Menguak Tabir "BENTENG KRAMAT" Bangkalan Edisi Ke I

Pada tanggal 10 Nopember 2013 yang bertepatan dengan Hari Pahlawan, kami (Dimitriev Indraena dan Raden Mas Syafii) melakukan "Ekspedisi Kramat" di Desa Ujung Piring Kecamatan Bangkalan Kabupaten Bangkalan, karena di daerah tersebut masih banyak menyimpan sesuatu misteri yang perlu di ungkap oleh kita semua... [DI]

Perjalanan kami ke tempat lokasi hanya membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit, dan kami tiba di sebuah pasarean yang namanya Pasarean Raden Jakandar. Konon menurut Informasi Beliau adalah mertua dari Sunan Gunung Jati dan Sunan Bonang.




Kami berdua berangkat ke lokasi, tujuan pertama adalah Bunker, karena letak pasarean dengan bunker tidak begitu jauh (hanya sekitar 30 meter). Begitu melangkah keluar dari pasarean suasana mistik sudah kami rasakan setelah kami tiba di sebuah bunker Belanda. Di dalam Bunker tersebut terdapat sebuah (sepertinya terowongan) yang ditutupi oleh balai-balai, kami belum berani ke dalam masuk karena dikhawatirkan ada sesuatu di dalam sana) sehingga kami putuskan untuk mengelilingi seputar bunker. 

Namun menurut informasi dari seseorang yang tidak mau disebutkan namanya, terowongan tersebut nantinya akan mengarah ke tiga titik, yakni arah Utara (sekitar menara tower; arah Barat ke Benteng; dan arah Selatan (perkiraan di sekitar sumur). Jadi terowongan itu merupakan jalan akses bagi tentara Belanda di lokasi Benteng Tjakraningrat IV.



Disaat kami berada di belakang bunker, kami menemukan 4 jenis tanaman Bunga Bangkai (Bunga Raflesia) yang baru tumbuh. Bunga Raflesia sangat jarang ditemui serta sulit untuk dijumpai, terutama disebabkan oleh sulitnya menemukan letak bunga ditengah di hutan belantara yang luas, selain itu juga akar kuncup bunga memerlukan waktu berbulan-bulan untuk tumbuh menjadi bunga yang kemudian hanya bertahan selama beberapa hari saja sebelum akhirnya layu kembali.



Setelah beberapa waktu kami mengamati Bunga Bangkai tersebut, selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke arah Selatan menuju benteng. Perlu diketahui bahwa di lokasi benteng Tjakraningrat di sebelah Selatan ini terdapat 4 titik yang kami kunjungi.

TITIK PERTAMA
Dalam perjalanan ke lokasi Benteng Tjakraningrat IV, nampaknya bagi si BOLANG tidak mengalami kesulitan berarti meskipun di sebelah kanan dan kiri banyak sekali tanaman-tanaman jalar yang tumbuh di sekitar jalan yang kami lalui. Akhirnya kami tiba di sebuah tempat dimana terdapat sebuah benteng kecil yang menurut informasinya bernama “Benteng Tjakraningrat IV” sebagaimana telah didaftarkan ke dalam Cagar Budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur pada Bulan Mei 2013 lalu. Kondisi benteng tersebut sangat memprihatinkan karena telah ditumbuhi oleh tanaman menjalar dan pohon-pohon perdu dan disamping itu juga sudah tertutup oleh tumpukan sampah dan pasir.

Kalau melihat dari banyaknya tumpukan sampah dan pasir tersebut, bisa dikatakan bahwa sejarah berdirinya benteng tersebut memang sudah lama. Karena di areal benteng tersebut nampak sekali sampah-sampah dari laut, sehingga benteng tersebut nampak amblas ditelan tanah.





Dan diyakini pula bahwa benteng tersebut merupakan tempat untuk menjaga perbatasan dan memantau akses keluar masuknya kapal laut yang akan memasuki perairan Bangkalan sehingga bisa terpantau oleh Belanda melalui benteng ini.

TITIK KEDUA
Kemudian kami melanjutkan lagi ke titik berikutnya yakni Titik Kedua dimana lokasi tersebut merupakan pintu samping dari Benteng Tjakraningrat IV. Dari photo yang kami ambil tersebut nampak sekali bahwa bangunan tersebut seolah-olah terputus dengan bangunan lainnya, padahal bangunan tersebut saling berhubungan dengan bangunan yang lain.




TITIK KE TIGA
Kemudian kami meneruskan perjalanan menuju titik yang ke Tiga dimana lokasi tersebut merupakan bagian dari Benteng Tjakraningrat IV. Bangunan tersebut berupa pagar benteng, yang fungsinya untuk memantau kapal di laut, namun yang kami dapatkan bahwa bangunan tesebut sudah hancur dan kemungkinan bangunan tersebut hancur dikarenakan struktur bangunan yang lapuk akibat terjangan air laut. 





TITIK KE EMPAT
Setelah mengamati bangunan di titik ke Tiga tersebut, kami melanjutkan perjalanan menuju titik ke Empat, meskipun kami sempat nyasar karena si BOLANG lupa arah jalannya, akhirnya kami kesasar disuatu tempat dimana tempat tersebut terdapat sebuah sumur. Banyak aura negatif di lokasi sumur tersebut dan konon sering muncul penampakan kuda hitam di sini... dan selalu dijaga sosok makhluk hitam tinggi besar (cocok dech untuk uji nyali)... hehehe....








Akhirnya kami meninggalkan sumur tua tersebut dan melanjutkan perjalanan menuju lokasi di titik ke Empat. Sesampainya di lokasi benteng, kami memperhatikan bangunan tersebut dan ternyata bangunan tersebut merupakan bangunan yang fungsinya sebagai pos penjagaan.




Setelah kami mengunjungi Benteng Tjakraningrat IV di bagian Selatan, kami putar balik menuju ke arah Utara. Kondisi di Bagian Utara ini berbeda dengan kondisi benteng di bagian Selatan. Sepanjang jalan menuju benteng bagian Utara ini, kami menjumpai banyak bongkahan-bongkahan batu atau tembok yang berserakan. 


Setelah tiba berjalan sekian beberapa menit, kami sampai di persimpangan jalan dan kamipun sepakat memilih jalan ke kanan terlebih dahulu karena jalan tersebut menuju pada sebuah menara Tower. Tower ini berfungsi sebagai navigasi kapal di laut (kalau dulu navigatornya berupa lampu, tapi kini diganti dengan Radar). 


Kamipun kembali lagi ke arah persimpangan jalan tadi dan melanjutkan ke arah Barat. Disana kami hanya mendapatkan sebuah tambak yang mana jalan tersebut berupa jalan berlumpur tersebut.  Di jalan tersebut terdapat titian batu menuju lokasi benteng. Sesampainya disana, kami mendapatkan sebuah tempat kosong yang (mungkin) belum terjamah oleh manusia. Kami mencoba untuk mendekati tempat itu dan disana banyak sekali pohon-pohon dan tanaman semak belukar, kamipun mendekati sebuah semak yang tingginya kira-kira 1,5 meter yang ditumbuhi semak belukar dan kami coba mencabut semak tersebut, setelah semak belukar tersebut terbuka, kamipun mendapatkan sebuah tembok yang masih utuh meskipun bangunan yang lain sedah rata dengan tanah. Bisa dipastikan bahwa bagian-bagian bangunan yang lain telah hancur entah karena peperangan atau hancur karena perputaran waktu.




Dari serangkaian tahap demi tahap ini, kami belum menjumpai bangunan yang berbentuk pintu gerbang. Karena sepanjang kami lewati tidak satupun jalan yang mengarah kepada Pintu Gerbang Benteng Tjakraningrat. Menurut informasi yang kami terima, bahwa Benteng Tjakraningrat IV ini memiliki 2 buah pintu gerbang yakni di sebelah Utara dan Selatan. Pintu gerbang di sebelah utara terletak di sebelah Timurnya Menara Tower. Pintu gerbang ini mempunyai fungsi sebagai jalan aksis keluar masuknya pasukan belanda dari arah Utara. Sedangkan pintu gerbang Selatan berada di dekat sumur (sewaktu kami di dekat sumur itu jalan akses menuju ke pintu gerbang itu terputus/tertutup pohon2 perdu)


ANALISA KAMI
Setelah kami mencermati data-data yang ada serta berbagai informasi dari masyarakat setempat mengenai Benteng Tjakraningrat IV ini, kami berpendapat bahwa :
  • Menurut analisis kami Benteng Tjakraningrat IV ini dibangun oleh Tentara Jepang, karena bangunan tersebut sudah mengenal dan menggunakan struktur balok dengan kerangka baja sebagaimana bangunan-bangunan pertahanan yang dibangun Jepang di Indonesia, dimana kriteria bangunan Jepang menggunakan komponen pasir laut, kapur, batu split, besi, dan semen, sangat berbeda dengan bangunan yang dibangun oleh Belanda yang hanya menggunakan batu bata, pasir laut, kapur dari kerang laut, tumbukan bata halus, besi, dan tidak memakai semen;
  • Tembok Benteng Tjakraningrat IV ini sudah menggunakan semen cor (cor-coran). 



Demikian uraian perjalanan Ekspedisi Kramat yang kami lakukan, mudah-mudahan menjadi referensi bagi Pemerhati Bangkalan Memory. Kurang lebihnya kami mohon maaf apabila ternyata apa yang kami uraikan diatas salah. Kritik dan saran dapatnya kami terima, sehingga kami bisa dengan cepat memperbaiki data-data kami menuju kearah yang lebih baik.

Catatan :
  • Terima kasih kami sampaikan kepada masyarakat yang ada di sekitar benteng yang telah memberikan informasinya kepada kami;
  • Terima Kasih kami sampaikan kepada Mas Hidrochin Sabarudin yang telah meberikan informasinya dan arahan-arahan kepada kami;
  • Terima kasih kami sampaikan Raden Mas Syafii yang dengan sukarela mengantarkan kami mengunjungi Benteng Tjakraningrat IV ini;
  • Terima kasih kami sampaikan kepada pihak-pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu atas dorongan semangat kepada kami.

Sumber : Indra Bagus Kusuma 

Photo Koleksi : Bangkalan Memory
Previous
Next Post »
Thanks for your comment