Pemerintahan Cakraningrat III Dan Cakraningrat IV

Tahun 1680 setelah perang Trunojoyo selesai dan Madura terbagi menjadi dua maka Cakraningrat II memindahkan keratonnya dari Sampang ke Tonjung daerah Bangkalan. Kemudian ia kembali lagi ke Mataram dan bersama-bersama Jangrono dari surabaya bersama-bersama memimpin kemiliteran disana.

Sewaktu Amangkurat II meninggal dunia dan diganti Amangkurat III dan bergelar Sunan Mas, maka Cakraningrat II dilantik menjadi Bupati Wadono (Bupati dibawah pimpinan di Bangwetan). Sesudah itu Cakraningrat II dan Jangrono mendapat perintah dari sesuhunan untuk membasmi kompeni membantu pemberontakan Suropati, setelah tugas itu selesai Cakraningrat II kembali ke Madura tetapi sampai di Kamal menderita sakit dan ahirnya meninggal disana karena itu disebut juga Panembahan Siding Kamal, setelah itu Madura Barat dipimpin oleh cakraningrat III.

Adikoro I melawan Cakraningrat III.
Cakraningrat III mempunyai menantu yang bergelar Adipati ario Adikoro I yang berkuasa di Pamekasan, pada suatu waktu timbul pertengkaran suami isteri keluarga Adikoro dan akhirnya sang isteri pulang ke Bangkalan rumah ayahnya.

Tidak lama kemudian adikoro datang menghadap ayah mertuanya dan meminta untuk membawa isterinya ke Pamekasan permintaan itu ditolak oleh Cakraningrat III sehingga Adikoro I pulang dengan tangan hampa. Sesampainya di Pamekasan ia menyusun kekuatan untuk memberontak kepada ayah mertuanya, setelah Cakraningrat III mendengar akan ada pemberontakan maka ia memerintahkan adiknya Tumenggung Susroadiningrat untuk menumpas pemberontakan menantunya tetapi ternyata adiknya memihak kepada Adikoro I.

Setelah Cakraningrat III mendengar perisriwa ini ia segera meminta bantuan ke Bali, pada saat itu diterima Patih Cokrojoyo (Pepatih dari sesuhunan Pakubuwono I) yang sedang berada di Surabaya untuk membantu dia dan Kompeni yang menghadapi pasukan Adipati Joyopuspito.

Cakraningrat III membalas surat itu dan tidak dapat datang ke Surabaya karena ada pemerontakan didaerahnya, tetapi oleh Susroadiningrat berita itu dibalik bahwa sebetulnya saudaranya itu tidak bisa datang ke Surabaya karena sedang membantu Joyopuspito, patih Cokrojoyo mempercayai laporan Susroadiningrat, karena itu ia mengeluarkan surat keputusan kalau Susroadiningrat diangkat menjadi Bupati Madura menggantikan saudaranya dan bergelar Cakraningrat IV.

Cakraningrat III setelah mengetahui ia menyingkir kekapal Kompeni beserta seluruh keluarganya, isteri Cakraningrat III diantarkan kedepan kamar kapal yang sudah disediakan oleh kapten kapal, juga diberi kehormatan dengan dikecup tangan isterinya, tetapi ia tidak mengerti bahwa itu adalah sopan santun, lalu sang isteri menjerit, Cakraningrat III mendengar jeritan isterinya dan ia langsung mengambil keris terhunus dan ditusukkan kepada si kapten kapal, Kapten kapal itu tewas, tetapi ahitnya Cakraningrat III tewas juga karena itu ia juga disebut Pangeran Siding Kapal (Pangeran yang meninggal di atas kapal 1).

Perjuangan Cakraningrat IV sampai di buang ke Kaap de Goede Hoop.
Setelah Cakraningrat III meninggal dunia (1718) maka adiknya yang bernama Susroadiningrat dengan bergelar Pangeran Cakraningrat IV sepenuhnya memegang pimpina di bagian Madura Barat. Keratonnya dipindah dari Tonjung ke Sembilangan.

Beberapa tahun lamanya pemerintahan berjalan lancar, kejadian di Jawa mempengaruhi lagi jalannya pemerintahan di Madura dalam tahun 1740 di Batavia terjadi pembunuhan-pembunuhan terhadap orang-orang Cina diseluruh Pulau Jawa  sehingga timbullah pemberontakan. Kaum pemberontak Cina juga memasuki keraton sesuhunan Pakubuwono II sehingga Sesuhunan menyingkir ke Ponorogo.

Raden Mas Garendi cucunya dari Sunan Mangkurat Mas, yang dibuang ke Ceylon oleh kompeni di angkat menjadi Raja Tanah Jawa oleh kaum pemberontak, dan diberi gelar Sesuhunan Amangkurat V atau Sunan Kuning Pakubuwono II yang mengungsi minta kepada Kompeni agar mengusir Sunan Kuning dari keraton Kartasura dan meminta bantuan Cakraningrat IV.

Cakraningrat IV bersedia melaksanakan asal saja kalau menang supaya pulau Jawa sebelah Timur Gunung Lawu dimasukkan kedalam pemerintahannya, Kompeni menyanggupinya karena itu Cakraningrat IV mengirim pasukannya dengan dipecah dua pasukan yang pertama dibawah Komando Joyosudiro, Sirnomenggolo menuju ke Madiun dan pasukan yang kedua dibawah komando Wasingsari melalui Pesisir Utara, pasukan Madura yang menuju Madiun singgah kepada PakubuwonoII dan diminta bersama-sama mengusir Sunan Kuning dengan pasukan Cinanya, Sunan Kuning benar-benar dapat dikalahkan dan melarikan diri ke Kedu.

Pakubuwono II lalu meminta supaya pasukan Madura kembali ke posnya, meninggalkan keraton Kertasura dalam hal ini Cakraningrat IV mula2 tidak setuju sebelum Kompeni memenuhi janjinya, atas diplomasil Kompeni ahirnya pasukan Mdura ditarik ke Kartasura tetapi apa mau dikata Kompeni tetap main janji belaka.

Cakraningrat IV mengirimkan Puteranya Sosrodiningrat dan Ronodiningrat kepada Kompeni ke Batavia tetapi kedua puteranya itu tidak membawa hasil, karena kesalahan itu Cakraningrat IV membawa pasukannya menyerang Sumenep dan Gresik, pasukan yang dikirim ke Sumenep dipimpin oleh Susrodiningrat dan Sumenep tidak dapat bertahan Bupatinya ialah Pangeran Cokronegoro IV (Raden Alza) lari ke Surabaya olah karena itu ia juga disebut Pangeran Lolos, oleh Kompeni ia dapat dikembalikan lagi ke Sumenep.

Selanjutnya Pangeran Cakraningrat IV diserang oleh Kompeni yang mendarat di Nyamplong dan dari Timur dibantu oleh pasukan dari Sumenep dan Pamekasan. Meskipun demikian pasukan Cakraningrat IV yang dipimpin oleh Susrodiningrat dan Wirodiningrat (putera-putranya) dan dibantu oleh Joyopramia, Wasingsari, dan Joyosudiro dapat memukul pasukan-pasukan gabungan dari musuhnya.

Tetapi Kompeni mendatangkan bantuan dari Batavia, pertempuran berjalan terus pasukan Madura (Cakraningrat IV) mundur kedesa Klampis, satu persatu pimpinannya gugur. mula mula Joyopramia, dan Joyosudiro gugur setelah itu pasukan gabungan lebih memperhebat serangannya, maka Wasingsari juga gugur sehingga pasukan Madura menjadi lemah .

Akan tetapi kedua pemimpin pasuka ialah putera-putra Cakraningrat sendiri tetap bertahan meskipun serangam musuh bertubu–tubi, berita kekalah itu didengar sendiri oleh Pangeran Cakraningrat IV dan ia merasa sangat terharu sehingga ia menyuruh puteranya Surodiningrat yang menjadi Bupati di Sedayu untuk menyerah Kepada Kompeni maksudnya agar Madura masih dipercayakan kepada puteranya yang mnyerah itu agar Pulau ini tidak langsung diperintah oleh Kompeni. Cakraningrat IV terus menyingkir ke Banjarmasin beserta membawa putera2 nya termasuk Susrodiningrat dan Ronodiningrat.

Kompeni terus memasuki keraton Sembilangan, meskipun keraton itu tetap dapat dipertahankan oleh rakyat Madura, sesudah itu pada tahun 1745 Bupati Sedayu (putera Cakraningrat IV yang menyerah) diangkat menjadi Bupati di Madura dengan gelar Raden Adipati Setyoadiningrat .

Setelah penyusunan pemerintahan di Madura selesai, maka Kompeni terus mengirimkan kapal perangnya ke BanjarmCakraningrat IV, sesudah itu ia tertangkap ia terus dikirik ke Kaap de Goe de Hoop dan diasingkan kesana. Cakraningrat IV meninggal disana dalam tahun 1753 sehingga disebut Panembahan Sidingkap.

Kedua puteranya ialah Sosrodiningrat dan Ronodiningrat oleh Kompeni dibuang ke Ceylon, dalam tahun 1747 keraton Sembilangan di pindah ke Bangkalan. Di dekat keraton inilah Kompeni mendirikan benteng dengan maksud agar jangan sampai keluarga kerajaan Maduranberontak lagi kepada Kompeni. Dalam tahun 1753 Setyoadiningrat mendengar bahwa ayahnya telah meninggal di Kaap de Goede Hoop ia terus menjumpai Kompeni dengan permintaan  supaya jenazah ayahnya dapat dibawanya ke Bangkalan, Kompeni mengaulkannya dan jenazah Cakraningrat IV di makamkan di Aermata (daerah Arosbaya).


Dikutip dari :
Buku Selayang Pandang Sejarah Madura
Oleh :
DR. Abdurrahman




Previous
Next Post »
Thanks for your comment