Tampilkan postingan dengan label TOKOH SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TOKOH SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 November 2018

Nyai Cendana Tokoh Ulama Madura Barat

Tokoh-tokoh di jagad sejarah hampir jarang memunculkan sosok-sosok dari kalangan perempuan. Meski memang tidak menafikan sama sekali adanya sosok-sosok dari kalangan hawa ini, jika diprosentasikan atau dibuat perbandingan dengan tokoh-tokoh pria, tentu hasilnya menunjukkan porsi kalangan hawa yang jauh lebih sedikit. Apakah ini semacam bias gender?

Di masa lampau, kedudukan perempuan, khususnya di masa jahiliyah atau pra kerasulan Muhammad SAW, dipastikan tak dilirik meski seperempat belah mata. Perempuan dianggap sebagai objek jajahan, dalam segala hal. Hingga Islam datang dan mengangkat martabat mereka setinggi-tingginya, dan semulia-mulianya. Sejajar dengan pria dalam hal hak dan kewajiban.

Meski peran perempuan besar, memang ada batasan tertentu yang diatur oleh norma agama dan budaya. Seperti kiprahnya di ruang publik. Meski dewasa ini sekat itu sudah setipis helaian rambut. Dulu hampir tidak dikenal pemimpin perempuan dalam sejarah Islam klasik, namun kini sebaliknya.

Tokoh-tokoh sejarah memang kebanyakan dari kalangan Adam. Namun ada juga yang nyata-nyatanya mengungkap peran perempuan di balik beberapa peristiwa besar sejarah. Peran utama sebagai isteri dan ibu jelas lebih utama di banding peran apapun.

Lihat contoh Imam asy-Syafi’i yang ditinggal ayahnya dan hanya berada di naungan kasih sayang sang ibu. Lihat Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, Sultonul Awliya’, yang juga besar dalam didikan tulus seorang ibu sahaja. Dan banyak juga kisah-kisah tokoh besar lainnya, seperti penguasa atau tokoh utama sejarah di sebuah zaman yang mencapai posisi gemilang sekaligus terpuruk hingga ke bawah lantai kekuasaan, karena sebab peran dan ulah tangan seorang isterinya.

Sosok ulama perempuan dimaksud adalah Nyai Selase, dan menjadi sebab besar yang membawa peradaban Madura khususnya, dan luar Madura pada umumnya: Nyai Cendana atau Ratu Cendana, atau sebutan sepadan lainnya yang bermakna Isteri Sunan Cendana, tokoh Ulama dan Waliyullah Agung di Madura Barat.

Hampir tak pernah ditemukan mengenai kisah hidup perempuan yang menjadi ibu dan leluhur banyak tokoh agung di Madura dan Tapal kuda ini. Baik di riwayat lisan maupun tulisan, lebih-lebih buku sejarah dan babad. Satu-satunya yang ada hanya catatan silsilah. Itupun bukan catatan mandiri. Dalam arti, catatan silsilah merupakan catatan umum, tidak memuat bahasan khusus, melainkan bagan yang menunjukkan asal-usul dan keterkaitan hubungan orang perorang atau tokoh pertokoh secara genealogi.

Siapakah Nyai Cendana ini? Dalam sebuah catatan silsilah di Madura Barat, Nyai Cendana disebut sebagai isteri pertama Sunan Cendana (Sayyid Zainal Abidin), Kwanyar, Bangkalan. Dalam tradisi pararaton atau bangsawan, posisi beliau seperti permaisuri atau padmi atau isteri utama. Catatan itu berasal dari upaya inventarisir oleh beberapa pemerhati nasab ulama Madura terhadap penelusuran catatan dan asal-usul tokoh ulama keturunan Wali Sanga di Madura. Di antaranya yang digiatkan oleh Naqobah Ansab Auliya Tis’ah (NAAT) dan Tim 5wali Institute.

Sedikit informasi mengenai Nyai Cendana ialah mengenai nasab beliau. Ayah Nyai Cendana ialah Pangeran Bukabu, anak Pangeran Mandaraga dan Nyai Gede Kentil. Pangeran Mandaraga ini kalau ditarik ke atas berasal dari Kudus.

Berdasar catatan silsilah keraton Sumenep yang ditulis ulang R B Abdul Fatah, Pangeran Mandaraga adalah anak Panembahan Kalijaga bin Sunan Kudus. Catatan lebih tua dari itu, yang merupakan sumber catatan saat ini berasal dari tulisan kuna di keluarga keraton Sumenep yang saat ini disimpan di salah satunya di kampung Pangeran Letnan Kapanjin. Dalam pantauan media ini, salah satu kiai di Parongpong, Kecer, Dasuk, Sumenep juga memiliki catatan serupa dengan model dan penulis berbeda.

Hanya saja, di catatan Madura Timur, anak-anak Pangeran Bukabu yang disebut ialah Kiai Astamana dan Kiai Andasmana. Ada juga dua nama perempuan, namun tanpa keterangan. Nah, satu-satunya keterangan bahwa salah satu anak perempuan Pangeran Bukabu yang menjadi isteri Sunan Cendana hanya catatan Madura Barat. Catatan itu didapat oleh salah satu anggota NAAT, Ustadz K Nurkhalis Uzairi. “Catatan dari almarhum Bindara Habib, Murombuh, Bangkalan,”


Kalau mengacu pada catatan tersebut, antara Sunan Cendana dan Nyai Cendana masih ada hubungan kefamilian yang cukup dekat. Pangeran Bukabu adalah putra Nyai Gede Kentil. Sedang Nyai Kentil ini adalah saudara Nyai Gede Kedaton, ibunda Sunan Cendana.

Jadi hubungan Sunan Cendana dengan Pangeran Bukabu adalah saudara sepupu. Sehingga dari segi nasab Sunan Cendana menikahi keponakan sepupunya.

Dari Nyai Cendana ini lahirlah anak sulung Sunan Cendana yang dikenal waliyullah besar Madura Barat di masanya. Yaitu Kiai Putramenggolo. Di beberapa catatan beliau ditulis dengan banyak nama lain, seperti Panembahan Sampang; Ratu Lor Petapan; Sunan Putromenggolo; Kiai Adipati Putromenggolo; dan lainnya.

Sunan Putromenggolo ini menurunkan banyak tokoh-tokoh besar di Madura hingga tapal kuda. Dari putranya yang bernama Pangeran Saba Pele lahirlah Raden Macan Alas Waru, yaitu leluhur tokoh-tokoh keraton di Madura Timur, juga ulama-ulama besar di Pamekasan.

Salah satu cucu Raden Macan Alas adalah Raden Entol Anom alias Raden Ario Onggodiwongso, Patih Sumenep. Entol Anom merupakan leluhur Kiai Macan atau Kiai Demang Singoleksono Ambunten, waliyullah besar di masanya. Tokoh yang membawa tradisi Sintung di Sumenep. Sementara saudara Raden Entol Anom, yaitu Raden Entol Janingrat menurunkan Nyai Agung Waru, leluhur kiai-kiai di Pamekasan hingga Tapal kuda. Di antara keturunan Nyai Agung ialah keluarga besar pesantren Banyuanyar dan Bata-bata. “Isteri Kiai Abdul Hamid bin Itsbat, Nyai Halimah, adalah keturunan Nyai Agung Waru,” kata K. Muhammad Ali Muqit, Tempurejo, Jember, salah satu keturunan Kiai Abdul Hamid dan Nyai Halimah.

Kembali pada Nyai Cendana, tidak ada keterangan tentang masa hidup hingga akhir hayatnya. Namun jika melihat pada peninggalannya yaitu anak-cucunya yang menjadi orang-orang besar dan menjadi tokoh-tokoh panutan masyarakat, bahkan hingga pusaranya pun tetap ramai diziarahi, Nyai Cendana merupakan tokoh besar yang mastur atau tersembunyi (RBM.Farhan Muzammily/matamaduranew)


Sumber : Lontar Madura
Photo : Mas Syafii
Share:

Rabu, 30 Agustus 2017

Rabu, 12 Agustus 2015

Profil Bupati Bangkalan ke 3 - RAA. Soerjowinoto / Wali Negara

R.A.A. Tjakraningrat (Soerjowinoto/Suryowinoto) lahir pada tahun 1886 dan merupakan putra dari Bupati Bangkalan I (Pangeran Tjakraadiningrat) dan juga merupakan adik dari Bupati Bangkalan II yakni R.A.A. Tjakraningrat / R.A.A. Soerjonegoro.

R.A.A. Tjakraningrat (Soerjowinoto/Suryowinoto) adalah suami dari Ray. Ayu Saleha Tjakraningrat dan Aisyah Tjakraningrat. Dari perkawinan dengan Ray. Ayu Saleha Tjakraningrat menghasilkan putra yang bernama MR. RAA M. SIS Cakraningrat, RAA Roeslan Tjakraningrat, sedangkan dari perkawinan dengan Aisyah Tjakraningrat menghasilkan putra bernama M. Zainal Tjakraningrat dan M. Pratanu Tjakraningrat.

Beliau mendapat gelar pada tahun 1920 dari R.A.A Soerjowinoto menjadi R.A.A. Tjakraningrat. Kemudian pada tahun Tahun 1918 - 1945, menggantikan kakaknya (R. AA Soerjonegoro), menjadi Bupati Bangkalan III.


Pada jaman gencatan senjata antara RI vs Belanda (pada saat itu sudah RIS), namun keadaan Madura pada waktu itu begitu memprihatinkan, karena pasokan beras, pakaian dll dari Jawa Timur tidak bisa masuk ke Madura. 

Pada Bulan Pebruari 1948 dideklarasikan Negara Madura (masuk dalam RIS) dan R.A.A. Tjakraningrat ditunjuk sebagai Wali Negara Madura. Hingga pada akhir tahun 1949 ada gerakan demonstrasi dari pondok pesantren yang meminta kembali ke RI, perwakilan pengunjuk rasa dipersilahkan masuk untuk didengar pendapatnya oleh R.A.A. Tjakraningrat, sehingga pada saat itu pula disetujui untuk kembali ke Republik Indonesia.

Tidak ada kekacauan dan juga korban jiwa hingga kembalinya dengan keadaan damai. Pak Karno pun dalam beberapa kesempatan pernah berkunjung ke rumah R.A.A. Tjakraningrat setelah itu di Madura dan menemui MR. R.A.A. M. Sis Tjakraningrat yang pada tahun 1948-1956 menjabat sebagai Bupati Bangkalan IV. 

R.A.A Tjakraningrat di tinggal mati oleh istrinya, kemudian menikah kembali dengan Aisyah Cakraningrat dan mempunyai anak yaitu R.A. Zainal Tjakraningrat yang selanjutnya menikah kembali dengan puteri Pasundan dan mempunyai anak R.A. Pratanu Tjakraningrat...


R.A.A. Tjakraningrat meninggal dan dimakamkan di cungkup III pasarean aermata.


Terima kasih kepada Nara Sumber yang telah memberikan saran dan masukan atas postingan kami dan apabila para pemerhati Bangkalan Memory ingin lebih lengkapnya silahkan menghubungi langsung Trah Tjakraningrat

Cc : Munier Tjakraningrat
Malikul Tjakraningrat
Andree Tjakraningrat
Endrawan Tjakraningrat
Sasha S. Tjakraningrat
Willy Tjakra Adiningrat



Photo Koleksi : Bangkalan Memory


Share:

Jumat, 10 Juli 2015

Profil Bupati Bangkalan Ke 4 - Mr. R.A.A. M. Sis Tjakraningrat

Mr. R.A.A. M. Sis Tjakraningrat merupakan putra dari pasangan RAA Tjakraningrat (Wali Negara Madura) dan Ray. Ayu Saleha Cakraningrat dan juga saudara dari RAA. Moh. Roeslan Tjakraningrat.

Mr. R.A.A. M. Sis Tjakraningrat merupakan lulusan sekolah hukum dengan gelar MR atau Misteer van de Recht dr rechtshogeschool batavia.

Beliau menikah dengan putri dari Raja Pakubuwono X dan permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Hemas, yaitu Goesti Kandjeng Ratoe Pembajoen dan dikaruniai 4 (empat) orang anak antara lain :

01.  B.R.Ay. Koes Siti Marlia;

02.  B.R.Ay. Koes Sistiyah Siti Mariana;
03.  KPH.M. Munnir Tjakraningrat;
04.  KPH. Malikul Adil Tjakraningrat..


Pada 1948-1956, Mr. R.A.A. M. Sis Tjakraningrat menjabat sebagai Bupati Bangkalan ke IV. Kemudian Beliau di panggil oleh Presiden Soekarno ke Jakarta dan ditunjuk sebagai Badan Pemerintah Harian dan Staff Residen Pemerintah Daerah Riau pada tahun 1958-1960. Setelah itu oleh Presiden diangkat menjadi pengurus Masjid Istiqlal pada tahun 1960 dan diangkat sebagai Sekjen Agama Republik Indonesia pada tahun yang sama.


Putra Madura ini ikut serta dalam perundingan Linggarjati yang salah satu isi dari hasil perjanjiannya adalah :

01.  Pemerintah RI dan Belanda bersama-sama menyelenggarakan berdirinya sebuah negara berdasar federasi, yang dinamai Indonesia Serikat.

02.  Pemerintah Republik Indonesia Serikat akan tetap bekerja sama dengan pemerintah Belanda membentuk Uni Indonesia-Belanda.
03.  Belanda mengakui kedaulatan de facto RI atas Jawa, Madura, dan Sumatra.
Di akhir hayatnya Mr. R.A. M. Sis Tjakraningrat bekerja sebagai Sekjen Departemen Agama dan meninggal dunia pada saat bertugas di Jeddah dan di makamkan di Arab Saudi. Beliau meninggal saat bertugas pada tahun 1962 di Jeddah dan diminta oleh kerajaan Arab Saudi untuk dikuburkan disana, sehingga tidak kita jumpai makam Beliau di Pasarean Aermata.

Terima kasih kepada Nara Sumber yang telah memberikan saran dan masukan atas postingan kami dan apabila para pemerhati Bangkalan Memory ingin lebih lengkapnya silahkan menghubungi langsung Trah Tjakraningrat
Cc : Munier Tjakraningrat
Malikul Tjakraningrat
Andree Tjakraningrat
Endrawan Tjakraningrat
Sasha S. Tjakraningrat
Willy Tjakra Adiningrat


Photo Koleksi : Bangkalan Memory
Share:

Rabu, 01 Juli 2015

Profil Bupati Bangkalan Ke 5 - R.A.A. Moh. Roeslan Tjakraningrat

R.A.A. Moh. Roeslan Tjakraningrat lahir pada tanggal 17 Oktober 1913 di Bangkalan dan merupakan putra dari pasangan RAA Tjakraningrat dan Ray. Ayu Saleha Cakraningrat 

R.A.A. Moh. Roeslan Tjakraningrat menikah dengan Hatimah Tjakraningrat, dari perkawinannya tersebut dikaruniai 3 orang putra dan 1 orang putri yakni Siti Aisyah Tjakraningrat, M. Ali Tjakraningrat dan M. Anwar Tjakraningrat dan Beliau juga merupakan adik dari Mr. R.A.A. M. ZIZ. Tjakraningrat, Beliau menjabat sebagai Bupati Sumenep ke 5 pada tahun 1956-1958.

R.A.A. Moh. Roeslan Tjakraningrat dengan Hatimah Tjakraningrat (Istri)

RAA. Moh. Roeslan Tjakraningrat

Keluarga Besar dari RAA. Tjakraningrat (Soerjowinoto/Walinegara)

Pada tahun 1958-1968, Beliau menjadi Gubernur I NTB, setelah itu tidak menjabat lagi, Beliau menjadi anggota MPRS/DPRS di tahun 1975 dimana ikut berperan serta dalam pembentukan Museum Daerah Bangkalan yang semula berada di lingkungan Pendopo Kabupaten Bangkalan, yang kemudian pindah di Jalan Soekarno Hatta dengan nama "Museum Tjakraningrat".

Beliau meninggal pada tanggal 23 Desember 1976 dan disemayamkan di Cungkup III Kompleks Pasarean Aermata Ebu Arosbaya Bangkalan.


Terima kasih kepada Nara Sumber yang telah memberikan saran dan masukan atas postingan kami dan apabila para pemerhati Bangkalan Memory ingin lebih lengkapnya silahkan menghubungi langsung Trah Tjakraningrat :

Munier Tjakraningrat
Malikul Tjakraningrat
Andree Tjakraningrat
Endrawan Tjakraningrat
Sasha S. Tjakraningrat
Willy Tjakra Adiningrat



Photo Koleksi : Bangkalan Memory


Share:

Kamis, 29 Januari 2015

Kolonel Raden Ario Majang Koro Menerima Medali Ridder Militaire Willems Orde Vierde Klasse

The Military William Order (Ridder Willems Orde - Belanda : Militaire Willems - Orde, singkatan : MWO), adalah kehormatan tertua dan tertinggi dari Kerajaan Belanda . Moto dari  medali kehormatan tersebut adalah “Voor moed, Beleid en Trouw” (Untuk Keberanian, Kepemimpinan dan Loyalitas).. [DI]




Share:

Jumat, 12 Desember 2014

R. AMIRUDDIN TJITRAPRAWIRA Tokoh Seni dan Budaya Madura Barat

R. Amiruddin Tjitraprawira dilahirkan di Kota Bangkalan pada tanggal 18 Mei tahun 1920. Semasa hidupnya di kisaran tahun 1940-an Beliau bekerja di Banjarmasin Kalimantan Selatan dan menikah dengan gadis Banjar bernama Radiah, kemudian kembali ke Jawa/Madura diawal tahun 1943. 

Pada tahun 1950 kembali lagi ke Banjarmasin sebagai pegawai RRI Banjarmasin hingga awal tahun 1959, kemudian pindah ke Kupang Propinsi Nusa Tenggara Timur sebagai Kepala RRI. Banyak orang tidak mengenal Beliau dengan baik, padahal ditangannyalah terlahir karya lagu-lagu Madura yang sangat dikenal, siapa yang tidak kenal lagu ini, sebuah lagu yang mewakili etnis Madura dalam ke-Bhinneka-Tunggal-Ika-an Nusantara, Lagu itu judul aslinya TONDU’ MAJÂNG

R. Amiruddin Tjitraprawira

Lagu ini diciptakan sekira tahun 1940-an oleh Beliau yang terkenal dengan nama samarannya Bapak Atjit, lagu lain yang cukup terkenal adalah : KEMBHÂNGNGA NÂGHÂRÂ atau orang Bangkalan menyebutnya lagu Cakraningrat, juga lagu ASTA AÈRMATA dan KÈ’ LÈSAP. 

Karya-karya Beliau terhimpun dalam buku “PAMERTÈ” Kapèng sèttong, sè makalowar buku panèka “Parabân Sontè” ghun Bhângkalan, diterbitkan Kementrian Pendidikan, Pengembangan dan Kebudayaan Republik Indonesia Tahun 1952. 

Lagu-lagu didalam buku ini adalah :

1.  Pangeran Trunodjojo

2.  Madura O Madura
3.  Asta Aermata
4.  Kerrapan Sape
5.  Djoko Tole
6.  Tera’ Bulan
7.  E Paseser
8.  Ke’ Lesap
9.  Kembangnga Nagara
10 Tondu’ Madjang
11 Aeng Tantja’ Torowan
12 Oreng Matrol



Bapak Atjit meninggal dunia di Surabaya pada tanggal 17 Desember 1975, dimakamkan di pemakaman umum Asem jajar Surabaya. dan  kami sebagai pewaris Madura akan selalu mengenangmu.


Oleh : Adrian Pawitra


Share:

Rabu, 26 November 2014

Kamis, 13 November 2014

"MUHAMMAD IRSYAD" Tokoh Seni dan Budaya Madura Barat

Dilahirkan tahun 1934 disebuah kampung kecil Lebak, Desa Pangeranan Bangkalan Madura. Pada tahun 1957 Beliau menikahi seorang gadis bernama Maisura dan mempunyai sembilan anak antara lain : Indrayati, Iwan Triyuwono, Harlina Pujiati, Widya Susanti, Yasna Murtiwalita, Adrian Pawitra, Yusran Abadi, Candra Aditya dan Intan Pratiwi. 



Share:

Kamis, 16 Oktober 2014

Panembahan Cakra Adiningrat ke VIII (Raden Moh. Ismail) Tahun 1862 - 1882

Sepeninggal Panembahan Cakraadiningrat VII (Raden Moh. Yusuf, maka putra pertama beliau Raden Moh. Ismail naik Tahta Kerajaan dengan Gelar Panembahan Cakraadiningrat ke VIII pada tahun 1862 - 1882. Telah dipaparkan sebelumnya dari sudut pandang hukum adat Raden Moh. Ismail tidak memenuhi syarat untuk menduduki Tahta Kerajaan karena alasan yang bersifat Fisik antara lain, beliau mengalami gangguan pendengaran dan suara. 


Share:

Minggu, 12 Oktober 2014

Njoo Cheong Seng Tokoh Perfilman Nasional dari Bangkalan

Njoo Cheong Seng (NCS), penggiat seni keturunan Tionghoa yang produktif menulis puisi, drama, cerita pendek, dan novel serta menjadi sutradara dan aktor pada periode sebelum perang. Dalam menulis, ia kerap menggunakan beberapa nama pena, antara lain Munzil Anwar, Monsieur Amor, Monsieur D'Amor, N.C.S., atau N.Ch.S... [DI]



Bakat menulis pria kelahiran Bangkalan, 6 November 1902 ini sudah terlihat sejak remaja. Pada tahun 1919, atau di saat usia NCS masih baru menginjak 17, ia telah memulai karirnya sebagai novelis. Bekerjasama dengan So Chuan Hong, ia menerbitkan novel yang berjudul Cerita Penghidupan Manusia.


Selain menulis novel, NCS juga kerap menulis di beberapa suratkabar China peranakan. Di antaranya pada tahun 1921, dia menulis di harian Sin Po. Setahun kemudian ia menjadi kontributor untuk majalah Hoa Po pimpinan Lie Sim Gwee dan Pek Pang Eng.

Khusus dalam hal menulis, NCS mengaku sangat berterima kasih kepada So Chuan Hong karena telah mendidiknya menjadi penulis. Dalam sebuah artikelnya di Tjantik, majalah sastra terbitan Bandung, ia bahkan memanggil So Chuan Hong dengan sebutan guru.

Selanjutnya pada tahun 1923, setelah novel pertamanya lahir, NCS pindah ke Surabaya dan mulai berkarir di dunia jurnalistik dengan menjadi editor utama majalah bulanan Interocean. Ia menggantikan Kwee Hing Tjoe yang pindah ke Eropa.

Interocean merupakan majalah yang banyak berkonsentrasi pada masalah politik dan ekonomi. Tapi di bawah kepemimpinannya, ia mulai memasukkan unsur kesusastraan yang menjadi spesialisasinya. Seperti dengan memuat cerita cinta dalam bahasa Inggris dan Tionghoa. Namun ia tetap mempertahankan sisi politik, misalnya dengan memasukkan polemik mengenai seorang jurnalis yang dikeluarkan oleh pemerintah Belanda karena menentang pemerintah.

Masih di media yang sama, NCS juga menerbitkan karyanya sendiri seperti "Liesje". Dalam kata pengantarnya untuk cerpen itu, ia menulis bahwa ia lebih suka menulis tentang kehidupan nyata seperti yang terjadi pada dirinya maupun orang-orang yang dia kenal. Selain Liesje, ia juga menulis "Menikah dalam kuburan" maupun drama berjudul "Korban".

Pada tahun 1925, ia menulis novel berjudul Nona Olanda sebagai istri Tionghoa, cerita mengenai gadis Belanda yang menikah dengan seorang Tionghoa. Pada masa itu, periodenya memang periode cerita-cerita sedih yang melodramatis. Banyak di antaranya mengenai pernikahan campuran.

Dalam bidang kesenian, aktivitasnya bukan hanya tulis menulis. Seni peran dalam dunia 
teater juga dia geluti. Di awal 1920-an, ia tercatat sebagai anggota sebuah organisasi pemain sandiwara amatir bernama Soen Thian Gie Hie. Selain berperan sebagai pemain, ia juga menulis naskah. Naskah pertamanya berjudul Lady Yen Mei yang ditujukan untuk mengkritik orang kaya yang pelit.

Pada tahun 1926, ia bergabung dengan kelompok  teater di Batavia bernama Miss Riboet's Orion setelah sebelumnya meninggalkan profesinya sebagai wartawan. Bersama TD Tio Jr, ia melakukan langkah pembaruan dengan mengubah teknik akting dan cara kerja sutradara. Sebagai mantan wartawan, koneksinya dengan media massa yang luas dimanfaatkannya untuk kepentingan publisitas pertunjukan kelompok 
teaternya.

Setelah delapan tahun berkiprah di Orion, ia memutuskan untuk keluar dan bergabung dengan Moonlight Cyrstal Follies. Di sana ia bertemu dengan Nonnie Tan Kiem Lion seorang wanita kelahiran Aceh berdarah campuran Prancis-Tionghoa.

Keduanya pun menikah pada tahun 1927. Menurut Huang Lin, istri keempat NCS, Nonnie adalah istri kedua suaminya. Sebelumnya ia telah menikah dan mempunyai dua anak laki-laki bernama Armand dan Jackie. Semasa hidup, NCS diketahui empat kali menikah.


Perkawinan NCS dan Nonnie dikarunia lima orang anak. Dua diantaranya meninggal. Si putri sulung, Sally, mengikuti jejak kedua orangtuanya dengan menjadi pemain sandiwara. Pada tahun 1948, Sally meninggalkan dunia seni peran dan menikah. Setelah menikah, Sally dan suaminya menetap di Solo, mereka dikaruniai empat orang anak laki-laki. Salah satunya Gunawan mantan pebulutangkis Indonesia.

Sang Legenda Bulutangkis Nasional, Indra Gunawan
merupakan cucu dari Njoo Cheong Seng dengan Fifi Young

Nonnie Tan Kiem Nio kemudian dikenal dengan nama Fifi Young, seorang artis yang muncul pertama kali pada 29 April 1933. Karena kecantikannya, Fifi sangat populer kala itu terutama di Malaysia.

Pasangan suami-istri itu kemudian saling mendukung karirnya satu sama lain. Sebagai sutradara, NCS menciptakan peran khusus untuk sang istri. Nama Fifi sebagai aktris pun semakin terkenal. Selain berakting, Fifi juga dikenal pandai menari. Beragam tarian baik Barat dan Timur dibawakannya dengan sempurna.

Tahun berikutnya, mereka meninggalkan Crystal Follied dan kembali ke Batavia. Oleh seorang tokoh politik bernama Nyonya Datuk Tumenggung, mereka diperkenalkan kepada kelompok Dardanella pimpinan seorang penari terkenal, Dewi Dja. Mereka kemudian berkeliling Asia. Karena ada urusan keluarga, NCS dan Fifi memutuskan untuk kembali ke Jawa. Di sana keduanya mendirikan Fifi Young's Pagoda bersama Henry L Duarte.

Pada tahun 1940, Fifi untuk pertama kalinya bermain dalam film Zoebaida kemudian Film Kris Mataram. Naskah film tersebut ditulis oleh NCS. Akting Fifi yang alami, membuat film ini sukses.

Film Zoebaida yang dibintangi oleh Fifi Young pada tahun 1940
Film Kris Mataram yang dibintangi oleh Fifi Young pada tahun 1940

Film Djantoeng Hati yang dibintangi oleh Fifi Young Tahun 1941

Selama pendudukan Jepang, pasangan suami istri itu tergabung dalam Sandiwara Bintang Soerabaja. Setelah Indonesia merdeka, NCS mendirikan kelompok baru bernama Sandiwara Pantjawarna. Dalam proses pencarian calon aktris untuk kelompok baru ini, ia kemudian mengenal Mipi Malenka yang kemudian menjadi istri ketiga NCS, setelah sebelumnya mendapat persetujuan dari istri keduanya, Fifi. Mipi dan NCS kemudian tinggal di Jakarta. Tidak berapa lama, Mipi kemudian berhenti berakting. Keduanya memutuskan untuk membuka restoran. Dari pernikahan mereka lahir seorang anak laki-laki yang diberi nama Johnny. Kehidupan perkawinan mereka berjalan harmonis sampai akhirnya Fifi Young, istri kedua NCS ikut tinggal bersama mereka. Sejak itu, perselisihan mulai mewarnai rumah tangga itu.

Karena sudah tidak kuat menanggung derita, Mipi pergi meninggalkan rumah dengan membawa anak semata wayangnya. NCS sangat menyesali kejadian itu. Dalam novelnya yang berjudul Sjorga bukan Sjorga tidak dengan Melinda ia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bertanggung jawab atas kegagalan pernikahannya. Dalam kesedihannya, ia kemudian menjual kelompok sandiwaranya kepada Djamaluddin Malik dan pergi ke Makassar untuk mencari istri dan anaknya. Sesampainya di sana, ia tak berhasil menemukan Mipi dan Johnny. Tapi ia bertemu dengan banyak teman baru, salah satunya Hoo Eng Djie.

Selajutnya, NCS akhirnya menetap di Malang, dimana ia menemukan suasana intelektual yang paling cocok. Ia kemudian bergabung dalam sebuah komunitas peranakan Tionghoa benama Tsing Fung Hsieh.

Beberapa lama kemudian, ia pun bertemu dengan Huang Lin, seorang janda muda yang bekerja sebagai guru dan aktris amatir. Huang Lin berperan sebagai ibu dalam sandiwara berjudul Malang Mignon. Tak lama setelah pertemuan itu, mereka pun menikah. Keduanya hidup bahagia, Huang Lin memberi NCS suatu kehidupan yang tenang, yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya.

NCS dan Huang Lin kemudian membuka usaha toko bunga yang diberi nama Malang Mignon. Untuk setiap pemesanan bunga, NCS memberikan sepotong syair yang pantas. Para pelanggan sangat senang dengan syair yang dibuatnya.

NCS berkali-kali meminta istrinya itu untuk berhenti mengajar, tapi Huang Lin tak mengindahkannya. Tapi pada tahun 1960, Huang Lin akhirnya berhenti bekerja. Sementara itu, kesehatan NCS mulai menurun karena sakit lever. Pada 2 November 1962, NCS merayakan ulang tahunnya yang ke 60. Hari pertambahan usianya itu dirayakannya dengan makan ala vegetarian. Rupanya, itu adalah ulang tahunnya yang terakhir. Dua minggu setelah perayaan hari lahirnya, ia jatuh sakit dan akhirnya menghadap sang Ilahi pada 30 November 1962.

Setelah NCS meninggal, Huang Lin selalu mengenang mendiang suaminya itu sebagai pribadi yang baik. Di matanya, NCS adalah pria pekerja keras. Ia sering melihat suaminya terjaga hingga larut malam bila ada ilham untuk menulis. Waktu itu, ia kebanyakan menulis cerpen untuk harian Star Weekly dan Liberty serta adaptasi cerita-ceritanya untuk film.

Kepada Huang Lin, sebelumnya NCS pernah mengutarakan keinginanya untuk membuat otobiografinya tetapi setelah dicari di barang-barang peninggalannya, ternyata tidak ada.

Bicara tentang NCS, yang sangat menarik perhatian dari seluruh karyanya adalah, ia menulis begitu banyak tempat di luar maupun di Indonesia. Bahasa Melayunya sangat baik. Dan sesudah 1945, ia menulis dengan bahasa Indonesia yang baik pada masa itu. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh pergaulannya yang luas.

Karyanya yang paling fenomenal adalah serial cerita berjudul Gagaklodra. Keistimewaan Gagaklodra adalah cara NCS mengadaptasi setiap cerita menurut daerah di mana si tokoh berada. NCS memberi informasi kepada para pembacanya mengenai kebiasaan di suatu daerah. Pada tahun 1953 Gagaklodra diterbitkan sebagai buku, kumpulan cerita selama 22 tahun eksistensinya.

Sekitar tahun 1948, novel karya NCS dimuat secara berseri pada majalah Tjilik Roman's. Pada majalah itu, ia juga menuangkan pengalaman pribadinya, salah satunya dengan istri ketiganya Mipi Malenka.

Selain membuat novelnya sendiri, ia juga menerjemahkan karya penyair lain seperti penyair Makassar peranakan Tionghoa, Hoo Eng Djie, hingga pujangga ternama dunia seperti Shakespare, Goethe, Li Tai Bo, dan Omar Khayyam. Di samping itu, NCS juga membuat pantun untuk keperluan pementasan teater.

Seperti kebanyakan penyair pada masa itu, NCS juga prihatin pada kebiasaan kaum hawa kala itu yang mulai meninggalkan adat-adat Timur, terlebih cara berpakaian. Pandangan ini memang merupakan pandangan mayoritas penulis peranakan yang merasa bertanggung jawab untuk menyampaikan prinsip-prinsip Konfusius pada pembacanya. Mereka mengingatkan kaum perempuan agar tidak menjadi terlalu modern dan meninggalkan tradisi leluhur, serta senantiasa berhati-hati pada bujukan laki-laki tak bermoral. Karena menurut NCS, hanya wanita yang dibesarkan dengan cara tradisional yang mempunyai pertahanan cukup kuat untuk menangkal bahaya modernisasi.

NCS juga menunjukkan keprihatinannya pada kaumnya, terutama kegemaran berjudi sebagian laki-laki. Uang hasil judi kemudian digunakan untuk berfoya-foya. Ia berpendapat bahwa kaum lelaki harus mengembangkan intelektualitas mereka untuk mencapai kehidupan spiritual.

Njoo Cheong Seng telah menyutradarai tidak kurang dari 8 (delapan) judul film antara lain :


1.  Tahun 1940; Film Zoebaida; (Sutradara, Penulis Cerita); Pemain (I.Martak & Fifi Young)
2.  Tahun 1940; Film Keris Mataram; (Sutradara, Penulis Cerita); Pemain (Sorip & Fifi Young) 
3.  Tahun 1941; Film Air Mata Iboe; (Sutradara, Skenario, Penulis Cerita); Pemain (Raden Ismail & Ali Yugo)
4.  Tahun 1941; Film Djantoeng Hati; (Sutradara); Pemain (Arianti & RR Anggraini)
5.  Tahun 1941; Film Pantjawarna; (Sutradara); Pemain (Mochtar Widjaya & Dhalia)
6.  Tahun 1950; Film Djembatan Merah; (Penulis Cerita); Pemain (Rendra Karno & Netty Herawati)
7.  Tahun 1951; Film Mirah Delima; (Skenario, Penulis Cerita)
8.  Tahun 1955; Film Habis Hudjan; (Sutradara, Penulis Cerita); Pemain (Chatir Haro & Peggy Oetami)
9.  Tahun 1955; Film Kebon Binatang; (Skenario , Penulis Cerita); Pemain (Chatir Haro & Nurmaningsih)
10. Tahun 1955; Film Masuk Kampung Keluar Kampung; (Skenario , Sutradara); Pemain (Iwan & S. Poniman)


Novel karya Njoo Cheong Seng antara lain :

1.  Cerita Penghidupan Manusia (1919)
2.  Penghidupan - (1925).
3.  Swami Yang Buta - (1923).
4.  Wali YangCurang - (1923).
5.  Penggoda - (1925).
6.  Buat Apa Ada Dunia - (1929).
7.  Bantimurung - (1932).
8.  Marisang Manukwari - (1935).
9.  Gagak Lodra series - (1938).


Naskah Sandiwara karya Njoo Cheong Seng anrata lain :


1.  Opera Miss Riboet.
2.  Opera Dardanella.
3.  Opera Bintang Surabaya.
4.  Opera Pancawarna.




Sumber : 
http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/2600-penulis-berdarah-seni

Copyright © tokohindonesia.com
Share:

Minggu, 28 September 2014

Pangeran Adipati Pakuningrat (Tahun 1862-1879)

Putra ke dua dari Panembahan Cakraadiningrat VII ini adalah Calon Pangeran Kerajaan Madura Barat Bangkalan yang dipersiapkan untuk menggantikan kakaknya Raden Ismail(Panembahan Cakra Adiningrat VIII), namun 3 tahun sebelum Panembahan Ismail wafat, ternyata Raden Abdul Djumali atau Pangeran Pakuningrat sudah wafat terlebih dahulu. Makamnya berada di Pasarean Raja-raja Madura Barat (belakang Masjid Agung Bangkalan) pada Congkop yang ke 3... 

Share:

Rabu, 06 Agustus 2014

Makam Sunan Bangkalan atau Raden Jakandar

Raden Jakandar atau lebih dikenal Sunan Bangkalan (Sayyid Al Maghribi) adalah ulama keturunan Keluarga Kerajaan Pajajaran. Dari pernikahannya dengan Dewi Nawangsasi, putri Ki Ageng Tarub, dikaruniai dua orang Putri yaitu Dewi Hisah (Istri Sunan Gunung Jati) dan Dewi Hirah (Istri Sunan Bonang). Makam beliau berada di pinggiran Bangkalan, tepian pantai Ujung Piring.



Dari sumber kitab kecil yang berjudul Tarich al-Auliya susunannya K.H. Bisyri Musthofa Rembang menjelaskan bahwa silsilah para wali di nusantara tidak lepas dari 4 (empat) tokoh besar, antara lain :

1). Sayyid Jamaluddin Husain as-Samarqandiy
2). Raden Arya Galuh Pajajaran
3). Raja Kuntara Cempa Kamboja
4). Prabu Brawijaya V Raja Majapahit

A. Silsilah dari Asmaraqondiy

Sayyid Jamaluddin Husain atau Maulana Muhammad Jumadil Kubro atau Ahmad Syah as-Samarqandiy adalah putra Abdulloh Khon, putra Amir Abdul Malik, putra Sayyid Alwi,, putra Sayyid Ali, putra Sayyid Muhammad, putra Sayyid Alwi, putra Sayyid Muhammad, putra Sayyid Alwi, putra Sayyid Abdulloh, putra Sayyid Ahmad al-Muhajir al-Faqih al-Muqoddam, putra Sayyid Isa al-Bashriy, putra Sayyid Muhammad ar-Rumiy, putra Sayyid Ali al-’Aridhiy, putra Sayyid Ja’far as-Shodiq, putra Sayyid Muhammad al-Baqir, putra Sayyid Ali Zainul Abidin, putra Sayyid Husain, Putra Kholifah Ali bin Abu Tahlib dengan Sayyidah Fathimah binti Nabi Muhammad SAW.

Dua orang putra dari Sayyid Jamaluddin Husain yang berdakwah di nusantara adalah Maulana Ishaq dan Maulana Malik Ibrohim Asmaraqandiy.

B. Silsilah dari Jawa

Arya Penanggungan memiliki tiga orang anak, yaitu : 1). Arya Baribin, 2). Arya Teja (Adipati Tuban, dan 3). Ki Ageng Tarub.

Arya Baribin memiliki dua orang anak, yaitu : Raden Ayu Maduretno, dan Raden Jakandar (Sunan Bangkalan Madura).

Arya Teja (Adipati Tuban) memiliki dua orang anak, yaitu : Dewi Candrawati (Diperistri oleh Sunan Ampel), dan Raden Sahur Tumenggung Wilatikta Tuban (Ayahanda Raden Syahid Sunan Kalijaga).

Ki Ageng Tarub memiliki tiga orang anak, yaitu : 1). Dewi Nawang Sih, 2). Dewi Nawang Sasi, dan 3). Dewi Nawang Arum.

Dewi Nawang Sasi menikah dengan Raden Jakandar (Sunan Bangkalan) putra Arya Baribin yang memiliki dua orang anak, yaitu : 1). Dewi Hisah (Istrinya Sayyid Abdul Qodir Sunan Gunung Jati), dan 2). Dewi Hirah (Istrinya Raden Mahdum Ibrohim Sunan Bonang).

Dewi Nawang Arum menikah dengan Raden Sahur Tumenggung Wilatikta putra Arya Teja memiliki dua orang anak, yaitu : Raden Syahid (Sunan Kalijaga), dan Dewi Sari (Istrinya Sunan Ngudung)

C. Silsilah dari Cempa

Raja Kuntara Cempa Kamboja memilki tiga orang anak, yaitu : 1). Dwarawati Murdaningrum (diperistri oleh Prabu Kartawijaya atau Prabu Brawijaya Majapahit), 2). Dewi Candra Wulan (diperistri oleh Maulana Malik Ibrohim Asmaraqandiy), dan 3). Raden Cingkara.

D. Keturunan Maulana Malik Ibrohim Asmaraqandiy

Maulana Malik Ibrohim dengan Dewi Candra Wulan putrinya Raja Cingkara memiliki tiga orang anak, yaitu : 1). Raja Pendita, 2). Raden Rahmat (Sunan Ampel), dan 3). Siti Zainab.

Raja Pendita Menikah dengan Raden Ayu Madu Retno putrinya Arya Baribin memiliki tiga orang anak, yaitu : 1). Haji Utsman (Sunan Manyuran Mandalika), 2). Utsman Haji (Sunan Ngudung), dan 3). Nyai Gede Tanda.

Raden Rahmat (Sunan Ampel) memiliki dua orng istri, yaitu : Dewi Candrawti putrinya Arya Teja Adipati Tuban, dan Dewi Karimah putrinya Ki Bang Kuning.

Dengan Dewi Candrawati beliau memiliki lima orang anak, yaitu : 
1). Siti Syari’ah (Menikah dengan Haji Utsman Sunan Manyuran), 
2). Siti Muthmainnah (Menikah dengan Sayyid Muhsin Sunan Wilis), 
3). Siti Hafshah (Manikah dengan Sayyid Ahmad al-Yamaniy),
4). Raden Mahdum Ibrohim (Sunan Bonang), dan
5). Raden Qosim (Sunan Derajat Sidayu).

Dan dengan Dewi Karimah beliau memiliki dua putri, yaitu :
1). Dewi Murtasiyah (Menikah dengan Sunan Giri), dan
2). Dewi Murtasimah (Menikah dengan Raden Fatah Sultan Demak).

E. Keturunan Maulana Ishaq bin Sayyid Jamaluddin Husain

Maulana Ishaq berdakwah di daerah Pasai memiliki dua orang anak, yaitu : Sayyid Abdul Qodir (Sunan Gunung Jati Cirebon) dan Dewi Saroh (diperistri oleh Sunan Kalijaga). Kemudian Maulana Ishaq berdakwah ke Blambangan Banyuwangi menikah dengan Dewi Sekar Dadu putrinya Minak Sembuyu Adipati Blambangan memiliki seorang putra yang bernama Raden Paku atau Raden Ainul Yaqin (Sunan Giri).

F. Silsilah Perpaduan Antara Asmaraqandiy dengan Jawa dan Cempa

1). Sunan Ngudung (Utsman Haji putra Raja Pendita putra Maulana Malik Ibrohim Asmaraqandiy) menikah dengan Dewi Sari putrinya Raden Sahur Tumenggung Wilatikta) memiliki dua orang anak, yaitu : 1). Dewi Sujinah (Istrinya Sunan Muria), dan 2). Raden Amir Haji (Sunan Kudus).

2). Sunan Bonang (Raden Mahdum Ibrohim) putra Sunan Ampel menikah dengan Dewi Hirah putrinya Raden Jakandar memiliki satu orang putri bernama Dewi Ruhil yang menikah dengan Amir Haji Sunan Kudus.

3). Sunan Gunung Jati (Sayyid Abdul Qodir putra Maulana Ishaq) menikah dengan Dewi Hisah putrinya Raden Jakandar memiliki dua orang anak, yaitu : Sayyid Abdul Jalil (Syekh Siti Jenar Jepara), dan Dewi Shufiyah (Istrinya Raden Qosim Sunan Derajat)

4). Sunan Kalijaga (Raden Syahid) putra Raden Sahur (Tumenggung Wilatikta Tuban dengan Dewi Nawang Arum putrinya Ki Ageng Tarub), Raden Sahur putra Arya Teja (Adipati Tuban), putra Arya Penanggungan, putra Arya Galuh, putra Arya Randu Kuning, putra Arya Metahun, putra Arya Banjaran (Sudara Prabu Mundi Wangi Pajajaran dan sekaligus menjadi patih di kerajaannya), putra Mundi Sari (Pajajaran). Sunan Kalijaga menikah dengan Dewi Saroh putrinya Maulana Ishaq memiliki tiga orang anak, yaitu : 1). Raden Sa’id (Sunan Muria), 2). Dewi Ruqoiyah, dan 3). Dewi Shofiyah

G. Silsilah Keturunan Prabu Brawijaya V Raja Majapahit Terakhir

Prabu Brawijaya atau Kartawijaya atau Kertabhumi adalah putra dari Raden Suruh (Adipati Majalengka), putra Prabu Mundi Wangi (Raja Pajajaran), putra Mundi Sari, putra Raden Laliyan (Pajajaran), putra Rawis Renggo (Jenggala), dan untuk seterusnya lihat silsilah Raden Arya Galuh.
Prabu Brawijaya memiliki anak banyak sekali, karena di dalam satu riwayat diceritakan bahwa istrinya berjumlah lebih dari 25 orang. Dan adapun anaknya yang dapat disebutkan, maka beberapa diantaranya adalah :

Dari Istri Permaisuri adalah Raden Arya Damar (Adipati Palembang). Dari Istri Dwarawati Murdaningrum putrinya Raja Kuntara Cempa adalah : 
1). Putri Hadiy (Istrinya Adipati Dayaningrat Pengging), 
2). Raden Lembu Peteng (Madura), dan 
3). Raden Gugur.

Dan dari Istri Putri Cempa yang lain keturunan China putrinya Ma Hong Fu (Kyai Batong) adalah Raden Jin Bun atau Raden Hasan atau Raden Fatah (Sultan Demak Bintara)

Dari Istri Ponorogo adalah : Betara Katung dan Adipati Luwanu. Dari Istri Bagelain adalah : Raden Jaran Penoleh (Sampang Madura).

Raden Fatah (Sultan Demak) menikah dengan Dewi Murtasimah putrinya Sunan Ampel memiliki lima orang anak, yaitu :
1). Pangeran Purba
2). Pangeran Trenggana
3). Raden Bagus Sida Kali
4). Raden Kanduruhan
5). Dewi Ratih

JADI KESIMPULANNYA ADALAH :

Raden Ayu Maduretna (istrinya Raja Penditho); Raja Penditho adalah bersaudara dengan Raden Rahmat (Sunan Ampel). Ratu Maduretno puteri dari Susuhunan Prabu Mangkurat di Solo dan merupakan permaisuri dari R. TUMENGGUNG SURODININGRAT dengan gelaran PANGERAN ADIPATI SETJOADININGRAT/PANEMBAHAN TJAKRAADININGRAT V (Panembahan Sidho Mukti) di Bangkalan...[DI]






Photo Koleksi : Bangkalan Memory


Share:
Copyright © BANGKALAN MEMORY | Powered by Bangkalan Memory Design by Bang Memo | Kilas Balik Bangkalan Tempo Dulu