Menguak Tabir "BENTENG KRAMAT" Bangkalan Edisi ke II

Menindaklanjuti Ekspedisi MENGUAK TABIR "BENTENG KRAMAT" pada tanggal 10 November 2013 yang lalu, menurut analisis kami dirasakan perlu adanya pembuktian-pembuktian yang kongkrit, maka pada tanggal 5 Januari 2014 kami mengadakan ekspedisi kembali guna melengkapi bukti-bukti yang telah kami kumpulkan sebelumnya.

Dengan personil yang ada meskipun salah satu personil kami berhalangan, maka kami : Dimitriev Indraena, Raden Mas Syafii dan Andrya Satria P. melakukan persiapan yang matang untuk keperluan ekspedisi yang akan kami lakukan. Dan berbekal keyakinan serta doa akhirnya kami berangkat ke lokasi Benteng Tjakraningrat IV yang berlokasi di Desa Sembilangan Ujung Piring Bangkalan.


Tiba dilokasi, seperti biasa kami memarkir kendaraan di lokasi Pemakaman Sunan Bangkalan. Sambil menunggu sang Pemandu, kami melakukan doa bersama agar selama dalam melakukan ekspedisi ini diberi kekuatan serta kelancaran dalam melaksanakan tugas mulia ini. Tidak begitu lama, akhirnya sang Pemandu datang dengan membawa perbekalan berupa clurit (sabit) yang digunakan untuk membabat semak-semak yang akan menghalangi perjalanan kami.









Lokasi pertama yang kami tuju adalah sebuah bunker yang letaknya berdekatan dengan areal pemakaman. Lokasi bunker tersebut sudah kami kunjungi pada ekspedisi sebelumnya guna memastikan lagi apakah masih ada sesuatu yang terlewati pada eksebisi sebelumnya, dan ternyata disana kami menemukan beberapa bukti yang menunjukkan bahwa bangunan itu merupakan bangunan yang dibuat oleh pasukan Jepang. 


Kakigenkin = Dilarang keras menyalakan api (sumber api)
Setelah selesai observasi, kami melanjutkan ke lokasi berikutnya. Lokasi ini menurut analisis kami merupakan bangunan induk karena bangunan ini memang berbeda dari yang lain, karena bangunan tersebut terdapat anak tangga dan terdapat sebuah bunker di bawahnya. Meskipun bangunan tersebut sudah hancur, tapi bisa dipastikan bangunan ini merupakan bangunan induk dari beberapa bangunan lainnya.




Dan tidak jauh dari lokasi tersebut terdapat sebuah bangunan yang mirip sekali dengan tempat Imam (Pe-Imam-an) di masjid. Namun untuk menuju ke lokasi bangunan tersebut haruslah melewati medan yang cukup berat karena kami harus melewati tumpukan sampah-sampah laut. Setibanya di lokasi bangunan tersebut, kami mengamati dan menganalisis bahwa kemungkinan besar bangunan tersebut digunakan sebagai Pos Penjagaan Tentara Jepang.






Kemudian kami melanjutkan lagi menuju lokasi berikutnya.


Setibanya di lokasi, sungguh kami tidak menduga sama sekali kalau gundukan tanah tersebut berupakan sebuah bangker, karena selain lokasinya tersebunyi, bangunan ini ditutupi oleh semak belukar yang sangat rapat sehingga kami atau mungkin orang lain tidak menduga bahwa gundukan tersebut merupakan sebuah bungker.


Kemudian sang Pemandu membabat semak belukar di sekitar bunker tersebut, baru kelihatan bahwa itu sebuah bunker. Untuk memastikan apakah bunker tersebut aman atau tidak dari binatang buas, maka sang Pemandu masuk terlebih dahulu kedalam bunker. 


Setelah dirasa aman, maka kami masuk kedalam bunker tersebut. Dan Woooww……. Sungguh luar biasa….. ternyata didalam bunker tersebut terdapat terowongan yang bercabang dua. Diatas terowongan tersebut terdapat lubang yang gunanya sebagai pencahayaan sekaligus fentilasi udara. Sedangkan 2 terowongan tersebut panjangnya kira-kira 15 meter yang ujungnya agak menyerong ke arah Timur yang menandakan menghadap ke matahari terbit (lambang Jepang).

Terowongan Sebelah Kanan

Terowongan sebelah Kiri


Setelah dirasa cukup, kami melanjutkan pencarian ketempat lain karena menurut informasi yang kami dapat di daerah Utara terdapat 5 bastion. 


Berbekal informasi tersebut, maka kami menjelajahi daerah Utara tersebut. Dan akhirnya kami sampai di sebuah tempat dimana di sekitar tempat tersebut masih di kelilingi semak-semak dan aneka tamanan perdu yang penuh dengan duri.



Kamipun mencoba membuka jalan dengan membabat tanaman yang menghalangi dan akhirnya sebuah bangunan bunker yang cukup lebar. Bangunan ini diperkirakan untuk menyimpan perbekalan-perbekalan tentara Jepang atau paling tidak merupakan tempat untuk melakukan diskusi untuk menentukan strategi apa yang akan dilakukan dalam peperangan.



  
Setelah selesai menginventarisir data-data yang diperlukan, maka kamipun beranjak dari bangunan tersebut menuju bangunan yang lain. Tanpa mengenal lelah dan tetap semangat dalam menyelusuri peninggalan sejarah yang ada di Ujung Piring, maka kami melangkah dengan pasti dan akhirnya kami tiba di sebuah tempat dimana tempat tersebut dipenuhi pepohonan yang sangat rimbun, sehingga pemandangan yang kami dapat sangatlah berbeda dengan tempat yang kami kunjungi sebelumnya.


Tempat tersebut ternyata merupakan bangunan yang disinyalir merupakan sebuah barak tentara jepang untuk melakukan istirahat. Bangunan tersebut bentuknya bersekat-sekat layaknya sebuah kamar.



Tidak jauh dari bangunan barak tersebut kami jumpai sebuah sumur yang sudah tidak bisa dipakai lagi karena sudah terlalu tua dan tidak pernah difungsikan lagi oleh masyarakat disana. Sumur tersebut berfungsi untuk tempat pemandian bagi para tentara Jepang.

Begitu selesai prosesing pendataan, kami melanjutkan ke tempat lain yang di tengerai masih ada bangunan di daerah Utara yang masih belum kami jelajahi. 


Dan akhirnya kami sampai ke suatu tempat dimana disitu terdapat sebuah banker yang hampir terpendam tanah. Bangunan bunker ini nampaknya sangat berbeda sekali dengan bunker-bunker yang kami jumpai sebelumnya dimana bungker tersebut lumayan panjang dan langsung tanpa adanya pilar penyanggah beton di tengahnya. Kalau dilihat dari bentuknya bangunan ini diperkirakan sebagai tempat penyimpanan bahan makanan bagi tentara Jepang, karena bangunan yang menghadap Utara ini merupakan bangunan yang ada di tengah-tengah lokasi bunker yang ada di daerah Utara.  


Dan perlu diperhatikan bahwa didalam bangunan bunker tersebut kami jumpai 3 ekor biawak yang besar yang cukup buas, sehingga kami tidak berani melihat kondisi bangunan tersebut.

Kamipun kembali ke tempat dimana pertama kali kami berkumpul, yaitu ditempat Makam/Buju’ Raden Jakandar atau orang-orang menyebutnya Sunan Bangkalan erasal dari Mataram dimana Beliau ingin menyebarkan Agama Islam di Arosbaya, tetapi malah diusir oleh Raja Arosbaya yang waktu itu di Arosbaya masih memeluk Agama Hindu dan Budha. Akhirnya Beliau menetap di Sembilangan Ujung Pring dan menjadi penduduk di sana. Menurut informasinya Beliau merupakan Mertua dari Sunan Bonang dan Sunan Gunung Jati. Beliau juga merupakan Besan dari Sunan Giri.

Demikianlah akhir Ekspedisi kami di Benteng Tjakraningrat IV, mudah-mudahan dari apa yang kami lakukan ini bisa membuka jalan bagi para pencinta sejarah yang ada di Madura pada umumnya dan Bangkalan pada khususnya. Dari apa yang kami sampaikan diatas mungkin dirasakan terdapat kekurangan-kekurangan, kami mohon koreksinya dan ini sangatlah penting bagi kami agar dapat secepatnya kami diperbaiki menuju kearah penyempurnaan.

Tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada temen-temen Tim Ekspedisi diantaranya Mas Hidrochin Sabarudin, Raden Mas Syafii dan Andrya Satrya P yang peduli dalam mencari bukti-bukti peninggalan sejarah yang di Bangkalan tanpa mengenal lelah dan putus asa. 

Dan juga terima kasih juga kami sampaikan kepada Mas Solihin yang dengan sabar dan penuh keikhlasannya memandu kami dalam Menguak Tabir Benteng Kramat di Ujung Piring ini... [DI]

Oleh : Indra Bagus Kusuma
Photo Koleksi : Bangkalan Memory
0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: