Sekilas Tentang Kediaman RA Sosrodiningrat di Saksak Kelurahan Kraton Bangkalan

Sejak era Pangeran Cakraningrat lV yang mengadakan perlawanan pada Pemerintahan Hindia Belanda sampai dengan Pemerintahan Pangeran Tjakraningrat V yang pusat pemerintahan atau kratonnya terletak di Asrama Kodim Sekarang. Kompeni Belanda selalu curiga atas adanya kegiatan-kegiatan yang ada di Kraton Bangkalan tersebut.

Ketika Sultan Raden Abdul Kadirun memerintah Bangkalan menggantikan ayahandanya, Sultan Abdurahman atau yang dikenal dengan sebutan Pengeran Tawang Alun pada tahun 1815-1847, untuk mensiasati pergerakan Belanda yang selalu mengintai dan memata-matai kegiatan dalam keraton maka dilakukan siasat dengan cara dibangunnya Kraton-Kraton kecil sebagai tempat tinggal Pangeran atau Pembantu Raja yang mempunyai jabatan tertentu di kraton induk. Saat itu di antaranya rumah tempat tinggal RA Sosrodiningrat yang berada di kampung Pandhighung Saksak Bangkalan, keraton-keraton kecil juga tersebar di Kampung Rong Tengah yang ditempati Pangeran Adipati Pakuningrat, Kampung Dalem Barat, Kelurahan Pangeranan, Kampung Timur Pasar (pasar lama) yang ditempati pemimpin perang.


Bangunan RA Sosrodiningrat yang dibangun pada tahun 1700-an atau abad ke 18 berada di lokasinya berada di Jalan Letnan Ramli. Bangunan ini terdapat lambang "cakra" di atas pintu yang menandakan bahwa bangunan tersebut merupakan situs Keraton (bagian dari keraton), sebab lambang "cakra" tidak sembarang ada di setiap bangunan, tapi merupakan ciri khas dari Kerajaan Tjakraningrat yang merupakan merupakan tempat Pangeran RA Sosrodiningrat yang merupakan penasihat Raja Bangkalan kala itu sehingga di daerah tersebut dikenal dengan nama "Kampung Pandigong" dimana tempat untuk memberikan suatu keputusan.


Kediaman tersebut sebelumnya merupakan kediamannya Istri Selir dari Sultan R. Abd. Kadirun yang bernama Ratu Wetan (Rd. Ayu Saina) dimana yang di pasrahi tanggung jawab menjaga Ibu Ratu tersebut adalah RA. Sosrodiningrat yang juga merupakan penasihat Raja Bangkalan kala itu.




Namun sayang bangunan kokoh yang penuh sejarah tersebut tidak bertahan lama karena kini telah rata dengan tanah akibat kurang kepedulian Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam menjaga dan melestarikan peninggalan para leluhur kita. Sedih memang... Bagaimana kita harus menceritakan tentang kejayaan raja-raja Bangkalan kala itu pada anak cucu kita, sedangkan bukti-bukti yang ada sudah dimusnahkan akibat dari kelalaian kita dalam menjaga dan merawat peninggalan sejarah yang berdampak pada hilangnya nilai sebuah history bagi kehidupan kita.  (Indra)



Share:

0 komentar:

Posting Komentar

MY SPIRIT

http://bangkalanmemory.blogspot.com

DAFTAR ISI

MY SPONSOR

http://bangkalanmemory.blogspot.com

SAHABAT KINASIH