"Pangeran Musyarif" Penyebar Agama Islam Di Madura Barat

Seperti kita ketahui bersama bahwa pemerintahan pada waktu itu bermula dari Plakaran yang tidak jauh tempatnya dengan Arosbaya sekarang. Pada waktu itu Raja/penguasanya ialah kyai Demang, seperti pada silsilah setelah ia meninggal digantikan putranya yang bernama kyai Pragalbo ke Arosbaya yang pada waktu itu bernama kota Anyar, dan sebagai penguasanya ialah R. Pratanu yang bergelar Panembahan Lemah Duwur.



Panembahan Lemah Duwur menggantikan ayahnya pada tahun Candra Sengkala “Sirna Pendawa Kertaning Negara“ yang diartikan tahun Cakra 1450, hal ini diperkuat pemberitaan menurut Geedenbook yang isinya sebagai berikut ;

Het Java jaar 1450, wartderhalve door devolgende senkolo : Sirno Pendowo kertaning Negoro. (deer wernietieging der pendowo’s kwam hetrijk tet welvaart).

Pada tahun 1450, dibuat oleh sangkala, kelanjutannya disebut : Sirno Pendowo Kertaning Negoro (dengan menghilangnya pendowo daerah menjadi makmur)

Seperti diceritakan diatas setelah kyai pragalbo wafat digantikan putranya yaitu R. Pratanu dengan panembahan Lemah Duwur, yang jauh sebelumnya telah dipersiapkan untuk menduduki tahta kerajaan. 

Panembahan Lemah duwur menjadi raja Islam pertama di Madura Barat, yang tadinya pemerintahan ada di plakaran maka dipindahkan ke arosbaya. Menurut perkiraan penulis bahwa kraton tersebut terletak di Dusun Bunalas yang sekarang dijadikan tempat pemakaman umum, termasuk wilayah desa Arosbaya. Dalam Penelitian disitu terdapat sebuah peninggalan berupa Altar yang mungkin pada waktu itu digunakan sebagai pelengkap istana kerajaan.

Sangat masuk diakal bahwa ciri-ciri pemerintahan Islam ialah disebelah timur adalah kerajaan/pusat pemerintahan dan ditengahnya/disebelah baratnya adalah alun-alun setelah iti baru masjid dan dikanan kiri terdapat desa atau dusun kaoman dalam arti kata kaum muslim dan didukung dengan adanya bekas suatu bangunan/reruntuhan bangunan yang bahan bakunya dari batu bata merah.

Dengan pemerintahan Islam maka pengusaha Arosbaya menganjurkan semua keluarga kraton dan penduduk/rakyat untuk memeluk agama Islam, maka dengan cepat agama Islam itu meluas dikalangan rakyat yang berada di pedalaman.

Pada buku Geedenkbook mengatakan bahwa :
Order dezen eersten Panembahan van Madoera die tot den Islam overging nam eiland zeer in melvart toe vermeerdeede hetaantalleereren enloeke reingen van den Islam ope in het ooglo opende wijze.

Artinya :
Dibawah Panembahan ini, yang beralih kepada agama Islam, Pulau ini menunjukkan suatu kemakmuran dan menambah jumlah dan pengikutnya.

Selanjutnya Geedenkbook mengatakan :
Panembahan Lemah Doewoer voerde eenui terstrecht varding en vas op de voorschrifte van den godsdienst gebassert bewind.

Artinya :
Panembahan Lemah Duwur, mengadakan pimpinan sangat adil dan kokoh serta peraturan yang berdasarkan agama.


Berita ini menunjukkan bahwa agama Islam menjadi dasar pemerintahan pada waktu itu yang kuat untuk mencapai suatu masyarakat yang sejahtera. Disamping itu ia berusaha untuk merangkul para ulama-ulama dan rakyatnya untuk menjalankan ajaran-ajaran Islam.

Panembahan Lemah Duwur mempunyai beberapa orang putra dan putri yang diantaranya ada yang bernama Mas Ayu Ireng, yang nantinya kawin dengan Pangeran musyarif.

Dalam usaha proses Islamisasi ke seluruh Madura, Panembahan Lemah Duwur mempunyai seorang ulama yang menurut cerita tutur Madura dan sumber-sumber lain Pangeran Musyarif dengan memakai nama Arab Chalifah husein. Diambil sebagai menantu yang dikawinkan dengan mas Ayu Ireng Putri dari selir.

Pangeran Musyarif mempunyai nama syarif Achmad Al – Husaini yang diberitakan bahwa sesepuhnya adalah ulama yang berasal dari Campa yang datang ke Surabaya.

Hal ini dapat diartikan bahwa Syarib Achmad Al – Husaini adalah seorang ulama yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan Ampel Surabaya. Tidak dapat disangkal lagi bahwa awal penyebaran agama Islam di Madura barat pada masa Pemerintahan Panembahan Lemah Duwur ini dilakukan oleh ulama-ulama dari kerabat Sunan Ampel.

Perlu diketahui bahwa kalau Panembahan Lemah Duwur masa pemerintahannya adalah (1531-1592). Dan sebagaian tutur yang sudah ada di masyarakat bahwa yang pertama kali orang yang ditugaskan ubtuk mendalami Islam ialah Maha Patih Empu Bageno Kudus. Dan perlu diketahui pulalah bahwa Panembahan Lemah Duwur meminang putri Pajang (Putri Joko Tingkir) untuk menjadi permaisuri.

Dalam hal ini ada keraguan didalam tahun, karena kesultanan Pajang yang terletak di Jawa Tengah(dekat Solo sekarang) berdiri pada tahun 1568 dengan rajanya yang pertama Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya), kalau kita membandingkan dengan angka tahun penobatan Panembahan Lemah Duwur dengan berdirinya Kesultanan Pajang serta yang utama masuknya agama Islam ke Madura, sedikit ada kejanggalan.

Jadi tidaklah berlebihan bahwa sebelum pemerintahan yang bercorak Islam di Madura Barat ini, jauh sebelumnya sudah ada ulama-ulama dan saudagar-saudagar yang menetap di beberapa daerah wilayah kekuasaan Panembahan Lemah Duwur.

Menurut tutur masyarakat dan dari beberapa cacatan sesepuh bahwa Pangeran Musyarif datang ke Madura pertama mendarat di Pelabuhan Arosbaya yang dikenal dengan Tanjung Modung, yang sekarang atas dari bekas Pelabuhan tersebut di desa Tolbuk Kecamatan Klampis, kemudian Pangeran Musyarif melanjutkan perjalanannya ke Jurusan Timur, dan sampailah di suatu tempat Pangeran Musyarif beristirahat dan mendirikan bangunan kecil yang dinamakan Pelenggihan. 

Sampai sekarang tempat tersebut masih dianggap sangat sakrar oleh masyarakat dan apabila ada hari-hari besar Islam masih digunakan oleh masyarakatb setempat.

Setelah habis melepas lelah dan dahaga, Pangeran Musyarif lantas melanjutkan perjalanannya ke arah Selatan, sesampainya disuatu desa yang bernama Budha, Pangeran Musyarif mendirikan bangunan bangunan untuk berteduh dan beristirahat, akhirnya daerah yang ditempati oleh Pangeran Musyarif dinamakan Kampung Pondok.

Menurut cerita R. Siti Rahmah yang katanya masih ada darah keturunan dari Pangeran Musyarif, bahwa Pangeran Musyarif yang dalam mengemban misinya dalam menyebarkan Agama Islam di Desa Budha itu, juga mengajarkan cara bercocok tanam pada rakyat kecil disekitar daerah yang ditempati. Oleh karena itu maka banyak santri-santrinya yang baru memeluk agama Islam.

Dengan tata krama dan sifat-sifat ajaran Islam yang lemah lembut maka Pangeran Muyarif mendapat tempat dihati kalangan masyarakat. Sangat dimungkinkan bahwa tempat itu sekarang masih amat subur, dan pertanian masyarakat desa tidak kalah baiknya dengan daerah-daerah lainnya.

Tidak jauh dari Kampung ± 1 km, arah Selatan, terdapat sebuah mata air yang agak aneh/asing, yang disebut masyarakat setempat sumber Banjer yang termasuk Wilayah Desa Campor Kecamatan Arosbaya.

Menurut cerita juru kunci  sumber tersebut yaitu Pak Gupat, kolam inilah yang dulunya untuk bersuci Pangeran Musyarif dan para santrinya, yang pada saat ini masih dianggap angker dan sakrar oleh masyarakat sekitarnya. Khususnya pada hari malam Jum’at Wage banyak kalangan masyarakat yang selamatan di mata air tersebut.

Keanehan tersebut yakni air yang keluar dari lubang mata air tesebut diliputi pasir keras, pasir pantai dan binatang-binatang laut. Hal ini kalau kita hubungkan dengan jaman Prasejarah bahwa dataran yang pertama kali adalah Gunung Geger masuk akal, sebab daerah sekitarnya masih merupakan pantai (Riwayat R. Segoro).

Memang tidak jauh dari mata air itu terdapat sumber air yang debitnya lebih besar yaitu Sumber Kemarong.

Pangeran  Musyarif tidak mengenal lelah dan putus asa dalam menyebarkan dan mengenalkan agama Islam, Ia masuk dan keluar kampung selalu berdakwah dan memberi pengertian serta penjelasan tentang tata cara dan tata krama dalam agama Islam.

Pada suatu hari Pangeran Musyarif bersama santri-santrinya mencoba menyebarkan agama Islam ke kampung di balik bukit/Gunung Conggreng (Gunung Kembar), dalam perjalanannya Pangeran Musyarif sampailah pada puncak gunung tersebut, dan beristirahat disana. Pada waktu itu, waktu mendirikan sholat tersebut telah sampai pada waktunya.

Pangeran Musyarif lantas beradzan di puncak Gunung Conggreng/Gunung Kembar, dengan suara yang syahdu dan sangat asing bagi orang-orang kampung dibalik bukit itu dan sangat terheran-heran, bahkan ada yang menertawai beliau. Setelah melaksanakan shalat bersama dengan para santrinya, Pangeran Musyarif keudian melanjutkan perjalanan ke arah Timur dan sesampainya di suatu tempat, para pengikutnya merasa kehausan, setelah mencari air kesana kemari tidak menemukan, maka para santri tersebut memohon kepada Pangeran Musyarif agar memberikan petunjuk kepadanya.

Dengan Ridho Allah SWT, Pangeran Musyarif mencoba berbuat sesuatu untuk membuka bongkahan batu yang berada tepat  dihadapannya., maka keluarlah air yang sangat jernih, dan sumur/bekas bongkahan batu itu dinamakan Sumur Complong yang sekaran terletak di wilayah Desa Kampak Kecamatan Geger.

Sumur tersebut masih dikeramatkan oleh penduduk setempat, sumur bertuah itu bila pada hari Jum’at Wage banyak orang yang mengambil airnya, konon air tersebut bisa dijadikan syarat dalam menyembuhkan penyakit apapun.

Tidak lama setelah itu, usaha Pangeran Musyarif untuk mengislamkan dan menyebarkan agama Islam tercium oleh Penguasa Plakaran (Kiai Pragalbo) yang pada waktu itu masih beragama Hindu, maka ditugaskannya punggawa untuk memanggil dan menangkap Pangeran Musyarif. Telah dikisahkan bahwa utusan pertama telah gagal untuk menangkap Pangeran Musyarif, dan barulah utusan yang kedua kalinya diterima oleh Pangeran Musyarif, yang isinya Pangeran Musyarif mau menghadap Penguasa Plakaran asalkan (dengan syarat) binatang-binatang yang menimbulkan najis supaya disingkirkan (anjing dan babi), dan syarat itupun telah dipenuhi oleh Penguasa Plakaran.

Sesampainya di Plakaran, maka Pangeran Musyarif menjelaskan dan memberikan contoh-contoh tindak tanduk dalam agama Islam. Setelah Penguasa Plakaran dan Putra Mahkota (R. Pratanu) mengerti dan paham tentang ajaran baru itu, maka Pangeran Musyarif diperkenankan tinggal di kalangan Kraton. Dan menurut babat-babat setelah itu Pangeran Musyarif diangkat sebagai Penghulu Kerajaan.

Alkisah, setelah itu Kiai Pragalbo mengalami sakit keras, dan dalam menghadapi hayatnya Putra Mahkota mengajarkan kepada Kiai Pragalbo untuk mengucapkan Dua Kalimat Shahadat dan dijawabnya dengan anggukan saja, kemudian Beliau meninggal dunia. Oleh karena itu masyarakat menganggap dan menjuluki Kiai Pragalbo juga dinamakan Pangeran Islam Onggu’ dan Beliau dimakamkan di pemakaman Makam Agung di Wilayah Kecamatan Arosbaya.

Setelah itu putra mahkota yang sudah disiapkan jauh sebelumnya (Raden Pratanu) menggantikan tahta kerajaan dengan gelar Panembahan Lemah Duwur. Dalam pemerintahannya Pusat Pemerintahan dipindahkan ke Arosbaya dengan nama Kota Anyar, hal ini terjadi pada tahun 1531 – 1592 Masehi.

Seperti pada tersebut diatas, bahwa Pemerintahan Lemah Duwur bercorak Islam. Perlu disisipkan sedikit tentang kesalahpahaman dan kesimpangsiuran bahwa sebagaian orang mengatakan panembahan Lemah Duwur adalah Raja Islam pertama di Madura Barat, hal itu memang benar dan ada pula yang mengatakan bahwa Pangeran Musyariflah yang pertama memeluk agama Islam, hal ini juga betul.

Pengertian :

Kalau Panembahan Lemah Duwur itu memang seorang raja, sudah barang tentu bahwa di Madura Barat pada waktu itu belum ada sebuah kerajaan yang rajanya beragama Islam, jadi kesimpulannya bahwa Panembahan Lemah Duwur adalah seorang Raja Islam pertama di Madura Barat.

Sedangkan Pangeran Musyarif adalah seorang ulama yang pada waktu itu menjabat sebagai penghulu kerajaan pada kekuasaan Panembahan Lemah Duwur, jadi kesimpulannya Pangeran Musyarif adalah seorang ulama dan penyebar agama Islam dikalangan kekuasaan Panembahan Lemah Duwur.

Setelah Panembahan Lemah Duwur meninggal, maka digantikan putranya yang bernama Raden Koro dengan gelar Pangeran Tengah, hal ini terjadi pada tahun 1592 – 1621 Masehi.

Pada masa pemerintahan Pangeran Tengah inilah terjadi untuk pertama kalinya hubungan antara penguasa dengan Bangsa Belanda, hal ini nampak pada sumber primer terutama Opkomst (Jonge, 1862 – 1875).

Sedangkan Patih Arosbaya pada waktu itu adalah Kiai Ronggo, Pangeran Musyarif tetap menjabat sebagai penghulu Arosbaya.

Dengan dorongan komersial sebagai motivasi utama penjajahannya ke dunia timur termasuk Indonesia, Bangsa Belanda berusaha menarik simpati  dan kemurahan hati agar mendapat konsensi-konsensi dalam perniagaan.

Dan pada tanggal 6 Desember 1596 Kapal Belanda berusaha berlabuh ke Pelabuhan Arosbaya yang terdiri dari :

1.  Kapal Amsterdam
2.  Kapal Houtman
3.  Kapal Kaerel
4.  Kapal Mauritius

Dari beberapa sumber sejarah telah mengakui baik itu catatan Belanda sendiri, Cina dan berita Portugis serta dari buku-buku babat-babat Madura serta sumber-sumber lainnya, bahwa pada tanggal 6 Desember 1596 seperti tersebut diatas, keempat Kapal Belanda yang datang dari Sedayu ingin berlabuh ke Pelabuhan Arosbaya, dan akhirnya bisa merapat ke Pelabuhan Arosbaya.

Kemudian Belanda mengutus kurirnya untuk menghadap penguasa Arosbaya, yakni Pangeran Tengah. Setelah utusan Belanda diterima oleh Pangeran Tengah, maka pada waktu itu pula Penguasa Arosbaya mengutus Patihnya yang bernama Kiai Renggo dan Pangeran Musyarif untuk mendatangi undangan dari Belanda yang ada di atas kapal. Setelah tiba ditujuan, utusan dari Arosbaya seharusnya naik ke Kapal Mauritius, akan tetapi karena salah paham, Kiai Renggo dan Pangeran Musyarif naik ke Kapal Amsterdam. Dari pihak Belanda yang mengawaki kapal tersebut dikiranya utusan Arosbaya itu mau merampok, karena waktu di Sedayu Kapal tersebut telah dirampok.

Karena terjadi kesalahpahaman tersebut timbul pertengkaran/ peperangan diatas Kapal Amsterdam sehingga mengibatkan utusan dari Arosbaya yakni Kiai Renggo dan Pangeran Musyarif gugur dalam medan pertempuran. Hal ini karena tidak seimbangnya persenjataan yang ada dan utusan tersebut tidak mengira kalau setelah naik langsung disambut dengan acungan/todongan senjata.

Sejak peristiwa berdarah 6 Desember 1596 yang mengakibatkan gugurnya kedua tokoh Arosbaya ini, Penguasa dan Rakyat Arosbaya memiliki kesadaran yang cukup tinggi, bahwa bangsa asing (Belanda) selalu bertindak kejam dalam memaksakan kehendaknya kepada orang-orang pribumi.

Kesadaran itu bukan hanya slogan-slogan saja, karena mengingat dan terdorong dengan hilangnya Maha Patih Arosbaya dan Penghulu (Ulama) Arosbaya, maka ia mencetuskan tidak akan menerima lagi Bangsa Belanda yang berlabuh di Pelabuhan Arosbaya. Sikap rela berkorban untuk bangsa dan negara sudah ada sejak nenek moyang kita. Oleh karena itu dalam menghadapi segala macam pengaruh dari luar maka Penguasa Arosbaya menetapkan dan mengumumkan anti pada orang asing yang berusaha berlabuh di Pelabuhan Arosbaya.

Hal itu terbukti dalam peristiwa yang terjadi pada tanggal 5 Pebruari 1597 atau dua bulan kemudian, yang pada waktu itu datanglah dua Kapal Belanda yang bernama Kapal Warwijck dan Kapal Heemskerck yang bermaksud berdagang dan membeli beras pada masyarakat dan Penguasa Arosbaya, tetapi apa yang terjadi justru inilah yang ditunggu-tunggu rakyat dan Penguasa Arosbaya yang ingin mengadakan pembalasan atas gugurnya dua pahlawan meraka. Bangsa Belanda yang di cap sebagai musuh, maka setelah kapal itu merapat disambutlah pertempuran hebat di Pelabuhan Arosbaya. Rakyat yang mengganas dan mengamuk dengan nafsunya membantai orang-orang Belanda. Akhirnya kemenangan ada dipihak rakyar dan Penguasa Arosbaya, serta menahan ke dua kapal tersebut bersama awak kapalnya.

Baru pada tanggal 15 Pebruari  1597 kapal Belanda yang ditahan oleh Penguasa dan Rakyat Arosbaya dikembalikan lagi/dibebaskan. Heroisme orang-orang Madura dalam perjuangan menentang penjajah untuk pertama kalinya muncul di Arosbaya pada tanggal 6 Desember 1596.

Mengingat begitu besar makna peristiwa tersebut bagi tumbuhnya dan semangat heroisme, patriotisme, rela berkorban dan bertanggungjawab dalam mempertahankan jengkal tanah dari usaha penetrasi penjajah, maka tidak berlebihan kiranya jika Tokoh Pangeran Musyarif atau Syarib Achmad Al Husaini ini kita kenang perjuangannya.



Dalam perkawinannya dengan Mas Ayu Ireng, Pangeran Musyarif mempunyai putra yang bernama Syarif Kaffie yang kemudian menyebarkan agama Islam di Pulau Pinang (Philipina), akan tetapi meninggalkan putra di Arosbaya yang bernama Raden Masigit yang dijadikan putra menantu oleh Pangeran Tjakraningrat IV yang kemudian bergelar Raden Ongkowidjoyo, dan mempunyai putra yang bernama Raden Ario Suriowinoto, yang diambil putra menantu oleh Panembahan Tjakradiningrat V (Sidho Mukti) dengan putrinya yang bernama Raden Ayu Angger, akan tetapi tidak mempunyai keturunan. Tetapi dengan selirnya mempunyai dua orang putra yang bernama Raden Suriowinoto dan Raden Surikusumo... [DI]



Dikutib dari : Selayang Pandang Tokoh Pemerintahan Madura Barat Abad XV
Oleh : Agus Dwi Tjahjono


Previous
Next Post »

3 komentar

Click here for komentar
21 Oktober 2013 12.46 ×

Beberapa bulan yang lalu setelah hampir 20 tahun tidak pernah ke Madura, saya berkunjung ke Arosbaya, mengantarkan bapak saya ziarah ke makam kakek saya. Makam beliau ada komplek pemakaman di belakang Masjid Agung Arosbaya, saya melihat banyak sekali makam-makam tua dilokasi tersebut, ada makam PANGERAN TENGA-ONGGOWIDJOJO-GUSTI RADEN SAJIDIN. Dan makam PANGERAN SJARIF ABDURACHMAN (wafat th 1513). Apakah ada yang mengetahui sejarah mengenai beliau-beliau tersebut diatas?
Terimakasih atas perhatiannya

Balas
avatar
admin
9 Agustus 2017 01.38 × Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
avatar
admin
9 Agustus 2017 01.42 ×

Selanjutnya baca dan telusuri di bangkalanmemory.blogspot.co.id pasti ketemu... Meneeer...!!!

Balas
avatar
admin
Thanks for your comment