Sabtu, 16 Februari 2019

Memoar Perjuangan Mayor R. Moch. Imbran

Pihak sekutu yang sebagian besar berkomposisi pasukan Inggris, mulai meninggalkan Jawa Timur pada medio 1946. Belanda kemudian mengambil alih pengawasan dari sekutu. Sementara pembersihan mereka gulirkan di sepanjang wilayah Jatim sejak mengambil alih, Pulau Madura belum juga bisa mereka “sentuh”.

Pulau garam ini memang tak punya sumber daya melimpah seperti di berbagai daerah Pulau Jawa lainnya. Tapi buat Belanda, penguasaan Pulau Madura tetap penting artinya, terutama untuk pengawasan rute pelayaran kapal-kapal mereka dari Jawa ke Bali.

Untuk menguasai pulau dengan luas 5.168 km persegi ini dalam genggaman, Belanda melakukan sejumlah upaya gangguan, hingga invasi pendaratan ke pantai barat Madura pada awal Juli 69 tahun lampau. 

Kala itu terjadi perlawanan sengit para kombaten Madura yang tak banyak diketahui khalayak yang terutama awam akan sejarah revolusi.

Sebagaimana dikutip dari "Kronik Revolusi Indonesia I", rongrongan Belanda diawali dengan pengeboman pesawat Belanda terhadap sebuah kapal milik republik, “Kangean” di Selat Madura, 4 Juli 1946.

Kapal penyeberangan itu membawa sejumlah pegawai republik dengan rute pelayaran Surabaya-Madura. Kapal itu dicecar serangan Belanda hingga tenggelam dan dikabarkan hanya dua penumpang yang selamat.

Gangguan Belanda juga memakan korban kapal Indonesia lainnya, di mana kapal penyeberangan “Pamekasan”, ditembaki dan diseret ke Surabaya yang juga terjadi di Selat Madura.

Seperti yang termaktub dari buku ‘Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Madura’, Hari-H invasi pendarat sekira 300 pasukan akhirnya tiba pada suatu pagi sekira pukul 08.00 WIB di hari Jumat, 5 Juli 1946.

Pendaratan pihak Belanda ke wilayah yang masih termasuk daerah Jawa Timur dengan status karesidenan itu, turut disertai enam tank amfibi dan dengan perlindungan tiga pesawat pemburu P-51 Mustang atau yang populer dikenal dengan sebutan “Cocor Merah”.


Tujuan pendaratan mereka dititikberatkan di Pantai Kamal, Bangkalan, Madura. Pasukan pendaratan Belanda itu sempat memijakkan kakinya ke Pantai Kamal, setelah lebih dulu dilakukan penembakan ke wilayah pantai yang saat itu, dijaga sejumlah pasukan TRI (Tentara Republik Indonesia) dari Seksi I, Kompi IV, Batalion III, Resimen V Madura Barat.

Pasukan itu di bawah komando Letnan R. Mohammad Ramli yang memang ditugaskan Mayor R. Mohammad Imbran untuk mengawal beberapa pos di Pantai Kamal, Dermaga Timur serta Jungrate.

Tiga tank amfibi Belanda yang pertama mendarat mendapat perlawanan sengit, meski regu pimpinan Letnan Ramli hanya bersenjatakan sejumlah senapan laras panjang dan satu pucuk meriam PSU dan senapan mesin kaliber 7,7 mm.


Kalah dalam hal persenjataan, Letnan Ramli memerintahkan anak-anak buahnya untuk mundur. Pun begitu, Letnan Ramli dengan bersenjatakan pistol genggam dan keris, terus melakukan perlawanan heroik hingga gugur di atas sebuah tank amfibi Belanda.

Heroisme lain saat melakukan perlawanan sengit juga dilancarkan Letnan Singosastro, perwira Resimen V TRI Madura lainnya – masih di area Pantai Kamal. Ketika masih berada di tengah tembak-menembak dan kehabisan peluru, Letnan Singosastro turut gugur di tempat akibat sejumlah tembakan serdadu Belanda.

Beruntung, perlawanan regu lainnya di berbagai sektor Pantai Kamal gagal ditembus Belanda dan memukul mundur lagi pasukan musuh ke arah laut. Terpaksa, Belanda menarik mundur sisa pasukannya dan kembali ke Surabaya.

Gagal dengan cara kontak fisik, sehari setelahnya Belanda menawarkan negosiasi. Hal itu disepakati sejumlah tokoh Madura dengan syarat, perundingan tak dilakukan di darat, melainkan di atas kapal dan tanpa senjata.

Belanda diwakili Mayor Smith dan pihak Indonesia didelegasikan Kahar Sosrodanukusumo, R.A. Ruslan Cakraningrat, RAA Sis Tjakraningrat, R. Abdul Rasyid dan Zainal Alim. 
Pihak Belanda menawarkan bantuan pangan untuk rakyat Madura yang saat itu hampir menderita kelaparan akibat blokade ekonomi Belanda. Tapi tawaran itu ditolak mentah-mentah.

Medio Februari 1947, Belanda melakukan invasi kembali dengan jumlah pasukan yang lebih besar dan berhasil menguasai Pulau Madura. Belanda baru angkat kaki setelah mengakui wilayah Republik di Tiga Wilayah, yakni Sumatera, Jawa dan Madura....!!!



Sumber : Perjuangan Mempertahankan Wilayah Madura, Batalyon Jokotole, Catatan kaki Letnan Kolonel Chandra Hasan 1947
Share:

Minggu, 04 November 2018

Nyai Cendana Tokoh Ulama Madura Barat

Tokoh-tokoh di jagad sejarah hampir jarang memunculkan sosok-sosok dari kalangan perempuan. Meski memang tidak menafikan sama sekali adanya sosok-sosok dari kalangan hawa ini, jika diprosentasikan atau dibuat perbandingan dengan tokoh-tokoh pria, tentu hasilnya menunjukkan porsi kalangan hawa yang jauh lebih sedikit. Apakah ini semacam bias gender?

Di masa lampau, kedudukan perempuan, khususnya di masa jahiliyah atau pra kerasulan Muhammad SAW, dipastikan tak dilirik meski seperempat belah mata. Perempuan dianggap sebagai objek jajahan, dalam segala hal. Hingga Islam datang dan mengangkat martabat mereka setinggi-tingginya, dan semulia-mulianya. Sejajar dengan pria dalam hal hak dan kewajiban.

Meski peran perempuan besar, memang ada batasan tertentu yang diatur oleh norma agama dan budaya. Seperti kiprahnya di ruang publik. Meski dewasa ini sekat itu sudah setipis helaian rambut. Dulu hampir tidak dikenal pemimpin perempuan dalam sejarah Islam klasik, namun kini sebaliknya.

Tokoh-tokoh sejarah memang kebanyakan dari kalangan Adam. Namun ada juga yang nyata-nyatanya mengungkap peran perempuan di balik beberapa peristiwa besar sejarah. Peran utama sebagai isteri dan ibu jelas lebih utama di banding peran apapun.

Lihat contoh Imam asy-Syafi’i yang ditinggal ayahnya dan hanya berada di naungan kasih sayang sang ibu. Lihat Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, Sultonul Awliya’, yang juga besar dalam didikan tulus seorang ibu sahaja. Dan banyak juga kisah-kisah tokoh besar lainnya, seperti penguasa atau tokoh utama sejarah di sebuah zaman yang mencapai posisi gemilang sekaligus terpuruk hingga ke bawah lantai kekuasaan, karena sebab peran dan ulah tangan seorang isterinya.

Sosok ulama perempuan dimaksud adalah Nyai Selase, dan menjadi sebab besar yang membawa peradaban Madura khususnya, dan luar Madura pada umumnya: Nyai Cendana atau Ratu Cendana, atau sebutan sepadan lainnya yang bermakna Isteri Sunan Cendana, tokoh Ulama dan Waliyullah Agung di Madura Barat.

Hampir tak pernah ditemukan mengenai kisah hidup perempuan yang menjadi ibu dan leluhur banyak tokoh agung di Madura dan Tapal kuda ini. Baik di riwayat lisan maupun tulisan, lebih-lebih buku sejarah dan babad. Satu-satunya yang ada hanya catatan silsilah. Itupun bukan catatan mandiri. Dalam arti, catatan silsilah merupakan catatan umum, tidak memuat bahasan khusus, melainkan bagan yang menunjukkan asal-usul dan keterkaitan hubungan orang perorang atau tokoh pertokoh secara genealogi.

Siapakah Nyai Cendana ini? Dalam sebuah catatan silsilah di Madura Barat, Nyai Cendana disebut sebagai isteri pertama Sunan Cendana (Sayyid Zainal Abidin), Kwanyar, Bangkalan. Dalam tradisi pararaton atau bangsawan, posisi beliau seperti permaisuri atau padmi atau isteri utama. Catatan itu berasal dari upaya inventarisir oleh beberapa pemerhati nasab ulama Madura terhadap penelusuran catatan dan asal-usul tokoh ulama keturunan Wali Sanga di Madura. Di antaranya yang digiatkan oleh Naqobah Ansab Auliya Tis’ah (NAAT) dan Tim 5wali Institute.

Sedikit informasi mengenai Nyai Cendana ialah mengenai nasab beliau. Ayah Nyai Cendana ialah Pangeran Bukabu, anak Pangeran Mandaraga dan Nyai Gede Kentil. Pangeran Mandaraga ini kalau ditarik ke atas berasal dari Kudus.

Berdasar catatan silsilah keraton Sumenep yang ditulis ulang R B Abdul Fatah, Pangeran Mandaraga adalah anak Panembahan Kalijaga bin Sunan Kudus. Catatan lebih tua dari itu, yang merupakan sumber catatan saat ini berasal dari tulisan kuna di keluarga keraton Sumenep yang saat ini disimpan di salah satunya di kampung Pangeran Letnan Kapanjin. Dalam pantauan media ini, salah satu kiai di Parongpong, Kecer, Dasuk, Sumenep juga memiliki catatan serupa dengan model dan penulis berbeda.

Hanya saja, di catatan Madura Timur, anak-anak Pangeran Bukabu yang disebut ialah Kiai Astamana dan Kiai Andasmana. Ada juga dua nama perempuan, namun tanpa keterangan. Nah, satu-satunya keterangan bahwa salah satu anak perempuan Pangeran Bukabu yang menjadi isteri Sunan Cendana hanya catatan Madura Barat. Catatan itu didapat oleh salah satu anggota NAAT, Ustadz K Nurkhalis Uzairi. “Catatan dari almarhum Bindara Habib, Murombuh, Bangkalan,”


Kalau mengacu pada catatan tersebut, antara Sunan Cendana dan Nyai Cendana masih ada hubungan kefamilian yang cukup dekat. Pangeran Bukabu adalah putra Nyai Gede Kentil. Sedang Nyai Kentil ini adalah saudara Nyai Gede Kedaton, ibunda Sunan Cendana.

Jadi hubungan Sunan Cendana dengan Pangeran Bukabu adalah saudara sepupu. Sehingga dari segi nasab Sunan Cendana menikahi keponakan sepupunya.

Dari Nyai Cendana ini lahirlah anak sulung Sunan Cendana yang dikenal waliyullah besar Madura Barat di masanya. Yaitu Kiai Putramenggolo. Di beberapa catatan beliau ditulis dengan banyak nama lain, seperti Panembahan Sampang; Ratu Lor Petapan; Sunan Putromenggolo; Kiai Adipati Putromenggolo; dan lainnya.

Sunan Putromenggolo ini menurunkan banyak tokoh-tokoh besar di Madura hingga tapal kuda. Dari putranya yang bernama Pangeran Saba Pele lahirlah Raden Macan Alas Waru, yaitu leluhur tokoh-tokoh keraton di Madura Timur, juga ulama-ulama besar di Pamekasan.

Salah satu cucu Raden Macan Alas adalah Raden Entol Anom alias Raden Ario Onggodiwongso, Patih Sumenep. Entol Anom merupakan leluhur Kiai Macan atau Kiai Demang Singoleksono Ambunten, waliyullah besar di masanya. Tokoh yang membawa tradisi Sintung di Sumenep. Sementara saudara Raden Entol Anom, yaitu Raden Entol Janingrat menurunkan Nyai Agung Waru, leluhur kiai-kiai di Pamekasan hingga Tapal kuda. Di antara keturunan Nyai Agung ialah keluarga besar pesantren Banyuanyar dan Bata-bata. “Isteri Kiai Abdul Hamid bin Itsbat, Nyai Halimah, adalah keturunan Nyai Agung Waru,” kata K. Muhammad Ali Muqit, Tempurejo, Jember, salah satu keturunan Kiai Abdul Hamid dan Nyai Halimah.

Kembali pada Nyai Cendana, tidak ada keterangan tentang masa hidup hingga akhir hayatnya. Namun jika melihat pada peninggalannya yaitu anak-cucunya yang menjadi orang-orang besar dan menjadi tokoh-tokoh panutan masyarakat, bahkan hingga pusaranya pun tetap ramai diziarahi, Nyai Cendana merupakan tokoh besar yang mastur atau tersembunyi (RBM.Farhan Muzammily/matamaduranew)


Sumber : Lontar Madura
Photo : Mas Syafii
Share:

Jumat, 05 Oktober 2018

Sekilas Tentang Bangunan Paseban Bangkalan

Paseban tempat dimana raja, orang-orang terkemuka dan para pejabat mengadakan pertemuan reguler yang sudah dijadwalkan. Paseban diatur oleh kepala paseban yang berpangkat Mantri Besar.

Kepala Paseban bertindak sebagai penghubung antara Patih dengan Panembahan, sehingga lingkup aktivitasnya hanya di ibu kota. Paseban mempunyai personel dibawah mantri besar adalah Mantri Kabayan dan dibawah Mantri Kabayan adalah Lurah Kabayan.

Bangunan Paseban Bangkalan pada tahun 1946

Paseban pada era kerajaan di Bangkalan merupakan pusat keramaian karena banyak orang yang mengunjungi tempat ini, khususnya bagi masyarakat Bangkalan dimana waktu itu telah menjadi pusat perekonomian bagi masyarakat karena banyak masyarakat baik lokal maupun luar kota yang berjualan di sekitar Paseban.

Bangunan Paseban selain tempat bertemunya raja dengan para pembesar, tempat tersebut juga tempat beristirahatnya raja untuk menikmati hiburan bersama masyarakat karena setiap harinya masyarakat dihibur berbagai kesenian sehingga tempat tersebut dijadikan tempat untuk melepas lelah sehabis bekerja.

Bangunan Paseban Bangkalan pada tahun 1946

Tidak jauh dari bangunan tersebut terdapat panggung kecil yang berisi seperangkat alat kesenian yang bernama Tabuwan Lajing. Tabuwan Lajing ini dikenal juga dengan sebutan Tabuwan Se-Lajing digunakan pada masa Pemerintahan Sultan R. Abdul Kadirun atau Sultan Bangkalan II yang digunakan untuk pagelaran seni dan budaya serta digunakan juga untuk acara penyambutan tamu-tamu penting.

Pada tahun 1945, pada era Bupati RAA. Mr. SIS  Tjakraningrat, bangunan paseban selain difungsikan sebagai tempat berkumpulnya para keluarga Bupati, para kerabat dan masyarakat, bangunan tersebut juga difungsikan sebagai tempat untuk mengumpulkan Shodaqoh yang akan dibagikan kepada keluarga miskin yang ada di Kabupaten Bangkalan.

Pada era tahun 1960an Gedung Paseban difungsikan untuk Gedung Pramuka dan Organda sebagai Sarana Sosial kemasyarakatan, kemudian pada tahun 1970an dibelakang Gedung Paseban dibangun sarana Umum Lapangan Basket dan Tennis, dan akhirnya pada tahun 1980an dari Gedung Pramuka difungsikan sebagai Kantor Depdikbud Bangkalan yang sudah mulai berpisah dengan Kantor Dinas P dan K Kabupaten Bangkalan, sampai akhirnya bangunan paseban di bongkar.

Taman Paseban berlokasi di tengah kota Bangkalan sebelumnya lokasi ini adalah terminal angkutan umum

Tahun 2017 lokasi bangunan tersebut telah berubah menjadi sebuah taman kota "Taman Paseban" yang bisa menjadi tempat alternatif untuk dijadikan tempat untuk berekreasi dan beristirahat bersama keluarga di tengah-tengah hiruk pikuknya kehidupan.


Oleh : Mas Indra
Photo : Bangkalan Memory
Share:

Rabu, 04 Juli 2018

Sekilas Tentang Kediaman RA Sosrodiningrat di Saksak Kelurahan Kraton Bangkalan

Sejak era Pangeran Cakraningrat lV yang mengadakan perlawanan pada Pemerintahan Hindia Belanda sampai dengan Pemerintahan Pangeran Tjakraningrat V yang pusat pemerintahan atau kratonnya terletak di Asrama Kodim Sekarang. Kompeni Belanda selalu curiga atas adanya kegiatan-kegiatan yang ada di Kraton Bangkalan tersebut.

Ketika Sultan Raden Abdul Kadirun memerintah Bangkalan menggantikan ayahandanya, Sultan Abdurahman atau yang dikenal dengan sebutan Pengeran Tawang Alun pada tahun 1815-1847, untuk mensiasati pergerakan Belanda yang selalu mengintai dan memata-matai kegiatan dalam keraton maka dilakukan siasat dengan cara dibangunnya Kraton-Kraton kecil sebagai tempat tinggal Pangeran atau Pembantu Raja yang mempunyai jabatan tertentu di kraton induk. Saat itu di antaranya rumah tempat tinggal RA Sosrodiningrat yang berada di kampung Pandhighung Saksak Bangkalan, keraton-keraton kecil juga tersebar di Kampung Rong Tengah yang ditempati Pangeran Adipati Pakuningrat, Kampung Dalem Barat, Kelurahan Pangeranan, Kampung Timur Pasar (pasar lama) yang ditempati pemimpin perang.


Bangunan RA Sosrodiningrat yang dibangun pada tahun 1700-an atau abad ke 18 berada di lokasinya berada di Jalan Letnan Ramli. Bangunan ini terdapat lambang "cakra" di atas pintu yang menandakan bahwa bangunan tersebut merupakan situs Keraton (bagian dari keraton), sebab lambang "cakra" tidak sembarang ada di setiap bangunan, tapi merupakan ciri khas dari Kerajaan Tjakraningrat yang merupakan merupakan tempat Pangeran RA Sosrodiningrat yang merupakan penasihat Raja Bangkalan kala itu sehingga di daerah tersebut dikenal dengan nama "Kampung Pandigong" dimana tempat untuk memberikan suatu keputusan.


Kediaman tersebut sebelumnya merupakan kediamannya Istri Selir dari Sultan R. Abd. Kadirun yang bernama Ratu Wetan (Rd. Ayu Saina) dimana yang di pasrahi tanggung jawab menjaga Ibu Ratu tersebut adalah RA. Sosrodiningrat yang juga merupakan penasihat Raja Bangkalan kala itu.




Namun sayang bangunan kokoh yang penuh sejarah tersebut tidak bertahan lama karena kini telah rata dengan tanah akibat kurang kepedulian Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam menjaga dan melestarikan peninggalan para leluhur kita. Sedih memang... Bagaimana kita harus menceritakan tentang kejayaan raja-raja Bangkalan kala itu pada anak cucu kita, sedangkan bukti-bukti yang ada sudah dimusnahkan akibat dari kelalaian kita dalam menjaga dan merawat peninggalan sejarah yang berdampak pada hilangnya nilai sebuah history bagi kehidupan kita.  (Indra)



Share:

Jumat, 27 Oktober 2017

Kunjungan Presiden Soekarno ke Madura Tahun 1951

Setelah Negara Madura dinyatakan bubar dan kembalinya Madura kedalam wilayah NKRI, maka sebagai bentuk penghargaan atas penyerahan Kedaulatan tersebut maka dipandang perlu dilakukan pendekatan lebih lanjut sehingga Ir. Soekarno (Presiden RI) melakukan lawatannya ke Madura (Bangkalan dan Pamekasan).

Dengan menyeberangi kapal laut, Ir. Soekarno (Presiden RI) yang di dampingi oleh Walikota Jakarta yakni Sudiro (Jabatan Walikota setara dengan Gubernur pada saat itu) melakukan perjalanan menuju Pulau Madura. Di Pelabuhan Bangkalan, kemudian melanjutkan menuju kota Bangkalan dengan jalur darat.

Photo : Raden Mas Achmad Syafii
Keterangan Photo :
kunjungan Presiden Soekarno di Bangkalan, sekitar tahun 1951. Tampak dari nomor 1 kapal yang ditumpangi Bung Karno; 2 Rombongan tiba di Bangkalan ; 3. Penyambutan rombongan dan 4. Saat menyampaiken Pidato di Alun-alun selatan Bangkalan

Sesampainya di kota Bangkalan, Ir. Soekarno (Presiden RI) disambut oleh Bupati Bangkalan PJM (Padoeka Jang Moelia) Mr. R.A.A. Moh. Zis Tjakraningrat dan penyambutan di depan jalan masuk ke Pendopo diiringi Tari "Nyello' Aeng" dengan penari Poetri berjumlah 10 orang gadis.

Wali Negara Madoera yang menjadi Bupati Bangkalan PJM (Padoeka Jang Moelia) Mr. R.A.A. Moh. Zis Tjakraningrat pada tahun 1945 - 1956 yang mendampingi Beliau Presiden RI.

Sewaktu penyerahan kedaulatan Negara Madoera PJM Mr. R.A.A. Moh. Zis Tjakraningrat juga menyerahkan sebahagian Harta para Bangsawan berupa Emas Batangan dihibahkan kepada Negara Republik Indonesia sebagai Dana Perdjoewangan/Dana Revolusi untuk membangun NKRI dan berikutnya diikuti oleh para Bangsawan lainnya baik itu Kesultanan maupun raja-raja yang ada di Nusantara.

Sekedar menambahkan wawasan seperti yang tersebut pada Buku Mengenal Negara Madoera yang disusun oleh R M Sjaffroedin cetakan pertama tahun 1948.

Dalam lawatannya ke Madura (Bangkalan dan Pamekasan) dimana kedatangannya tersebut di dampingi oleh Walikota Jakarta yakni Sudiro (Jabatan Walikota setara dengan Gubernur pada saat itu) ke Bangkalan Madura pada tanggal 10 Mei 1951 yang diterima langsung oleh Mr. R.A.A. Moh. Zis Tjakraningrat, kemudian dilanjutkan ke Pamekasan Madura.



Menurut penuturan para sepuh seputar kedatangan Presiden Soekarno ke Madura :

"Madura merupakan pulau yang dipisahkan oleh Selat Madura, dimana masa sebelumnya adalah penopang dari kerajaan-kerajaan besar di Jawa seperti Mataram dan Majapahit yang banyak bergantung kepada pasukan dan rakyat Madura yang pemberani.

Demikian poela masa soeram pemecah belah Negara Kesatoean Repoeblik Indonesia baroe sadja kita lewati yaitoe RIS yang mana poela Madura didjadikan Negara oleh Belanda dan antek-anteknya mendjadi Negara Madoera Serikat yang ditundjuk adalah Yang Moelia Kandjeng RAA. Mr. Ziz Tjakraningrat sebagai Wali Negara di Madoera.

Betapa Nistanya Bangsa Penjajah ini, kita sebagai Negara yang berdaoelat penoeh dan merdeka di Repoeblik Indonesia ini masih joega dicoba oentoek dipisah-pisah apakah sodara-sodara Rakyat Madoera maoe, saya datang kemari di Poelaoe Madoera ini dikandoeng maksoed untuk toeroet serta mendjaga kesatoean dimana poelaoe-poelaoe yang lain di Noesantara ini bagai oentaian Ratna Moetoe Manikam di Khatoelistiwa.

Rakyat Madoera joega soedah merdeka seperti sodara-sodara lainnya di Indonesia ini. Merdeka.. Merdeka.. Merdekaaa".. 

Demikian sebagian isi pidato Beliau yang sempat terekam dalam ingatan sesepuh Bangkalan diantaranya RP. Machmoed Sosro Adipoetro (Mantan Residen Madura yang merangkap Bupati Bangkalan).


Oleh : Hidrochin Sabarudin
Sumber Photo : Nelly M, R. Mas Achmad Syafii


Share:
Copyright © BANGKALAN MEMORY | Powered by Bangkalan Memory Design by Bang Memo | Kilas Balik Bangkalan Tempo Dulu