Budaya Tradisional Mantan Toddhuk, merupakan salah satu bagian dalam acara temanten masyarakat di Madura, yaitu dengan mengarak kedua mempelai berjalan menaiki dua ekor kuda hias, berkeliling kampung. Acara ini bisa disaksikan di Desa Buluh Attas Kecamatan Socah Bangkalan Madura.
-
Bangkalan Memory
Masjid Jamik Bangkalan pada tahun 1946.
-
Bangkalan Memory
Gerbong Kereta Api di Stasiun Bangkalan pada tahun 1946.
-
Bangkalan Memory
Pasar Bangkalan yang terletak di sebelah Utara Alun Alun Bangkalan Tahun 1946
-
Bangkalan Memory
Sungai Bandaran atau Sungai Lebak pada tahun 1946
-
Bangkalan Memory
Pelabuhan Kamal Bangkalan pada tahun 1946 sebelum Pasukan Belanda menyerang Bangkalan ketika Pasca Kemerdekaan RI
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Kamis, 12 Oktober 2017
Jumat, 26 Agustus 2016
Urutan Silsilah Keturunan Keluarga di Madura
Silsilah keluarga sangatlah kita perlukan dan sangat penting bagi kita orang indonesia. Hal ini dikarenakan, kita sebagai bangsa yang bermartabat dan bangsa yang memiliki hubungan yang sangat erat dengan kerabat-kerabat kita baik sebelum kita maupun setelah kita. Hal ini didasari oleh budaya bangsa kita yang selalu mengajarkan pentingnya mengenal keluarga-keluarga dekat kita.
Rabu, 06 April 2016
"ANDHEP ASHOR" Prilaku Sopan Santun Di Madura
Andhep Ashor disini maksudnya adalah prilaku tatakrama dan sopan santun yang diajarkan oleh para orang tua kepada putra-putranya dengan tujuan agar menghormati orang yang lebih tua. Perilaku orang Madura seperti ini sudah ada sejak dahulu.
Senin, 28 Maret 2016
Berloberen / Rokat Cahe, Tradisi Masyarakat Saronggi Sumenep
Ritual berloberan/Rokat
Cahe juga menjadi bagian tradisi masyarakat Saronggi yang kerap dilakukan pada saat kemarau panjang.Ritual Berloberan yang kali ini dilaksanakan di Desa
Langsar Kecamatan Saronggi Sumenep itu, pada prinsipnya memohon kepada Yang
Maha Kuasa agar pada musim kemarau seperti ini diturunkan hujan, mengingat
wilayah yang cukup gersang ini, adalah tumpuan hidup atas rezeki dari tanah
pertanian mereka.
Selasa, 15 Maret 2016
Tradisi Lombe (Kerapan kerbau)
Jika di pulau Madura dikenal dengan Tradisi Kerapan Sapi, pasti kita sudah banyak
yang tahu dan pernah menyaksikannya. Tapi saya yakin tidak banyak yang mengetahui salah
satu kekayaan budaya asli dari Madura di daerah kepulauan di ujung timur ini.
Kecuali jika ada para tretan yang pernah berada di Pulau Kangean.
![]() |
| Lombe Kangean Foto : Doddy Yanuar Aryanto |
Yaa.. Lombe adalah tradisi Kerapan Kerbau khas berasal dari Pulau Kangean Madura. Gugusan kepulauan yang masuk wilayah Kabupaten Sumenep ini mempunyai keunikan budaya yang nyaris belum terekspose.
Keunikan dari kerapan kerbau atau LOMBE, jika kerapan sapi menggunakan Joki untuk memacu lari dari sapi-sapi tersebut, maka tidak dengan kerapan kerbau ini. Untuk memacu kecepatan lari dari kerapan kerbau ini menggunakan joki yang menunggang kuda yang ikut berlari mengikuti pasangan kerbau ini.
Inilah kekayaan budaya kita yang belum pernah diekspose sebelumnya. Sebagai tambahan, info dari tretan Kangean bahwa event Lombe ini biasanya akan dilaksanakan pada bulan April. Jika ada penasaran, silakan jelajahi Kangean Madura..
Keunikan dari kerapan kerbau atau LOMBE, jika kerapan sapi menggunakan Joki untuk memacu lari dari sapi-sapi tersebut, maka tidak dengan kerapan kerbau ini. Untuk memacu kecepatan lari dari kerapan kerbau ini menggunakan joki yang menunggang kuda yang ikut berlari mengikuti pasangan kerbau ini.
Inilah kekayaan budaya kita yang belum pernah diekspose sebelumnya. Sebagai tambahan, info dari tretan Kangean bahwa event Lombe ini biasanya akan dilaksanakan pada bulan April. Jika ada penasaran, silakan jelajahi Kangean Madura..
Jumat, 21 Agustus 2015
Tukang Cukur Madura Pada Era Kolonial di Surabaya
Rambut merupakan mahkota bagi manusia. Dari rambut inilah kita bisa merubah penampilan seseorang dan bisa juga membuat sebuah ekspresi politik sebagai bentuk perlawanan terhadap status quo. Rambut juga menjadi sebuah simbol kesehatan yang dimanfaatkan oleh beberapa produk kecantikan untuk menjual barang mereka. Dengan kata lain bahwa rambut memiliki makna budaya dengan berbagai macam ragamnya. Oleh karena itu aktivitas mencukur rambut bukan hanya semata-mata merupakan suatu rutinitas untuk memendekan rambut, tetapi memiliki makna lebih dari itu.
Sabtu, 06 Desember 2014
Perawatan Sapi Kerap Madura
Sapi-sapi yang dikerap pada dewasa ini diternakkan khususnya untuk kerapan sapi, jadi perawatannya berbeda daripada hewan piaraan lain. Tidak lagi merupakan sapi yang digunakan untuk membajak tanah. Kerapan sapi sekarang bersifat bersaingan dan sapi kerap dilatih dengan tujuan menjadi pemenang.
Masing-masing pemilik sapi mempunyai rezim pribadi yang diikuti dengan taat supaya memastikan sapinya mencapai puncak kondisi. Pemilik sapi di seluruh Madura mengikuti rezim perawatan dan makanan yang pada umumnya sama. Namun masing-masing pemilik sapi memakai beberapa unsur jamu berbeda yang dirahasiakan dengan hati-hati.
Pada akhir musim hujan, pemilik sapi Madura mulai melatih sapinya dan menyiapkannya untuk musim kerapan yang akan datang. Ada dua rezim khusus yang dipakai oleh pemilik sapi dalam penyiapan sapi. Yang pertama adalah perawatan biasa yang dilakukan untuk sapi yang berlatih, yang kedua adalah program yang lebih intensif yang dimulai dua minggu sebelum pertandingan. Yang diwawancarai untuk laporan ini menyatakan bahwa ada aspek tertentu dalam program makanan dan latihan sapi kerap yang sama untuk kebanyakan pemilik sapi.
MAKANAN SAPI KERAP
Setiap sapi kerap makan rumput yang kualitasnya bagus, tetapi tidak seperti sapi biasa, sapi kerap tidak biasanya diangon makan rumput. Walaupun rumputnya tidak ditanam khususnya untuk sapi kerap, masih dikumpulkan setiap hari oleh perawatnya, atau dibeli dari orang lain yang mengumpulkan rumput untuk penjualan kepada pemilik sapi. Pemilik sapi yang diwawancarai, semuanya mengatakan bahwa seekor sapinya makan 2-3 karung rumput setiap hari.
Jumlah air yang diminum sapi kerap kadang-kadang diatur. Sebelum pertandingan, jumlah air yang diberikan pada sapi dikurangi supaya lebih ringan untuk pacuannya dan bisa berlari lebih cepat. Selama musim hujan, jumlah air yang diberikan padasapi dikurangi lagi karena rumputnya lebih mengandung air, dan selama musim kering airnya ditambah. Salah seorang pemilik sapi yang diwawancarai mengatakan bahwa sapinya minum satu ember air setiap hari. Sebelum pertandingan airnya dikurangi sampai 3/4 ember. Peraturan air dan rumputterjadi supaya sapi menerima cukup banyak makanan supaya bisa memperkuat badannya sambil memelihara badan yang halus dan ringan.
Namun, makanan yang terdiri dari rumput dan air saja tidak begitu berbeda dari makanan sapi biasa yang kerjakan tanah. Jadi makanan untuk sapi kerap bertambahan dengan makan jamu dua kali sehari. Campuran cair ini terdiri dari macam-macam bahan. Masing-masing pemilik sapi mempunyai resep jamunya sendiri yang rahasia, tetapi ada beberapabahan yang biasanya dipakai.
Bahan-bahan ini termasuk telur ayam kampung, kopi pahit, madu, sprite, minuman tenaga misalnya Hemaviton, minuman keras misalnya malaga, bir dan arak, beras kencur (yaitu, campuran beras dan bumbu), dan campuran lain yang terbuat dari bumbu dan akar-akar. Setiap hari pada pagi dan malam, pemilik sapi atau perawat sapinya mencampurkan jamu dan memberikan pada sapi dengan pipa pendek yang dibuat dari plastic atau bambu.
Selama musim latihan kalau tidak menghadapi pertandingan, pasangan sapi besar, umurnya kira-kira 2 tahun, akan makan sebanyak 100 butir telur setiap malam. Selama dua minggu sebelum pertandingan, jumlah telur bisa ditambah sampai sebanyak 200-300 butir telur per malam. Sapi yang lebih muda makan separuh jumlah telor yang dimakan sapi besar. Salah seorang pemilik sapi mengatakan bahwa pada waktu sapinya masih muda, waktu badannya masih kecil, dia berikan 42 butir telur setiap malam.
Salah seorang pemilik sapi lain mengatakan bahwa dia tidak menambahkan jumlah telur dalam diet sapinya sama sekali. Selama musim latihan dia bikin campurannya sendiri ramuan Madura, yaitu campuran terbuat dari bahan-bahan misalnya kunyit, jahe dan bahan ramuan lain, selain 100 butir telur yang dimakan sapinya. Dua hari sebelum pertandingan telur tidak termasuk dalam makanan sapi. Daripada, pagi hari sprite atau Hemaviton dipakai "supaya sapi segar selama hari" dan pada malam hari malaga dipakai. Walaupun banyak pemilik sapi lain menambahkan jumlah telur yang dimakan sapinya dua minggu sebelum pertandingan, dia percaya bahwa sapi tidak bisa tahan sepanjang hari kalau makan telur saja. Walaupun sapi akan tahan selama dua ronde pertama, akan gagal dalam ronde berikutnya.
Minuman tenaga dan minuman keras pada umumnya tidak termasuk makanannya sapi kerap sehari-hari selama musim latihan. Pada dua minggu sebelum pertandingan sudah termasuk dalam dietnya sapi masing-masing pemilik sapi yang diwawancarai. Segera sebelum pacuan, ada pemilik sapi yang memberikan sapinya satu atau dua seloki minuman seperti yang tersebut supaya merangsang sapi. Katanya ada pemilik sapi kaya yang memakai obat-obatan (tersebut "doping") supaya larinya lebih cepat. Salah seorang pemilik sapi mendorong percayaan, sedangkan yang lain mengatakan bahwa pemakaian doping tidak terjadi. Ada salah seorang pemilik sapi lain yang tertarik sekali pada pemakaian doping, dan akan mencoba kalau ada kesempatan. Pemakaian perangsang buatan tidak terlarang dalam kerapan sapi, namun harga tinggi terkait mungkin adalah alasan pemakaian perangsang tidak begitu biasa.
MANDIKAN SAPI KERAP
Sapi kerap di Madura dirawat berbeda dari sapi biasa. Sapi kerap tinggal di kandang, yang dibangunkan khususnya, dan yang terus-menurus dibersihkan oleh perawatnya. Kalau dikotori sapi, kandang langsung dibersihkan karena kebanyakan waktunya sapi dihabiskan didalam kandangnya. Jadi mestilah bersih dan menjamin kesehatan badan supaya sapi tidak kena penyakit.
Setiap hari pada pagi dan sore sapi dikeluarkan dari kandangnya supaya bisa dimandikan, dikeringkan dan dipijat. Di pedesaan sapi kadang-kadang diantar ke sungai yang dekat supaya dimandikan, tetapi di kota sapi dimandikan di depan kandangnya saja dengan memakai ember air. Sapi biasanya dibancang di bingkai berbentuk huruf "H" dengan tali yang dimasukkan hidung sapi. Dua pemilik sapi yang diwawancarai memakai air hangat dan langir untuk memandikan sapinya setiap hari, yang lain memakai sabun tiga kali seminggu, biasanya lebih suka memakai jahe. Sesudah dimandikan, sapi dikeringkan dari matahari dan diberikan jamu. Setiap tiga atau empat hari sapi dipijat oleh perawatnya.
Peternakan dan perawatan sapi menghabiskan banyak waktu. Terus-menurus dirawat, dimandikan dan diberikan makanan pada pagi dan sore hari, dan kandangnya dibersihkan terus menerus sepanjang hari. Untuk salah seorang pemilik sapi kaya yang memiliki 6 pasangan sapi, rezim perawatan sapi mulai pada jam 5pagi setiap hari. Perawatan dan sapi dibagikan antara tiga perawat. Pekerjaannya cuman memandikan dan memberi makanan pada sapi dua kali sehari, mengumpulkan rumputnya, melatih sapi secara ringan, memijatnya setiap tiga hari dan membersihkan kandangnya.
LATIHAN SAPI KERAP
Biasanya sapi kerap tidak dilatih lebih dari satu kali per minggu. Untuk kebanyakan pemilik sapi, satu-satunya kali sapinya akan berlatih pada waktu diantar ke tempat lokal di daerahnya untuk latihan. Pada sore hari Sabtu pemilik sapi yang ingin melatih sapinya bisa mengantamya ke latihan dan sapinya akan dipacu dengan pasangan sapi lain. Latihan diadakan persis seperti pacuan yang akan diadakan di pertandingan benar. Ada dua atau tiga pasangan sapi yang saling bertanding sepanjang lapangan. Sebelum dipacu, perawat menggosokkan balsem di atas punggung dan kaki sap. Setelah itu sapi dipecut beberapa kali dan dijalankan sekeliling lapangan supaya melemaskan ototnya sapi. Latihan duluan ini terjadi supaya menghindari luka-luka. Kebanyakan sapi berdiri terus dalam kandangnya selama satu minggu, dan tidak dilatih sebelum latihan seminggu ini, jadi waktu pemanasan ini sangat penting.
Di latihan seminggu sapi disiapkan sama dengan persiapan untuk pertandingan benar. Sapi dipecut dan ditusuk dengan paku, balsem dan cabai dimasukkan dalam matanya dan lukanya, supaya akan berlari secepat-cepatnya. Pada akhir latihan ada kemungkinan sapi akan banyak berdarah dan teriuka. Ternyata, luka-luka yang diderita kebanyakan sapi yang menghadiri suatu peristiwa latihan akan lebih parah daripada yang akan diderita di pertandingan, karena semua pasangan sapi bertanding tiga atau empat kali di latihan. Dalam pertandingan, kebanyakan pasangan sapi sudah gugur setelah ronde kedua, jadi tidak harus disakiti lagi. Sesudah setiap pacuan, baik di latihan maupun di pertandingan, lukanya sapi dicuci dengan air atau jamu khusus yang terbuat dari jahe. Matanya juga dicuci supaya mengeluarkan balsem dan cabai.
Latihan tersebut adalah kesempatan baik untuk melatih joki, dan kadang-kadang salah seorang joki akan naik beberapa pasangan sapi. Menjadi joki adalah tugas yang sangat sulit dan berbahaya. Kebanyakan joki adalah anak kecil berani yang berumur 7 sampai 12 tahun. Joki-joki yang lebih muda terlalu kecil dan kurang kuat untuk mengarahkan dan mengendalikan sapi. Joki-joki yang lebih tua agak besar dan berat, dan akan melambatkan larinya sapi terlalu banyak. Namun, ada salah seorang joki yang sudah berumur kira-kira 20 tahun. Dia merupakan joki yang tertua, dan mestilah joki yang paling berpengalaman dalam kerapan sapi. Alasannya adalah pertumbuhannya terhalang, jadi tinggi badannya tidak lebih dari 1,5 metre. Oleh karena itu, dia masih cukup ringan untuk naik sapi kerap, dan bisa terus naik sapi selama dia dapat dan cukup berani. Dilatihan setiap minggu, joki berlatih mengimbangkan badannya di atas kaleles, mengendalikan arah pasangan sapi dengan memakai ekomya, dan naikkaleles antara sapi yang berlari cepat dengan merangkak. Sambil naik joki harus memegang tali yang dimasukkan hidungnya supaya bisamenghentikannya sapi.
Latihan juga adalah kesempatan baik untuk mencari dan melatih sapi muda, yang belum pernah diadukan. Sapi seperti itu diantar ke lapangan juga setiap minggu supaya bisa berlatih di samping sapi yang lain. Proses persiapan sapi sangat lama, supaya sudah biasa memakai kaleles dan berlari dengan beratnya dan berat badan joki juga. Sapi yang baru mulai dilatih tidak dipecut atau ditusuk paku, cuma dilari di lapangan, jokinya mengendalikannya dengan ekornya, dan berteriak-teriak pada sapi supaya larinya lebih cepat. Sapi muda ini kadang-kadang berlari dengan sapi berpengalaman lain atau sendirian.
Latihan tersebut juga merupakan kesempatan baik untuk pemilik sapi yang ingin menguji sapinya sendiri dengan calon sapi untuk kecocokannya sebagai pasangan. Sapi sering dibeli sendiri-sendiri dan dicocokkan dengan sapi lain. Walaupun ada hal tertentu yang dicari pemilik sapi, tidak jelas kalau dua sapi akan cocok, dengan irama dan kecepatan yang sama. Kadang-kadang sapi yang tidak begitu sesuai dibeli, jadi pemilik sapi akan menjualnya secepat mungkin supaya bisa mencari dan membeli yang lebih cocok. Latihan juga adalah kesempatan untuk pemilik sapi dan orang yang ingin menjadi pemilik sapi melihat kondisi sapi yang menarik perhatiannya. Oleh karena ada orang yang mungkin sekali akan menjadi pembeli sapinya, penting sekali kalau pemilik sapi menang pacuannya di latihan, karena mungkin mereka akan ditawar harga beli yang bagus.
KENDALA DI LAPANGAN
Walaupun berlatih setiap minggu, masalah kadang-kadang terjadi, dan baik joki maupun sapi kerap mungkin akan sangat teriuka selama pacuan. Bahkan dalam keadaan paling baik, pasangan sapi, yang berat badannya 600 kilo, terangsang dan takut, yang berlari dengan kecepatan sampai 50 kilometer per jam, sulit sekali dikendalikan, apalagi dihentikan. Kalau cuaca buruk, lebih sulit lagi. Lapangan menjadi sangat licin dan becek, dan kadang-kadang sapi jatuh atau terpleset, melukai mereka sendiri dan membahayakan joki kecil di antaranya. Di salah satu pertandingan di Madura pada bulan Maret, salah seorang joki yang kecil sekali dihancur di bawah pasangan sapi yang sedang berguling. Pada hari itu berhujan keras sekali selama 2jam dan sapi di sebelah kiri terpleset dan menarik joki, yang pertama, kemudian sapi di sebelah kanan, sampai jatuh ke atas sapi kiri. Sapi kanan berguling di atas, mengakibatkan ketiga-tiganya terbalik sedangkan sapi kiri berusaha berdiri. Di antara kaki mencambuk dan badan berat, joki kecil tidak bisa membantu dirinya sampai dikeluarkan oleh tangan penyelemat. Dia beruntung sekali karena bisa keluarkan kecelakaannya dengan memar dan otot sakit saja. Sapi atau joki yang teriuka mungkin akan menghalangi pemilik sapi masuk pertandingan selama beberapa minggu... [DI]
Oleh : Tracy Rowe
Jumat, 28 November 2014
Gerabah Madura
Gerabah merupakan warisan karya budaya yang sangat tua, luas persebarannya dan mampu bertahan hingga sekarang. Gerabah merupakan barang pecah belah dari tanah bakar yang dibuat secara tradisional.
Gerabah konon sudah dibuat manusia sejak mereka hidup menetap dan mulai bercocok tanam beberapa ribu tahun sebelum tarikh Masehi, kini masih kita dapatkan di seluruh pelosok Nusantara. tak terkecuali di Pulau Madura. Gerabah Madura dibuat oleh pengrajin Madura serta mempunyai fungsi-fungsi umum maupun Khusus bagi kehidupan masyarakat Madura.
Jenis-jenis gerabah Madura berfungsi sebagai benda pakai, benda hias, barang mainan, bahan bangunan dan bernilai ekonomis, sosial, magis dan lain-lain.
Bahan dan Lokasi Pembuatan
Madura kaya akan pembuatan gerabah yakni sejenis tanah liat yang berwarna kuning dengan pasir halus. Tanah liat hitam dapat juga dipergunakan tetapi kualitasnya kurang baik.
Semua Kabupaten di Madura bahkan sampai di kepulauan terdapat pengrajin gerabah seperti di Mandala Andulang, Duko Ru baru, Angkatan Kangean, Baragung, Pademawa Barat, Dalpenang Pakaporan, Blega, Konang, Geger dan lain-lain. Diantaranya yang sangat terkenal adalah Karangpenang Sampang dan Andulang Sumenep.
Diantara daerah-daerah ini ada semacam perjanjian kerja untuk membuat barang-barang yang sudah ditentukan secara turun temurun atau spesialisasi. Dengan spesialisasi ini persaingan dapat dicegah. Gerabah Madura juga memaki kekhasan lokal yang disebabkan oleh keahlian/ketrampilan pengrajin, tersedianya bahan, teknik pembuatan dan teknik pembakaran. Dengan spesialisasi dan ciri khasnya itu, banyak kampung diberi nama sesuai dengan nama jenis tembikar tertentu.
Alat dan cara pembuatan gerabah
Peralatan pengrajin gerabah Madura adalah alat-alat tradisional yang tak jauh bedanya dengan yang sudah digunakan pada zaman Prasejarah. Alat-alat umum adalah cangkul, linggis, ember dan alat-alat khusus seperti :
02. Panempa atau penempa, untuk pembentuk dan penghalus bagian luar, berupa sekeping papan.
03. Pangorek atau pengorek, sejenis sabit bermata miring bertangkai panjang untuk menghaluskan bagian dalam.
04. Panyabugan, wadah air untuk menetesi gerabah dengan secarik kain agar mudah dihaluskan.
05. Pangeled, secarik kain untuk membentuk bibir gerabah.
06. Pangajakan, sejenis nyiru untuk ayakan pasir.
07. Pangabuan, tempat abu.
08. Panompal, alat menyisikan abu dari pembakaran.
09. Wer-kower, galah berujung kawat lengkung.
10. Pamatong, sejenis pisau atau kawat pemotong tanah liat.
11. Tungku pembakaran gerabah.
12. Dan lain-lain.
Proses pembuatannya secara umum adalah sebagai berikut :
02. Tanah liat dan pasir dengan perbandingan tertentu diaduk dengan air merupakan adonan.
03. Mengambil sebongkah tanah adonan atau kopo'an.
04. Tanah kopo'an lalu dibentuk secara kasar atau hadangan.
05. Dari badangan dibentuk baganan sehingga mulai tampak wujud benda yang diinginkan.
06. Dengan kain pangeled pinggiran atau bibir dibentuk sehingga bulat melingkar.
07. Bila yang dibuat sejenis belanga atau periuk mulut atau congaban sudah jadi lalu diangin-angin kemudian membuat perut dan bagian bawah yang terpisah dengan bagian mulut.
08. Pembuatan perut setelah dibentuk secara Kasar diperhalus dengan alat penempa kemudian pengorek.
09. Bagian perut dan bagian mulut disambung, kemudian diperhalus.
10. Bila gerabah yang dibuat bertelinga, atau bertangkai, juga dipasang kemudian dengan disambung.
11. Setelah halus dan diteliti kesempurnaannya, lalu dijemur hingga kering benar.
12. Dibakar.
13. Dibersihkan dengan air dan hasilnya sudah siap pakai atau dipasarkan. Namun untuk beberapa daerah ada yang masih menyempurnakan dengan semacam cat dari lumpur.
Fungsi dan Jenis.
Hasil kerajinan gerabah Madura sangat beraneka ragam dan bila ditinjau dari fungsinya dapatlah dikelompok-kelompokkan sebagai berikut :
~ Alat atau tempat memasak lauk-pauk, seperti katta, kekenceng, dungdung, jadi, gulbung dan lain-lain.
~ Tempat masak air: ceret, katta dan lain-lain.
~ Untuk penyimpan atau pengambil air: gendi, pelteng, kelmo, tampal, gentong, penyambungan, panyamsaman dan lain-lain.
~ Sebagai wadah hasil macam-macam produksi: pakes, kontong, tengtong, juleng, jadi, keppeng dan sebagainya.
~ Tempat menabung: celengan.
~ Alat tertentu: Pacapa'an, padupa'an, pateppengan dan lain-lain.
~ Alat serbaguna: pennay, gulmong, kontong, cobik.
~ Alat pembantu: sendi, pangobugan.
~ Perhiasan, misalnya pot.
~ Alat mainan, seperti gerabah mini, burung-burungan.
~ Bahan bangunan: genting, bata, angin-angin, ubin.
Upaya pelestarian.
Pemakai gerabah Madura memperoleh banyak keuntungan seperti: harga murah, anti karat, mudah dibersihkan, mengurangi polusi dan lain-lain. Disamping itu juga dapat menyerap banyak tenaga kerja. Kemanfaatan umum dan jangka panjang adalah dapat melestarikan warisan budaya yang telah turun-temurun.
Mengingat keuntungan-keuntungan tersebut kiranya pelestariannya perlu mendapat perhatian kita semua dengan pengrajin dan peningkatan mutu hasilnya sehingga tetap relevan dengan keperluan masa kini... [DI]
Sumber : http://kebudayaanindonesia.net/
Kamis, 27 November 2014
Menepis Pengaruh Negatif Dalam Kesenian Sandur Madura
Sinopsis Sandiwara Madura "SANDUR" tidak banyak diketahui oleh generasi muda sekrang ini, kemudian makna kenapa "Panjak" bukan seorang wanita dalam beberapa lakon yang mereka pentaskan, sebetulnya kalau betul-betul kita nikmati dan cermati begitu lugasnya mereka berkesenian, intrik-intrik dalam kegiatan "Aremoh" ini perlu di persempit untuk tidak mengarah pada kegiatan negatif.
Hal ini dimaksudkan agar pengaruh negatif seperti tersedianya minuman beralkohol, padahal dahulu hidangan mereka hanyalah kopi atau syrup yg orang madura menyebutnya "setrup" sedangkan camilan untuk para tamu yang datang hanyalah camilan yang amat sederhana sekali, yaitu krupuk, rengginang, atau kacang sangngar (kacang sangrai) tak lepas beberapa tandan pisang yang beraneka macam jenis pisang.
Begitu juga ragam iringan dalam mengiringi Panjak yang melenggak lenggokkan pantatnya bak seorang gadis yang lemah gemulai, nilai sportifitas disini amatlah dijunjung tinggi, seperti misalnya antrean dalam panggilan, tidak ada yang saling mendahului satu dengan lainnya, sikap saling menghormati mereka junjung tinggi, sehingga kalu ada masalah diantara kelompok mereka dapat diselesaikan dengan cara "win win solution" karena mereka mempunyai Orang Tua Asuh yang mereka sebut sebagai "Klebun" atau Ketua Kelompok dari masiong masing Group.
Selanjutnya simak nada nada "Kejungan" yang dibawa oleh Panjak binek ini suara mereka mendayu dayu mengumandangkan kritik-kritik Sosial yang terjadi pada saat itu, kejungan yang dibawakan juga mampu menjadi tuntunan tidak saja berfungsi sebagai tontonan.
Rabu, 26 November 2014
Sronenan Khas Madura
Sronenan merupakan orkes musik karapan sapi yang mulai popular sejak tahun 1970-an itu. Apabila dilihat dari instrumennya yang terdiri dari alat berpencon keluarga gong, sesungguhnya alat musik tersebut terdapat pula tempat lain, bahkan lebih populer dan lebih tua.
Kita dapat mencermati sejenis sronenan seperti di Jawa Barat (pada musik sisingaan), di Jawa Tengah (pada musik jaran kepang), di Jawa Timur (pada musik Reog), di Bali (pada musik Balaganjur). Pigeaud mengingatkan bahwa musik slompret (sejenis korp musik dalam bentuk rombongan kecil, seperti : gamelan saronèn atau kenong telo’) yang sering dilibatkan dalam pawai-pawai sebagai musik “pengawal” pasukan, sudah cukup dikenal dan bukan khas Madura.
Pola musikal yang paling penting dari sronenan ini adalah struktur beat kolotomik yang saling berkelipatan diantara instrument yang dimainkan oleh masing-masing pemain. Istilah sronenan, sesungguhnya dicomot dari nama sebuah instrument yang diasosiasikan paling kuat atmosfir musikalnya, yaitu sejenis sarunai/surnei (Timur Tengah) atau selompret (Jawa) atau kategori jenis hobo (Eropa). Karakter suaranya sangat khas, yaitu nyaring, melengking, dan parau seperti suara burung merak.
Sronenan di Madura selalu dikaitkan dengan musiknya sapi-karapan (sapi jantan) ataupun sape sono’ (sapi betina dalam kontes kecantikan sapi). Di luar contoh yang fenomenal ini, sesungguhnya “gamelan” sronenan ini memiliki substansi sebagai musik arak-arakan. Dalam arti, mengarak subjek apapun yang diseremonialkan, seperti: mengarak jharan kenca’ (kuda menari) yang biasanya ditunggangi pengantin perkawinan maupun pengantin sunatan; mengarak sesajian/orang menunaikan hajad ke kuburan keramat, mengarak tamu kehormatan dan sebagainya. Di sisi yang lain, suatu kelompok sronenan yang disewa juga selalu dituntut untuk memberi hiburan musik kepada tamu.
Sebagai gamelan arak-arakan, maka sronenan dirancang sedemikian sehingga mudah dibawa, praktis dijinjing-dipikul dan bebannya ringan karena terbuat dari bahan dasar besi plat. Kemeriahan musiknya juga diperkuat dengan atraksi tubuh yang diperlihatkan oleh pemain sronenan saat memainkan musik. Bahkan kostumnya pun semakin memberi karakter kuat bahwa sronenan adalah musik yang gemebyar/meriah dan mengekspresikan kegemerlapan ala kerakyatan dan terinspirasi oleh kostum sapi.
Sronenan mempunyai gending-gending khusus untuk arak-arakan, seperti: giroan sarka’, lorongan sarka’ dan lorongan lanjhang. Sementara gending-gending yang bersifat umum kebanyakan diambil dari gending-gending tradisi gamelan sumenepan yang popular.
Menurut Munardi, kenong telo’ (baca: konsep kolotomik kenong-ketuk) yang berkembang di Jawa Timur mempengaruhi perkembangan musik kerakyatan Madura, seperti: musik tongtong dan gamelan saronèn... [DI]
Photo Koleksi : Hidrochin Sabarudin
Kamis, 20 November 2014
Alat-Alat Perlengkapan Membatik
Alat-alat perlengkapan yang diperlukan untuk membatik dari dulu hingga kini tidak banyak perubahan. Hanya sedikit yang mengalami modifikasi sesuai dengan perkembangan teknologi. Alat untuk membuat batik yang berupa canting, misalnya, kini telah ada canting elektronik yang menggunakan tenaga listrik.
Sebagai kerja seni tradisional, membatik lebih banyak menggunakan alat-alat tradisional yang diwariskan oleh para leluhur. Itulah sebabnya, batik tulis termasuk hasil karya tradisional yang dapat ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia dari sabang sampai merauke. Tidak salah bila UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya asli Indonesia.
Adapun macam-macam perlengkapan untuk membatik antara lain :
GAWANGAN
Gawangan adalah perkakas menyangkutkan dan membentangkan mori sewaktu dibatik. Gawangan terbuat dari kayu atau bambu. Gawangan harus dibuat sedemikian rupa hingga kuat, ringan, dan mudah dipindah-pindah.
Tinggi gawangan sekitar 50 cm dan panjang bilah sekitar 1 meter. Alat membatik ini biasanya terbuat dari bahan besi, kayu, atau bambu. Ketiga bahan tersebut sering dijumpai di sentra-sentra batik maupun di museum-museum yang mempunyai koleksi tentang perbatikan.
![]() |
| Gawangan |
Fungsi utama gawangan tentu saja sebagai tempat untuk menaruh kain yang akan diberi pola batik dan proses pembatikan awal, yakni menorehkan lilin atau malam ke kain dengan alat bantuan canthing. Kain yang akan diberi pola atau proses pembatikan pada umumnya disampirkan ke gawangan. Setelah itu pembatik bisa memulai dari ujung kain untuk kemudian memberi pola dan melakukan proses pembatikan awal. Demikian seterusnya hingga proses pembuatan pola dan pembatikan awal selesai dilakukan.
BANDUL
Bandul dibuat dari timah, kayu, atau batu yang dimasukkan ke dalam kantong. Fungsi pokok bandul adalah untuk menahan agar mori yang yang sedang dalam proses pembuatan batik tulis tidak mudah tergeser saat tertiup angin atau tertarik oleh si pembatik secara tidak sengaja.
Wajan adalah perkakas untuk mencairkan malam/lilin. Wajan dibuat dari logam baja atau tanah liat. Wajan sebaiknya bertangkai supaya mudah diangkat dan diturunkan dari perapian tanpa menggunakan alat lain.
Kompor adalah alat untuk membuat api. Kompor yang biasa digunakan adalah kompor berbahan bakar minyak. Namun terkadang kompor ini bisa diganti dengan kompor gas kecil, anglo yang menggunakan arang, dan lain-lain. Kompor ini berfungsi sebagai perapian dan pemanas bahan-bahan yang digunakan membatik.
TAPLAK
Taplak adalah kain yang menutup paha si pembatik agar tidak terkena tetesan malam panas sewaktu canting ditiup atau waktu membatik.
SARINGAN MALAM
Saringan adalah alat untuk menyaring malam panas yang memiliki banyak kotoran. Jika malam tidak di saring, kotoran dapat mengganggu aliran malam pada ujung canting. Sedangkan bila malam disaring, kotoran dapat dibuang sehingga tidak mengganggu jalannya malam pada ujung canting sewaktu digunakan untuk membatik.
Ada bermacam-macam bentuk saringan, semakin halus semakin baik karena kotoran akan semakin banyak tertinggal. Dengan demikian, malam panas akan semakin bersih dari kotoran saat digunakan untuk membatik.
CANTING
Canting adalah alat yang dipakai untuk memindahkan atau mengambil cairan, terbuat dari tembaga bambu sebagai pegangannya. Canting ini dipakai untuk menuliskan pola batik dengan cairan malam. Saat ini, canting perlahan menggunakan bahan teflon.
Terdapat tiga macam bagian pada canting :
- Gagang yang terbuat dari bambu agar ringan dan mudah digunakan untuk melukis motif batik;
- Cucuk atau yang disebut juga carat yaitu tempat keluarnya cairan lilin ketika canting digoreskan ke kain.;
- Nyamplungan yaitu lubang cekung untuk menyimpan lilin cair.
Cucuk dibedakan beberapa jenis tergantung banyaknya cucuk, diantaranya adalah :
~ Cucuk satu atau canting cecekan
~ Cucuk dua atau canting lorom
~ Cucuk tiga atau canting telon
~ Cucuk empat atau canting prapatan
~ Cucuk lima atau canting liman
~ Cucuk tujuh atau lebih yang disebut juga canting byok
~ Canting galaran atau renteng yang bercucuk genap dan berbentuk susun
Cucuk dapat juga dibedakan berdasarkan ukurannya, sehingga ada cucuk kecil, sedang dan besar. Jika berdasarkan fungsinya,cucuk dibedakan dua jenis, yaitu canting isen,yang mempunyai cucuk untuk mengisi bagian motif batik yang harus diisi dengan warna di semua bagian.Ada juga canting reng-rengan yaitu canting untuk membentuk garis-garis pada kain.
~ Cucuk satu atau canting cecekan
~ Cucuk dua atau canting lorom
~ Cucuk tiga atau canting telon
~ Cucuk empat atau canting prapatan
~ Cucuk lima atau canting liman
~ Cucuk tujuh atau lebih yang disebut juga canting byok
~ Canting galaran atau renteng yang bercucuk genap dan berbentuk susun
Cucuk dapat juga dibedakan berdasarkan ukurannya, sehingga ada cucuk kecil, sedang dan besar. Jika berdasarkan fungsinya,cucuk dibedakan dua jenis, yaitu canting isen,yang mempunyai cucuk untuk mengisi bagian motif batik yang harus diisi dengan warna di semua bagian.Ada juga canting reng-rengan yaitu canting untuk membentuk garis-garis pada kain.
Dengan ditemukannya berbagai alat dan cara yang lebih modern untuk membatik, saat ini terdapat juga canting elektronik.Seperti juga canting tradisional, canting ini memiliki gagang dan lubang tempat menampung cairan lilin, serta memiliki kelebihan lain,yaitu alat untuk mengkontrol suhu canting
Jika pada canting tradisional,seluruh paruh canting yaitu dobel ceceg, tembogan, ceceg, dobel klowong dan klowong merupakan satu bagian yang melekat, maka merupakan kelebihan canting modern adalah seluruh bagian ini dapat dilepas dan diganti sesuai dengan ukuran yang diinginkan oleh pembatik.
Waktu yang dibutuhkan untuk menciptakan satu kain batik tulis sekitar 2-3 bulan, jelas lebih lama daripada batik print yang hanya membutuhkan waktu dua minggu saja. Namun batik tulis memiliki mutu yang lebih baik dan keunikan yang tetap tak lekang oleh zaman. Banyak orang yang dengan sukarela membeli batik tulis walau harganya lebih mahal.
KAIN MORI
Mori adalah bahan baku batik yang terbuat dari katun. Kualitas mori bermacam-macam dan jenisnya sangat menentukan baik buruknya kain batik yang dihasilkan. Mori yang dibutuhkan disesuaikan dengan panjang pendeknya kain yang diinginkan. Tidak ada ukuran pasti dari panjang kain mori karena biasanya kain tersebut diukur secara tradisional. Ukuran tradisional tersebut dinamakan kacu. Kacu adalah sapu tangan, biasanya berbentuk bujur sangkar.
Jadi, yang disebut sekacu adalah ukuran persegi mori, diambil dari ukuran lebar mori tersebut. Oleh karena itu, panjang sekacu dari suatu jenis mori akan berbeda dengan panjang sekacu dari mori jenis lain.
Namun dimasa kini, ukuran tersebut jarang digunakan,. Orang lebih mudah menggunakan ukuran meter persegi untuk menentukan panjang dan lebar kain mori. Ukuran ini sudah berlaku secara nasional dan akhirnya memudahkan konsumen saat membeli kain batik. Cara ini dapat mengurangi kesalahpahaman dan digunakan untuk menyamakan persepsi di dalam sistem perdagangan.
MALAM / LILIN
Malam / lilin adalah bahan yang dipergunakan untuk membatik. Sebenarnya malam tidak habis (hilang) karena pada akhirnya malam akan diambil kembalipada proses mbabar, proses mengerjakan dari membatik sampai batikan menjadi kain.
Malam ynag dipergunakan untuk membatik berbeda dengan malm (lilin) biasa. Malam untuk membatik bersifat cepat diserap kain, tetapi dapat dengan mudah lepas ketika proses pelorodan.
DHINGKLIK / TEMPAT DUDUK
Dhingklik / tempat duduk adalah tempat untuk duduk pembatik. Biasanya terbuat dari bambu, kayu, plastik, atau besi. Saat ini, tempat duduk dapat dengan mudah dibeli di toko-toko.
Fungsi alat dhingklik sama dengan kursi, sebagai tempat duduk, hanya saja dhingklik biasanya tidak ada sandarannya. Alat yang satu ini pun biasanya juga dibuat dari bahan kayu atau bambu. Tinggi dhingklik bervariasi, mulai dari 5 cm hingga 15 cm, disesuaikan dengan postur tinggi pembatik dan sedapat mungkin membuat nyaman bagi yang duduk. Dengan duduk di dhingklik ini memungkinkan para pembatik lebih leluasa melakukan membatik. Namun demikian, ada kalanya pembatik tidak duduk memakai dhingklik, tetapi duduk lesehan di lantai beralaskan tikar.
PEWARNA ALAMI
Pewarna alami adalah pewarna yang digunakan untuk membatik. Pada beberapa tempat pembatikan, pewarna alami ini masih dipertahankan, terutama kalau mereka ingin mendapatkan warna-warna yang khas, yang tidak dapat diperoleh dari warna-warna buatan. Segala sesuatu yang alami memang istimewa, dan tekhnologi yang canggih pun tidak bisa menyamai sesuatu yang alami
Alat-alat di atas merupakan perlengkapan membatik yang harus tersedia. Proses membatik memerlukan waktu yang cukup lama, terlebih kalau kain yang dibatik sangat lebar dengan motif yang rumit. Corak batik yang beraneka ragam dapat menghasilkan model baju batik yang indah. Dengan demikian, harga batik lebih banyak ditentukan oleh proses pembuatan, corak motif batik, bahan pewarna yang dipakai, dan bahan kain... [DI]
Catatan : Berbagai Sumber
SPIRIT















































