Tampilkan postingan dengan label WISATA RELIGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISATA RELIGI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 April 2015

Sabtu, 13 Desember 2014

Pengeran Santomerto Saudara Rato Ebu Sampang

Setelah kerajaan-kerajaan dimadura pada tahun 1624 M ditaklukan sultan Agung Mataram, semua keluarga kerajaan terbunuh kecuali Raden Praseno. Selanjutnya Raden Praseno dibawa ke Mataram, walaupun Raden Praseno sebagai tawanan perang karena perilaku dan kemampuannya yang terpuji, namun beliau ditunjuk sebagai penguasa Mataram di Madura dengan gelar Pangeran Tjakraningrat I.

Pada masa pemerintahan Pangeran Tjakraningrat I pusat pemerintahan dipindah dari Tanjung Bangkalan ke Madegan Sampang dengan alasan mengembalikan pusat pemerintahan ke asal leluhurnya.

Walaupun sebagai penguasa di Madura beliau juga mendapat tugas sebagai penasihat kerajaan dan panglima perang, sehingga Pangeran Tjakraningrat I diharuskan tinggal di Mataram. Kekuasaan di Madegan Sampang dijalankan oleh pamannya Pangeran Santomerto. Pengangkatan Pangeran Tjakraningrat I sebagai penasehat kerajaan di Mataram merupakan strategi Amangkurat I untuk mengerdilkan dan menghambat pengembangan Madura. Pangeran Santomerto memangku pemerintahan sampai tahun 1648. 



Video Makam Pengeran Santomerto


Setelah Pangeran Tjakraningrat meninggal dunia. Selanjutnya pemerintahaan di madura di pangku oleh pangeran tjakaraningrat I dengan pusat pemerintahan di madegan Sampang, tetapi setelah perlawanan Pangeran Trunojoyo berakhir karena kuatir pada perlawanan dari sisa-sisa kekuatan pangeran trunojoyo, pada tahun 1680 pusat pemerintahan dipindah dari Madegan Sampang ke Tanjung Bangkalan. Setelah Pangerangan Santomerto meninggal dia kebumikan di Kelurahan Karang dalam Kec. Sampang.   


Sumber : sampangkabmuseumjatim


Share:

Kamis, 04 September 2014

Raden Mas Bagus Arya Mancanegara

Alkisah pada Abad ke 16, salah satu dari keturunan Prabu Brawijaya yang Meningalkan Kraton karena lebih tertarik mendalami Agama Islam dan ilmu kanuragan beliau bernama Raden Mas Jaka Leka menyepi dikaki Gunung Lawu tempatnya di dukuh Calpitu, Raden Mas Jaya Leka mempunyai seorang putra bernama Raden Mas Bagus Mancanegara setelah putranya ini dewasa dan telah menguasai ilmu-ilmu Agama Islam dan Ilmu kanuragan yang ajarkannya, maka Raden Mas Bagus Mancanegara di perintahkan oleh Romonya untuk menimba Ilmu kepada Kyai Buyut Banyubiru (sekarang Masuk Kabupaten Semarang). Sebab Kyai Buyut Banyubiru tahu bahwa Raden Mas Bagus Mancanegara akan menjadi pendamping raja.

Pada waktu itu Kyai Buyut Banyubiru berkata, “Nak Mas Mancanegara, rajamu hampir datang ke sini. Dua hari lagi akan datang. Jika sudah tiga bulan tinggal di Banyubiru, itu tanda peresmian raja sudah dekat. Kelak akan beribukota di Pajang. Kamu akan menjadi patihnya. Raja itu sangat sakti dan disegani musuh. Kerajaannya angker. Dia adalah keturunan Andayaningrat di Pengging. 

Dua hari kemudian, Jaka Tingkir datang di Banyubiru, lalu diangkat menjadi putranya oleh Kyai Buyut Banyubiru. Begitu sangat didambakan, dipersaudarakan dengan Raden Mas Bagus Mancanegara. Kyai Buyut Banyubiru menuntaskan pengajarannya kepada Raden Jaka Tingkir bersama Raden Mas Bagus Mancanegara. Sesudah genap tiga bulan, Kyai Buyut Banyubiru berkata kepada Jaka Tingkir, “Nak, sudah sampai saatnya kamu menunjukkan diri kepada Kanjeng Sultan, saat ini musim penghujan, Sultan mesti berada di istana di Gunung Prawata. Saya kira kalau kamu datang ke Prawata, Sultan belum pulang ke Demak. Aku membawa syarat yang bisa membuatmu ditanggapi Kanjeng Sultan. Tanah ini masukkan ke dalam mulut Kebo Danu. Pasti kerbau tadi langsung mengamuk di Prawata. Orang Demak tak ada yang bisa membunuh kerbau tadi, tanahnya buanglah terlebih dahulu, mesti kerbau tadi dapat kau bunuh. Dan kamu saya beri pengikut adikmu Raden Mas Bagus Mancanegara serta saudara laki-lakiku bernama Ki Wuragil dan keponakanku, anak Ki Buyut Majasta namanya Ki Wila. Tiga orang tadi jangan sampai pisah dengan kamu.” Jaka Tingkir menjawab siap-sedia menjalankan perintah.

Kyai Buyut Banyubiru lalu memerintah anak-cucunya agar membuat rakit untuk dinaiki Jaka Tingkir. Setelah siap semuanya lalu berangkat naik rakit. Kyai Buyut Banyubiru mengantar sampai di tepi sungai sambil berdoa menengadah ke langit. Ketika rakit sampai Kedung Srengenge di mana di situ di kenal ada Kerajaan Buaya yang diperintah oleh Bau Rekso dan Patihnya bernama Jalu Mampang, maka Rakit  tersebut didorong oleh prajurit-prajurit buaya sampai ke darat sebanyak 40 Ekor Buaya dipimpin Patih Jalu Mampang yang bertempur melawan Raden Mas Bagus Mancanegara di daratan sedang Jaka Tingkir menyelam ke dalam air mencari Raja Buaya bernama Bau Rekso dan pertempuran di darat antara Raden Mas Bagus Mancanegara dan Para Prajurit Buaya Pimpinan Patih 

Jalu Mampang sangat ramai dan seru dan pada akhirnya Patih Jalu Mampang dan ke 40 ekor prajurit buaya mati semua di tangan Raden Mas Bagus Mancanegara sedangkan Jaka Tingkir di dalam air menghajarnya hingga Raja Buaya Bau Rekso menyerah pada Jaka Tingkir dan berjanji akan mengantarkan perjalanannya, dan memberi hadiah satu buaya setiap tahun.



Pada saat Sultan Trenggana sekeluarga sedang berwisata di Gunung Prawoto. Jaka Tingkir melepas seekor kerbau gila yang dinamakan sebagai Kebo Danu yang sudah diberi mantra (diberi tanah kuburan pada telinganya). Kerbau itu mengamuk menyerang pesanggrahan raja tersebut, di mana tidak ada prajurit yang mampu melukainya. Kemudian Jaka Tingkir tampil menghadapi kerbau gila. Kerbau itu dengan mudah dibunuhnya. Atas jasanya itu, Sultan Trenggana mengangkat kembali Jaka Tingkir menjadi lurah wiratamtama. Kisah dalam babad tersebut seolah hanya kiasan, bahwa setelah dipecat, Jaka Tingkir menciptakan kerusuhan di Demak, dan ia tampil sebagai pahlawan yang meredakannya. Oleh karena itu, ia pun mendapatkan simpati raja kembali.



Prestasi Jaka Tingkir sangat cemerlang meskipun tidak diceritakan secara jelas dalam Babad Tanah Jawi. Hal itu dapat dilihat dengan diangkatnya Jaka Tingkir sebagai Adipati Pajang bergelar Adipati Hadiwijaya. Dia juga menikahi Ratu Mas Cempa, putri Sultan Trenggana dan akhirnya pada tahun 1549 mendirikan sebuah Kerajaan di Pajang yang akhirnya Jaka Tingkir mengangkat diri menjadi Sultan Pajang, dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Setelah Jaka Tingkir resmi menjadi Sultan Pajang beliau mengangkat saudaranya menjadi Patih dengan Gelar "PATIH RADEN MAS BAGUS MANCANEGARA".

Setelah Sultan Hardiwijaya (Jaka Tingkir) Mangkat, Kepemerintahan beralih Ke Mataram di bawah Kepemimpinan tidak lain di adalah Anak Angkat Sultan Pajang Sultan Hardiwijaya (Jaka Tingkir) beliau bernama Raden Ngabehi. Namun Raden Mas Bagus Mancanegara sangat setia kepada Saudara Angkatnya (Jaka Tingkir).  Oleh sebab itu Raden Mas Bagus Mancanegara berniat ingin keluar meninggalkan Kraton Kesultanan Pajang karena Pemerintahan Pajang sudah beralih Ke Mataram, dengan berat hati Raden Mas Bagus Mancanegara akhirnya meninggalkan Kraton Pajang dengan menunggangi kuda dan mengarahkan ke arah Timur dan akhirnya tanpa terasa Raden Mas Bagus Mancanegara tiba di tanah kelahirannya yaitu Jawa Timur, sambil berjalan dan menyebarkan Agama Islam di setiap tempat yang di laluinya.

Akhirnya Raden Mas Bagus Mancanegara sampai di Pinggiran Pantai Gresik, dan berniat menyebrang bersama kudanya ke tanah Pulau Madura, sebelum menyeberang Raden Mas Bagus Mancanegara membuat sebuah perahu dengan Kayu Naga Sari (Kayu yang sangat multi fungsi) setelah jadi akhirnya Raden Mas Bagus Mancanegara melanjutkan Perjalanan ke Pulau Madura, tiba tiba di tengah perjalanan Perahunya di datangi oleh seekor ikan pari dan membantu mendorongkan perahu Raden Mas Bagus Mancanegara hingga sampai di tepi Pulau Madura, tepatnya di Desa Socah Kabupaten Bangkalan Madura.

Sesampainya di Pulau Madura Raden Mas Bagus Mancanegara berucap dengan Niat (“Semoga keturunanku agar tidak memakan ikan Pari sebagai tanda terima kasih yang telah membantu mendorong perahu Raden Mas Bagus Mancanegara untuk menyeberang dari Kota Gresik hingga tepi Madura Socah Bangkalan”).  

Semangat Beliau sangat Tangguh untuk menyebarkan Agama islam, dari situlah Raden Mas Bagus Mancanegara mulai menjadi Ulama Besar yang tiada henti menyebarkan Agama Islam ke seluruh Pelosok Bangkalan, Sumenep, Sampang, Pemekasan sehingga Nama Beliau melambung dan terdengar oleh Penguasa Kerajaan Madura Barat dimana waktu itu dipimpin oleh Kiai Pratanu (Panembahan Lemah Duwur) pada tahun Tahun 1531 – 1592. Pada akhirnya beliau di angkat menjadi "Ulama Kraton Se Madura", dengan Gelar : “KYAI RADEN MAS BAGUS ARYA MANCANEGARA”. Setelah Raden Mas Bagus Arya Mancanegara wafat, Beliau di makamkan di kediamannya di Desa Martajasah Bangkalan Madura, dan makam Raden Mas Bagus Mancanegara berada di dalam Cungkup Khusus beserta kuda kesayangannya yang senantiasa selalu setia menemani perjalanan di masa-masa hidupnya dan Makamnya Kuda Raden Mas Bagus Arya Mancanegara tersebut berada di luar Cungkup yang tepatnya dipinggir tembok jalan yang menuju ke makam Raden Mas Bagus Arya Mancanegara, namun alangkah sayangnya makam Raden Mas Bagus Arya Mancanegara masih sulit di jangkau oleh para Peziarah karena lokasinya sangat tersembunyi dan jauh dari keramaian.




Makam Raden Mas Bagus Arya Mancanegara yang ditutupi oleh kelambu
Makam Raden Mas Bagus Arya Mancanegara
Makam Kuda Raden Mas Bagus Arya Mancanegara
Batu Nisan Kuda Raden Mas Bagus Arya Mancanegara

Pemerintah Daerah sangat kurang dalam memperhatikan Cagar Budaya para leluhur yang telah banyak berkorban dan berjuang dalam menyebarkan Agama Islam di Madura, akibatnya bangunan tembok Kraton batu batanya sudah mulai runtuh karena kurang perawatan. Semoga amal baik dan jasa-jasa Beliau di terima di sisi-Nya....  Amin ya Robbal Alamiin……..


Gapura memasuki areal makam Raden MAs Bagus Arya Mancanegara
Gapura untuk pemakaman Umum dimana terdapat makam KH. Abd. Lathif, KH. Asror dan KH. Kaffal

Makam KH. Abd. Lathif, KH. Asror dan KH. Kaffal


Gapura memasuki makam Raden MAs Bagus Arya Mancanegara

Gapura memasuki makam Raden MAs Bagus Arya Mancanegara

Gapura memasuki makam Raden MAs Bagus Arya Mancanegara

Kompleks Makam Raden Mas Bagus Arya Mancanegara

Video Makam Raden Mas Bagus Arya Mancanegara di Martajasah Bangkalan :



CATATAN MILIK KYAI RADEN MAS BAGUS ARYA MANCANEGARA

Raden Mas Bagus Arya Mancanegara menulis sebuah Buku Catatan yang tertulis dengan tulisan aksara (Jawa & Barat + Timur + Madura + Bali) yang tertulis jelas di sebuah bambu tipis seperti halnya sebuah Alkitab tertera Penulisnya "Raden Mas Bagus Arya Mancanegara" dan Beliau juga memiliki sebuah Sorban putih yang di amankan oleh Keturunan Beliau tepatnya di : Jl. HOS Cokroaminoto 46 Bangkalan semoga seluruh Peninggalan Beliau terjaga dengan aman sebagai bukti peninggalan Raden Mas Bagus Arya Mancanegara di masa pemerintahan Ki Lemah Duwur... [DI]


Demikian Jejak Perjalan Raden Mas Bagus Arya Mancanegara, semoga bermanfaat. 



Photo Koleksi : Bangkalan Memory


Sumber :
Tulisan ini dikutipdari buku naskah terjemah ke dalam Bahasa Indonesia, dari terjemah ke dalam Bahasa Belanda karya W.I. Olthof di Belanda tahun 1941, yaitu :  Babad Tanah Jawi:  Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647 S terbitan Penerbit NARASI Yogyakarta cet. IV, th. 2008; halaman 51-54

http://www.wisata-alam.com/perjalanan-r-mas-bagus-arya-manca-bangkalan/


Share:

Rabu, 06 Agustus 2014

Makam Sunan Bangkalan atau Raden Jakandar

Raden Jakandar atau lebih dikenal Sunan Bangkalan (Sayyid Al Maghribi) adalah ulama keturunan Keluarga Kerajaan Pajajaran. Dari pernikahannya dengan Dewi Nawangsasi, putri Ki Ageng Tarub, dikaruniai dua orang Putri yaitu Dewi Hisah (Istri Sunan Gunung Jati) dan Dewi Hirah (Istri Sunan Bonang). Makam beliau berada di pinggiran Bangkalan, tepian pantai Ujung Piring.



Dari sumber kitab kecil yang berjudul Tarich al-Auliya susunannya K.H. Bisyri Musthofa Rembang menjelaskan bahwa silsilah para wali di nusantara tidak lepas dari 4 (empat) tokoh besar, antara lain :

1). Sayyid Jamaluddin Husain as-Samarqandiy
2). Raden Arya Galuh Pajajaran
3). Raja Kuntara Cempa Kamboja
4). Prabu Brawijaya V Raja Majapahit

A. Silsilah dari Asmaraqondiy

Sayyid Jamaluddin Husain atau Maulana Muhammad Jumadil Kubro atau Ahmad Syah as-Samarqandiy adalah putra Abdulloh Khon, putra Amir Abdul Malik, putra Sayyid Alwi,, putra Sayyid Ali, putra Sayyid Muhammad, putra Sayyid Alwi, putra Sayyid Muhammad, putra Sayyid Alwi, putra Sayyid Abdulloh, putra Sayyid Ahmad al-Muhajir al-Faqih al-Muqoddam, putra Sayyid Isa al-Bashriy, putra Sayyid Muhammad ar-Rumiy, putra Sayyid Ali al-’Aridhiy, putra Sayyid Ja’far as-Shodiq, putra Sayyid Muhammad al-Baqir, putra Sayyid Ali Zainul Abidin, putra Sayyid Husain, Putra Kholifah Ali bin Abu Tahlib dengan Sayyidah Fathimah binti Nabi Muhammad SAW.

Dua orang putra dari Sayyid Jamaluddin Husain yang berdakwah di nusantara adalah Maulana Ishaq dan Maulana Malik Ibrohim Asmaraqandiy.

