Munculnya Cakraningrat IV dalam Konteks Hubungan antara Mataram, VOC, dan Cina

Secara geografis pulau Madura (untuk selanjutnya disebut Madura) terletak di bagian timur laut pulau Jawa. Posisi Madura berada di sekitar 7 derajat sebelah Selatan khatulistiwa, di antara 112 derajat dan 114 derajat bujur timur, bentuknya membujur dari barat ke arah timur. Panjang pulau itu sekitar 160 km, dengan jarak lebar sekitar 40 km. Luas Madura seluruhnya sekitar 5.304 km persegi. 

Pantai utaranya merupakan garis lurus, sedangkan pantai selatan memiliki dua teluk besar yang terlindungi oleh pulau-pulau, bukit pasir dan batu karang. Selat Madura memisahkan pulau Madura dari pulau Jawa. Selat ini menghubungkan laut Jawa dengan laut Bali. Bagian barat selat Madura berhadapan dengan muara sungai Brantas, sungai Lamong, sungai Solo, kota perdagangan Surabaya dan Gresik. Kedua kota itu sejak akhir abad ke-14 hingga ke-17 menjadi pusat perdagangan Jawa Timur dengan daerah-daerah lain. Ekspornya yang terpenting adalah beras, garam, ikan, pakaian, gula dan asam jawa.

Gresik pada abad itu juga merupakan pusat perdagangan rempah-rempah dari Maluku. Para pedagang dari daerah lain seperti Palembang dan Melayu maupun dari negeri-negeri asing seperti India, Cina, Arab dan Persia bermukim di kota Gresik dan Surabaya. Meskipun secara geografis Madura merupakan pulau yang besar, namun kehidupan sosial, ekonomi, politik dan kebudayaannya tidak dapat dipisahkan dari Jawa. Jika kehidupan politik di Jawa sudah mengalami perkembangan sejak abad ke-8, Madura baru mendapatkan perhatian serius penguasa Jawa pada penghujung abad ke-13 ketika raja terakhir Singasari, Kartanegara (1268-1292) pada 1275 mengangkat Aria Wiraraja di Sumenep sebagai Adipati Madura.

Pada zaman Majapahit, beberapa keluarga raja Madura memiliki hubungan famili dengan para bangsawan Istana Jawa. Pertumbuhan perdagangan dan penyebarab agama Islam pada akhir abad ke-15 hingga ke-16 berlangsung secara bersamaan. Pada kurun waktu itu para pedagang Islam banyak bermukim di kota-kota pesisir, diantaranya adalah orang Melayu. Bersamaan dengan itu, Majapahit mengalami kemunduran dan kehilangan sebagian besar wilayah kekuasaannya termasuk wilayah pesisir utara Jawa.

Namun demikian penguasa lokal di Madura masih tetap menyatakan kesetiaannya kepada Majapahit sampai kerajaan itu benar-benar runtuh pada 1527. Pada abad ke-10, pusat kekuasaan di Jawa dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Waktu itu bertepatan dengan perkembangan perdagangan rempah-rempah yang secara Internasional terbentang dari kepulauan Maluku sampai ke Eropa. Perkembangan perdagangan pada abad ke-10 itu menjadikan arti serta peran Madura meningkat dalam hubungan pengamanan rute pelayaran internasional. Berbeda dengan kerajaan Mataram (Hindu) di Jawa Tengah yang sepenuhnya berorientasi kepada pertanian atau agraris, di lain pihak kerajaan-kerajaan di Jawa Timur seperti Kediri (1080-1222), Singasari (1222-1292) dan khususnya Majapahit (1293-1527) selain berbasis pada sektor agraris ternyata juga berhasil mengembangkan perdagangan laut.

Setelah menikmati masa yang relatif bebas dari campur tangan para penguasa dari luar Madura sepanjang abad ke -16. Pada pertengahan pertama abad ke-17 ekspansi Mataram merambah Madura, untuk membendung ekspansi Mataram itu Madura menggalang kerjasama dengan kekuatan Giri. Akan tetapi usaha itu gagal, dalam pertempuran yang terjadi pada 1624 kekuatan Madura yang terdiri dari 160.000 orang gabungan dari kerajaan-kerajaan kecil berhasil dihancurkan oleh Mataram... [DI]


Sumber : 


0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: