Tarian Klasik "Beksan Trunajaya"

Mengenal Tari Klasik "Trunajaya" yang diciptakan oleh Kanjheng Sultan Hamengku Buwono I yang terinspirasi Perjuangan Pangeran Trunajaya dari Madura yang mempunyai cita-cita untuk melanjutkan perjuangan Sultan Agung dalam membela tanah airnya melawan Belanda.

Tarian Klasik ini hampir tak dikenal oleh Seniman dan Pelaku Seni Madura karena entah belum menelusurinya atau tak menemukan diskripsi Tarian Agung tersebut.

Melalui Media "Bangkalan Memory" ini kami mencoba untuk mengangkat kembali Tari Klasik Agung ini atas kerjasama kami dengan Dinas Kebudayaan Provinsi DIY.

Diskripsi Tari Klasik Agung Trunajaya.

Disebut juga Beksan Lawung Ageng atau Beksan Lawung Gagah. Dinamakan Beksan Trunajaya karena pada zaman dahulu para penari diambilkan dari regu Trunajaya yang merupakan bagian dari pasukan (prajurit) Nyutra. Pasukan ini merupakan gudang penari waktu itu hingga sebelum perang dunia masih tampak sangat erat hubungannya dengan seni tari. Nama-nama anggota pasukan diberi nama wayang semua dan mereka masih ditugaskan melayani para penari wayang wong dalam hal membenahi para penari, melayani properties seperti senjata, dampar dan lain-lain yang digunakan dalam pagelaran. (lihat Beksan Lawung).

Beksan Trunajaya diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I. Beksan ini didasarkan menurut nama golongan abdi dalem Tarunajaya(Taruna berarti muda, dan jaya berarti menang), sesuai dengan sifat tarinya yang mempergunakan senjata lawung (semacam tombak), yang mengesankan latihan perang-perangan. Tarian ini dilakukan oleh 42 orang pelaku (menurut J. Groneman) bertempat di Kepatihan Danurejan. Pada waktu sesudah upacara perkawinan Kraton apabila Sri Sultan menantu.

Beksan Trunajaya menurut B.P.H Surybrongto diciptakan karena adanya inspirasi dari perlombaan watangani. Watangan adalah perlombaan ketrampilan antar prajurit dengan mempergunakan watang atau lawung (tongkat dengan panjang kurang lebih 3 m berujung tumpul). Sultan Hamengku Buwana I mengambil nama Beksan Trunajaya dengan maksud untuk menanamkan semangat dan jiwa dari Madura yang mempunyai cita-cita untuk melanjutkan perjuangan Sultan Agung dalam membela tanah airnya melawan Belanda). Semangat perjuangan yang mengesankan Sultan Hamengku Buwana I, sehingga salahsatu pasukannya dengan nama Trunajaya, dan sekaligus untuk menyebut Beksan ciptaannya dengan sebutan Beksan Trunajaya.

Beksan Trunajaya dengan menggunakan tongkat

Beksan Trunajaya dengan menggunakan tameng


Pementasan Beksan Trunajaya biasanya di pendapa dan membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam. Beksan Trunajaya (Lawung Ageng) ditarikan oleh 16 orang penari dengan ragam gerak gagah yang dikelompokkan sebagai berikut :
  1. Empat penari jajar dengan gerak tari ragam bapang.
  2. Empat penari lurah dengan gerak tari ragam kalang kinantang.
  3. Empat penari ploncon ( pembawa lawung) dengan ragam gerak tari kalang kinantang.
  4. Dua penari botoh dengan ragam gerak kalang kinantang.
  5. Dua orang sebagai penari salaotho (pelayan/abdi/pembantu) memakai ragam gerak bebas atau tidak kaku, sebab gerakannya mengikuti gerakan penari botoh. Selama menari, botoh membawa tongkat pendek (teken) dan salaotho membawa ampilan yaitu kotak berisi uang taruhan.


Rias dan busana yang dipergunakan adalah rias dan tradisi Yogyakarta. Busana tersebut dapat dipakai untuk membedakan karakter dan tokoh-tokoh tarinya. 

Adapun busana yang dinekanan dalam Beksan Lawung ageng adalah sebagai berikut :
  1. Botoh mengenakan : songkok narendra memakai hiasan bludiran, sumping roni, kalung, sungsuh tiga, kelat bahu, celana cindhe, kain parang rusak barong, bara, sampur teken, dhuwung branggah, buntal, ditambah tongkat atau teken untuk memberi aba-aba kepada jajar atau lurah, ikat kepala songkok.
  2. Lurah mengenakan : tepen kodhok bineset pareanom, kalung tanggalan kelat bahu ngangrangan, kaweng cindhe, celana cindhe, kain parang gurdha, bara, kamus timang, dhuwung gayaman, sampur cindhe.
  3. Jajar memakai : tepen kodhok bineset warna biru tua, kawng, kalung tanggalan, kelat bahu, celana cindhe, kain kawung gurdha, bara, kamus timang, buntal, dhuwung gayaman, ditambah klinthing.
  4. Ploncon memakai : tepen kodhok, bineset warna coklat, celana panji-panji bermotif cindhe, kain parang rusak alit atau klithik dengan cara pakai supit urang, kaweng polos, bara, buntal, kalung tanggalan sondher.
  5. Salaotho memakai celana panjang polos warna putih dan baju dengan panjang polos, kain bermotif bangpangan, membawa sapu tangan disampirkan di pundak peti atau kotak kecil berisi uang.

Karakter yang menjiwai Beksan lawung ageng untuk jajar gerakannya ekspresif, dinamis dan penuh semangat, sedangkan karakter gerak untuk lurah tenang, yakin dan pasti. Botoh sebagai pimpinan harus dapat bersikap tegas dan berwibawa. Dalam Beksan Lawung ageng digunakan bahasa campuran Madura, Melayu, Bugis dan Makasar dan Jawa. Penggunaan bermacam-macam bahasa yang berkaitan dengan hubungan kekuasaan antara kerajaan Mataram dengan kerajaan-kerajaan bawahan atau taklukan.

Beksan lawung ageng terdiri dari dua bagian yaitu bagian lawung jajar dengan menggunakan gendhing gangsangan dhawuh(masuk) gedhing ronong tawang dengan menggunakan rog-rog asem dan untuk perangan menggunakan gendhing gangsangan. Untuk maju mundurnya para penari dari pendapa sebagai arena pentas diiringi dengan lagon untuk menambah greged pertunjukan. Sedang keprak digunakan untuk aba-aba atau sebagai penanda tertentu bagi penari.

Mengenal Istilah Gamelan dan Karawitan.

Ada-ada. Bentuk lagu dari seorang dhalang, umumnya digunakan dalam menggambarkan suasana yang tegang atau marah, hanya diiringi dengan gender.

Adangiyah.
Nama dari jenis lagu rebab yang pada umumnya digunakan untuk buka terutama dalam gendhing-gendhing yang terlaras Pelog lima, nem, dan barang yang menggunakan lagu dengan notasi untuk Pelog lima 3 ....2165, untuk pelog nem 6 .....3216, dan Pelog barang dengan 2... 7 2 7 6 5, masing –masing dilagukan dua kali disambung lagunya.

Adeg.
Kedua telapak kaki secara datar menapak lantai, dengan tidak ada kelanjutan tari.
Alok. Suara orang (biasanya pria) dengan nada bebas tetapi sudah tertentu penempatannya dimasukan di dalam lagu gendhing. Hake, lo lo lo, huak, dan lain-lain.

Ambah-ambahan.
Tempat berpijaknya suatu nada dalam suatu lagu atau gendhing. Contoh amabah-ambah rebab, sindhen, berkisar pada nada gedhe.

Anawengi.
Alat untuk mengangkut gamelan dengan cara dipikul oleh 2 sampai 4 orang. Ancak ini dibuat dari papan kayu berbentuk persegi panjang dengan diberi tali untuk mengkaitkan alat pemikul.

Ancak.
Alat untuk mengangkut gamelan dengan cara dipikul oleh 2 sampai 4 oarng. Ancak ini dibuat dari papan kayu berbentuk persegi panjang dengan diberi tali untuk mengkaitkan alat pemikul.

Ancer.
Semacam titik yang terletak di bagian atas pencu. Ancer sesungguhnya bekas tempat jarum bubut, karena untuk menghaluskan kenong atau bonang atau kempul biasanya dengan jalan dibubut.

Anggong.
Orang yang bertugas mengatur gamelan bila sedang diadakan pertunjukan.

Angkatan.
Permulaan atau awal dari suatu bentuk lagu. Misalnya angkatan lagu atau tembang Pocung dimulai dari nada tiga, umumnya untuk sebutan di dalam vokal.

Ayak-ayakan.
Suatu bentuk gendhing dimana jumlah kenongan, kempul, serta gong tidak tertentu. Pada umumnya sebelum akhir gendhing tidak menggunakan gong ajeg.

Ayun-ayun.
  1. Sejenis Wulang Sunu diciptakan oleh Kiai Abdulaan dari desa Grabag (daerah Temanggung). Perunjukan Ayun-ayun yang dipentingkan adalah pembacaan-pembaaan selawat Nabi dalam bentuk tembang. Gerak tarinya dengan posisi duduk, dan hanya kepala yang digerakan serta badan meliuk-liuk saja.
  2. Nama gendhing, biasanya laras pelog, yang digunakan untuk mengiring tari Golek Ayun-ayun, diciptakan oleh Sasminta Mardawa dari Yogyakarta.


Balunganing Gendhing.
Kerangka dari suatu gendhing dan meliputi wilayah nada-nada gendhing sedang dimainkan.

Bantalan.
Benang yang dibalut dengan kain sebesar ibu jari digunakan sebagai alas bilahan gambang. Ada kalanya bahan ini berupa ijuk yang dibalut kain.

Bapangan.
Instrumen gamelan jenis pencon tetapi yang dibuat mengkilat yaitu dengan cara dikikir pada bagian pencurai dan recep.

Barang.
Nama nada di dalam gamelan. Untuk pencatatannya bisa diganti dengan angka 1 untuk laras slendro dan 7 untuk laras pelog.

Barang Miring.
Nama larsa gamelan di mana laras bakunya slendro, tetapi pada vokal atau suara rebab dicampur dengan laras-laras vokal pelog.

Bawa Swara.
Suatu teknik tembang yang dipergunakan untuk memulai atau mengawali satu gendhing yang pada umumnya dilakukan oleh seorang pria.

Bem.
Nada gamelan pelog dengan nada angka satu, istilah umum di daerah Yogyakarta.

Bendha.
Tabuh (alat pemukul) gender dan gambang. Bendhe. nama instrumen bentuknya seperti kempul tetapi kecil.

Besalen.
Tempat membuat gamelan yang didalamnya terdapat tungku untuk alat pengecor gangsa yaitu bahan baku dari gamelan perunggu (campuran dari tembaga dan timah putih )

Bliu Tau.
Cara belajar memainkan salah atu instrumen gamelan misalnya rebab tetapi tanpa metode yang benar, umumnya hanya dengan mendengarkan kemudian menirukan.

Blimbingan.
Bentuk bilahan atau batang saron, gender yang berpenampang trapesium. Selain tersebut di atas ada juga bonang, kenang japan yang bersegi banyak seperti gamelan pelog RII Yogyakarta yang berasal dari zaman Sultan Hamengkubuwono VIII.

Blumbangan.
Bentuk warangka yang pada bagian tertentu melengkung. Bagian itu dinamakan blumbangan karena seperti blumbangan (kolam).

Bonang.
Instrumen jenis pencon yang disusun horisontal terdiri dua deret yang diletakkan di atas tali pluntur yang direntangkan pada rancakan. Untuk Yogyakarta masing-masing deretan jum,lahnya 5. Jumlah seluruhnya 10 pencu. Untuk laras Pelog jumlah seluruhnya 14 pencu.

Bonangan.
  1. Teknik di dalamnya cara memainkan instrumen bonang.
  2. Bentuk jenis gendhing di mana yang memegang peranan adalah instrumen bonang. Misalnya dalam hal memulai gendhing. dalam jenis gendhing bonangan ini tidak menggunakan instrumen rebab, gender, gambang. Untuk daerah Yogyakarat digunakan istilah soran.


Barung Bonang.
Bonang yang bertugas memimpin melodi dalam lagu atau gendhing.

Panembung Bonang.
Jenis bonang yang nadanya paling rendah dan bentuknya paling besar di antara bonang-bonang lainnya.

Penerus, Bonang.
Jenis bonang yang bentuknya paling kecil dan nadanya paling tinggi diantara bonang-bonang lainnya.

Bubaran.
Bentuk gendhing yang terdiri dari 16 balungan pokok dalam satu gong. Tiap empat balungan poko disertai pukulan kenong, balungan pokok yang ke-6,10 dan 14 disertai pukulan kempul, sedangkan pada balungan pokok yang gasal disertai pukulan kethuk 7 5 7 6 7 5 7 6 7 5 7 6 3 5 6 7 balungan pokok.