B. Silsilah dari Jawa

Arya Penanggungan memiliki tiga orang anak, yaitu : 1). Arya Baribin, 2). Arya Teja (Adipati Tuban, dan 3). Ki Ageng Tarub.

Arya Baribin memiliki dua orang anak, yaitu : Raden Ayu Maduretno, dan Raden Jakandar (Sunan Bangkalan Madura).

Arya Teja (Adipati Tuban) memiliki dua orang anak, yaitu : Dewi Candrawati (Diperistri oleh Sunan Ampel), dan Raden Sahur Tumenggung Wilatikta Tuban (Ayahanda Raden Syahid Sunan Kalijaga).

Ki Ageng Tarub memiliki tiga orang anak, yaitu : 1). Dewi Nawang Sih, 2). Dewi Nawang Sasi, dan 3). Dewi Nawang Arum.

Dewi Nawang Sasi menikah dengan Raden Jakandar (Sunan Bangkalan) putra Arya Baribin yang memiliki dua orang anak, yaitu : 1). Dewi Hisah (Istrinya Sayyid Abdul Qodir Sunan Gunung Jati), dan 2). Dewi Hirah (Istrinya Raden Mahdum Ibrohim Sunan Bonang).

Dewi Nawang Arum menikah dengan Raden Sahur Tumenggung Wilatikta putra Arya Teja memiliki dua orang anak, yaitu : Raden Syahid (Sunan Kalijaga), dan Dewi Sari (Istrinya Sunan Ngudung)

C. Silsilah dari Cempa

Raja Kuntara Cempa Kamboja memilki tiga orang anak, yaitu : 1). Dwarawati Murdaningrum (diperistri oleh Prabu Kartawijaya atau Prabu Brawijaya Majapahit), 2). Dewi Candra Wulan (diperistri oleh Maulana Malik Ibrohim Asmaraqandiy), dan 3). Raden Cingkara.

D. Keturunan Maulana Malik Ibrohim Asmaraqandiy

Maulana Malik Ibrohim dengan Dewi Candra Wulan putrinya Raja Cingkara memiliki tiga orang anak, yaitu : 1). Raja Pendita, 2). Raden Rahmat (Sunan Ampel), dan 3). Siti Zainab.

Raja Pendita Menikah dengan Raden Ayu Madu Retno putrinya Arya Baribin memiliki tiga orang anak, yaitu : 1). Haji Utsman (Sunan Manyuran Mandalika), 2). Utsman Haji (Sunan Ngudung), dan 3). Nyai Gede Tanda.

Raden Rahmat (Sunan Ampel) memiliki dua orng istri, yaitu : Dewi Candrawti putrinya Arya Teja Adipati Tuban, dan Dewi Karimah putrinya Ki Bang Kuning.

Dengan Dewi Candrawati beliau memiliki lima orang anak, yaitu : 
1). Siti Syari’ah (Menikah dengan Haji Utsman Sunan Manyuran), 
2). Siti Muthmainnah (Menikah dengan Sayyid Muhsin Sunan Wilis), 
3). Siti Hafshah (Manikah dengan Sayyid Ahmad al-Yamaniy),
4). Raden Mahdum Ibrohim (Sunan Bonang), dan
5). Raden Qosim (Sunan Derajat Sidayu).

Dan dengan Dewi Karimah beliau memiliki dua putri, yaitu :
1). Dewi Murtasiyah (Menikah dengan Sunan Giri), dan
2). Dewi Murtasimah (Menikah dengan Raden Fatah Sultan Demak).

E. Keturunan Maulana Ishaq bin Sayyid Jamaluddin Husain

Maulana Ishaq berdakwah di daerah Pasai memiliki dua orang anak, yaitu : Sayyid Abdul Qodir (Sunan Gunung Jati Cirebon) dan Dewi Saroh (diperistri oleh Sunan Kalijaga). Kemudian Maulana Ishaq berdakwah ke Blambangan Banyuwangi menikah dengan Dewi Sekar Dadu putrinya Minak Sembuyu Adipati Blambangan memiliki seorang putra yang bernama Raden Paku atau Raden Ainul Yaqin (Sunan Giri).

F. Silsilah Perpaduan Antara Asmaraqandiy dengan Jawa dan Cempa

1). Sunan Ngudung (Utsman Haji putra Raja Pendita putra Maulana Malik Ibrohim Asmaraqandiy) menikah dengan Dewi Sari putrinya Raden Sahur Tumenggung Wilatikta) memiliki dua orang anak, yaitu : 1). Dewi Sujinah (Istrinya Sunan Muria), dan 2). Raden Amir Haji (Sunan Kudus).

2). Sunan Bonang (Raden Mahdum Ibrohim) putra Sunan Ampel menikah dengan Dewi Hirah putrinya Raden Jakandar memiliki satu orang putri bernama Dewi Ruhil yang menikah dengan Amir Haji Sunan Kudus.

3). Sunan Gunung Jati (Sayyid Abdul Qodir putra Maulana Ishaq) menikah dengan Dewi Hisah putrinya Raden Jakandar memiliki dua orang anak, yaitu : Sayyid Abdul Jalil (Syekh Siti Jenar Jepara), dan Dewi Shufiyah (Istrinya Raden Qosim Sunan Derajat)

4). Sunan Kalijaga (Raden Syahid) putra Raden Sahur (Tumenggung Wilatikta Tuban dengan Dewi Nawang Arum putrinya Ki Ageng Tarub), Raden Sahur putra Arya Teja (Adipati Tuban), putra Arya Penanggungan, putra Arya Galuh, putra Arya Randu Kuning, putra Arya Metahun, putra Arya Banjaran (Sudara Prabu Mundi Wangi Pajajaran dan sekaligus menjadi patih di kerajaannya), putra Mundi Sari (Pajajaran). Sunan Kalijaga menikah dengan Dewi Saroh putrinya Maulana Ishaq memiliki tiga orang anak, yaitu : 1). Raden Sa’id (Sunan Muria), 2). Dewi Ruqoiyah, dan 3). Dewi Shofiyah

G. Silsilah Keturunan Prabu Brawijaya V Raja Majapahit Terakhir

Prabu Brawijaya atau Kartawijaya atau Kertabhumi adalah putra dari Raden Suruh (Adipati Majalengka), putra Prabu Mundi Wangi (Raja Pajajaran), putra Mundi Sari, putra Raden Laliyan (Pajajaran), putra Rawis Renggo (Jenggala), dan untuk seterusnya lihat silsilah Raden Arya Galuh.
Prabu Brawijaya memiliki anak banyak sekali, karena di dalam satu riwayat diceritakan bahwa istrinya berjumlah lebih dari 25 orang. Dan adapun anaknya yang dapat disebutkan, maka beberapa diantaranya adalah :

Dari Istri Permaisuri adalah Raden Arya Damar (Adipati Palembang). Dari Istri Dwarawati Murdaningrum putrinya Raja Kuntara Cempa adalah : 
1). Putri Hadiy (Istrinya Adipati Dayaningrat Pengging), 
2). Raden Lembu Peteng (Madura), dan 
3). Raden Gugur.

Dan dari Istri Putri Cempa yang lain keturunan China putrinya Ma Hong Fu (Kyai Batong) adalah Raden Jin Bun atau Raden Hasan atau Raden Fatah (Sultan Demak Bintara)

Dari Istri Ponorogo adalah : Betara Katung dan Adipati Luwanu. Dari Istri Bagelain adalah : Raden Jaran Penoleh (Sampang Madura).

Raden Fatah (Sultan Demak) menikah dengan Dewi Murtasimah putrinya Sunan Ampel memiliki lima orang anak, yaitu :
1). Pangeran Purba
2). Pangeran Trenggana
3). Raden Bagus Sida Kali
4). Raden Kanduruhan
5). Dewi Ratih

JADI KESIMPULANNYA ADALAH :

Raden Ayu Maduretna (istrinya Raja Penditho); Raja Penditho adalah bersaudara dengan Raden Rahmat (Sunan Ampel). Ratu Maduretno puteri dari Susuhunan Prabu Mangkurat di Solo dan merupakan permaisuri dari R. TUMENGGUNG SURODININGRAT dengan gelaran PANGERAN ADIPATI SETJOADININGRAT/PANEMBAHAN TJAKRAADININGRAT V (Panembahan Sidho Mukti) di Bangkalan...[DI]






Photo Koleksi : Bangkalan Memory


Share:

Kamis, 26 Desember 2013

Simbol Kerukunan Umat Beragama di Bangkalan

Kompleks kuburan kuno itu terhampar kokoh di puncak bukit kecil berketinggian 25-30 meter di atas permukaan air laut. Sekelilingnya dikitari pagar batu andelis warna putih, disusun rapi, tanpa menggunakan perekat semen bak bangunan candi-candi tua di Pulau Jawa. Ada enam cungkup ukuran besar, sedang, dan kecil berdiri tegar di bagian tengahnya. Desain arsitekturnya yang unik artistik tak hanya menawarkan keelokan situs karya seni yang antik, namun juga menyiratkan nuansa sakral, angker, sekaligus teka-teki misteri. 

Pasarean Aermata atau Makam Ratu Ibu, demikian penduduk Madura menyebut situs sejarah di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, itu. Sejak ratusan tahun lalu, situs yang satu ini tak hanya populer karena keunikan seni arsitekturnya, tetapi juga karena kadar kekeramatannya. Itu sebabnya, Pasarean Aermata tak pernah sepi dari kunjungan para ahli tirakat. 


"Setiap bulannya bisa mencapai 1.000 orang lebih," kata Moh Jasam (78), juru kunci pasarean. Kehadiran mereka tak hanya didominasi oleh para peziarah dari Pulau Madura dan Jawa, tetapi juga datang dari belahan Indonesia Timur seperti Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan bahkan dari Nanggroe Aceh Darussalam.


Bagusnya, meski belum optimal, popularitas situs bernuansa cagar budaya itu kini mulai terendus ke mancanegara. Terbukti, dalam satu dasawarsa terakhir ini, Pasarean Aermata mulai kerap dikunjungi pelancong dari luar negeri. "Mereka ada yang datang dari Malaysia, Brunei Darusaalam, Singapura, dan bahkan Banglades," tambah Jasam sambil memperlihatkan buku tamu dengan sederet nama asing.

Aroma keunikan Pasarean Aermata memang meniupkan daya pikat tersendiri bagi para pelancong. Betapa tidak, di dalam kompleks makam kuno itu bersemayam potensi sejarah dengan latar belakang kehidupan para raja Madura Barat abad ke-16 sampai dengan abad ke-19. Jelasnya, di balik deretan tiga cungkup utama, berbaring jasad raja-raja dari Keraton Plakaran, Bangkalan, pada era pemerintahan Dinasti Panembahan Cakraningrat alias Raden Praseno, hingga tujuh turunan. Di antaranya adalah kuburan Panembahan Cakraningrat II alias Raden Undakan (1648-1770), Panembahan Cakraadiningrat V alias Raden Sidomukti (1646-1770), Panembahan Cakraadiningrat VI alias Raden Tumenggung Mangkudiningrat (1770-1780), dan Sultan Cakraadiningrat I alias Raden Abdurahman (1780-1815).


Tiga penguasa Keraton Bangkalan (Kerajaan Plakaran) lainnya, yakni Panembahan Cakraningrat I alias Raden Praseno (1624-1648), Panembahan Cakraningrat III alias Pangeran Suroadingrat (1707-1718), dan Panembahan Cakraningrat IV alias Pangeran Jurit (1718-1745) tidak dikuburkan di Pasarean Aermata. "Kuburan Raden Praseno ada di Imogiri. Maklum, Keraton Plakaran di Arosbaya di zaman Kerajaan Mataram dulu merupakan daerah taklukan Sultan Agung," kata Jasam. Sementara Pangeran Suroadiningrat gugur di tengah laut ketika memberontak terhadap Pemerintah Hindia Belanda. Demikian juga kuburan Pangeran Jurit ada di Afrika Selatan, setelah dia dibuang Belanda ke Benua Afrika.


Nuansa keelokan, keunikan, dan kelangkaan seni arsitektur Pasarean Aermata mulai tampak transparan ketika pelancong memasuki pintu gerbang masuk di kaki bukit. Tatanan tangga yang panjang berkelok-kelok bak liukan ular raksasa, menjulang landai menuju puncak Bukit Buduran, tempat bertenggernya tiga cungkup makam para raja dari Kraton Plakaran. Uniknya, seperti kebanyakan candi kuno di Pulau Jawa-Borobudur, Prambanan, dan Mendut misalnya mata rantai tangga plus pagar pembatas di kanan-kirinya tersusun rapi dalam bentuk tumpukan batu andelis tanpa menggunakan lem perekat semen.


Keunikan serupa juga tampak pada susunan batu andelis pada pintu gerbang kedua, cungkup peringgitan tempat menerima tamu (pengunjung), cungkup tempat penyimpanan senjata dan sisa perabotan peninggalan kerajaan, cungkup para juru kunci, serta tiga cungkup utama tempat bersemayamnya jasad para raja. Demikian pula aksesori hiasan memolo dan kemuncak yang bertebaran di puncak atap masing-masing cungkup, pagar keliling kompleks pasarean, plus pagar kanan-kiri tangga masuk, juga bertengger elok tanpa menggunakan lem perekat semen. "Bangunan seperti ini jadi mengingatkan saya pada model bangunan Candi Borobudur," kesan Ketua Pencinta Alam Ki Poleng Bangkalan Drs Mas Imam Luthfi. 



Puncak keelokan estetika Pasarean Aermata sebagai situs peninggalan purbakala di Pulau Madura justru terletak di balik tiga cungkup utama, yakni cungkup makam Kanjeng Ratu Syarifah Ambami (1546-1569), permaisuri dari Panembahan Cakraningrat I yang juga turunan kelima dari Waliullah Sunan Giri alias Raden Samudro, cungkup makam Panembahan Cakraningrat II dan V, serta cungkup makam Panembahan Cakraadiningrat VI dan VII.


Latar belakang dinding pada masing-masing cungkup bertakhtakan taburan seni ukir amat rumit, indah artistik, dan hebatnya terbuat dari hamparan batu pualam putih (semacam batu oniks/marmer). Tidak hanya itu, semua warangka kuburan yang membungkus makam Kanjeng Ratu Syarifah Ambami, Panembahan Cakraningrat I dan V, Panembahan Cakraadiningrat VI dan VII, berikut makam para bangsawan keturunan para petinggi kerajaan itu, juga penuh bertabur ukiran antik. 





Hebatnya, jika kegelapan malam tiba, konfigurasi ragam bentuk ukiran itu tampak memantulkan kilatan cahaya putih kemilau. "Itulah salah satu kehebatan estetika dan daya tarik Pasarean Aermata," ungkap Mas Imam Luthfi.
Di antara rumitnya konfigurasi seni ukir yang ada, tersimpan simbol misteri yang melambangkan kerukunan antar-umat dari tiga agama besar yang berkembang saat itu, yakni Islam, Buddha, dan Hindu. 


 

"Jika pengunjung teliti, simbol kerukunan itu, meski samar, tampak transparan," tandas Imam. Benarkah? Ternyata benar. Sebab, di antara hamparan ragam bentuk seni ukir itu, tersisip ukiran bunga teratai, miniatur Ganesha, serta ukiran kaligrafi yang bertaut sambung-menyambung satu sama lainnya. "Asal tahu saja, ukiran bunga teratai itu merupakan simbol kebesaran agama Buddha, miniatur patung Ganesha simbol Hindu, sementara kaligrafi dalam bentuk tulisan Allah dan Muhammad simbol kebesaran Islam," ungkap Imam. "Nah, pertautan ketiga simbol dalam bentuk relief ukiran itu sama halnya dengan melambangkan kerukunan antara umat Islam, Buddha, dan Hindu di Bumi Madura tempo dulu," tambah dia.





Melalui telaah simbol keagamaan di balik misteri seni ukir itu, dapat dipastikan bahwa petuah, nasihat, dan imbauan agar para umat beda agama di Bangkalan bersanding dalam kehidupan yang rukun dan tenteram, tak hanya santer ditiupkan, tetapi berembus sejak era pemerintahan Panembahan Cakraningrat I pada lima abad yang silam. 


Bagusnya, roh kerukunan yang dibiaskan melalui simbol misteri seni ukir Pasarean Aermata itu tetap berkesinambungan hingga era abad milenium ini. Terbukti, sejauh ini tak pernah terbetik kabar adanya perseteruan, apalagi konflik fisik antara pemeluk Islam, Nasrani, Buddha, Hindu, Tridharma, dan berbagai aliran kepercayaan (kebatinan) di ranah Madura, khususnya Kabupaten Bangkalan... [DI].


Photo Koleksi : Bangkalan Memory

Share:
Copyright © BANGKALAN MEMORY | Powered by Bangkalan Memory Design by Bang Memo | Kilas Balik Bangkalan Tempo Dulu