Bangunan PLTA Peninggalan Belanda di Sampang

Di desa Krampon Kecamatan Torjun Kabupaten Sampang dengan 7 ° 9 '54 "(7,165 °) Lintang Selatan dan 113 ° 10 '59,9 "(113,1833 °) Bujur Timur dimana rata-rata ketinggian 7 meter (23 kaki) dari permukaan laut ini terdapat bangunan sejarah peninggalan Belanda, bangunan tersebut sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Bangunan tersebut dibangun dan didirikan pada 1904 berfungsi sebagai pembangkit listrik di daerah tersebut dimana disana terdapat sebuah pabrik garam yang dikuasai oleh PT. Garam pada masa Kolonial Belanda.

Sayangnya, gedung PLTA tersebut sudah tidak bisa dilihat lagi, karena gedung tersebut telah dirobohkan dan yang tersisa hanyalah puing-puing dan sisa dindingnya saja. Nasib serupa juga dialami pabrik garam konsumsi yang ada sekitar kompleks kota tua tersebut,  Pabrik tersebut dirobohkan sejak 2002 lalu.


Menurut penuturan seorang warga sekitar yang merupakan keturunan dari karyawan pabrik garam pada masa Belanda bangunan-bangunan tersebut telah dirobohkan oleh pihak PT Garam yang saat itu masih bernama Perum Garam. Dirinya sudah menempati salah satu rumah di perumahan karyawan Perum Garam sejak 1997 lalu. Dia menggantikan sang ayah yang menempati rumah tersebut sejak 1927.

Kami kemudian menemui sesepuh di Desa Krampon yang bernama Bapak Munir yang lahir pada tahun 1939. Menurutnya bahwa pada saat itu hiruk pikuk pekerja dan lalu-lalang kendaraan pengangkut garam sangat ramai. Tak hanya itu, deru mesin terdengar selama 24 jam, baik itu mesin produksi garam maupun mesin pembangkit listrik yang mampu menerangi seluruh kota tua.

Sarana penunjang pada masa kejayaan kota Krampon juga dilengkapi fasilitas lainnya yang mampu memanjakan para pekerja. Menurutnya, listrik dari PLTA yang ada di sana dialirkan ke rumah-rumah karyawan. Tak hanya itu, kebutuhan air bersih para karyawan juga sangat diperhatikan.


Masih ada lagi, para karyawan saat itu sangat diperhatikan kebutuhannya, bahkan hingga urusan dapur. Perhatian tersebut ditunjukkan dengan dibuatkannya kebun yang hasilnya diberikan ke penghuni rumah dinas.

Meski letaknya cukup jauh dari kota Sampang, namun warga di kota Krampon saat itu tidak perlu khawatir jika ingin ke Sampang. Sebab, perusahaan tempat mereka bekerja menyediakan armada untuk mengantarkan mereka. Bahkan di sana juga terdapat petugas kebersihan mengumpulkan sampah dan mencabut rumput.


Namun, Krampon yang dulu bukan Krampon yang sekarang. Kemegahan dan suasana hangat di kota tersebut sudah berubah. Pusat produksi garam yang dulu ramai sekarang seperti kota mati, yang ada hanya ada bongkahan bangunan tua yang tak lagi berpenghuni. Bahkan Rel kereta api sudah tertimbun tanah.

Aktivitas kota tua tersebut mulai lumpuh diperkirakan pada kisaran tahun 1960, dimana para karyawan pabrik tersebut sudah tidak lagi menjadi karyawan pabrik garam Krampon akibat gerakan PKI. Ketika itu para karyawan diberi pesangon oleh pemilik pabrik tersebut.

Terkait hancurnya sejumlah bangunan, bangunan tersebut bukan hancur dengan sendirinya, karena bangunan tersebut memang sengaja dihancurkan pihak Perum Garam dengan cara bertahap dan sementara sisa bangunan yang berupa besi dan kayu dilelang oleh perusahaan pelat merah itu.

Jika Krampon pada zaman Belanda sangat terkenal, bahkan gambar gedung tersebut yang menjadi inspirasi untuk dijadikan logo produk garam masa lalu dengan menggambarkan situasi di Krampon. Konon logo salah satu merek rokok tersebut terinspirasi dari gudang garam yang ada di wilayah itu... [DI]


Sumber : sampangkabmuseumjatim



0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: