Asal Mula Buju' Lebun

Dahulu kala ada seorang  pasangan suami istri yang bernama Abd. Rahman dan Nurul Qomariyah. Mereka tinggal disebuah desa yang bernama tambak. Desa ini terletak di Kecamatan Omben di Kabupaten Sampang. Semenjak Rohman menikah dengan Nurul Qomariyah banyak orang-orang di sekitarnya mencaci-maki dia karena dia itu miskin dan tidak punya apa-apa, tidak seperti istrinya yang kaya raya. Tapi meskipun begitu istrinya tetap mencintai Rahman karena Rohman baik, jujur, mempunyai budi pekerti yang baik dan rajin beribadah tidak seperti orang lain yang hanya ingin  menikahinya karena harta yang di milikinya.Meskipun Rahman selalu dicaci-maki tapi dia tetap sabar dalam menghadapi itu semua.


Pada suatu malam Rahman bangun dari tidurnya kemudian dia langsung ambil wudhu untuk melaksanakan sholat tahajjud yang mana dia lakukan setiap malam,.Setelah sholat, dia berdzikir dan berdoa kemudian setelah itu dia tidur lagi dan pada saat itu dia bermimpi bertemu dengan seorang kakek-kakek yang memakai baju putih dan wajahnya bersinar. Kemudian kakek itu berkata, ”hai Rahman sabarkanlah dirimu dalam menghadapi semua cobaan, saya beri petunjuk agar kamu bisa sabar dalam menghadapi semua cobaan. 

Caranya tulislah ayat suci Al-Qu’ran menggunakan mangsen (tinta) yang ada didepan kuburannya Kyai Fathurrosi”. Setelah itu Ramhan kaget dan terbangun dan dia bertanya-tanya dalam pikirannya bahwa siapakah kakek-kakek yang ada dalam mimpinya itu dan apakah memang benar kalau di depan kuburannya Kyai Fathurrosi ada sebuah mangsen (tinta). Karena kebingungan dia menceritakan mimpinya itu kepada istrinya, lalu istrinya menyuruh dia untuk membuktikan langsung ke kuburannya Kyai Fathurrosi. 

Kemudian keesokan harinya, Rahman pergi  ke kuburan untuk membuktikan kebenaran mimpinya itu. Setelah dia sampai di sana, dia mendengar teriakan orang kepanasan dan dia kaget karena melihat kuburannya Kyai Fathurrosi yang bersinar dan di depan kuburannya memang benar-benar ada mangsen (tinta). Setelah itu dia membaca doa dan mengambil mangsen (tinta) itu lalu dia membawa mangsen (tinta) itu pulang kemudian pada siang harinya Rahman mulai menulis ayat suci Al-Qur’an (LAAILA HAILLALLAH MUHAMMADARROSULULLAH) ke kertas yang besar dengan ukuran panjangnya 20 cm dan lebarnya 15 cm. Rahman menulis ayat suci Al-Qur’an selama 1 tahun 25 hari. Setelah selesai menulis, kemudian dia selalu membacanya tanpa mengenal hari bahkan sholat pun dia hampir lupa, tapi dia beruntung mempunyai istri yang sholehah seperti Nurul Qomariyah yang selalu mengingatkannya di saat adzan berkumandang.

Setelah beberapa hari Rahman minta izin kepada istrinya untuk bertapa di kuburannya Kyai Fathurrosi. Mendengar itu semua, dia langsung kaget dan menangis kerena dia sedang hamil 2 bulan, dengan hati yang terpaksa dia mengizinkan suaminya meskipun sebenarnya dia tidak mau ditinggalkan suaminya apalagi dalam keadaan hamil, tapi dia rela melakukan itu semua untuk suaminya. Kemudian Rahman pun bersiap-siap dan sebelum berangkat Rahman berpesan kepada istrinya ”jika kelak anak kita lahir, jika laki-laki berilah nama Haikal Ali dan jika perempuan berilah nama Sulaihah’’.

Kemudian Nurul bertanya pada suaminya? berapa lama dia akan bertapa, kemudian Rahman menjawab; “aku juga tidak tau berapa lama aku akan bertapa tapi yang jelas setelah aku mendapatkan petunjuk dari ALLAH aku pasti akan pulang,” lalu Rahman pun berangkat dan mencium kening istrinya. Sebenarnya Rahman tidak tega meninggalkan istrinya tapi dia sudah membulatkan tekatnya. 

Pada saat dalam perjalanan dia bertemu dengan seorang kakek-kakek persis dengan kakek yang ada di dalam mimpinya. Diapun kaget dan tidak bisa bicara apa-apa, kemudian kakek itu berkata ”hai Rahman ambillah pisang ini untuk bekalmu di saat kamu bertapa “lalu Rahman pun mengambilnya. Ketika Rahman ingin mengucapkan terima kasih ternyata kakek itu menghilang entah kemana. Lalu Rahman melanjutkan perjalanannya. Selang beberapa menit dia tiba di kuburannya Kyai Fathurrosi lalu dia berdoa dan mulai bertapa kemudian dia berdzikir dengan mengucapkan “YAA ALLAH, YAAWADUD, YAA ROHMAN, YAA RAHIM”.

Ketika perkiraan lima bulan, rambut, janggut dan kumis Rahman pun memanjang dan berwarna putih sehingga dia tidak tampak seperti Rahman yang dulu dan mungkin meskipun dia bertemu dengan orang, orang yang bertemu dengannya tidak akan mengenal dia. Ketika nyampek 10 bulan ada burung kecil yang hinggap di kepala Rahman dan burung itu melihat janggut Rahman yang panjang kemudian burung tersebut membuat sarang dijanggutnya. Setelah beberapa hari burung itu bertelur dan meninggalkan telurnya disarangnya. 

Setelah beberapa hari telur itu menetas dan pada saat itu ada orang yang berziarah kekuburan Kyai Fathurrosi. Orang itupun kaget melihat orang dengan rambut, janggut, dan kumis yang panjang dan anak burung yang baru menetas dijanggutnya. Kemudian orang itu mencoba membangunkannya tapi dia tetap tidak bangun karena saking khusyuknya berzikir kepada ALLAH SWT.

Karena dia tidak bangun-bangun, diapun pulang dan menceritakannya ke orang-orang. Kemudian pada saat itu pula istri Rahmanpun mendengar hal itu dan kemudian dia mendatangi orang itu dan membaritahukan kalau orang yang ada dikuburan itu adalah suaminya yaitu Rahman. Sementara itu istrinya sudah melahirkan seorang anak laki-laki dan dia diberi nama “HAIKAL ALI” sesuai dengan yang diperintahkan Rahman sebelumnya setelah anaknya besar dan berumur 6 tahun Haikal pun bertanya kepada ibunya siapakah ayahku dan dimana dia sekarang. 

Mendengar itu semua Nurul Qomariyah diam dan berkata “sekarang masih bukan saatnya kamu tahu siapa dan dimana dia berada” mendengar itu semua Haikal pun diam. Kemudian setelah berumur 12 tahun dia bertanya lagi kepada ibunya soal ayahnya dan dia bilang kepada ibunya kalau dia tetap tidak mau memberi tahu tentang ayahnya dia akan pergi dan mencari ayahnya. Nurul Qomariyah pun tidak tega melihat anaknya dan diapun memberi tahu keberadaan ayahnya kalau ayahnya sedang bertapa dikuburan Kyai Fathurrosi. Mendengar itu semua Haikal pun lega. 

Setelah Haikal berumur 13 tahun, Rahman pun terbangun dari tapanya dan dia tidak tahu berapa lama dia bertapa. Lalu dia pulang kerumahnya. Setelah nyampek dirumahnya, anaknya kaget melihat rahman karena rambut, janggut, dan kumis yang panjang. Lalu haikalpun berlari dan memberi tahukannya kepada ibunya lalu ibunya keluar dan kaget melihat Rahman sudah pulang lalu diapun memeluk Rahman dan menanyakan kabarnya lalu Rahman menjawab ”kabarku baik-baik saja” lalu Rahman bertanya kepada istrinya” siapakah anak ini” kemudian istrinyapun menjelaskan bahwa dia adalah anaknya dan Rahmanpun memeluk anak itu dan bersyukur kepada ALLAH SWT. karena anaknya sehat dan berbudi pekerti .

Pada suatu hari Rahman sakit-sakitan dan tidak mampu bangun dari tempat tidurnya dan berketepatan pada malam rabu saat Rahman tidur dia bermimpi bertemu lagi dengan kakek berbaju putih dan mukanya bersinar, kemudian kakek itu berkata” hai Rahman sekarang apa yang kamu inginkan sudah tercapai anakmu sekarang sudah besar dan berbudi pekerti dan kamu juga sudah menulis ayat suci Al-Qur’an, sekarang aku akan mengajak kamu ketempat yang paling indah dan mewah” Rahman pun menjawab” terima kasih kakek telah banyak membantuku sekarang aku ingin membantu kakek dengan ikut bersama kakek” lalu kakek menjawab” terima kasih karena kamu mau ikut dengan kakek”, kemudian Rahman pun terbangun dari tidurnya dan sakitnya tambah parah sampai siang hari perkiraan jam 12.35, Rahman pun berwasiat pada istri dan anaknya kalau dia wafat dia menyuruh meletakkan kuburannya disamping kiri kuburannya Kyai Farhurrosi. Ketika jam 13.00 Rahman pun meninggal dunia.  Istri dan anaknya menyuruh menguburkan jenazah suaminya di samping kiri kuburannya Kyai Fathurrosi seperti apa yang diwasiatkan suaminya. 

Setelah beberapa hari ketika malam Jum’at ada orang yang lewat dikuburan Rahman dan orang itupun kaget melihat kuburan Rahman bersinar menembus langit dan disekitar kuburannyan Rahman banyak burung yang membuat sarang disana kemudian orang itu pun berlari kerumah Rahman untuk memberi tahu kejadian itu kepada istri dan anaknya, setelah mendengar kejadian itu istrinya Rahman berpendapat untuk memberi nama kuburan suaminya dengan sebutan “BUJUK LEBUN”.. [DI]


0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: