Beban Sejarah dari Keinginan Membentuk Negara Madura

Dalam menjelaskan mengapa beberapa pemimpin lokal Madura seperti Cakraningrat memiliki keinginan untuk mendirikan Negara Madura yang terlepas dari negara RI yang berpusa di Jawa, sebenarnya dapat dijelaskan dalam hubungannya antara penguasa Madura dan Jawa (khususnya Mataram) pada masa kerajaan. Meskipun secara geografis wilayah Madura terpisah dengan Jawa, namun secara politis Madura pada jaman kerajaan selalu berada di bawah kerajaan kerajaan besar di Jawa terutama Mataram. Madura pada waktu itu bukanlah sebagai wilayah yang bebas dari kekuasaan Jawa bahkan harus tunduk pada kekuasaannya.

Ketakutan terhadap dominasi Jawa ini rupanya menjadi beban sejarah yang terus teringat oleh para pemimpin lokal Madura, ketika ia harus memilih menuruti keinginan Belanda untuk memisahkan diri dengan membentuk negara sendiri terpisah dari RI atau memilih bergabung dengan RI sebagai negara kesatuan yang juga berpusat di Jawa. Dengan kata lain masalah Jawanisasi menjadi pertimbangan ketika mereka harus memutuskan untuk masalah ini.

Konflik antara pemimpin di Madura dengan penguasa di Jawa pada masa kerajaan seringkali terjadi. Ketika wilayah Madura di kuasai oleh kerajaan Mataram, selain sebagai wilayah yang tidak bebas juga banyak dibebani oleh berbagai penyerahan dan pajak yang sangat tinggi. Beban penyerahan wajib tersebut tidak mustahil menjadi penyebab utama mengenai sikap penguasa Madura seperti Trunajaya, Cakaraningrat II, Cakraningrat III, dan  Cakraningrat IV untuk berusaha melepaskan diri dari kekuasaan yang ada di Jawa (Mataram) (Kasdi: 253 -254).

Tindakan untuk memisahkan diri para penguasa Madura dari dominasi ikatan kerajaan Mataram itu tidak lepas dari kondisi sosial ekonomi di pulau itu. Meskipun secara geografis hampir seluruh Madura terdiri dari tanah kapur sebagai bagian dari pegunungan kapur utara di bagian Utara Jawa Timur, tetapi tampaknya pada awal abad ke -l8 Madura merupakan pulau yang makmur. Hal ini terbukti di pulau ini terdapat tidak kurang dari lima kota yang kehidupan sosial, ekonomi, dan budayanya bila dibandingkan  perkembangan beberapa kota di Jawa kondisinya tidak jauh berbeda.

Beban sejarah kedua yang memiliki pengaruh besar bagi beberapa pemimpin lokal Madura lebih tertarik untuk mengadakan kerjasama dengan Belanda dan mau untuk mendirikan negara sendiri dari pada bergabung dengan RI yang ada di Jawa adalah hubungan yang sudah dilakukan keduanya selama itu.  Dalam sejarah ketika mereka konflik dengan penguasa Jawa, maka pemimpin Madura akan memilih alternatif untuk minta bantuan Belanda. Kerjasama antara Belanda dengan pemimpin Madura salah satunya dapat dilihat pada organisasi militer yang dikenal dengan nama Barisan Madura. 

Organisasi barisan ini merupakan suatu pasukan militer yang keberadaannya diterima dengan adanya hubungan militer antara penguasa Madura dengan Belanda. Sejarah aliansi militer antara Madura dan Belanda dimulai pada tahun-tahun awal Belanda masuk ke Madura. Pada saat itu pula kebetulan kerajaan -kerajaan Madura sedang berusaha untuk melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan Mataram. Usaha ini mendapat respon positif dan perlindungan dari Belanda. Sebagai gantinya maka kekuatan-kekuatan militer Madura diminta untuk mendampingi Belanda selama menghadapi berbagai pemberontakan, seperti Perang Diponegoro, Perang Bone, Perang Paderi, Perang Bali, dan perang -perang lainnya (Kuntowijoyo, 1988:144).

Atas penghargaan dalam membantu perang ini maka pemerintah kolonial sering memberikan penghargaan kepada sultan dan keluarganya. Bahkan, karena sangat cintanya kepada Belanda beberapa sultan ketika meninggal dunia berwasiat agar jenazahnya ditutupi dengan bendera Belanda (Wiryoprawiro, 1986:29).


Sumber :
Abdurachman, Sejarah Madura Selayang Pandang (Sumenep: tp, 1971)


0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: