pengurus pondok tersebut karena di anggap yang paling mengerti tentang ajaran islam.

Lama kelamaan nama dari desa Banyu Ayu berubah menjadi “BANYUAJUH”  karena perubahan zaman yang modern di era ini.

Sumber mata air yang ada di desa banyuajuh ini dari dulu hingga saat ini masih tetap mengalirkan air walaupun pada musim kemarau. Pada saat ini air yang mengalir dipercaya  oleh masyarakat sekitar sebagai obat penyembuh segala penyakit.

Apa yang dilakukan KH. Abd Mufid ini, merupakan wujud aksi dalam rangka memberi pertolongan atau bantuan pada sesama manusia agar msyarakat mengerti arti dari sebuah kekompakan dalam sebuah kelompok masyarakat, disatu sisi beliau mengajari agar para penduduk sekitar memahami pentingnya arti kebersamaan.

Dengan demikian, setidak-tidaknya apa yang dilakukan KH. Abd Mufid, merupakan usaha beliau dalam memberikan jalan bagi masyarakat untuk keluar dari krisis kekeringan, yang akhirnya akan memberikan hasil positif bagi diri sendiri maupun orang lain (Idr).


Sumber : 
Pembakuan Nama Rupa Bumi Kabupaten Bangkalan Tahun 2012

Share:

Senin, 08 Februari 2016

Asal Usul Desa Keteleng Kecamatan Tragah Bangkalan

Pada zaman dahulu lokasi ini masih berupa hutan yang lebat yang berupa kayu-kayu hutan yang besar-besar, karena kayu-kayu yang besar tadi tidak ada yang menebang sampai sekitar lokasi ini sudah bermunculan pemukiman penduduk, daerah ini belum ada yang berani untuk di jadikan tempat tinggal.

Dengan bertambahnya jumlah penduduk disekitar hutan ini maka kebutuhan bahan untuk membuat tempat tinggal semakin sulit, dan pada akhirnya masyarakat sekitar mulai berani menebang kayu-kayu besar tadi untuk dijadikan bahan pembuat rumah. Karena jenis kayu yang ada di hutan Ini sangat keras dan berat akhimya warga yang mau menebang mengurungkan niatnya.


Hari bertambah hari, bulan bertambah bulan dan tahun bertambah tahun, akhirnya jumlah penduduk dlsekitar hutan ini semakin bertambah banyak. Demikian juga kebutuhan akan tempat tinggal dan ladang untuk keperluan akan kehidupan mereka sangat dibutuhkan.

Akhirnya semua warga sepakat membabat hutan tersebut untuk dijadikan tempat tinggal dan ladang untuk bercocok tanam. Karena jenis kayu dlhutan ini sangat keras, kuat dan berwama hitam maka setelah dibabat dan menjadi desa dinamakan Desa Keteleng yang dalam bahasa Madura berasal dari kata "Kayu Hitam/Celleng".



Sumber : Pembakuan Nama Rupa Bumi Kabupaten Bangkalan Tahun 2012
Share:

Jumat, 12 Juni 2015

Asal usul Desa Alang-Alang Kecamatan Tragah

Sebelum menjadi sebuah desa wilayah ini masih berupa hutan belantara yang sangat lebat, pohon besar-besar sangat rindang dan sangat menyeramkan. Pada waktu itu sudah ada kerajaan di daerah Bangkalan yang pada masa itu diperintahkan oleh seorang raja yang bernama Cakraningrat. Dengan adanya kerajaan di daerah Bangkalan bersamaan itu pula muncul rumah penduduk disana-sini walaupun sangat jarang-jarang sekali. 


Share:

Sabtu, 30 Mei 2015

Asal Usul Desa Telang Kecamatan Kamal Bangkalan

Dahulu kala ada seorang ratu di daerah Bangkalan mempunyai dua orang putri Kakak beradik, kakaknya ditakdirkan cantik, sedang adiknya ditakdirkan mata kanannya buta. Pada suatu hari ratu tersebut  mengadakan sayembara membuat gapura besar di wilayah kamal, barangsiapa yang dapat membuat gapura itu dengan waktu yang telah ditentukan oleh si ratu tersebut akan mendapatkan putrinya yang cantik itu.

Share:

Senin, 11 Mei 2015

Selasa, 16 Desember 2014

Asal Usul Kecamatan Tragah Bangkalan

Pada jaman dahulu di wilayah Kecamatan Tragah ada sebuah kerajaan yang lokasinya sekarang adalah Desa Pacangan Kecamatan Tragah, pada masa kejayaannya kerajaan ini diperintah oleh seorang Raja/Ratu Bidara. Kerajaan ini mempunyai Panglima perang yang bernama Ke' Lesap yang terkenal akan kesaktiannya serta kekuatannya. 


Share:

Kamis, 27 November 2014

Asal Usul Desa Bunajih Labang Bangkalan

Pada jaman dahulu di daerah Kerajaan Bangkalan terdapat seorang pengemis yang kehausan, dia meminta segelas air kepada seseorang yang dia temui. Tetapi orang tersebut tidak memberinya air dan kejadian itu tepatnya berada di Dusun Laok Sabe dengan Dusun Barengan. 

Kemudian seorang pengemis itu melihat seekor burung diatas sebongkah batu, lalu ia mengangkat sebongkah batu tersebut dan. tiba-tiba terjadl keajaiban, dari dalam bongkahan batu tersebut dapat mengeluarkan air dan oleh masyarakat sekitar tempat keluarnya air itu di bongkar dan dijadikan sumur.

Setelah menjadi sumur maka dinamakan Sumur Bunajih oleh pengemis tersebut. Karena sumur tersebut dikramatkan oleh masyarakat maka desa tersebut dinamakan Desa Bunajih (berasal dari nama sebuah sumur yang dikramatkan)... [IDR]



Sumber : Pembakuan Nama Rupa Bumi Kabupaten bangkalan Tahun 2012


Share:

Jumat, 21 November 2014

Asal Usul Desa Buduran Arosbaya Bangkalan

Makam Rato Ebu terletak didalam kompleks Paserean “Aer Mata”, terletak 25 km arah Utara kota Bangkalan, tepatnya di desa Buduran Kecamatan Arosbaya Kabupaten Bangkalan. Makam Rato Ebu adalah makam seorang wanita mulia bernama Syarifah Ambami. 

Menurut dokumen sejarah, menyebutkan bahwa Syarifah Ambami adalah keturunan Sunan Giri Gresik   ke 5. Ia dipersunting oleh Pangeran Tjakraningrat I yang juga anak angkat Sultan Agung Mataram. Dikisahkan bahwa sejak terjadinya Perang Mataram tahun 1624, Madura dikuasai oleh Sultan Agung. Lalu ia menginginkan agar Pangeran Tjakraningrat I memerintah Madura secara keseluruhan. Titah raja pun dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Meskipun Madura menjadi daerah kekuasaannya, namun Pangeran Tjakraningrat justru jarang sekali tinggal di Sampang. Apalagi Raja Mataram, Sultan Agung, masih membutuhkan tenaganya untuk memimpin kerajaannya di tanah Jawa sehingga Pangeran Tjakraningrat I sering tinggal di kerajaan tanah Jawa. Wajar apabila Ratu Syarifah lebih banyak tinggal di Kraton Sampang sendirian tanpa didampingi suami tercintanya. Namun Ratu Syarifah adalah seorang figur wanita yang taat dan patuh pada semua perintah suaminya. Maka untuk mengisi waktu kosongnya, Ratu Syarifah yang lebih populer dengan sebutan Ratu Ibu tersebut lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bertapa di sebuah bukit di Arosbaya.


Didalam legenda sejarah Babat Madura dikisahkan, bahwa selama dalam pertapaannya, Ratu Ibu Syarifah senantiasa memohon kepada Allah SWT. agar keturunannya yang laki-laki kelak bisa menjadi pucuk pimpinan pemerinytahan di Madura. Ia berharap agar pimpinan Pemerintahan tersebut dijabat hingga tujuh turunan. Anehnya dalam legenda tadi juga dikisahkan bahwa suatu hari didalam pertapaannya, Ratu Ibu Syarifah berjumpa dengan Nabi Khidlir AS. Dalam pertemuannya yang Cuma sesaat itu, sepertinya semua permohonan Ratu Ibu akan dikabulkan.

Merasa pertapaannya sudah cukup, maka Ratu Ibu Syarifah pun kembali ke Kraton Sampang. Tidak selang beberapa lama, suaminya yakni Paneran Tjakraningrat I datang dari bertugas di Kerajaan Mataram.sebagai istri yang setia, tentu saja Ratu Syarifah menyambut kedatangan suaminya dengan senang hati. Beliau bahkan menceritakan apa yang dialaminya selama bertapa, termasuk adanya petunjuk bahwa permohonannya agar turunannya kelak memimpin Pemerintahan di Madura dikabulkan juga diceritakannya dengan runtun.

Mendengar penuturan Ratu Syarifah tersebut, Pangeran Tjakraningrat I marah, ia sangat kecewa dengan pernyataan istrinya. Sebaliknya Pangeran Tjakraningrat I bertanya dengan marah,”Mengapa kamu Cuma memohon untuk tujuh turunan, sebaiknya kan tutunan kita selamanya harus memerintah di Madura !”, tegur Pangeran Tjakraningrat I kepada Ratu Syarifah. Wanita itupun Cuma menundukkan kepala.


Sepeninggal suaminya yang bertugas ke Mataram, Ratu Syarifah kembali ke Desa Buduran untuk bertapa. Dalam pertapaannya itulah Ratu Ibu memohon agar keinginan seaminya untuk menjadikan seluruh keturunannya bisa menjadi pemimpin Pemerintahan di Madura.siang malam Ratu Ibu memohon kepada Allah SWT. agar harapan suaminya bisa dikabulkan, ia memohon sambil terus menangis. 



Ini dilakukannya hingga meninggal di pertapaan, dalam keadaan menangis sehingga air matanya mengalir ke sungai di ujung Desa yang terdapat sebuah sumber mata air disana yang didalamnya terdapat ikan Buduran. Untuk mengenang sejarah tersebut orang-orang menyebut desa tersebut Desa Buduran... [IDR]


Sumber : Pembakuan Nama Rupa Bumi Kabupaten bangkalan Tahun 2012
Photo Koleksi : Bangkalan Memory


Share:

Senin, 17 November 2014

Asal Usul Desa Bandasoleh Kokop Bangkalan

Pada jaman dulu kala, di sebuah daerah yang termasuk dalam Kerajaan Bangkalan terdapat sebuah tempat/daerah dimana masyarakatnya terkenal dengan sabung ayamnya dan daerah tersebut waktu itu masih belum ada namanya. Tidak ada seorangpun yang dapat mengalahkan ayam jago dari daerah tersebut. Setiap ada orang asing yang ikutan dalam sabung ayam tersebut, maka sang ayam jago milik orang asing tersebut pasti kalah.

Sehingga pada suatu hari terdapat seorang pemuda yang agak waras kejiwaannya tapi dia memiliki kelebihan yang luar biasa dan dia mempunyai seekor ayam jago. Ketika sang pemuda berkeinginan untuk mengikuti acara sabung ayam di pesisir utara Pulau Madura yang mempartarungkan ayam jago dari para bangsawan-bangsawan. 


Waktu itu setelah beberapa kali ditandingkan ayam pemuda tersebut selalu menang dan dengan mudah mengalahkan ayam-ayam dari para bangsawan, maka dibertanyalah dia "Dhari dhimmah asallah kakeh cong" (dari mana asal kamu cong), kemudian si pemuda tadi tidak bisa menjawab karena dia bingung dan tidak tahu nama daerahnya, namun dia hanya tersenyum dan kelihatan satu yang gingsul (bahasa maduranya "saleh"). 

Karena berbekal hanya senyum saja dan giginya yang gingsul selalu kelihatan maka ada salah satu bangsawan berkata "Cong Dhanna". Maka sejak itu daerah tersebut diberi nama Desa Bandasoleh yang artinya “Bermodalkan Senyum yang kelihatan gingsul”.... [IDR]


Sumber : Pembakuan Nama Rupa Bumi Kabupaten bangkalan Tahun 2012
Koleksi Photo : Berbagai Sumber
Share:

Kamis, 13 November 2014

Asal Usul Desa Tlokoh Kokop Bangkalan

Pada jaman dahulu kala di Kerajaan Bangkalan tersebutlah 3 orang tokoh yang sedang berguru. Sang guru memberikan suatu ilmu kepada ke 3 tokoh tersebut, namun untuk menjadi sempurna ilmu tersebut,  syaratnya ketiga tokoh tersebut harus mendapatkan kuku harimau. Karena dengan kuku harimau tersebut maka ilmu yang diperoleh menjadi sempurna... [DI]

Atas kemauan ketiga tokoh tersebut, maka berangkatlah 3 tokoh itu mencari harimau. Setelah sekian lama mencari, ke 3 tokoh tersebut mendengar kabar ada seekor harimau yang sedang mengamuk di subuah desa. Maka berangkatlah ke tiga tokoh tersebut ke desa yang dimaksud untuk membunuh harimau tersebut demi kesempurnaan ilmu yang mereka punya.

Akhirnya 3 tokoh tersebut melihat seekor harimau mengamuk dan kelaparan masuk ke wilayah pemukiman yang letaknya dikelilingi hutan yang lebat, kemudian tiga orang tokoh tersebut saat itu coba mengusir harirnau tetapi tidak berhasil malahan terjadi pertarungan sengit antara tiga orang tokoh tersebut dengan harimau. 

Perlawanan dari tiga tokoh tersebut sangat sengit tetapi belum juga bisa mengalahkan harimau itu dan saat itu tidak sengaja salah satu tokoh ingin menebas tangan harimau tetapi malah yang kena tiga kuku (tello' kokoh) harirnau yang patah sekaligus merupakan kelemahan dari si harimau, sehingga harimau itu mati. 

Tiga Tokoh tersebut akhirnya memotong kuku harimau tersebut sehingga ke tiga tokoh tersebut bisa menyempurnakan ilmu yang diberikan oleh gurunya. Jadi asal dari Desa Tokoh menurut keterangan dari sesepuh setempat berasal dari kata "Tiga Tokoh dan Tiga Kuku" yakni dalam Bahasa Madura "Tello' Tokoh dan Tello' Kokoh" gampangnya Tlokoh... [IDR]


Sumber : Pembakuan Nama Rupa Bumi Kabupaten bangkalan Tahun 2012


Share:

Minggu, 09 November 2014

Asal Usul Kecamatan Labang Kabupaten Bangkalan

Secara geografis Kecamatan Labang merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Bangkalan dimana secara administratif wilayah Kecamatan Labang terbagi menjadi 13 Desa/kelurahan, dengan luas 35,23 Km2 atau 3.522,7 Ha, pada ketinggian 45 m dari permukaan laut. Kecamatan Labang terletak berbatasan dengan Kecamatan Tragah sebelah Utara, Kecamatan Kwanyar sebelah Timur, Selat Madura sebelah Selatan dan Kecamatan Kamal sebelah Barat.

Awal mula nama Kecamatan Labang Bangkalan ini bermula dari sebuah legenda dimana menceritakan bahwa pada waktu Raja Demak yang bernama Raden Fatah berkuasa dan dengan kekuasaaannya pada tahun 1478 - 1518, dia memerintahkan utusannya untuk menyebarkan Agama Islam ke Pulau Madura, namun setibanya di Pelabuhan Kamal (yang dulunya antara Gresik dan Socah),  utusan raja tersebut merasa kebingungan dalam mencari pintu jalan pintas menuju Pulau Madura.

Dengan meminta petunjuk dan pertolongan kepada yang Maha Kuasa, akhirnya utusan tersebut mendapatkan jalan yang lebih cepat untuk mencapai tujuan ke Pulau Madura tersebut, sehingga pintu tersebut dinamakan "Labang" oleh masyarakat Suku Madura. Nama Labang sendiri berasal dari Bahasa Madura yang berarti "Pintu"

Konon karena desa ini tempatnya dikelilingi oleh hutan belantara, dan untuk menuju ke desa ini hanya ada satu pintu. Maka daerah itu oleh masyarakat sekitar dinamakan Labang yang sekarang menjadi Labang... [DI]




Share:

Jumat, 31 Oktober 2014

Asal Usul Desa Gili Anyar Kamal Bangkalan

Nama Gili Anyar tidak terlepas dari sejarah Gilih Timur, bahkan merupakan bagian dari sejarah Gili Timur, hal ini disebabkan oleh pemberian nama dari Buju Robbo atau nama aslinya Markun. Perlu kita ketahui Buju Robbo adalah saudara dari Buju Achmad. dan Buju Robbo tinggal di Dusun Natporan yaitu bagian dari desa yang sekarang dikenal dengan nama Gili Anyar.

Asal-usul nama Gili Anyar dilatarbelakangi oleh kondisi yang hampir sama dengan kondisi desa Gili Timur yaitu pada saat itu desa Gili Anyar mengalami kekeringan. 

Buju Markun (Robbo) yang tinggal di Dusun Natporan yaitu dusun disebelah barat jalan raya. Butuh air untuk mengairi sawah di Dusun tersebut, sehingga Buju Markun pergi ke saudaranya yang berada di desa Gili Timur, hasil dari musyawarah tersebut Buju Achmad mengijinkan untuk di aliri kesebelah barat jalan raya. 


Selanjutnya Buju Markun dengan tongkatnya menuju ke Sumber Kuning di Desa Gili Timur. Kemudian tongkat tersebut digoreskan ke tanah, mulai dari Sumber Kuning melintasi sawah dan rawa-rawa di sebelah barat. Seketika terjadi keajaiban, tanah goresan tongkat tadi membelah dan membentuk sungai kecil yang sangat banyak airnya mengaliri ke arah barat menuju Dusun Natporan. 

Dan orang Madura menyebutnya dengan “Aeng Agili Anyar” yang apabila diartikan dalam Bahasa Indonesia yaitu “Air Mengalir Baru”. Lalu, Buju tersebut mengatakan bahwasanya desa ini diberi nama Desa Gili Anyar”... [DI]


Photo Koleksi : Bangkalan Memory
Share:

Asal Usul Desa Gili Timur Kamal Bangkalan

Menurut sumber yang dapat dipercaya ialah salah satu tokoh masyarakat setempat dan juga kebetulan sebagai kepala desa Gili Timur yaitu Bapak Moh Kholil. Asal usul nama Gili Timur yaitu sebuah kali yang bersumber dari mata air disebelah Timur jalan raya.

Konon pada masa pemerintahan Cakraningrat I, terdapat tiga saudara yaitu, Buju (orang suci) bernama Achmat, Tarhes yang dikenal dengan nama Buju Bendo dan Robbo yang dikenal dengan sebutan Buju Markun. Ketiga saudara tersebut bertapa (semedi) untuk mendapatkan air disalah satu dusun yang akhirnya dinamakan Dusun Sumber.


Tidak lama kemudian muncul sumber air yang warnanya kuning, air tersebut ditampung atau dibuatkan suatu kolam, lama kelamaan air semakin jernih, pada saat itu sumber tersebut dibuat mandi oleh masyarakat setempat, konon airnya dapat untuk obat, dan lokasi sumber air terletak sebelah Timur Pabrik Maduratek.

Selanjutnya Buju Achmad menetap di Dusun Sumber yang sekarang di sebut nama Desa Gili Timur (Gili = air yang mengalir di sebelah Timur jalan raya) menurut cerita Bapak Moch Cholil... [DI]


Photo Koleksi : Bangkalan Memory


Share:

Asal Usul Desa Gili Barat Kamal Bangkalan

Nama Gili Barat, merupakan suatu rentetan sejarah yang sama dengan Gili Timur dan Gili Anyar, hal ini disebabkan oleh pelaku sejarah yang sama, yaitu masing-masing pelaku itu merupakan tiga saudara yang sama-sama melakukan suatu pertapaan disuatu tempat dikenal di Dusun Sumber (wilayah Gili Timur).

Salah satu dari ketiga saudara tersebut tinggal disebelah barat Gili Anyar yang dikenal dengan nama Buju Bendo (Tarhes), pada saat itu Gili Barat kekurangan air untuk mengaliri sawah-sawah di desa tersebut, sehingga Buju Bendo mempunyai inisiatif membuat kali yang tadinya cuma sampai di Gili Anyar, dengan kesaktiannya Buju Bendo menarik tongkatnya dari kali Gili Anyar ke Barat  tidak lama kemudian air mengalir dari Gili Anyar ke Barat, tetepi airnya yang mengalir sedikit sekali, sehingga Buju Bendo menancapkan tongkatnya dan dengan derasnya air keluar dari tanah dan air tersebut dialirkan keseluruh sawah-sawah yang ada di desa sebelah baratnya Gili Anyar, selanjutnya masyarakat pada saat itu menyebut desa tersebut dengan nama Desa Gili Barat.


Dengan demikian Daerah tersebut dikenal dengan nama Desa Gili Barat, dimana desa tersebut masih masuk dalam wilayah Kecamatan Kamal... [DI]


Sumber : Indra Bagus Kusuma
Photo Koleksi : Bangkalan Memory
Share:

Asal Usul Kecamatan Arosbaya Bangkalan

Bagi warga Madura yang bermukim di Kabupaten Bangkalan, nama Kecamatan Arosbaya mungkin sudah tak asing lagi atau mungkin juga bagi sebagian besar masyarakat Madura. Ini karena nama Arosbaya kerap disebut sebagai pusat perkembangan dan peradapan suku Madura, khususnya di wilayah Madura bagian Barat. Karena di Arosbaya pulalah agama Islam pertama kali disebarkan ke seantero Madura.

Tulisan di atas bukan bermaksud mengorek sejarah Madura, atau pun penyebaran agama Islam di Madura. Semata karena tulisan ini tertuju pada huruf yang tersusun menjadi kata A-R-O-S-B-A-Y-A.


Legenda yang kuat mengakar di masyarakat Kecamatan Arosbaya, muasal nama Arosbaya bermuara dari keberadaan Buju' Resbejeh, yakni Asta Keramat yang lokasinya berada di pemakaman umum Morouk di Kampung Pandian, Desa/Kecamatan Arosbaya. Resbejeh sendiri merupakan dialek masyarakat Madura untuk mengucap nama Arosbaya.

Syandan, makam tersebut diyakini merupakan kuburan dari R. Abdul Wahid Trunokusumo. Beliau merupakan penyiar Islam yang berasal dari Solo. Itu sebagaimana disampaikan oleh juru kunci Buju' Resbejeh, Ismail.



Diceritakan lebih detail oleh pria yang kini berusia 39 tahun ini, berdasar penuturan yang telah diyakini kebenarannya oleh masyarakat Arosbaya, kali pertama menginjakkan kaki di Madura Barat, R. Abdul Wahid Trunokusumo langsung berziarah ke sebuah makam seorang wanita. Lokasinya saat ini persis berada disebelah barat Buju’ Resbejeh. Hingga kini, makam dimaksud masih terpelihara dan tidak diketahui identitasnya. ‘Kemudian setelah meninggal, beliau dimakamkan di lokasi yang sekarang ini banyak disebut sebagai Buju' Resbejeh," tutur Ismail yang kini juga berprofesi sebagai pandai besi ini. Tentang muasal nama Arosbaya sendiri, pria yang juga seorang guru ngaji ini merujuk dari cerita dari mulut ke mulut yang didengar dari tetua kampung setempat.

Konon, cerita Ismail, raja setempat yang oleh masyarakat Arosbaya dikenal bernama Gusteh Nyo'on, pemah bermimpi bahwa di makam R. Abdul Wahid Trunokusumo tersebut berpenghuni seekor buaya putih. Buaya dimaksud dalam wujudnya mempunyai sebilah keris yang terselip di pinggangnya.

"Katanya, bhejeh pote nyongkel kerres. Akhimya padanan dari kerres dan bhejeh tersebut, digabung jadi satu dan menjadi nama Resbejeh. Dalam dialog Bahasa Indonesia, menjadi Arosbaya," terang Ismail.

Dari versi cerita warga yang lain, Ismail juga mengutip sebuah cerita tentang muasal nama Resbejeh. Meski agak serupa, namun sama sekali tak sama. Dimana, ujar Ismail, lewat mimpinya juru kunci Buju' Resbejeh sebelumnya yang bemama Abdur Rasyid pernah bermimpi bahwa disekitar Buju' Resbejeh tersebut ada penampakan berwujud buaya putih yang ekornya berupa sebilah keris.

"Dua versi cerita tersebut sama-sama diyakini kebenarannya oleh masyarakat sekitar sebagai muasal nama Resbejeh atau Arosbaya," tutur Ismail. Sebagai makam yang dikeramatkan oleh warga sekitar, Buju' Resbejeh sudah lama dikenal memiliki karomah. Beberapa di antara¬nya diakui sebagai lokasi yang mustajabah untuk memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa. Namun, serupa beberapa makam aulia' lainnya, di Buju' Resbejeh juga dikenal sejumlah 'ritual' khusus kala berdoa.

Dalam hal ini, sang juru kunci Ismail kembali membeber fakta yang diperoleh dari mimpinya. Dijelaskan, dalam sebuah tidurnya, pria yang telah dikarunia dua orang anak ini mengaku seakan berada di sekitar Buju' Resbejeh. Saat hendak masuk ke dalam bangunan makam, dirinya disambut oleh salah seorang yang berpakaian serba putih. Sayang, saat itu dirinya tak bisa melihat wajah sang penyambut yang di kepalanya dibelit sorban putih tersebut. Namun diyakini yang bersangkutan adalah R. Abdul Wahid Trunokusumo yang dimakamkan di Buju' Resbejeh. Sementara di belakangnya berdiri banyak pengikutnya yang berpakaian juga serba putih dengan cadar ala ninja.

Lazimnya masuk ke komplek makam, Ismail bercerita langsung bersila dan hendak memanjatkan doa kubur. Namun, sontak pria yang berpakaian dan bersorban serba putih tersebut mencegahnya. Kemudian berujar, "Maos Sorat Al-Kahli 7 kaleh (Membaca Surat Al-kahfi 7 kali)".

"Dalam mimpi, saat itu saya agak kaget. Sebab Al-Kahfi kan lumayan panjang. Meski demikian, saya langsung membacanya. Namun, sebelum menyelesaikan satu ayat pertama dari al-Kalifi, saya terbangun. Sejak saat itu, saya berkeyakinan bahwa di Buju' Resbejeh ini, kalau hendak berdoa sebaiknya diawali dengan bacaan Al-Kahfi tujuh kali. Insya Allah terkabul. Namun ingat, semuanya tak lepas dari kuasa Sang Maha Esa,” pungkasnya... [DI]



Dikutib dari : Harian Radar Madura 4 Oktober 2007

Oleh : Edi Kurniadi


Share:

Asal Usul Kampung Kepang Bangkalan

Kepang… yach, itulah nama sebuah kampung yang ada dalam sederet nama kampung yang ada di Pulau Madura, tepatnya di Kota Bangkalan. Letak kampung yang strategis menjadi daya tarik tersendiri bagi kampung ini. Kampung Kepang sangat mudah untuk di jangkau karena masih dalam kawasan dan lingkup jantung Kota Bangkalan, yang berlokasi di jalan Letnan Singosastro gang 5. Jarak yang begitu dekat dengan alun-alun kota menjadikan kampung ini sangat mudah bagi orang-orang untuk singgah dan berkunjung ke kampung ini. 


Lalu-lalang kendaraan serta keadaan jalan yang memadai memberikan kenyamanan tersendiri bagi para pengunjung. Tak hanya itu, kampung Kepang juga dekat dengan makam pembabat Kota Bangkalan yaitu KH. Syaichona Kholil. Kampung yang dulunya merupakan hutan belantara kini menjadi perkampungan yang ramah dan nyaman. Kekentalan dan kemurnian masih nampak dan terjaga. Bagaimana tidak, terbukti dengan berdiri tegaknya Pondok Pesantren Al-Falah Al-Kholiliyah (Pondok Kepang) menjadikan kampung ini sebagai pusat pembelajaran ilmu agama serta ilmu-ilmu syariat yang lain.



Tidak banyak orang yang tahu napak tilas / asal usul kampung yang di beri nama KEPANG dan berdirinya pondok pesantren Al-Falah ini, namun setelah di konfirmasi serta penuturan dari beberapa sesepuh dan warga sekitar akhirnya ditemukan juga sejarahnya.

Pada zaman dahulu ada seorang pemuda yang alim dan sederhana. Ia sangat patuh kepada kedua orang tuanya, disamping itu ia sangat tekun menjalankan ajaran agama Islam. Pemuda tersebut bernama Mohammad Yasin, putra keluarga Mohammad Yakub dari kecamatan Konang, Bangkalan-Madura. Bertahun-tahun menimba ilmu agama di pondok pesantren mulai dari pondok pesantren di Pulau Jawa sampai pesisir Arab Saudi.

Bertahun-tahun pula ia tinggal di Mekkah menimba ilmu agama dan meningkatkan ibadah. Pada suatu hari ia bermimpi dalam tidurnya ia didatangi orang tua berjubah putih. Orang tua tersebut berpesan bahwa sudah waktunya Mohammad Yasin untuk kembali ke tempat kelahirannya mengamalkan ilmu dan membangun pesantren di Madura. Di akhir mimpinya orang tua berjubah putih juga sempat berpesan agar nantinya mencari kampung Kepang untuk membangun rumah/ tempat tinggal di Bangkalan Madura.

Akhirnya Mohammad Yasin pulang ke Kabupaten Bangkalan di Madura, setelah bertahun-tahun ia berkelana menimba ilmu agama. Sesampainya di Bangkalan ia mulai bertanya-tanya kepada sesepuh dan tokoh masyarakat di Bangkalan untuk mengetahui keberadaan kampung Kepang.

Selama ia mencari keberadaan kampung tersebut, Mohammad Yasin menambah ilmu dengan mondok di Pesantren Demangan yang kala itu dipimpin KH.Syaichona Kholil. Berkat kecerdasan dan kepatuhannya kepada Kyai, akhirnya Mohammad Yasin dipertemukan dan dipersunting dengan putri dari KH.Syaichona Holil.

Hingga pada suatu hari Raja Bangkalan ingin mengadakan pesta rakyat yang rencananya akan digelar selama 7 hari 7 malam. Persiapan demi persiapan sudah dilakukan demi lancarnya pesta, namun seantero kota Bangkalan selalu diselimuti awan mendung yang menandakan akan terjadinya hujan deras. Tanpa pikir panjang Sang Raja pun langsung mengutus ajudannya untuk mengadakan sayembara yang isinya:“ barang siapa yang bisa mengusir mendung-mendung tersebut akan diberi hadiah oleh Sang Raja “.

Mendengar hal semacam itu seluruh jagoan serta pawang-pawang  hujan menunjukkan keahlianya masing-masning, namun hasilnya nihil tak ada perubahan sama sekali. Pada akhirnya Sang Raja mendengar berita bahwa ada satu ulama yang karismatik, terkenal dengan kewaliannya yang tidak diragukan lagi kemampuannya. 

Ya…. Dialah KH.Syaichona Kholil, mertua dari Mohammad Yasin. Seketika itu juga Sang Raja langsung  mengutus Ajudannya  untuk menemui sang wali tersebut. Anehnya  sang wali tidak mau hadir ke Keraton Kerajaan. Akan tetapi hanya memberi selembar kertas yang isinya “ pala’eh Raja rajah” {kemaluan raja besar }, dan menyuruh memampangkan kertas tersebut didepan Keraton Kerajaan.

Sesampainya di Kerajaan kertas tersebut langsung di baca oleh Raja, sontak Sang Raja langsung marah, akan tetapi kemarahan Raja diredam oleh penasehat Kerajaan. Sang raja pun menuruti perintah Sang Wali untuk memempangkan kertas tersebut. Tak selang beberapa saat setelah tulisan tersebut terpampang, seantero Bangkalan yang tadinya diselimuti awan mendung langsung berubah menjadi cerah dan terang benderang .

Begitu karomahnya Sang Wali tersebut yang dengan tulisan tak berarti itu bisa mengusir mendung yang menyelimuti Bangkalan. Raja pun langsung tenang dan gembira menyaksikan keajaiban tersebut. Pada hari itu pula Raja langsung mengundang KH. Syaichona Kholil untuk datang  ke Keraton Kerajaan guna menerima hadiah dari Sang Raja. 

Sang Raja pun memberikan hadiah pada KH. Syaichona sebidang tanah luas sebagai tanda terimah kasih Raja pada beliau atas pertolonganya. KH.Syaichona Kholil pun menerima pemberian raja tersebut.

Lalu tanah itu oleh KH. Syaichona Kholil di berikan kepada menantunya, yaitu Mohammad Yasin. Mohammad Yasin pun menerima tanah pemberian mertuanya itu dengan senang hati. Ia merasa tanah pemberian mertuanya itu merupakan petunjuk atas keberadaan kampung Kepang yang ia cari selama ini. Tanah tersebut terletak di sebelah timur selatan alun-alun Bangkalan saat ini ( dahulu masih merupakan hutan belantara ). 

Tanpa pikir panjang Mohammad Yasin pergi ke tempat tanah tersebut, namun kenyataannya tidak seperti yang ia dibayangkan, tanah tersebut kala itu sangat angker, pohon-pohon besar menjulang tinggi, binatang liar berkeliaran seperti babi, ular dll, dan tidak ditemukan kampung di sekitar tanah luas milik Muhammad Yasin itu, hanya hutan belantara tak berpenghuni. 

Dengan sabar dan tekun, Mohammad Yasin mulai membersihkan hutan belantara tersebut hingga akhirnya berdirilah sebuah bangunan sederhana yang layak untuk dihuni. Hingga akhirnya lama-kelamaan hutan belantara tersebut menjadi sebuah kampung yang di beri nama Kampung Kepang. Meneruskan perintah dari KH. Syaichona Kholil, Muhammad Yasin pun mendirikan sebuah pondok pesantren yang ia beri nama Pondok Pesantren Al-Falah Al-Kholiliyah (Pondok Kepang).

Sedangkan kampung Kepang itu sendiri berasal dari kata “TA KE PEK bungkanah KE TA PANG” dan disingkat KEPANG.  Konon pada zaman dahulu di tempat angker tersebut ada seorang petapa bernama Saniba, ia meninggal akibat terhimpit pohon besar (pohon Ketapang). 

Hingga sekarang tempat pertapaan masih terawat dengan baik di pondok Kepang. Masyarakat/kalangan pondok menyebutnya PETAPAN. Masih penasaran?? Silahkan berkunjung ke Pondok Kepang.... [DI]


Photo Koleksi : Berbagai Sumber
Share:

Asal Usul Desa Tajungan Kamal Bangkalan

Nama Desa Tajungan menurut tokoh masyarakat yang bernama Bapak Mundafar, mengatakan bahwa Desa Tajungan merupakan Tanjung yang tenggelam, hal ini disebabkan pada saat air pasang  desa tersebut tenggelam sampai-sampai daratannya tidak kelihatan.





Selanjutnya Pak Mundafar menjelaskan secara rinci, konon dahulu ada seorang pemuda nelayan dari gresik, saat air pasang nelayan itu mencari ikan diwilayah tersebut dan kebetulan wilayah itu banyak sekali ikannya, sehingga pemuda nelayan itu berlama-lama menjaring ikan di tempat itu, tak terasa air mulai surut dengan tidak disangka perahunya kandas di dataran (pantai) tersebut, tidak lama kemudian ada seorang sedang mencari kerang di pantai itu, saat itu hari mulai sore, pemuda nelayan itu berhasrat cepat pulang, ternyata nelayan itu mengalami kesulitan untuk mendorong perahunya ke laut, sehingga pemuda nelayan itu minta bantuan ke bapak pencari kerang tersebut, selanjutnya pencari kerang itu menghampirinya membantu mendorong perahu pemuda tersebut.


Selanjutnya hubungan kekeluargaan antara pemuda dengan orang tersebut terus-menerus dibina dengan baik, sehingga untuk menambah persaudaraan, pemuda tadi menikah dengan anak perempuannya. Setelah pemuda tersebut berkelurga memutuskan untuk tinggal di tanjung tenggelam tersebut.

Tanjung Tenggalam itu segera diuruk atau ditambahkan tanah bedel dari desa lainnya sampai menutup atau menjadi daratan, sehingga desa itu diberi nama Desa Tajungan dan perlu diketahui desa tersebut luasnya sekitar 7 ha saja... [DI]


Photo Koleksi : Berbagai Sumber


Share:

Asal Usul Desa Karang Leman Tragah Bangkalan

Dahulu sebelum menjadi desa dan dihuni oleh penduduk wilayah ini juga masih berupa hutan belantara yang lebat dan rimbun, tidak bisa dibedakan antara yang berupa sawah, ladang atau perkampungan yang terlihat hanya hutan rimba. Tetapi calon daerah persawahan bisa dilihat sepintas yaitu pohon-pohon yang tumbuh dIdaerah yang rendah bisa hidup subur karena setelah berdiri kerajaan di sekitar wilayah ini (yang sekarang disebut Desa Bancang dan Desa Pacangan). 

Wilayah ini mulai dibabat untuk dijadikan perkampungan atau persawahan, mula-mula yang di jadikan untuk perkampungan hanya sebagian saja, karena pesatnya pertumbuhan penduduk sehingga makin lama semua wilayah ini dibabat semuanya baik untuk pemukiman maupun untuk persawahan, sampai disini wilayah ini belum ada namanya. 




Suatu ketika desa ini mengadakan hajatan sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Kuasa karena wilayah ini akan memetik panen raya karena semua tanaman pertanian hidup subur dan melimpah ruah. 





Dengan dilaksanakannya hajatan ini salah satu penduduk mengusulkan kepada para sesepuh yang datang untuk mengikuti hajatan tersebut agar wilayah ini diberi nama agar semua orang pada mengetahui dan bisa menyebut nama wilayah ini, akhirnya para sesepuh tadi berunding bersama-sama setelah ada kata sepakat maka mereka memberi nama wilayah ini menjadi Desa Karang Leman karena desa ini yang dijadikan pemukiman terdiri dari lima lokasi yang masing-masing lokasi dibatasi oleh sawah, yang asal katanya karangan daerah pemukiman yang jumlahnya lima sampai sekarang... [DI]

Keterangan :

Photo yang terdapat di dalam cerita tersebut diatas hanyalah gambaran ilustrasi saja dan dan bersifat fiktif

Sumber : Pembakuan Nama Rupa Bumi Kabupaten bangkalan Tahun 2012

Photo Koleksi : Berbagai Sumber



Share:
Copyright © BANGKALAN MEMORY | Powered by Bangkalan Memory Design by Bang Memo | Kilas Balik Bangkalan Tempo Dulu