Kapal Otok-Otok, Mainan Edukasi Yang Bernilai Tinggi

Bagi Pemerhati Bangkalan Memory yang lahir sebelum tahun 80′an, pasti pernah memainkan atau paling tidak melihat mainan kapal kapalan seperti pada gambar di halaman ini. Pada masa itu jenis mainan ini mengalami puncak kejayaannya. Dengan sangat mudah kita menjumpai pedagang menjajakan mainan ini, baik di sekolah sekolah, di stasiun maupun di pasar.

Seiring dengan berjalannya waktu dan membanjirnya mainan impor, maka secara pelan tetapi pasti mainan lokal  ini terpinggirkan. Entah sampai kapan…..


Mainan  umumnya  di cat  berwarna warni, seperti merah, hijau, kuning dan hitam. Pengrajin membuatnya dari limbah seng bekas kaleng susu atau kaleng lain. Dipotong potong sedemikian rupa sesuai ukuran. Kemudian antar bagian satu dengan lainnya ditempelkan dengan bantuan  sebuah alat yang disebut  patri (sekarang lebih dikenal dengan nama solder listrik). Di lambung mainan disematkan dua buah pipa kecil hingga menonjol  keluar, mirip seperti pipa knalpot pada mobil. Dua buah pipa kecil mirip meriam juga disematkan dibagian depan.


Walaupun cukup sederhana,  sebenarnya mainan ini memiliki teknologi yang canggih. Mainan ini bisa jalan sendiri tanpa baterai. Hanya dengan memanfaatkan teori pemanasan dan gelembung udara. Teori fisika sederhana, mudah dimengerti  anak anak,  namun luar biasa.

Dengan memasukkan sebuah “Uplik” atau nyala api kecil kedalam lambung kapal lewat lobang yang ada ditengah.  Maka  api itu akan memanaskan  disekitar lambung kapal.  Air yang berada didalam pipa (didalam lambung kapal) pun mendidih dan menghasilkan  gelembung udara. Gelembung gelembung itu keluar lewat pipa dan  mendorong kapal hingga  melaju.


Selain mendorong kapal, gelembung itu mengeluarkan bunyi  “tok otok otok otok…..”.  Suara dengan ritme stabil itu seolah mirip suara mesin kapal.  Dan disaat yang bersamaan,  pipa meriam yang ada di depan akan bergerak naik turun seirama dengan bunyi tersebut. Ternyata, mainan yang baik tak harus mahalkan..... [DI]


0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: