Artikel Sejarah

Kunjungan Presiden Soekarno ke Madura Tahun 1951

Setelah Negara Madura dinyatakan bubar dan kembalinya Madura kedalam wilayah NKRI, maka sebagai bentuk penghargaan atas penyerahan Kedaulatan tersebut maka dipandang perlu dilakukan pendekatan lebih lanjut sehingga Ir. Soekarno (Presiden RI) melakukan lawatannya ke Madura (Bangkalan dan Pamekasan).

Dengan menyeberangi kapal laut, Ir. Soekarno (Presiden RI) yang di dampingi oleh Walikota Jakarta yakni Sudiro (Jabatan Walikota setara dengan Gubernur pada saat itu) melakukan perjalanan menuju Pulau Madura. Di Pelabuhan Bangkalan, kemudian melanjutkan menuju kota Bangkalan dengan jalur darat.

Photo : Raden Mas Achmad Syafii
Keterangan Photo :
kunjungan Presiden Soekarno di Bangkalan, sekitar tahun 1951. Tampak dari nomor 1 kapal yang ditumpangi Bung Karno; 2 Rombongan tiba di Bangkalan ; 3. Penyambutan rombongan dan 4. Saat menyampaiken Pidato di Alun-alun selatan Bangkalan

Sesampainya di kota Bangkalan, Ir. Soekarno (Presiden RI) disambut oleh Bupati Bangkalan PJM (Padoeka Jang Moelia) Mr. R.A.A. Moh. Zis Tjakraningrat dan penyambutan di depan jalan masuk ke Pendopo diiringi Tari "Nyello' Aeng" dengan penari Poetri berjumlah 10 orang gadis.

Wali Negara Madoera yang menjadi Bupati Bangkalan PJM (Padoeka Jang Moelia) Mr. R.A.A. Moh. Zis Tjakraningrat pada tahun 1945 - 1956 yang mendampingi Beliau Presiden RI.

Sewaktu penyerahan kedaulatan Negara Madoera PJM Mr. R.A.A. Moh. Zis Tjakraningrat juga menyerahkan sebahagian Harta para Bangsawan berupa Emas Batangan dihibahkan kepada Negara Republik Indonesia sebagai Dana Perdjoewangan/Dana Revolusi untuk membangun NKRI dan berikutnya diikuti oleh para Bangsawan lainnya baik itu Kesultanan maupun raja-raja yang ada di Nusantara.

Sekedar menambahkan wawasan seperti yang tersebut pada Buku Mengenal Negara Madoera yang disusun oleh R M Sjaffroedin cetakan pertama tahun 1948.

Dalam lawatannya ke Madura (Bangkalan dan Pamekasan) dimana kedatangannya tersebut di dampingi oleh Walikota Jakarta yakni Sudiro (Jabatan Walikota setara dengan Gubernur pada saat itu) ke Bangkalan Madura pada tanggal 10 Mei 1951 yang diterima langsung oleh Mr. R.A.A. Moh. Zis Tjakraningrat, kemudian dilanjutkan ke Pamekasan Madura.



Menurut penuturan para sepuh seputar kedatangan Presiden Soekarno ke Madura :

"Madura merupakan pulau yang dipisahkan oleh Selat Madura, dimana masa sebelumnya adalah penopang dari kerajaan-kerajaan besar di Jawa seperti Mataram dan Majapahit yang banyak bergantung kepada pasukan dan rakyat Madura yang pemberani.

Demikian poela masa soeram pemecah belah Negara Kesatoean Repoeblik Indonesia baroe sadja kita lewati yaitoe RIS yang mana poela Madura didjadikan Negara oleh Belanda dan antek-anteknya mendjadi Negara Madoera Serikat yang ditundjuk adalah Yang Moelia Kandjeng RAA. Mr. Ziz Tjakraningrat sebagai Wali Negara di Madoera.

Betapa Nistanya Bangsa Penjajah ini, kita sebagai Negara yang berdaoelat penoeh dan merdeka di Repoeblik Indonesia ini masih joega dicoba oentoek dipisah-pisah apakah sodara-sodara Rakyat Madoera maoe, saya datang kemari di Poelaoe Madoera ini dikandoeng maksoed untuk toeroet serta mendjaga kesatoean dimana poelaoe-poelaoe yang lain di Noesantara ini bagai oentaian Ratna Moetoe Manikam di Khatoelistiwa.

Rakyat Madoera joega soedah merdeka seperti sodara-sodara lainnya di Indonesia ini. Merdeka.. Merdeka.. Merdekaaa".. 

Demikian sebagian isi pidato Beliau yang sempat terekam dalam ingatan sesepuh Bangkalan diantaranya RP. Machmoed Sosro Adipoetro (Mantan Residen Madura yang merangkap Bupati Bangkalan).


Oleh : Hidrochin Sabarudin
Sumber Photo : Nelly M, R. Mas Achmad Syafii


Read more

Momentum Hari Jadi Kota Bangkalan

Silsilah panembahan Ki lemah Duwur, diawali kedatangan dua orang keturunan raja Majapahit yang terakhir yaitu Prabu Brawijaya yang bernama Lembu Petteng dan Menak Senoyo di Madura pada abad ke XV. Selanjutnya Keturunan dari Lembu Petteng yang bernama Nyi Ageng Budo kawin dengan keturunan Menak Senoyo yang Bernama Aryo Pucuk. Maka lahirlah putra bernama Ki Demung.
Read more

Budaya Tradisional Mantan Toddhuk dan Jharan Kencak

Budaya Tradisional Mantan Toddhuk, merupakan salah satu bagian dalam acara temanten masyarakat di Madura, yaitu dengan mengarak kedua mempelai berjalan menaiki dua ekor kuda hias, berkeliling kampung. Acara ini bisa disaksikan di Desa Buluh Attas Kecamatan Socah Bangkalan Madura.

Read more

Markas Kaigun Jepang di Batuporon Bangkalan

Di Batuporon ini di tahun 1942-1945 pernah digunakan Markas Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Markas ini sangat strategis karena berada di tepi selat Madura yang langsung menghadap ke arah Surabaya. 

Read more

Kilas Balik Monumen Kerapan Sapi di Kamal Tahun 1976

Terinspirasi lari kencangnya Sape Kerrab "Se Bhellis" dari Perreng-Burneh memang hebat dikala itu Jokey bernama "SULI" yang perawakan tubuhnya kecil sehingga memungkinkan semakin ringan beban yang dibawa.

Read more

Aksi Heroik Pemuda Kaffa Dalam Meledakkan Jembatan Junok di Bangkalan

Pada waktu Belanda melanjutkan melanjutkan serangannya ke Kota Bangkalan, telah terjadi pertempuran sengit antara tentara Belanda dengan Pasukan Pesindo yang bertahan di Junok (sebelah Timur Rumah Sakit Bangkalan) dengan kekuatan dua Seksi yang masing-masing dipimpin Pemuda Iskandar di sebelah Utara dan Pemuda Mohammad Amin di sebelah Selatan sungai. Pemuda Iskandar menderita luka di pahanya.

Read more

Pangeran Tjakraadiningrat Regent Pertama di Bangkalan

Regent pertama di Bangkalan adalah Raden Kasim (Kasim) alias Pangeran Tjakraadiningrat, Putra dari Sultan Tjokroadiningrat II, Paman Saudara Ayah dari Panembahan Tjokroadiningrat VIII, yang kemudian mendapat gelar Pangeran Tjokroadingrat.

Read more