Asal Usul Kampung Kepang Bangkalan

Kepang… yach, itulah nama sebuah kampung yang ada dalam sederet nama kampung yang ada di Pulau Madura, tepatnya di Kota Bangkalan. Letak kampung yang strategis menjadi daya tarik tersendiri bagi kampung ini. Kampung Kepang sangat mudah untuk di jangkau karena masih dalam kawasan dan lingkup jantung Kota Bangkalan, yang berlokasi di jalan Letnan Singosastro gang 5. Jarak yang begitu dekat dengan alun-alun kota menjadikan kampung ini sangat mudah bagi orang-orang untuk singgah dan berkunjung ke kampung ini. 

Lalu-lalang kendaraan serta keadaan jalan yang memadai memberikan kenyamanan tersendiri bagi para pengunjung. Tak hanya itu, kampung Kepang juga dekat dengan makam pembabat Kota Bangkalan yaitu KH. Syaichona Kholil. Kampung yang dulunya merupakan hutan belantara kini menjadi perkampungan yang ramah dan nyaman. Kekentalan dan kemurnian masih nampak dan terjaga. Bagaimana tidak, terbukti dengan berdiri tegaknya Pondok Pesantren Al-Falah Al-Kholiliyah (Pondok Kepang) menjadikan kampung ini sebagai pusat pembelajaran ilmu agama serta ilmu-ilmu syariat yang lain.



Tidak banyak orang yang tahu napak tilas / asal usul kampung yang di beri nama KEPANG dan berdirinya pondok pesantren Al-Falah ini, namun setelah di konfirmasi serta penuturan dari beberapa sesepuh dan warga sekitar akhirnya ditemukan juga sejarahnya.

Pada zaman dahulu ada seorang pemuda yang alim dan sederhana. Ia sangat patuh kepada kedua orang tuanya, disamping itu ia sangat tekun menjalankan ajaran agama Islam. Pemuda tersebut bernama Mohammad Yasin, putra keluarga Mohammad Yakub dari kecamatan Konang, Bangkalan-Madura. Bertahun-tahun menimba ilmu agama di pondok pesantren mulai dari pondok pesantren di Pulau Jawa sampai pesisir Arab Saudi.

Bertahun-tahun pula ia tinggal di Mekkah menimba ilmu agama dan meningkatkan ibadah. Pada suatu hari ia bermimpi dalam tidurnya ia didatangi orang tua berjubah putih. Orang tua tersebut berpesan bahwa sudah waktunya Mohammad Yasin untuk kembali ke tempat kelahirannya mengamalkan ilmu dan membangun pesantren di Madura. Di akhir mimpinya orang tua berjubah putih juga sempat berpesan agar nantinya mencari kampung Kepang untuk membangun rumah/ tempat tinggal di Bangkalan Madura.

Akhirnya Mohammad Yasin pulang ke Kabupaten Bangkalan di Madura, setelah bertahun-tahun ia berkelana menimba ilmu agama. Sesampainya di Bangkalan ia mulai bertanya-tanya kepada sesepuh dan tokoh masyarakat di Bangkalan untuk mengetahui keberadaan kampung Kepang.

Selama ia mencari keberadaan kampung tersebut, Mohammad Yasin menambah ilmu dengan mondok di Pesantren Demangan yang kala itu dipimpin KH.Syaichona Kholil. Berkat kecerdasan dan kepatuhannya kepada Kyai, akhirnya Mohammad Yasin dipertemukan dan dipersunting dengan putri dari KH.Syaichona Holil.

Hingga pada suatu hari Raja Bangkalan ingin mengadakan pesta rakyat yang rencananya akan digelar selama 7 hari 7 malam. Persiapan demi persiapan sudah dilakukan demi lancarnya pesta, namun seantero kota Bangkalan selalu diselimuti awan mendung yang menandakan akan terjadinya hujan deras. Tanpa pikir panjang Sang Raja pun langsung mengutus ajudannya untuk mengadakan sayembara yang isinya:“ barang siapa yang bisa mengusir mendung-mendung tersebut akan diberi hadiah oleh Sang Raja “.

Mendengar hal semacam itu seluruh jagoan serta pawang-pawang  hujan menunjukkan keahlianya masing-masning, namun hasilnya nihil tak ada perubahan sama sekali. Pada akhirnya Sang Raja mendengar berita bahwa ada satu ulama yang karismatik, terkenal dengan kewaliannya yang tidak diragukan lagi kemampuannya. 

Ya…. Dialah KH.Syaichona Kholil, mertua dari Mohammad Yasin. Seketika itu juga Sang Raja langsung  mengutus Ajudannya  untuk menemui sang wali tersebut. Anehnya  sang wali tidak mau hadir ke Keraton Kerajaan. Akan tetapi hanya memberi selembar kertas yang isinya “ pala’eh Raja rajah” {kemaluan raja besar }, dan menyuruh memampangkan kertas tersebut didepan Keraton Kerajaan.

Sesampainya di Kerajaan kertas tersebut langsung di baca oleh Raja, sontak Sang Raja langsung marah, akan tetapi kemarahan Raja diredam oleh penasehat Kerajaan. Sang raja pun menuruti perintah Sang Wali untuk memempangkan kertas tersebut. Tak selang beberapa saat setelah tulisan tersebut terpampang, seantero Bangkalan yang tadinya diselimuti awan mendung langsung berubah menjadi cerah dan terang benderang .

Begitu karomahnya Sang Wali tersebut yang dengan tulisan tak berarti itu bisa mengusir mendung yang menyelimuti Bangkalan. Raja pun langsung tenang dan gembira menyaksikan keajaiban tersebut. Pada hari itu pula Raja langsung mengundang KH. Syaichona Kholil untuk datang  ke Keraton Kerajaan guna menerima hadiah dari Sang Raja. 

Sang Raja pun memberikan hadiah pada KH. Syaichona sebidang tanah luas sebagai tanda terimah kasih Raja pada beliau atas pertolonganya. KH.Syaichona Kholil pun menerima pemberian raja tersebut.

Lalu tanah itu oleh KH. Syaichona Kholil di berikan kepada menantunya, yaitu Mohammad Yasin. Mohammad Yasin pun menerima tanah pemberian mertuanya itu dengan senang hati. Ia merasa tanah pemberian mertuanya itu merupakan petunjuk atas keberadaan kampung Kepang yang ia cari selama ini. Tanah tersebut terletak di sebelah timur selatan alun-alun Bangkalan saat ini ( dahulu masih merupakan hutan belantara ). 

Tanpa pikir panjang Mohammad Yasin pergi ke tempat tanah tersebut, namun kenyataannya tidak seperti yang ia dibayangkan, tanah tersebut kala itu sangat angker, pohon-pohon besar menjulang tinggi, binatang liar berkeliaran seperti babi, ular dll, dan tidak ditemukan kampung di sekitar tanah luas milik Muhammad Yasin itu, hanya hutan belantara tak berpenghuni. 

Dengan sabar dan tekun, Mohammad Yasin mulai membersihkan hutan belantara tersebut hingga akhirnya berdirilah sebuah bangunan sederhana yang layak untuk dihuni. Hingga akhirnya lama-kelamaan hutan belantara tersebut menjadi sebuah kampung yang di beri nama Kampung Kepang. Meneruskan perintah dari KH. Syaichona Kholil, Muhammad Yasin pun mendirikan sebuah pondok pesantren yang ia beri nama Pondok Pesantren Al-Falah Al-Kholiliyah (Pondok Kepang).

Sedangkan kampung Kepang itu sendiri berasal dari kata “TA KE PEK bungkanah KE TA PANG” dan disingkat KEPANG.  Konon pada zaman dahulu di tempat angker tersebut ada seorang petapa bernama Saniba, ia meninggal akibat terhimpit pohon besar (pohon Ketapang). 

Hingga sekarang tempat pertapaan masih terawat dengan baik di pondok Kepang. Masyarakat/kalangan pondok menyebutnya PETAPAN. Masih penasaran?? Silahkan berkunjung ke Pondok Kepang.... [DI]


Photo Koleksi : Berbagai Sumber
0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: