Mataram dan Madura Sebelum Pemberontakan Trunojoyo

Pada waktu Sultan Agung memimpin dan menjalankan politik pemerintahan demi untuk mempersatukan Pulau Jawa dan Madura bahkan ingin mempersatukan seluruh Nusantara agar kompeni sukar dapat melebarkan sayapnya. Karena itu Sultan Agung terkadang terpaksa menjalankan politiknya dengan kekerasan, dalam tahun 1614 Surabaya ditaklukkan demikian juga dengan Pasuruan dan Tuban.

Akhirnya dalam tahun 1424 Madura mendapat giliran, tentara Madura yang berjumlah 2000 orang menghadap pasujan Mataram yang berjumlah 50.000 orang, perjuangan orang madura menunjukan keberanian, laki2 didepan wanita dibelakang kalau ada laki-laki yang mengundurkan diri dari medan perangtrus ditusuk dari belakang tentara mataram dapat ditewaskan sebanyak 6000 orang, tetapi Sultan Agung tidak putus asa orang2 nya yang gugur dimedan perang segara diganti, ahirnya Madura dapat ditaklukan pula, satu satunya keturunan Raja Madura yang hidup ialah Raden Praseno, ia lalu dibawa ke Mataram.

Sesudah Raden Praseno dewasa ia lalu dikawinkan dengan adik Sultan Agung, kemudian pulau madura dipercayakan kepada Raden Praseno dengan gelar Pangeran Cakraningrat I. Ia lebih banyak ada di Mataram dari pada di Madura. Tetapi keadaan di Madura tetap berjalan dengan lancar, Di madura keratonnya ada di Sampang dan ia memmunyai isteri salah seorang keturunan Giri, yang terkenal dengan Ratu Ibu yang meninggal dnia dan dikuburkan di Aer Mata Bangkalan. Sampai sekarang kuburan Ratu Ibu dianggap keramat oleh rakyat.

Pangeran Cakraningrat I dengan ratu Ibu mempunyai keturunan antara lain  :
  1. Raden Undakan, kemudian bergelar Cakraningrat II (disebut  Siding Kamal).
  2. Raden Ario Atmojodiningrat, yang setelah meninggal dunia dikuburkan di Imogiri bersama sama ayahnya ialah Pangeran Cakraningrat I, ketika pemberontakan Pangeran Alit
  3. Ratu Maospati.
Dengan isteri-isteri yang lain Pangeran Cakradiningrat I masih mempunyai putera-putera diantaranya pangeran Malujo ayah dari Raden Trunojoyo bergelar juga Panembahan Maduratno, setelah Sultan Agung diganti oleh puteranya Amangkurat I keadaan mataram berubah, dahulu Mataram ditakuti oleh kompeni setelah Amangkurat I berkuasa Mataram mengadakan hubungan yang sangat akrab dengan kompeni, didalam pemerintahan Amangkurat I kelihatannya tidak mempunyai kewibawaan, keretakan timbul dimana-mana dan makin lama kerajaan itu suram. 

Dalam tahun 1646 Mataram mengadakan perjanjian dengan Kompeni yang pada umumnya merugikan pada Mataram, mereka saling berjanji hendak tukar menukar tawanan perang dan tidak akan membantu musuh salah satu pihak, saban tahun kompeni akan mengirim utusan ke Mataram dan mengijinkan orang Jawa berdagang dimana saja kecuali dimaluku.

Dalam tahun 1652 perjanjian itu diperkuat dan ditetapkan bahwa perbatasan antara Mataram dan daera kompeni ialah kali Citarum, terhadap kompeni Amangkurat I menunjukan jiwa yang lemah terhadap rakyatnya bersikap kersa dan mendendam.
Pangeran Alit adiknya sendiri dicurigai dan di perintahkan untuk ditangkap dan dibunuh, Raden Malujo ayah dari Trunojoyo  juga mendapat perilaku yang demikian pula pada ahirnya Cakraningrat I, penasehat utama dan Amangkurat menjadi pembersihan yang dilakukan oleh sang Raja, suaratidak senang terhadap amangkurat I makin lama makinterdengar  semakin kuat sehingga menjadi cukup matang untuk timbulnya revolusi.

Adipati Anom Putera Amangkurat I ingin menumbangkan pemerintahan ayahnya tetapi ia tidak berani untu memulai, ia meminta bantuan Raden Kayoran tetapi ditolak karena Raden Kajoran sudah berusia lanjut meskipun pada ahirnya ia setuju untuk mengobarkan apai revolusi, setelah Pangeran Cakraningrat I meninggal dunia lalu digantikan dengan puteranya yang bergelar Cakraningrat II, kalau semasa  Cakraningrat I memimpin disegani   dan dicintai oleh rakyat, tetapi Cakraningrat II sebaliknya ia tidak mendapat simpati dari rakyat karena tindakannya tidak bijaksana... [DI]


  
Oleh : DR. Abdurrahman


Previous
Next Post »
Thanks for your comment