Njoo Cheong Seng Tokoh Perfilman Nasional dari Bangkalan

Njoo Cheong Seng (NCS), penggiat seni keturunan Tionghoa yang produktif menulis puisi, drama, cerita pendek, dan novel serta menjadi sutradara dan aktor pada periode sebelum perang. Dalam menulis, ia kerap menggunakan beberapa nama pena, antara lain Munzil Anwar, Monsieur Amor, Monsieur D'Amor, N.C.S., atau N.Ch.S... [DI]

Bakat menulis pria kelahiran Bangkalan, 6 November 1902 ini sudah terlihat sejak remaja. Pada tahun 1919, atau di saat usia NCS masih baru menginjak 17, ia telah memulai karirnya sebagai novelis. Bekerjasama dengan So Chuan Hong, ia menerbitkan novel yang berjudul Cerita Penghidupan Manusia.


Selain menulis novel, NCS juga kerap menulis di beberapa suratkabar China peranakan. Di antaranya pada tahun 1921, dia menulis di harian Sin Po. Setahun kemudian ia menjadi kontributor untuk majalah Hoa Po pimpinan Lie Sim Gwee dan Pek Pang Eng.

Khusus dalam hal menulis, NCS mengaku sangat berterima kasih kepada So Chuan Hong karena telah mendidiknya menjadi penulis. Dalam sebuah artikelnya di Tjantik, majalah sastra terbitan Bandung, ia bahkan memanggil So Chuan Hong dengan sebutan guru.

Selanjutnya pada tahun 1923, setelah novel pertamanya lahir, NCS pindah ke Surabaya dan mulai berkarir di dunia jurnalistik dengan menjadi editor utama majalah bulanan Interocean. Ia menggantikan Kwee Hing Tjoe yang pindah ke Eropa.

Interocean merupakan majalah yang banyak berkonsentrasi pada masalah politik dan ekonomi. Tapi di bawah kepemimpinannya, ia mulai memasukkan unsur kesusastraan yang menjadi spesialisasinya. Seperti dengan memuat cerita cinta dalam bahasa Inggris dan Tionghoa. Namun ia tetap mempertahankan sisi politik, misalnya dengan memasukkan polemik mengenai seorang jurnalis yang dikeluarkan oleh pemerintah Belanda karena menentang pemerintah.

Masih di media yang sama, NCS juga menerbitkan karyanya sendiri seperti "Liesje". Dalam kata pengantarnya untuk cerpen itu, ia menulis bahwa ia lebih suka menulis tentang kehidupan nyata seperti yang terjadi pada dirinya maupun orang-orang yang dia kenal. Selain Liesje, ia juga menulis "Menikah dalam kuburan" maupun drama berjudul "Korban".

Pada tahun 1925, ia menulis novel berjudul Nona Olanda sebagai istri Tionghoa, cerita mengenai gadis Belanda yang menikah dengan seorang Tionghoa. Pada masa itu, periodenya memang periode cerita-cerita sedih yang melodramatis. Banyak di antaranya mengenai pernikahan campuran.

Dalam bidang kesenian, aktivitasnya bukan hanya tulis menulis. Seni peran dalam dunia 
teater juga dia geluti. Di awal 1920-an, ia tercatat sebagai anggota sebuah organisasi pemain sandiwara amatir bernama Soen Thian Gie Hie. Selain berperan sebagai pemain, ia juga menulis naskah. Naskah pertamanya berjudul Lady Yen Mei yang ditujukan untuk mengkritik orang kaya yang pelit.

Pada tahun 1926, ia bergabung dengan kelompok  teater di Batavia bernama Miss Riboet's Orion setelah sebelumnya meninggalkan profesinya sebagai wartawan. Bersama TD Tio Jr, ia melakukan langkah pembaruan dengan mengubah teknik akting dan cara kerja sutradara. Sebagai mantan wartawan, koneksinya dengan media massa yang luas dimanfaatkannya untuk kepentingan publisitas pertunjukan kelompok 
teaternya.

Setelah delapan tahun berkiprah di Orion, ia memutuskan untuk keluar dan bergabung dengan Moonlight Cyrstal Follies. Di sana ia bertemu dengan Nonnie Tan Kiem Lion seorang wanita kelahiran Aceh berdarah campuran Prancis-Tionghoa.

Keduanya pun menikah pada tahun 1927. Menurut Huang Lin, istri keempat NCS, Nonnie adalah istri kedua suaminya. Sebelumnya ia telah menikah dan mempunyai dua anak laki-laki bernama Armand dan Jackie. Semasa hidup, NCS diketahui empat kali menikah.


Perkawinan NCS dan Nonnie dikarunia lima orang anak. Dua diantaranya meninggal. Si putri sulung, Sally, mengikuti jejak kedua orangtuanya dengan menjadi pemain sandiwara. Pada tahun 1948, Sally meninggalkan dunia seni peran dan menikah. Setelah menikah, Sally dan suaminya menetap di Solo, mereka dikaruniai empat orang anak laki-laki. Salah satunya Gunawan mantan pebulutangkis Indonesia.

Sang Legenda Bulutangkis Nasional, Indra Gunawan merupakan cucu dari Njoo Cheong Seng dengan Fifi Young

Nonnie Tan Kiem Nio kemudian dikenal dengan nama Fifi Young, seorang artis yang muncul pertama kali pada 29 April 1933. Karena kecantikannya, Fifi sangat populer kala itu terutama di Malaysia.

Pasangan suami-istri itu kemudian saling mendukung karirnya satu sama lain. Sebagai sutradara, NCS menciptakan peran khusus untuk sang istri. Nama Fifi sebagai aktris pun semakin terkenal. Selain berakting, Fifi juga dikenal pandai menari. Beragam tarian baik Barat dan Timur dibawakannya dengan sempurna.

Tahun berikutnya, mereka meninggalkan Crystal Follied dan kembali ke Batavia. Oleh seorang tokoh politik bernama Nyonya Datuk Tumenggung, mereka diperkenalkan kepada kelompok Dardanella pimpinan seorang penari terkenal, Dewi Dja. Mereka kemudian berkeliling Asia. Karena ada urusan keluarga, NCS dan Fifi memutuskan untuk kembali ke Jawa. Di sana keduanya mendirikan Fifi Young's Pagoda bersama Henry L Duarte.

Pada tahun 1940, Fifi untuk pertama kalinya bermain dalam film Zoebaida kemudian Film Kris Mataram. Naskah film tersebut ditulis oleh NCS. Akting Fifi yang alami, membuat film ini sukses.

Film Zoebaida yang dibintangi oleh Fifi Young pada tahun 1940

Film Kris Mataram yang dibintangi oleh Fifi Young pada tahun 1940
Film Djantoeng Hati yang dibintangi oleh Fifi Young Tahun 1941

Selama pendudukan Jepang, pasangan suami istri itu tergabung dalam Sandiwara Bintang Soerabaja. Setelah Indonesia merdeka, NCS mendirikan kelompok baru bernama Sandiwara Pantjawarna. Dalam proses pencarian calon aktris untuk kelompok baru ini, ia kemudian mengenal Mipi Malenka yang kemudian menjadi istri ketiga NCS, setelah sebelumnya mendapat persetujuan dari istri keduanya, Fifi. Mipi dan NCS kemudian tinggal di Jakarta. Tidak berapa lama, Mipi kemudian berhenti berakting. Keduanya memutuskan untuk membuka restoran. Dari pernikahan mereka lahir seorang anak laki-laki yang diberi nama Johnny. Kehidupan perkawinan mereka berjalan harmonis sampai akhirnya Fifi Young, istri kedua NCS ikut tinggal bersama mereka. Sejak itu, perselisihan mulai mewarnai rumah tangga itu.

Karena sudah tidak kuat menanggung derita, Mipi pergi meninggalkan rumah dengan membawa anak semata wayangnya. NCS sangat menyesali kejadian itu. Dalam novelnya yang berjudul Sjorga bukan Sjorga tidak dengan Melinda ia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bertanggung jawab atas kegagalan pernikahannya. Dalam kesedihannya, ia kemudian menjual kelompok sandiwaranya kepada Djamaluddin Malik dan pergi ke Makassar untuk mencari istri dan anaknya. Sesampainya di sana, ia tak berhasil menemukan Mipi dan Johnny. Tapi ia bertemu dengan banyak teman baru, salah satunya Hoo Eng Djie.

Selajutnya, NCS akhirnya menetap di Malang, dimana ia menemukan suasana intelektual yang paling cocok. Ia kemudian bergabung dalam sebuah komunitas peranakan Tionghoa benama Tsing Fung Hsieh.

Beberapa lama kemudian, ia pun bertemu dengan Huang Lin, seorang janda muda yang bekerja sebagai guru dan aktris amatir. Huang Lin berperan sebagai ibu dalam sandiwara berjudul Malang Mignon. Tak lama setelah pertemuan itu, mereka pun menikah. Keduanya hidup bahagia, Huang Lin memberi NCS suatu kehidupan yang tenang, yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya.

NCS dan Huang Lin kemudian membuka usaha toko bunga yang diberi nama Malang Mignon. Untuk setiap pemesanan bunga, NCS memberikan sepotong syair yang pantas. Para pelanggan sangat senang dengan syair yang dibuatnya.

NCS berkali-kali meminta istrinya itu untuk berhenti mengajar, tapi Huang Lin tak mengindahkannya. Tapi pada tahun 1960, Huang Lin akhirnya berhenti bekerja. Sementara itu, kesehatan NCS mulai menurun karena sakit lever. Pada 2 November 1962, NCS merayakan ulang tahunnya yang ke 60. Hari pertambahan usianya itu dirayakannya dengan makan ala vegetarian. Rupanya, itu adalah ulang tahunnya yang terakhir. Dua minggu setelah perayaan hari lahirnya, ia jatuh sakit dan akhirnya menghadap sang Ilahi pada 30 November 1962.

Setelah NCS meninggal, Huang Lin selalu mengenang mendiang suaminya itu sebagai pribadi yang baik. Di matanya, NCS adalah pria pekerja keras. Ia sering melihat suaminya terjaga hingga larut malam bila ada ilham untuk menulis. Waktu itu, ia kebanyakan menulis cerpen untuk harian Star Weekly dan Liberty serta adaptasi cerita-ceritanya untuk film.

Kepada Huang Lin, sebelumnya NCS pernah mengutarakan keinginanya untuk membuat otobiografinya tetapi setelah dicari di barang-barang peninggalannya, ternyata tidak ada.

Bicara tentang NCS, yang sangat menarik perhatian dari seluruh karyanya adalah, ia menulis begitu banyak tempat di luar maupun di Indonesia. Bahasa Melayunya sangat baik. Dan sesudah 1945, ia menulis dengan bahasa Indonesia yang baik pada masa itu. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh pergaulannya yang luas.

Karyanya yang paling fenomenal adalah serial cerita berjudul Gagaklodra. Keistimewaan Gagaklodra adalah cara NCS mengadaptasi setiap cerita menurut daerah di mana si tokoh berada. NCS memberi informasi kepada para pembacanya mengenai kebiasaan di suatu daerah. Pada tahun 1953 Gagaklodra diterbitkan sebagai buku, kumpulan cerita selama 22 tahun eksistensinya.

Sekitar tahun 1948, novel karya NCS dimuat secara berseri pada majalah Tjilik Roman's. Pada majalah itu, ia juga menuangkan pengalaman pribadinya, salah satunya dengan istri ketiganya Mipi Malenka.

Selain membuat novelnya sendiri, ia juga menerjemahkan karya penyair lain seperti penyair Makassar peranakan Tionghoa, Hoo Eng Djie, hingga pujangga ternama dunia seperti Shakespare, Goethe, Li Tai Bo, dan Omar Khayyam. Di samping itu, NCS juga membuat pantun untuk keperluan pementasan teater.

Seperti kebanyakan penyair pada masa itu, NCS juga prihatin pada kebiasaan kaum hawa kala itu yang mulai meninggalkan adat-adat Timur, terlebih cara berpakaian. Pandangan ini memang merupakan pandangan mayoritas penulis peranakan yang merasa bertanggung jawab untuk menyampaikan prinsip-prinsip Konfusius pada pembacanya. Mereka mengingatkan kaum perempuan agar tidak menjadi terlalu modern dan meninggalkan tradisi leluhur, serta senantiasa berhati-hati pada bujukan laki-laki tak bermoral. Karena menurut NCS, hanya wanita yang dibesarkan dengan cara tradisional yang mempunyai pertahanan cukup kuat untuk menangkal bahaya modernisasi.

NCS juga menunjukkan keprihatinannya pada kaumnya, terutama kegemaran berjudi sebagian laki-laki. Uang hasil judi kemudian digunakan untuk berfoya-foya. Ia berpendapat bahwa kaum lelaki harus mengembangkan intelektualitas mereka untuk mencapai kehidupan spiritual.

Njoo Cheong Seng telah menyutradarai tidak kurang dari 8 (delapan) judul film antara lain :
  1. Tahun 1940; Film Zoebaida; (Sutradara, Penulis Cerita); Pemain (I.Martak & Fifi Young)
  2. Tahun 1940; Film Keris Mataram; (Sutradara, Penulis Cerita); Pemain (Sorip & Fifi Young) 
  3. Tahun 1941; Film Air Mata Iboe; (Sutradara, Skenario, Penulis Cerita); Pemain (Raden Ismail & Ali Yugo)
  4. Tahun 1941; Film Djantoeng Hati; (Sutradara); Pemain (Arianti & RR Anggraini)
  5. Tahun 1941; Film Pantjawarna; (Sutradara); Pemain (Mochtar Widjaya & Dhalia)
  6. Tahun 1950; Film Djembatan Merah; (Penulis Cerita); Pemain (Rendra Karno & Netty Herawati)
  7. Tahun 1951; Film Mirah Delima; (Skenario, Penulis Cerita)
  8. Tahun 1955; Film Habis Hudjan; (Sutradara, Penulis Cerita); Pemain (Chatir Haro & Peggy Oetami)
  9. Tahun 1955; Film Kebon Binatang; (Skenario , Penulis Cerita); Pemain (Chatir Haro & Nurmaningsih)
  10. Tahun 1955; Film Masuk Kampung Keluar Kampung; (Skenario , Sutradara); Pemain (Iwan & S. Poniman)

Novel karya Njoo Cheong Seng antara lain :
  1. Cerita Penghidupan Manusia.
  2. Penghidupan - (1925).
  3. Swami Yang Buta - (1923).
  4. Wali YangCurang - (1923).
  5. Penggoda - (1925).
  6. Buat Apa Ada Dunia - (1929).
  7. Bantimurung - (1932).
  8. Marisang Manukwari - (1935).
  9. Gagak Lodra series - (1938).

Naskah Sandiwara karya Njoo Cheong Seng anrata lain :
  1. Opera Miss Riboet.
  2. Opera Dardanella.
  3. Opera Bintang Surabaya.
  4. Opera Pancawarna.




Sumber : 
http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/2600-penulis-berdarah-seni

Copyright © tokohindonesia.com
Previous
Next Post »
Thanks for your comment