Tampilkan postingan dengan label SENI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SENI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Maret 2019

Duk-Duk, Musik Ritual di Desa Patengteng, Modung Bangkalan

Bicara tentang musik tentunya bisa membuat perasaan hati kita menjadi sedikit adem ayem dan bisa membuat perasaan kita tenang dan terhibur, tidak terkecuali musik tradisional yang ada di Madura, khususnya di Bangkalan. Dan tentunya perkembangan musik tradisional yang ada di Patenteng Modung Bangkalan ini cukup memberikan warna tersendiri sehingga musik yang diberi nama "Musik Duk-Duk" ini menyajikan nuansa yang berbeda dengan musik yang lainnya.  

Musik Duk-Duk merupakan musik kombinasi beberapa jenis alat musik perkusif yang dimainkan oleh 7 orang pemusik sehingga dapat dipadukan secara harmonis. 

Instrumen musik dibentuk melalui 3 jenis instrumen pokok yang antara lain: 
  • Sepasang Ning-Nong (instrumen logam berpencu sejenis bonang dalam gamelan jawa) yang dibunyikan dengan alat pemukul dari kayu yang ujungnya dibalut karet ban bekas. Relevansi nada dari sepasang instrumen ini tergolong pentatonic dan sangat dekat dengan nada 3 dan 1 laras slendro dalam karawitan jawa;
  • lima buah Kentungan (jawa= kenthongan) dari bahan kayu jati, yang terdiri atas gudug (berukuran paling besar), tingkating, penerus, tung-tung dan tik-tuk (berukuran paling kecil, berfungsi sebagai penjaga beat);
  • Gung (Gong)  berdiameter sekitar 75 cm yang terbuat dari bahan perunggu.

Menurut penuturan narasumber dan beberapa warga setempat, musik Duk-Duk dapat disajikan dalam acara rokat (jawa= ruwatan) desa, waktu pengambilan air dari mata air di luar desa untuk dicampurkan atau dikawinkan dengan mata air asal desa sendiri, hal ini dilakukan dengan harapan agar seluruh desa bisa terhindar dari kekeringan. Acara semacam ini diadakan hanya pada saat menjelang bulan puasa.


Pertunjukan Duk-Duk juga dapat dikategorikan dalam bentuk teater total sebagaimana kecenderungan budaya musik komunal lainnya di Indonesia. Sebab musik ini juga disertai tarian dan juga didalamnya terdapat penceritaan di setiap episodenya. Dahulu, musik mulai dibunyikan untuk memberi semacam tanda atau undangan bagi penonton. Ketika penonton sudah berdatangan maka tarian topeng dan cerita pun mulai disajikan dengan iringan. Dalam konteks tersebut, musik tidak berdiri sebagai sajian yang otonom atau mandiri sebab merupakan kesatuan dengan tari dan sastra. Tarian, dilakukan oleh 2 hingga 5 orang penari yang masing-masing mengenakan topeng memerankan tokoh dan karakter yang berbeda


Terdapat 5 topeng yang meliputi sepasang topeng tokoh satria berwajah warna koneng atau kuning (lelaki dan perempuan), sepasang topeng tokoh pembantu warna putih (abdi atau punakawan), sebuah topeng tokoh raksasa berwarna hijau (butha).

Demikian halnya dengan gerakan pada tari-tari kerakyatan lainnya yang terdapat pada masyarakat di luar pengaruh keraton, gerakan dalam tarian topeng ini juga lebih cenderung sederhana dengan perulangan yang konsisten.

Pada suatu saat tertentu, kontinuitas musik dan gerakan tari dapat membawa penari masuk kedalam keadaan trans. Perbedaan dapat dilihat pada cepat atau lambatnya gerakan yang sesungguhnya reaksi mengikuti atau menyesuaikan tempo permainan musik. Busana yang dikenakan para penari pun bukan busana khusus, melainkan pakaian sehari-hari.Seluruh penari adalah pria, termasuk penari yang memerankan tokoh putri. Hal demikian ini dapat diasumsikan sebagai akibat dari pengaruh Islam, dimana masa dulu kaum hawa memang seringkali kurang mendapat tempat untuk menjadikan seni sebagai wadah aktualisasi diri.

Penceritaan yang dibawakan melalui tarian topeng tak lepas dari kisah-kisah yang populer pada masa Hindu-Budha dulu. Menurut beberapa sumber, keberadaan tari topeng dalam Duk-Duk memang telah lama ada di Madura sebelum kemudian dimanfaatkan oleh Pangeran Arya Kusuma yang berasal dari Sampang sebagai sarana syiar Islam. Sejak masa itulah, kisah-kisah yang dibawakan menjadi banyak berubah mengarah pada kepentingan syiar.

Keberadaan topeng sendiri, yang sesungguhnya merupakan bagian dari budaya totem diperkirakan telah ada pada beberapa abad yang lalu. Keberadaan topeng dalam seni pertunjukan terntu tak lepas dari pengaruh persebaran ajaran Hindu-Budha di nusantara.

Desa Patengteng yang merupakan tempat dimana kesenian Duk-Duk ini hidup, memang memiliki kaitan erat dengan sejarah terjadinya prahara antara kerajaan Daha dan Tumapel (Kediri dan Singasari).

Konon pasukan Tar-Tar yang dikalahkan oleh Majapahit, dipukul mundur dan tercerai-berai.Sebagian dari mereka terdampar sampai di Desa Patengteng yang dulunya bernama Mencai.  

Nama Patengteng, ditengarai sebagai nama yang berasal dari bahasa Cina, yaitu Paiting ting. Penuturan ini juga diperkuat dengan adanya beberapa daerah lain yang juga banyak mempunyai nama dari bahasa Cina seperti Sribun, Botai dan Pankenong. Pecahan kelompok etnis yang menghuni Mencai selanjutnya dikenal sebagai kaum yang bercocok tanam padi dengan menggunakan sumber air yang ada.

Melihat berbagai hal yang melatar-belakangi keberadaan Duk-Duk, pertunjukan tersebut dapat dikategorikan sebagai salah satu yang tertua yang pernah ada di Madura.Sebagai seni ritual, kesederhanaan dan monotonnya sajian Duk-Duk tidak lagi mampu ditangkap, dipahami dan disarikan nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya, malahan dianggap sebagai sesuatu yang samasekali tak menarik apalagi berharga dimata masyarakat pemiliknya sendiri. Pun semakin terpinggir dan tak mampu bersaing lagi melewati jaman. 

Narasumber: Hj. Ruslan Abdul Gani (pemuka agama), Pak Sahar (tokoh masyarakat dan pembina seni), Sugimin (guru kesenian dan staf Pemda. Kab. Bangkalan), Zoelkarnain Mistortoify (dosen Jurusan Etnomusikologi, Fak. Seni Pertunjukan ISI Surakarta), Hidrochin Sabarudin (Budayawan Bangkalan), serta  beberapa individu lain yang merupakan bagian dari masyarakat desa Patengteng.

Melalui postingan ini, marilah kita tingkatkan kepedulian kita terhadap peninggalan budaya yang ada di Kabupaten Bangkalan, agar jangan sampai musik tradisional "Duk-Duk" ini pudar dan akhirnya hilang dari buka bumi ini karena tidak ada lagi generasi muda yang meneruskannya (Doink)



Sumber : 
~ corpsethnic.wordpress.com
~ liputan6.com
~ patengteng.blogdesa.net
Share:

Jumat, 01 Maret 2019

Sepenggal Cerita Tentang Batik Patengteng Modung Bangkalan

Sebenarnya tidak ada sejarah yang pasti mengenai batik. Namun keindahan batik ini kabarnya sudah ditorehkan sejak 2000 tahun silam di Timur Tengah, Asia Tengah, dan India. 
Di peradaban mesir kuno, teknik membatik digunakan untuk membungkus mumi dengan kain linen. Kain linen ini dilapisi cairan lilin, kemudian digores dengan benda tajam semacam jarum atau pisau untuk menorehkan motifnya. 

Pada Jaman Dinasti Tang (tahun 618-690) di Cina, teknik seperti ini juga sudah dijumpai. Bahkan pada jaman Dinasti Sui (tahun 581-618) teknik ini sudah dipraktekan lho. Karena Cina adalah bangsa pedagang yang berkeliling dunia, teknik ini kemudian menyebar ke banyak benua seperti Asia, Amerika, Afrika, bahkan sampai ke Eropa.

Kemudian para pedagang yang berasal dari India-lah yang membawa teknik ini ke Indonesia. Pada abad ke-6, teknik ini dibawa ke pulau Jawa. Teknik ini kemudian mulai tersebar luas dan dikembangkan oleh masyarakat Jawa.

Berdasarkan Rens Heringa, pada bukunya Fabric of Enchantment: Batik from the North Coast of Java (1996), batik pertama kali ada di Indonesia sekitar tahun 700an. Diperkenalkan oleh orang India, pada saat Raja Lembu Amiluhur (Jayanegara), yang merupakan raja kerajaan Janggala menikahkan putranya dengan seorang putri India.

Menurut catatan perkembangan batik di Madura, Batik Patèngtèng sudah dikenal sejak beberapa abad yang lalu tepatnya ketika kerajaan Daha dan Tumapel (Kediri dan Singasari) mulai bergolak. Sebagian orang-orang Tumapel maupun Daha yang terpinggirkan mereka mengungsi dengan menyusuri sungai-sungai yang ada diantaranya Sungai Brantas hingga berakhir diujung laut Selat Madura.

Sampai akhirnya menemukan Pulau Madu Oro yang sampai sekarang dikenal dengan sebutan Madura. Pertama kali yang dilihat adalah daerah Patèngtèng dengan kampung Mencay yang juga sebagai tempat pelarian tentara China ketika mereka dikalahkan oleh tentara dari Tumapel maupun Daha. 

Ditempat tersebut mereka beranak Pinak dan membaur dengan masyarakat sekitarnya dengan mengenalkan istilah ambatik. Kata batik berasal dari bahasa Jawa, "ambhatik" dari kata "amba" berarti lebar, luas, kain; dan "titik" berarti titik atau "matik" (kata kerja dalam bahasa Jawa berarti membuat titik) dan kemudian berkembang menjadi istilah batik, yang berarti menghubungkan titik-titik menjadi gambar tertentu pada kain yang luas atau lebar. Batik juga mempunyai pengertian segala sesuatu yang berhubungan dengan membuat titik-titik tertentu pada kain mori.




Batik Patengteng mempunyai peranan penting dalam karya seni batik yang ada di Madura. Menurut penuturan warga setempat, batik Patengteng menjadi contoh bagi para pengrajin batik Madura sehingga  dijadikan acuan dalam pembuatan batik. Warga juga mengungkapkan bahwa dahulu para pengrajin batik terutama di Tangjung Bumi yang sekarang terkenal batiknya, konon mereka belajar batik ke Desa Patengteng sehingga dapat mendapatkan menghasil karya seni yang bagus, bahkan motif yang sangat khas. Akan tetapi, seiring waktu berjalan, batik Patengteng hanya terdengar ceritanya, karena generasi penerus terutama pengrajin batik patengteng sudah tidak ada lagi yang dapat meneruskannya (memang cukup disayangkan).

Padahal batik Patengteng dulunya terkenal dimana-mana karena menjadikan batik Patengteng sebagai sumber ekonomi bagi warga setempat dalam meningkatkan kesejahteraannya, hal lain disebabkan juga di daerah tersebut dilalui jalur kereta api bahkan menjadi stasiun pemberhentian kereta api waktu itu sehingga batik Patenteng laris manis di pasaran dan bisa meningkatkan perekonomian di Desa tersebut... (IDR)

Share:

Senin, 22 Desember 2014

Tari Reng Majang

Tari Reng Majang artinya tari nelayan, banyak jenis tari yang berasal dari Madura. Tari Reng Majang merupakan salah satu tarian daerah yang sudah tersohor dan banyak disukai. 


Share:

Kamis, 18 Desember 2014

Minggu, 07 Desember 2014

Tari Gambuh, Seni Perang Kuno Madura

Dalam babad kitab pararaton, dikisahkan setelah kerajaan singhasari runtuh, Menantu Kertanagara yang bernama Raden Wijaya mengungsi ke Sumenep meminta perlindungan Aria Wiraraja. Semasa muda, Wiraraja pernah mengabdi pada Narasingamurti kakek Raden Wijaya. Maka, ia pun bersedia membantu sang pangeran untuk menggulingkan Jayakatwang. Raden Wijaya bersumpah jika ia berhasil merebut kembali takhta mertuanya, maka kekuasaannya akan dibagi dua, yaitu untuk dirinya dan untuk Wiraraja. Mula-mula Wiraraja menyarankan agar Raden Wijaya pura-pura menyerah ke Kadiri. Atas jaminan darinya, Raden Wijaya dapat diterima dengan baik oleh Jayakatwang (Pararaton).


Share:

Rabu, 26 November 2014

Tari Bahhong

Seni Tari tradisi Bahhong ini berasal dari sebuah Desa Katol Barat yang terbilang gersang dan tandus di daerah Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan. Walaupun desa ini gersang dan tandus tetapi di desa ini kaya akan budaya yang perlu dikembangkan, salah satunya adalah kesenian Bahhong.


Bahhong bersal dari kata “Bah” yang berarti manembah, berdoa, memuji dan kata “Hong” yang berarti Tuhan dalam istilah Hindu kuno. Jadi Bahhong bermakna memuji kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.

Kesenian ini merupakan kesenian yang lahir di jaman peralihan Hindu ke Islam. Hal ini dapat diketahui dari syair dan bentuk sesajen yang harus disajikan sebelum Bahhong digelar. Kalau kita cermati dari syair lagu yang sangat sulit dimengerti, syair itu berisi pujian atau pemujaan orang-orang Hindu kuno.

Tari Bahhong dari Kecamatan Geger Kabupaten Bangkalan

Salah satu yang unik dari kesenian ini adalah bahwa penyaji pujian Bahhong ini tidak boleh dilakukan oleh orang yang bukan keturunan langsung dari Buju' yang menciptakannya. Karena menurut mereka kalau hal tersebut dilakukan maka akan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kesurupan yang berkepanjangan bahkan bisa sampai gila, sejak awal kesenian ini sampai sekarang para pelaku merupakan keturunan langsung dari buju'. Disaat acara Bahhong ini dilaksanakan, penonton dilarang tertawa atau menertawai perilaku atau syair-syair yang sulit dimengerti. Bahkan pemotretanpun dilarang karena akan berakibat hal-hal yang tidak dinginkan. Untuk memotret Bahhong ini perlu ada ijin dari pimpinan kelompok tetapi resiko ditanggung oleh pemotret.

Pagelaran Bahhong ini terdiri dari 7 (tujuh) babak atau dalam istilah mereka disebut "Petto' Grabhagan". Ada salah satu babak yang menarik yaitu Grabhagan Pajuan (menari) dimana pada babak ini penonton yang berminat diperkenankan berdiri seraya memberi tanda selamat berupa uang yang diselipkan ditutup kepala atau saku pimpinan kelompok ini. Hal ini biasanya dilakukan oleh penonton yang mempunyai hajat atau keperluan. Uang yang diberikan pun bervariasi karena kelompok pujian ini sejak awal sangat dilarang untuk menentukan nilai atau harga dari pagelarannya. Hingga saat ini kesenian ini tetap eksis di jaman yang semakin modern dan berteknologi ini... [DI]



Photo Koleksi : Bangkalan Memory


Share:

Sronenan Khas Madura

Sronenan merupakan orkes musik karapan sapi yang mulai popular sejak tahun 1970-an itu. Apabila dilihat dari instrumennya yang terdiri dari alat berpencon keluarga gong, sesungguhnya alat musik tersebut terdapat pula tempat lain, bahkan lebih populer dan lebih tua.

Kita dapat mencermati sejenis sronenan seperti di Jawa Barat (pada musik sisingaan), di Jawa Tengah (pada musik jaran kepang), di Jawa Timur (pada musik Reog), di Bali (pada musik Balaganjur). Pigeaud mengingatkan  bahwa musik slompret (sejenis  korp musik dalam bentuk rombongan kecil, seperti : gamelan  saronèn atau kenong telo’) yang sering dilibatkan dalam pawai-pawai sebagai  musik “pengawal” pasukan, sudah cukup dikenal dan bukan khas Madura.

Pola musikal yang paling penting dari sronenan ini adalah struktur beat kolotomik yang saling berkelipatan diantara instrument yang dimainkan oleh masing-masing pemain. Istilah sronenan, sesungguhnya dicomot dari nama sebuah instrument yang diasosiasikan paling kuat atmosfir musikalnya, yaitu sejenis sarunai/surnei (Timur Tengah) atau selompret (Jawa) atau kategori jenis hobo (Eropa). Karakter suaranya sangat khas, yaitu nyaring, melengking, dan parau seperti suara burung merak.




Sronenan di Madura selalu dikaitkan dengan musiknya sapi-karapan (sapi jantan) ataupun sape sono’ (sapi betina dalam kontes kecantikan sapi). Di luar contoh yang fenomenal ini, sesungguhnya “gamelan” sronenan ini memiliki substansi sebagai musik arak-arakan. Dalam arti, mengarak subjek apapun yang diseremonialkan, seperti: mengarak jharan kenca’ (kuda menari) yang biasanya ditunggangi pengantin perkawinan maupun pengantin sunatan; mengarak sesajian/orang menunaikan hajad ke kuburan keramat, mengarak tamu kehormatan dan sebagainya. Di sisi yang lain, suatu kelompok sronenan yang disewa juga selalu dituntut untuk memberi hiburan musik kepada tamu.


Sebagai gamelan arak-arakan, maka sronenan dirancang sedemikian sehingga  mudah dibawa, praktis dijinjing-dipikul dan bebannya ringan karena terbuat dari bahan dasar besi plat. Kemeriahan musiknya juga diperkuat dengan atraksi  tubuh yang diperlihatkan oleh pemain sronenan saat memainkan musik. Bahkan kostumnya pun semakin memberi karakter kuat bahwa sronenan adalah musik yang gemebyar/meriah dan mengekspresikan kegemerlapan ala kerakyatan dan terinspirasi oleh kostum sapi.


Sronenan mempunyai gending-gending khusus untuk arak-arakan, seperti: giroan sarka’, lorongan sarka’ dan lorongan lanjhang. Sementara gending-gending yang bersifat umum kebanyakan diambil dari gending-gending tradisi gamelan sumenepan yang popular.

Menurut Munardi, kenong telo’ (baca: konsep kolotomik kenong-ketuk) yang berkembang di Jawa Timur mempengaruhi perkembangan musik kerakyatan Madura, seperti: musik tongtong dan gamelan saronèn... [DI]



Photo Koleksi : Hidrochin Sabarudin


Share:

Kamis, 20 November 2014

Alat-Alat Perlengkapan Membatik

Alat-alat perlengkapan yang diperlukan untuk membatik dari dulu hingga kini tidak banyak perubahan. Hanya sedikit yang mengalami modifikasi sesuai dengan perkembangan teknologi. Alat untuk membuat batik yang berupa canting, misalnya, kini telah ada canting elektronik yang menggunakan tenaga listrik.

Sebagai kerja seni tradisional, membatik lebih banyak menggunakan alat-alat tradisional yang diwariskan oleh para leluhur. Itulah sebabnya, batik tulis termasuk hasil karya tradisional yang dapat ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia dari sabang sampai merauke. Tidak salah bila UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya asli Indonesia.

Adapun macam-macam perlengkapan untuk membatik antara lain :

GAWANGAN

Gawangan adalah perkakas menyangkutkan dan membentangkan mori sewaktu dibatik. Gawangan terbuat dari kayu atau bambu. Gawangan harus dibuat sedemikian rupa hingga kuat, ringan, dan mudah dipindah-pindah.

Tinggi gawangan sekitar 50 cm dan panjang bilah sekitar 1 meter. Alat membatik ini biasanya terbuat dari bahan besi, kayu, atau bambu. Ketiga bahan tersebut sering dijumpai di sentra-sentra batik maupun di museum-museum yang mempunyai koleksi tentang perbatikan.

Gawangan

Fungsi utama gawangan tentu saja sebagai tempat untuk menaruh kain yang akan diberi pola batik dan proses pembatikan awal, yakni menorehkan lilin atau malam ke kain dengan alat bantuan canthing. Kain yang akan diberi pola atau proses pembatikan pada umumnya disampirkan ke gawangan. Setelah itu pembatik bisa memulai dari ujung kain untuk kemudian memberi pola dan melakukan proses pembatikan awal. Demikian seterusnya hingga proses pembuatan pola dan pembatikan awal selesai dilakukan.

BANDUL

Bandul dibuat dari timah, kayu, atau batu yang dimasukkan ke dalam kantong. Fungsi pokok bandul adalah untuk menahan agar mori yang yang sedang dalam proses pembuatan batik tulis tidak mudah tergeser saat tertiup angin atau tertarik oleh si pembatik secara tidak sengaja.

Bandul

WAJAN

Wajan adalah perkakas untuk mencairkan malam/lilin. Wajan dibuat dari logam baja atau tanah liat. Wajan sebaiknya bertangkai supaya mudah diangkat dan diturunkan dari perapian tanpa menggunakan alat lain.

Wajan untuk membatik

KOMPOR

Kompor adalah alat untuk membuat api. Kompor yang biasa digunakan adalah kompor berbahan bakar minyak. Namun terkadang kompor ini bisa diganti dengan kompor gas kecil, anglo yang menggunakan arang, dan lain-lain. Kompor ini berfungsi sebagai perapian dan pemanas bahan-bahan yang digunakan membatik.

Kompor untuk membatik

TAPLAK

Taplak adalah kain yang menutup paha si pembatik agar tidak terkena tetesan malam panas sewaktu canting ditiup atau waktu membatik.




SARINGAN MALAM

Saringan adalah alat untuk menyaring malam panas yang memiliki banyak kotoran. Jika malam tidak di saring, kotoran dapat mengganggu aliran malam pada ujung canting. Sedangkan bila malam disaring, kotoran dapat dibuang sehingga tidak mengganggu jalannya malam pada ujung canting sewaktu digunakan untuk membatik.

Ada bermacam-macam bentuk saringan, semakin halus semakin baik karena kotoran akan semakin banyak tertinggal. Dengan demikian, malam panas akan semakin bersih dari kotoran saat digunakan untuk membatik.

Saringan Malam/Lilin

CANTING

Canting adalah alat yang dipakai untuk memindahkan atau mengambil cairan, terbuat dari tembaga bambu sebagai pegangannya. Canting ini dipakai untuk menuliskan pola batik dengan cairan malam. Saat ini, canting perlahan menggunakan bahan teflon.


Terdapat tiga macam bagian pada canting :
  1. Gagang yang terbuat dari bambu agar ringan dan mudah digunakan untuk melukis motif batik;
  2. Cucuk atau yang disebut juga carat yaitu tempat keluarnya cairan lilin ketika canting digoreskan ke kain.;
  3. Nyamplungan yaitu lubang cekung untuk menyimpan lilin cair.



Cucuk dibedakan beberapa jenis tergantung banyaknya cucuk, diantaranya adalah :

~  Cucuk satu atau canting cecekan
~  Cucuk dua atau canting lorom
~  Cucuk tiga atau canting telon
~  Cucuk empat atau canting prapatan
~  Cucuk lima atau canting liman
~  Cucuk tujuh atau lebih yang disebut juga canting byok
~  Canting galaran atau renteng yang bercucuk genap dan berbentuk susun

Cucuk dapat juga dibedakan berdasarkan ukurannya, sehingga ada cucuk kecil, sedang dan besar. Jika berdasarkan fungsinya,cucuk dibedakan dua jenis, yaitu canting isen,yang mempunyai cucuk untuk mengisi bagian motif batik yang harus diisi dengan warna di semua bagian.Ada juga canting reng-rengan yaitu canting untuk membentuk garis-garis pada kain.

Dengan ditemukannya berbagai alat dan cara yang lebih modern untuk membatik, saat ini terdapat juga canting elektronik.Seperti juga canting tradisional, canting ini memiliki gagang dan lubang tempat menampung cairan lilin, serta memiliki kelebihan lain,yaitu alat untuk mengkontrol suhu canting

Canting Elektrik

Jika pada  canting tradisional,seluruh paruh canting yaitu dobel ceceg, tembogan, ceceg, dobel klowong dan klowong merupakan satu bagian yang melekat, maka merupakan kelebihan canting modern adalah seluruh bagian ini dapat dilepas dan diganti sesuai dengan ukuran yang diinginkan  oleh pembatik.

Waktu yang dibutuhkan untuk menciptakan satu kain batik tulis sekitar 2-3 bulan, jelas lebih lama daripada batik print yang hanya membutuhkan waktu dua minggu saja. Namun batik tulis memiliki mutu yang lebih baik dan keunikan yang tetap tak lekang oleh zaman. Banyak orang yang dengan sukarela membeli batik tulis walau harganya lebih mahal.

KAIN MORI

Mori adalah bahan baku batik yang terbuat dari katun. Kualitas mori bermacam-macam dan jenisnya sangat menentukan baik buruknya kain batik yang dihasilkan. Mori yang dibutuhkan disesuaikan dengan panjang pendeknya kain yang diinginkan. Tidak ada ukuran pasti dari panjang kain mori karena biasanya kain tersebut diukur secara tradisional. Ukuran tradisional tersebut dinamakan kacu. Kacu adalah sapu tangan, biasanya berbentuk bujur sangkar.


Jadi, yang disebut sekacu adalah ukuran persegi mori, diambil dari ukuran lebar mori tersebut. Oleh karena itu, panjang sekacu dari suatu jenis mori akan berbeda dengan panjang sekacu dari mori jenis lain.

Namun dimasa kini, ukuran tersebut jarang digunakan,. Orang lebih mudah menggunakan ukuran meter persegi untuk menentukan panjang dan lebar kain mori. Ukuran ini sudah berlaku secara nasional dan akhirnya memudahkan konsumen saat membeli kain batik. Cara ini dapat mengurangi kesalahpahaman dan digunakan untuk menyamakan persepsi di dalam sistem perdagangan.

MALAM / LILIN

Malam / lilin adalah bahan yang dipergunakan untuk membatik. Sebenarnya malam tidak habis (hilang) karena pada akhirnya malam akan diambil kembalipada proses mbabar, proses mengerjakan dari membatik sampai batikan menjadi kain.

Malam ynag dipergunakan untuk membatik berbeda dengan malm (lilin) biasa. Malam untuk membatik bersifat cepat diserap kain, tetapi dapat dengan mudah lepas ketika proses pelorodan.

Malam / Lilin

DHINGKLIK / TEMPAT DUDUK

Dhingklik / tempat duduk adalah tempat untuk duduk pembatik. Biasanya terbuat dari bambu, kayu, plastik, atau besi. Saat ini, tempat duduk dapat dengan mudah dibeli di toko-toko.


Fungsi alat dhingklik sama dengan kursi, sebagai tempat duduk, hanya saja dhingklik biasanya tidak ada sandarannya. Alat yang satu ini pun biasanya juga dibuat dari bahan kayu atau bambu. Tinggi dhingklik bervariasi, mulai dari 5 cm hingga 15 cm, disesuaikan dengan postur tinggi pembatik dan sedapat mungkin membuat nyaman bagi yang duduk. Dengan duduk di dhingklik ini memungkinkan para pembatik lebih leluasa melakukan membatik. Namun demikian, ada kalanya pembatik tidak duduk memakai dhingklik, tetapi duduk lesehan di lantai beralaskan tikar.


PEWARNA ALAMI

Pewarna alami adalah pewarna yang digunakan untuk membatik. Pada beberapa tempat pembatikan, pewarna alami ini masih dipertahankan, terutama kalau mereka ingin mendapatkan warna-warna yang khas, yang tidak dapat diperoleh dari warna-warna buatan. Segala sesuatu yang alami memang istimewa, dan tekhnologi yang canggih pun tidak bisa menyamai sesuatu yang alami



Alat-alat di atas merupakan perlengkapan membatik yang harus tersedia. Proses membatik memerlukan waktu yang cukup lama, terlebih kalau kain yang dibatik sangat lebar dengan motif yang rumit. Corak batik yang beraneka ragam dapat menghasilkan model baju batik yang indah. Dengan demikian, harga batik lebih banyak ditentukan oleh proses pembuatan, corak motif batik, bahan pewarna yang dipakai, dan bahan kain... [DI]


Catatan : Berbagai Sumber



Share:

Motif Batik Tanjung Bumi Bangkalan

Tanjung Bumi merupakan salah satu Sentra Batik Tulis Madura yang terdapat di Kabupaten Bangkalan dimana batik Tanjung Bumi sudah cukup terkenal baik Lokal, Regional maupun Internasional. 

Jarak antar Kota Bangkalan dengan Tanjung Bumi adalah kurang lebih 50 km ini terletak di daerah pesisir pantai sehingga memiliki ciri khas dalam gaya dan motif batik karena dipengaruhi faktor alam (pesisir) yaitu terlihat dari warna-warna yang berani dan desain atau corak yang bebas.

Cara atau proses pembatikan serta karakteristik tanah dan air di daerah Tanjung Bumi juga menjadikan keunikan batik dari daerah ini yang lain dari yang lain.

Keistimewaan yang lain dari Batik Madura dari Tanjung Bumi adalah warnanya akan lebih cerah dan bagus  justru setelah beberapa kali dicuci. Makanya tidak heran banyak motif batik tulis dari Tanjung Bumi yang harganya lebih mahal daripada batik Madura daerah lain.

Batik yang cukup terkenal di Tanjung Bumi adalah batik gentongan. Harganya juga cukup mahal. Batik Gentongan mempunyai nilai yang mendalam dalam tradisi Madura. Mengapa disebut batik Gentongan? Karena proses pewarnaannya dilakukan dengan cara merendam kain batik tersebut kedalam wadah berupa gentong pada saat proses pembuatannya. Proses perendaman dilakukan untuk proses pewarnaan juga untuk menghilangkan sisa malam juga agar supaya warnanya lebih awet dan tahan bertahun-tahun.

Itulah sebabnya mengapa Batik Gentongan ini mahal karena walaupun umurnya puluhan tahun warnanya tetap awet seperti baru dan juga walaupun batik Gentongan ini terbuat dari kain katun tapi harganya bisa jauh lebih mahal daripada batik Madura yang terbuat dari kain sutera. Desain gambar atau motif yang dibatik pada sehelai kain itu murni hasil kreasi dan imajinasi para pembatik itu sendiri. 

Jadi seolah-olah menggambarkan perasaan, hati dan pikiran mereka ke dalam wujud "Cita Rasa Dalam Karya". Diantara motif tersebut juga terdapat juga motif lama yaitu motif asli atau tradisional Madura, tetapi saat ini motif Batik Madura juga mulai mengikuti selera pasar dengan bermotif modern yaitu dengan membuat beberapa motif yang dijadikan satu (motif kombinasi)

Adapun motif-motif Batik Tanjung Bumi antara lain sebagai berikut :


Motif Batik Tanjung Bumi 1-10
Motif Batik Tanjung Bumi 11-20
Motif Batik Tanjung Bumi 21-30
Motif Batik Tanjung Bumi 31-40
Motif Batik Tanjung Bumi 41-50
Motif Batik Tanjung Bumi 51-60
Motif Batik Tanjung Bumi 61-70
Motif Batik Tanjung Bumi 71-80
Motif Batik Tanjung Bumi 81-90
Motif Batik Tanjung Bumi 91-100
Motif Batik Tanjung Bumi 101-110
Motif Batik Tanjung Bumi 111-120
Motif Batik Tanjung Bumi 121-130
Motif Batik Tanjung Bumi 131-134


Video Motif Batik Tanjung Bumi Bangkalan :


Demikian beberapa rangkaian motif batik Tanjung Bumi yang dapat kami sajikan, kami menyadari masih banyak motif batik di Tanjung Bumi yang belum kami informasikan karena motif batik Tanjung Bumi terdapat ribuan motif batik, namun mudah-mudahan ini semua bisa mewakili motif-motif yang belum bisa kami sajikan... [DI]


Photo Koleksi : Disperindag Kabupaten Bangkalan dan Bangkalan Memory


Share:
Copyright © BANGKALAN MEMORY | Powered by Bangkalan Memory Design by Bang Memo | Kilas Balik Bangkalan Tempo Dulu