Bangkalan Akhir Abad Ke 15

Sebagaimana diceritakan Kiai demang dari Sampang datang ke Palakaran, Arosbaya dan mendirikan kerajaan disana. Yang mengganti Demang ialah puteranya yang bernama Pragalbo yang bergelar Pangeran Palakaran juga berkeraton dikota Anjar.


Daerah kerajaan ini makin lama makin meluas dan rakyat sangat patuh terhadap rajanya, Kiai Pragalbo mempunyai tiga orang isteri, dari isteri yang ketiga, mempunyai anak yang bernama kiai Pratanu yang kelak menggantikan ayahnya, ia sangat dicintai oleh ayah dan ibunya sehingga ia boleh mendirikan rumah sendiri.

Pada suatu malam Pratanu bermimpi didatangi orang yang menyuruh ia supaya memeluk agama Islam, sedangkan guru yang dapat memberi pelajaran agama ialah Sunan Kudus. Ia sangat terpengaruh oleh mimpinya itu, tujuh hari setelah itu ia bermimpi lagi yang pada prinsipnya sama dengan mimpi yang semula.

Keesokan harinya ia terus mnejumapai yah dan ibunya menceritakan tentang pa yang dialaminya, Pragolbo terus memanggil patihnya yang bernama Empu Brageno dan disuruh pergi ke Kudus untuk mempelajari agama baru itu. Tak lama Bageno berangkat ke Kudus untuk memenuhi perintah Rajanya, untuk mengetahui Agama baru itu secara mendalam, maka setelah Bageno menghadap Sunan Kudus ia mengatakan bahwa dirinya adalah utusan dari Arosbaya untuk memeluk Agama islam. Dengan senang hati Sunan kudus menerima Bageno sebagai santrinya, dengan memulai pelajaran ia suruh mencukur rambut jenggot, dan kumisnya serta memotong kuku-kukunya yang panjang, setelah itu ia mulai mendapat pelajaran yang pertama ialah dengan mengucapkan “Kalimat Syahadat“ sesudah itu mendapat pelajaran rukun Islam dan terus rukun Iman.

Setelah selesai Bageno meminta ijin kepada Sunan Kudus untuk meminta ijin pulang ke Arosbaya, dengan mendapat pesanan dari gurunya supaya menyebarkan agama barunya itu didaerah asalnya, setelah kembali ke Arosbaya Bageno terus menghadap Pratanu diceritakan segala sesuatu yang ia alami dan yang dipelajari. Pratanu menjadi marah karena Bageno terlebih dulu memeluk Islam akan tetapi setelah Bageno menceritakan sebab-sebabnya ialah tidak akan mengetahui secara mendalam jika ia tidak memeluk agama baru itu maka menjadi redalah kemarahan Pratanu.

Pratanu lalu mempelajari Agama baru itu ia sangat tertarik dan ia lalu memeluk Agama Islam, meskipun ia mempelajarinya sedikit demisedikit, setelah Raja Pragalo mencapai usia tinggi dan mulai sakit-sakitan putera Raja itu menganjurkan agar ia memeluk Islam, pada suatu hari penyakitnya makin keras dan puteranya menganjurkan lagi untuk memeluk Agama Islam, tetapi hanya dijawab dengan anggukan kepala lalu ia terus meninggal dunia karena itu Pangeran Pragolbo di Arosbaya disebut  “Pangeran Islam Onggu “.

Pragolbo meninggal dunia pada tahun 1531 dan yang mengganti sebagai Raja Arosbaya ialah Pratanu dengan gelar Panembahan Lemah Duwur, ia mendirikan keraton baru yang disebut keraton Arosbaya selain itu ia juga mendirikan mesjid pertama di Arosbaya, dengan demikian Arosbaya mempunyai wajah baru sehingga kemakmuran rakyat semakin terasa, Lemah Duwur dengan perkawinan Puteri Payang memdapatkan putera dan puteri sebagai berikut :

1.    Pangeran Sidhing Gili, yang memerintah di Sampang
2.    Raden Koro, gelar Pangeran Tengah di Arosbaya
3.    Pangeran Blega, memerintah di Blega
4.    Ratu Mas Pasuruan
5.    Ratu Ayu

Dengan selirnya Lemah Duwur juga mempunyai putera dan puteri. Pada ahirnya dalam tahun 1592 Lemah Duwur meninggal dunia di Arosbaya setelah bertamu ke Pamekasan ialah ke Ronggo Sukawati (baca di Ronggo Sukawati).





Dikutip dari :
Buku Selayang Pandang Sejarah Madura
Oleh :
DR. Abdurrahman


Previous
Next Post »
Thanks for your comment