Tampilkan postingan dengan label MANUSCRIPT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MANUSCRIPT. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2015

Kisah Tandha Angrek dan Tandha Serab


Sejak zaman dahulu sejarah Madura selalu terkait dengan sejarah Jawa. Keluarga bangsawan Madura bergaul dengan kebudayaan Jawa. Pada paruh pertama abad 19 justru penguasa Sumenep yang memberi interpretasi prasasti dan karya-karya sastra Jawa Kuno ke sarjana Inggris. Juga di luar kalangan istana hampir semua karya sastra yang dibaca di Madura pada masa itu berbahasa Jawa, namun sejumlah karya dalam Bahasa Madura juga dikenal.


Share:

Rabu, 28 Januari 2015

Jumat, 26 Desember 2014

Surat Sultan Sumenep Kepada Kapten James Clark Tahun 1815

Surat Melayu 1815 ini merupakan surat yang baru saja didigitalkan yakni Surat dari Abdurkhman Pakunataningrat (Sultan Sumenep) yang merupakan penguasa Sumenep di Pulau Madura kepada Kapten James Clark, Residen Inggris Sumenep. Surat tersebut ditulis dengan cepat oleh Sultan Sumenep sendiri, dan dilihat dari isi suratnya, Sultan Sumenep menyatakan bahwa ia akan mengirim Clark dengan memberikan sebuah keris Melayu gaya dan anglo atau dupa burner (Tempat bara api) milik almarhum Ayah, Panembahan Semolo.

Share:

Senin, 22 Desember 2014

Jumat, 05 Desember 2014

Kata Samboetan PJM. Wali Negara dalam Boekoe "Negara Madoera"

Boekoe "Negara Madoera" ini menggambarkan keadaan-keadaan jang dekat kepada kenjataan-kenjataan jang berlakoe sekarang, dengan tidak memakai semboenji-semboenji mengemoekakan hal-hal jang patoet dan wadjib diperbaiki.

Oesaha jang sematjam ini selaloe kami harap-harapkan, karena dengan demikian moedah pimpinan Negara mendjalankan pemerintahan, jang disesoeaikan kepada hasrat kemaoean dari rakjat.

Di dalam Negara Madoera Merdeka, kami akan bekerdja dengan sekeras-kerasnya dengan azas-azas demokrasi jang mendjamin kemerdekaan bagi tiap-tiap warga-negara oentoek mengembangkan kerohanian dan kedjasmaniannja.



Barangkali dalam waktoe permoelaan masa pembangoenan in beloem nampak njata akan kehendak kami terseboet diatas, karena makloem negara kita baharoe sadja lahir, dan kini sedang melangkah madjoe.

Lagi poela kemadjoean dari pada negara kita moengkin ditjapai dengan hasrat oesaha kami semata-mata, melainkan dengan kerdja bersama jang serapat-rapatnja diantara Pemerintah dan Rakjat.

Satoe tjontoh kegiatan dari oesaha kerakjatan jang mengembirakan hati kami, jaitu tjara-tjara memberikan penerangan dengan mendjoendjoeng tinggi kemerdekaan mengeloearkan pendapatan dan kemerdekaan pers.

Kami toeroet mendo'akan moedah-moedahan sahadja boekoe pertama jang memberikan kissah kelahiran Negara Madoera, setelah diakoei kemerdekaanja oleh Pemerintah Hindia Belanda, mendjadikan pengadjak dan pendorong kepada segenap eakjat oentoek bekerdja sejeras-kerasnja, hingga tertjapai soesoenan masjarakat jang aman, makmoer dan sentausa... [DI]


Sampang, 8 Maart 1948


Share:

Selasa, 02 Desember 2014

Raden Trunodjojo Dalam Suratnya kepada Amangkurat II

Telah diteranghan bahwa terdjadi surat-menjurat antara Trunodjojo dan Amangkurat II, dimana terdjemahan surat ini ada di Negeri Belanda, disimpan dalam archif Kolonial. 

Adapun TURUNAN : sebagian Surat dari Raden Trunodjojo kepada Susuhunan Amangkurat II pada tahun 1679, adalah sebagai berikut :



Didalam karangan Dr. H. J. De Graaf "De Opkomst van Raden Trunodjojo" terdjemahan surat tersebut dilampirkan. Pokok dari surat ini, sebagai berikut :



Jadi kesimpulannya sebagai berikut :


01). Trunodjojo sangat berterima kasih kepada Susuhunan bahwa Susuhunan masih ingat kepada abdinja Nila Prawata (Trunodjojo). 

02). Diterangkan oleh Trunodjojo rnengenai permusuhannja dengan Tjakraningrat II. Tentang soal Ini telah didjelaskan didalam bagian 
"Trunodjojo - Tjakraningrat II.

03). Mengenai barang-barang pusaka Keraton jang dibawa oleh tentara Trunodjojo ke Kediri, termasuk djuga rnahkota Modjopahit, disimpan baik-baik. Ini akan dikembalikan bilamana Susuhunan datang ke Kediri. (tidak berteman Belanda). 

04). Dipertimbangkan oleh Trunodjojo supaja memutuskan hubungan dengan Belanda. Bilamana hubungan diteruskan hendaknja dimaafkan kata Trunodjojo patik (abdi) tidak dapat kembali kepada Paduka Jang Mulia oleh karena Belanda tidak boleh dipertjaja. Mereka ada]ah seperti benalo jang mengeringkan zat hidup dari tumbuh-tumbuhan. 
Dikemukakan oleh Trunodjojo bahwa leluhur Susuhunan tidak pernah bersekutu dengan Belanda (Jang dimaksud dengan leluhur adalah Sultan Agung). 

Kemudian digambarkan tentang akibat dari barlangsungnja persekutuan dengan Belanda. Sebagian dari rakjat 1/3 dan 1/2 akan memalingkan mukanja dari Paduka Jang Mulia. Mereka tidak suka diperintah oleh Belanda (de geringe lieden vreezen, dat ze nog eens onder het onhebbelijk gebiet van de Hollanders zullen moeten geraken). 

Adalah tidak pantas bilamana Paduka Jang Mulia sebagai Radja bergaul dengan orang-orang Keristen. 

05). Djika Paduka Jang Mulia melangsunglcan perhubungan dengan orang-orang Keristen, orang Djawa akan mendjadi Keristen. Ini akan mengurangi kepada kewibawaan Susuhunan. 

06). Pada waktu Adipati Anom berkundjung ke Pamekasan, Trunodjojo menjampailcan surat dimana dinjatakan bahwa tidak ada orang lain jang dapat memerintah tanah Djawa dengan adil ketjuali Adipati Anom. 

07). Djika Paduka Jang Mulia ingin mendapat kepertjajaan dari rakjat jang beragama Islam (Moors - gelooff) hendaknja Keraton dipindah ke Modjopahit. 
Nanti djika orang-orang kafir (ketters) meninggalkan tanah Djawa, rakjat Djawa akan menundjuklcan kesetiaannja lagi kepada sang Susuhunan.

08). Mengenai pemulihan keamanan di tanah Djawa sampai ke Blambangan, Sang abdi (Trunodjojo) jang akan menjelesaikannja. Sebagian ketjil jang tetap tidak taat kepada Peduka Jang Mulia dapat dipatahkan dengan kekuasaan jang ada pada Sang Susubunan. 

09).  Dari surat ini ketahuan bahwa nama ketjil dari Trunodjoio adalah Nila Prawata. 

10). Djuga diketahui bahwa sebelumnja sudah ada surat-menjurat antara Trunodjojo dan Amangkurat II. Djuga ternjata bahwa Susuhunan pernah datang di Pamekasan. 

11). Dari surat menjurat ini ternjata bahwa Susuhunan dan Trunodjojo satu sama lain mentjahari perdamaian. Hanja kesempatan jang baik belum ada. Maka dari itu waktu Tjakraningrat II mendjumpai Trunodjojo di lereng gunung dan menasehatkan supaja rnenjerah kepada Amangkurat sang pahlawan tidak ragu-ragu mengikuti nasehat pamannja. Buat Trunodjojo adalah soal jang sangat mudah untuk memindahkan maskasnja ke lain tempat di lereng gunung oleh karena, beliau lebih mengenal keadaan setempat dari pada tentara Belanda dan mendapat bantuan penuh dari rakjat. Tentang perang gerilla Trunodjojo lebih ulung dari pada Balanda. Beberapa kali Trunodjojo dapat meloloskan diri dari kepungan Belanda, di Kadiri, di Ngentang, di Batu jang menurut perhitungan Belanda, tidak mungkin dapat menjelamatkan diri.

12). Trunodjojo mempertjajai tawaran perdamaian, maka dari itu baliau tidak berusaha untuk meloloskan diri dari kepungan, walaupun kesempatan masih ada. 

13). Bahwa Amangkurat II akan memberi ampun hepada Trunodjojo, ternjata dari perintahnja kepada Adipati Oerawan. Dikesankan kepada Kapten Jonker bilamana Trunodjojo menjerah supaja dihadapkan kepada Susuhunan dan kepadanja akan diberi ampun (Daghregister 15 April 1680 muka 174).

14). Sangat mungkin sekali Tjakraningrat II berteman Adipati Oerawan mendjumpai Trunodjojo dilereng gunung sebagaimana jang diterangkan oleh Raffles didalam bukunja "History of Java". .. [DI]



Penulis : R. Moh. Saleh


Share:

Rabu, 10 September 2014

Sabtu, 02 Agustus 2014

Senin, 28 Oktober 2013

Jumat, 25 Oktober 2013

Selasa, 22 Oktober 2013

Jumat, 18 Oktober 2013

Copyright © BANGKALAN MEMORY | Powered by Bangkalan Memory Design by Bang Memo | Kilas Balik Bangkalan Tempo Dulu