Buka.
lagu yang dibunyikan untuk mengawali dan sebagai tanda dimainkan suatu gendhing. Instrumen yang biasa dipakai untuk buka ialah gender, rebab,bonang dan kendhang.

Bumbungan.
Bumbungan bambu atau seng yang dibentuk bulat mirip tabung dengan tinggi sekitar 60 cm, yang dipasang berderet urut dari yang besar sampai yang kecil yang dipasang di dalam rancakan gender sebagai resonator. Jumlah bumbungan ini sesuai dengan banyaknya bilahan gender, slenthem. Untuk gender umumnya berjumlah 13 sampai 14 buah.

Buntar.
Bagian punggung dari bilahan pada saron, gender, slenthem dan yang lain berbentuk bilahan. Bagian buntar ini tempat mengkikir bilah-bilah itu sedang dilaras.

Cakepan.
Kalimat yang dipergunakan oleh Vokalis di dalam suatui lagu atau gendhing umumnya berupa bentuk tembang, mungkin juga ciptaan baru yang bentuknya bukan dari tembang, misalnya di dalam suatu gendhing yang sudah ada tetapi diciptakan lagu dengan cakepannya.

Cakilan Rebab.
Semacam paku dari kayu yang menancap pada bagian bawah dari rebab pada popor ngisor sebagai tempat mengkaitkan dawai.

Calung.
Instrumen gamelan yang dibuat dari bambu yang direntangkan berjajar dengan tali pada bagian atas dan bawah dari yang kecil sampai yang besar. Suara calung ini mirip dengan gambang dan sangat terkenal di daerah Banyumas.

Cemengan.
Bentuk pencon di mana semua bagian tidak dikikir sehingga warnanya tetap hitam. Bentuk cemengan ini umumnya pada instrumen jenis gong ageng atau gong suwukan

Centhe.
Nama instrumen saron yang paling kecil nadanya, umumnya untuk menyebut jenis gamelan barut Istilah ini umumnya digunakan di pedesaan.

Clempung.
Nama instrumen golongan instrumen petik.

Cluring.
Nama instrumen yang bentuknya seperti mangkuk yang diletakkan di atas rancakan

Cokekan.
Susunan instrumen gamelan yang terdiri dari siter, slenthem, kendhang batangan, gong kemodhong. Cokekan ini umumnya dimainkan secara berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Di Yogyakarta disebut gembrotan.

Coklekan.
Gerak tekukan kepala ke samping kiri atau kanan pada tari gaya Yogyakarta.

Congklang.
Gerak tari pada tari kuda kepang mirip dengan gerak drap (lihat drap), tetapi kakinya lurus tidak ditekuk, iramanya agak pelan daripada drap.

Dados.
Suatu gendhing yang beralih ke gendhing lain dengan bentuk yang sama, misalnya Ladrang Sembawa dados Ladrang Playon.

Daga.
Bagian di atas watangan) yang berbentuk bulat kerucut dan berkerat-kerat, di bagian atas dan bawah terdapat lubang tempat masuknya semat (kupingan) suara untuk masing-masing dawai.

Dhawah.
Sejenis gendhing yang berbunyi karena bawa

Dhendha.
Tabuh (alat pemukul) kempul, gong dan bendhe.

Dhendhan.
Kayu bulat yang terletak pada kanan dan kiri bagian atas rancakan gender dimana ada lubang untuk memasukkan pluntur sebagai tali untuk merentangkan bilahan gender. Dhendhan ini merupakan alat pengencang pluntur. Di daerah Yogyakarta ada yang mirip bentuk nisan (dhendhan kijingan).

Dhendhan Kijingan.
Sama dengan dhendhan umumnya digunakan di daerah Yogyakarta ada yang mirip bentuk nisan

Dhodhog.
Nama instrumen bentuknya seperti bedhug , tetapi yang ditutup dengan kulit hanya satu sisi saja, sehingga sisi yang lain tetap terbuka. Dhodhog sering pula disebut drodhog atau jedhor.

Dhong-Dhing.
Di dalam irama gamelan terdapat sabetan matra, dimana pada hitungan pertama jatuh pada sabetan matra yang ringan disebut jatuh dhing, dan pada jatuhnya sabetan matra yang berat (kedua) disebut jatuh pada dhong.

Dhong Gedhe.
Susunan notasi dari gamelan selalu terdiri dari empat deretan nada yang disebut satu gatra. Pada hitungan kedua disebut jatuh pada dhong cilik, dan pada hitungan ke empat disebut jatuh pada dhong gedhe.

Dijuluk.
Cara untuk menaikkan nada pada gamelan. UIntuk jenis bilahan dengan cara pada bagian buntar dikikir sedikit demi sedikit sehingga nada yang dikendaki, sedang untuk instrumen jenis pencon yang dikikir adalah bagian pencu, dan untuk jenis gong dengan cara pencu bagian dalam didhedheg.

Gambang.
Nama instrumen, bentuknya bilahan dan dibuat dari kayu. Gambang mempunyai 21 bilahan dengan 5 nada yang terdiri dari 5 oktaf, yaitu 5 6 1 2 3 5 6 1 2 3 5 6 1 2 3 5 6 1 2 3 5.

Gambang Kayu.
Instrumen gamelan dengan bilah-bilah dari kayu yang jumlahnya 17 sampai 21 bilah, mirip dengan cyclophone pada musik barat. Bilah-bilah itu diletakkan di atas grobogan, dengan diberi paku sebagai pengencangnya. Di dalam gamelan gambang merupakan instrumen yang paling banyak mempunyai nada-nada. Bilah gambang yang baik dibuat dari jenis kayu selangking barlean, kalanggi dan gembuk. Gambang dipukul dengan dua buah alat pemukul yang berbentuk bundar dengan tangkai pemegang dari tanduk kerbau yang dikecilkan sehingga dapat meluntur.

Gamelan Barut.
Jenis gamelan yangbahannya dibuat dari besi, umumnya dari besi plat untuk saron dan gong dibuat dari drim bekas tempat minyak tanah.

Gamelan Gadhon.
Susunan instrumen gamelan yang dimainkan secara tidak lengkap, instrumennya terdiri dari kendhang, ciblon, gender, barung, rebab, gambang dan gong kemodhong, ada kalanya memakai suling.

Gamelan Gedhe.
Susunan gamelan yang lengkap. Istilah ini pada umumnya untuk menyebut gamelan yang dibuat dari perunggu. Gamelan gedhe ini terdiri dari dua laras, slendro dan pelog.

Gamelan Klenengan.
Sama dengan susunan gamelan gedhe.

Gamelan Krumpyung.
Seperangkat gamelan yang semua instrumennya dibuat dari bambu. Gamelan macam ini banyak ditemukan di daerah Wates Yogyakarta.

Gamelan Kuningan.
Jenis gamelan yang bahannya dibuat dari kuningan, umumnya dari pipa kuningan beksa yang tebalnya ¼ cm.

Gamelan Senggaden.
Jenis gamelan yang berbentuk kecil-kecil, kenong, kempul, gong, bonang semuanya direnteng ini sama dengan laras gamelan gendho. Karena bentuknya yang ringkas, gamelan ini dapat dimasukkan ke dalam kotak.

Gamelan Wayangan.
Seperangkat gamelan yang digunakan untuk mengiringi wayang kulit purwa dan wayang gedhog. Untuk iringan wayang kulit purwa menggunakan gamelan laras slendro, sedangkan wayang gedhog menggunakan iringan gamelan pelog. Dahulu susunan instrumen pengiring wayang purwa terdiri dari sebuah rebab, satu kedhang wayangan, slenthem, suling, kethuk, 3 buah kenong, 3 buah kempul, 1 buah gong suwukan, 1 buah gong ageng, 1 demung, 1 saron penacah dengan bilah sembilan dan 1 buah peking kecer.

Gangsa.
Bahasa halus (krama) dari gamelan. Istilah ini diambil dari kata tembaga dan rejasa yang disingkat menjadi ga dan sa, kemudian berubah menjadi gangsa, karena bahan pokok dari gamelan itu berhasil dari campuran tembaga dan rejasa (timah putih), dengan perbandingan 3 dan 10 (tiga lan sedasa).

Gangsaran.
Bentuk gendhing yang terdiri dari 8 balungan pokok dalam sebuah rana.

Pembukaan Gending Tari Trunajaya
Gending Tari Trunajaya
Lanjutan Gending Tari Trunajaya


Catatan :
Perbedaan antara Beksan Trunajaya dengan memakai Tongkat itu menunjukkan kemahirannya memainkan tongkat (klo dijepang Boshido). Sedangkan Beksan Trunajaya yang memakai tameng adalah kemahiran Pasukan dalam seni bertahannya... [DI]


by doink

Copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945


0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: