Asal Mula Desa Banyubunih - Galis

Dahulu kala ada kuda yang kehausan minta-minta air sisa cucian piring (RAKORA). Kuda itu minta air di desa lantek dari pintu ke pintu di desa lantek itu namun tidak ada satu orangpun yang memberi air pada kuda tadi, sehingga kuda tadi terus berjalan ketimur dan terus ketimur sehingga sampai ke suatu desa. Kuda tadi minta air sisa cucian piring kesalah satu orang yang berpenghuni didesa tadi dan orang tadi memberi sisa air cucian dan kuda tadi meminumnya.

Setelah di minum air tadi, lalu kuda pergi kesuatu tempat. Di tempat itu kakinya di  gesek-gesekkan ketanah (e kar kar) sehingga menjadi suatu galian yang dalam kira-kira satu meter. Di galian itu, kuda tadi belum menemukan sumber air dan kuda tadi pindah ke tempat yang lain sampai tiga kali galian namun belum juga menemukan sumber air. Lama kelamaan kuda tadi pergi dari desa tadi karena tidak menemukan sumber air

Setelah kuda tadi pergi, baru galian tadi keluar air. Ketiga galian berisi air dan terdapat mata air yang besar (Somber). Wargapun membuat bendungan air yang besar kira-kira panjang 12 m dan lebar 6 m untuk menampung air yang tidak pernah habis meski musim kemarau panjang. Hingga sekarang ini sumber atau galian kuda itu masih ada.

Karena air tadi keluar setelah kuda itu pergi, warga desa setempat menamakan desa tersebut Banyubunih atau Banyubudih yang artinya: Aeng keluar e budih, maksud air keluar di belakang setelah kuda tadi meninggalkan galiannya. Ada 3 Banyubunih, yaitu Banyubunih 01, Banyubunih 02, dan Banyubunih 03. Ketiga-tiganya di Desa Banyubunih sama-sama mempunyai sumber yang sama-sama tidak pernah kering meski musim kemarau.

Sumber yang paling besar berada di daerah Banyubunih 01 dan sumber ini di kenal dengan sebutan Napo karena dulu sewaktu kuda menggali tanah tersebut dan tidak muncul air sedikitpun dan setelah kuda tadi pergi dari tempat galiannya ada Tanapo atau batang pohon yang sudah kering dan lapuk jatuh di atas galian kuda tadi. Air yang berasal dari Somber Napo tersebut tidak boleh di jual karena pernah ada kejadian, warga dari Desa Kajuanak mengambil air di Napo dan menjualnya di desa, air Napo tersebut langsung kering Penjual air tersebut juga mimpi di datangi ular besar tidak berekor yang memintanya mengembalikan air yang dijualnya meski 1 satu liter saja. Esok harinya, orang tersebut mengembalikan air kira-kira 15 liter, lantas air Napopun datang kembali, besar sempurna seperti biasanya.

Orang tersebut kaget dan menyesal serta minta maaf pada juru kunci Napo Kiyai Siddiq dan Mbah Layar. Orang yang menjual air tadi mengembalikan semua hasil air yang dijualnya dan di taruh di masjid, karena Kiyai Siddiq dan Mbah Layar tidak menerima pengembalian uang tersebut.

Di Desa Banyubunih 01 ada satu misteri yang hingga sekarang masayarakat sekitar masih mempercayai kebenarannya yaitu di misteri di Dusun Celkong Aeng e Lekkong, tepatnya di Bendungan air di desa tersebut. Ada salah satu tanah warga yang dahulu kala kalau menanam padi hanya cukup satu kali karena setelah di panen, padi masih akan tumbuh lagi sehingga dusun tadi makmur tidak kekurangan beras atau padi. Hal ini berlanjut sampai beberapa musim. Kalau padi tersebut henak di masak, maka cara memasaknya tanpa air dan tanpa di sellep (giling) dulu alias langsung di masukkan ke Rabunan padi bersama batang dan daunya. Terkadang warga hanya memasak satu biji padi dan cukup menunggu beberapa saat, biji padi tersebut sudah berubah menjadi nasi.

Keajaiban ini tidak berlanjut sampai sekarang. Penyebabnya adalah kecerobohan seorang warga. Dulu waktu seorang warga perempuan memasak di dapur, perempuan tersebut berpesan pada suaminya agar tidak membuka Rabunan tadi sampai istrinya selesai ngambil air dari sumur untuk mandi dan berwudluk. Karena suami tersebut merasa sangat lapar, dan tidak sabar menunggu nasi belum masak, ia membuka Rabunan tersebut. Ia menjumpai Rabunan tersebut berisi padi itu namun tetap berbentuk padi mentah bersama akarnya, alias tetap tidak berubah sama sekali. Istrinyapun selesai ngambil air dan langsung menuju dapur. Melihat isi Rabunan tetap menjadi padi, Istripun menanyakan ke suaminya. Mengetahui suaminya tidak menuruti pesan sang istri, dengan kecewa, ia berkata pada suaminya bahwa sampai kapanpun, dusun tersebut tidak akan bisa di tanami padi lagi hingga sampai ke anak cucu mereka nanti.

Sampai sekarang tanah itu menjadi Berrit atau angker dan tidak bisa di dirikan rumah, hanya bisa digunakan untuk bertani jagung dan kacang saja. Pernah suatu hari empunya tanah yang bernama Maksuni membakar batu agar menjadi sebuah cat. Biasanya batu kalu di bakar dari jam 06:00 pagi sampai jam 06:00 paginya lagi (24 jam), batu tersebut pasti sudah masak atau jadi batu kapur. Tapi anehnya, ketika batu dibakar ditanah tersebut, sampai tiga hari tiga malam tetap tidak ada perubahan. Batu tersebut hanya berubah warnanya menjadi hitam karena asap api yang membakar. 

Kejadian ini membuat masyarakat sekitar sadar dan percaya masih ada suatu lagi mistis di tanah tersebut. Kyai kampung dan menceritakan bahwa tanah tersebut berpenghuni, penjaga makhluk halus sehingga batu tersebut tidak akan pernah jadi batu kapur atau di buat cat. Yang bisa dilakukan masyarakat ditanah tersebut hanya bercocok tanam saja seperti jagung, kacang tanah, dan kacang ijo. Selain tanaman tersebut tidak akan tumbuh  meski dulunya di tanami padi.

Di tanah tersebut banyak pohon nangka dan pohon mangga, namun tidak ada satu warga yang berani mengambil buah-buahan yang ada di sana karna takut terkena musibah seperti perutnya membesar, susah buang air kecil dan buang air besar. Buah-buahan yang ada di situ bisa di ambil asalkan minta ijin dulu minta izin dulu pada pemiliknya. Buahpun baru bisa di ambil jika buah tersebut telah jatuh dari pohonnya.

Dulu pernah terjadi sustu kejadian ada anak kecil warga desa mengambil mangga tanpa se izin pemiliknya. Mangga itu di makan oleh bocah tadi. Satu mangga belum habis, si bocah tersebut pulang kerumah karna perut sakit gara gara makan mangga tersebut. Semalaman ia tidak bisa tidur, ke dokterpun tidak ada efeknya. Ia baru merasa baikan ketika  orang tuanya datang kepemilik tanah tersebut dan meminta air dari sipemilik tanah. Ajaibnya bocah yang menagis karena kesakitan itupun menjadi baikan... [DI]


Kontributor : Kholily Al Ghozali


1 komentar: