Asal Mula Kampung Demangan - Kamal

Pada zaman dahulu ada seorang tokoh atau kepala suku yang bekerja di kantor “Pengarisan” atau yang biasa di sebut Kantor Kecamatan. Beliau seorang tokoh masyarakat yang paling di segani karena kegagahannya serta adil pada masyarakat setempat.

Selain sebagai tokoh masyarakat, beliau juga sebagai tuan tanah yang mempunyai segudang tanah yang luasnya berhektar-hektar.

Beliau bernama “Mbah Demang”. Setiap kali beliau berjalan-jalan untuk melihat tanaman di sekitar lahannya, beliau selalu menggunakan kendaaraan kesayangannya yaitu Kuda Putih miliknya.

Mbah Demang juga memiliki tempat pengajian hingga Madrasah kecil-kecilan, yang bertujuan untuk memeberikan pelajaran agama pada masyarakat setempat. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Madura itu religius. Dengan arti bahwa masyarakat Madura lebih mementingkan penalaran agama sejak dini dari apapun.

Sebagai contoh, bahwa ketika ada seorang maling yang berasal dari Madura mereka bisa lancar membaca Al-Qur’an. Serta orang Madura beranggapan bahwa “orang Madura belum sah menjadi orang Madura asli bila tidak bisa mengaji dengan lancar.

Di satu sisi kembali pada sosok tokoh masyarakat yaitu Mbah Demang, beliau sebenarnya memiliki nama asli akan tetapi tidak begitu jelas. Karena beliau tidak pernah memberitahu siapa nama aslinya. Dia hanya menyebutkan nama kerajaan yaitu “Raden Panji” tanpa memberi tahu  nama lengkapnya. Beliau juga selalu memanggil dirinya dengan sebutan “Demang”.

Hingga saat ini nama asli beliau masih di pertanyakan. Karena anak cucu hingga cicitnya sekarang pun tidak mengetahui siapa nama ayah dan kakek mereka. Yang mereka tahu dan mereka paham orang tua mereka tuan tanah serta tokoh masyarakat yang sangat di segani.

Tak banyak dari keluarga Mbah Demang yang tahu akan asal mula beliau menginjakkan kakinya di daerah ini khususnya Kamal. Hal ini di karenakan sosok Mbah Demang sebenarnya lebih tertutup dalam hal pribadi.

Nama “Demangan” sendiri sebenarnya tidak hanya ada di Kecamatan Kamal, akan tetapi di Bangkalan Kota pun terdapat pula nama “Demangan”. Akan tetapi kebanyakan masyarakat Bangkalan kurang tahu asal mula nama tersebut.

Selebihnya hal ini kembali lagi pada sosok Mbah Demang yang memberi nama perkampungan kami dengan sebutan “Kampung Demangan - Kamal“. Dan hingga akhir hayatnya pun Mbah Demang di makamkan di kampung ini.

Makam Mbah Demang sangat di hormati dan kramat apabila anak cucu hingga masyarakat setempat memperlakukuan makam beliau dengan tidak semestinya.

Ini terbukti karena setiap ada acara ataupun sekedar syukuran, tradisi kita tetap berjalan yaitu mengadakan syukuran di sekitar makam Mbah Demang. Hal ini selain menghormati sesepuh serta meminta dukungan keselamatan demi lancarnya suatu keinginan. Dengan cara mengirimkan Mbah Demang bacaan Tahlil dan sholawat-sholawat Nabi Muhammad S.A.W .

Kita tentunya bersyukur karena beliau memberi warisan kepada kita semua sebagai masyarakat asli desa Demangan – Kamal yang menjadikan kita semua bangga dengan warisan sebuah nama yaitu “Kampung Demangan – Kamal“


Kontributor : Nurul Aisyah


Previous
Next Post »
Thanks for your comment