Wabah penyakit Kusta di Bangkalan tahun 1934-1939

Masa Kolonial Belanda sudah banyak terjadi berbagai macam penyakit di wilayah Hindia-Belanda, salah satunya penyakit Kusta. Kusta menyebar ke seluruh dunia dan menyerang berbagai kalangan masyarakat dengan segala tingkatan usia baik pria maupun wanita tanpa memandang berbagai jenis ras. Penyebaran Kusta pada umumnya terjadi pada umur 15-29 tahun. Namun dapat dijumpai juga pada umur yang sangat muda dan usia tua di atas 70 tahun.

Kusta masuk di Hindia-Belanda diidentifikasi melalui aliran besar tahanan yang dibawa sipir dari daerah yang dikuasai oleh Portugis ke Batavia. Selain itu, kedatangan bangsa Cina ke Hindia-Belanda turut serta mempengaruhi penyebaran penyakit Kusta. Bangsa Cina sudah dikenal telah lama terjangkit penyakit Kusta sebelum masuk ke Hindia-Belanda. Penyakit Kusta di Hindia Belanda ditemukan pada saat terjadi peningkatan penderita Kusta di Batavia pada paruh kedua abad ke-17.8 Penyakit Kusta sudah menjadi permasalahan bagi Hindia-Belanda sejak paruh kedua abad ke-17 terutama mencapai puncaknya pada tahun 1939.


Madura merupakan peringkat kedua wilayah yang memiliki penderita Kusta terbanyak setelah Jawa Timur. Pada tahun 1939-1940 dari tahun ket tahun angka kematian yang disebabkan oleh penyakit Kusta meningkat tajam, salah satunya terjadi di wilayah regentschap (kabupaten) Bangkalan. Pola penyebaran penyakit ini tidak terlepas dari kondisi geografis dan demografi wilayah tersebut.



Wabah penyakit Kusta di Hindia-Belanda mencapai angka tertinggi pada tahun 1939-1940. Kabupaten Bangkalan merupakan daerah yang paling banyak penduduk yang terjangkit penyakit Kusta. Hal ini dipengaruhi keadaan geografis dan demografi wilayah kabupaten Bangkalan. Pada akhirnya penyebaran penyakit kusta di daerah Bangkalan tidak hanya mempengaruhi kondisi kesehatan namun juga mempengaruhi keadaan sosial dan ekonomi.



Hal tersebut tentunya tidak dapat dilepaskan dari kondisi Kabupaten Bangkalan pada saat itu, yang menyebabkan terjadinya wabah Kusta di Bangkalan.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit Lepra di Kabupaten Bangkalan antara lain :
  1. Kepadatan penduduk dan daerah yang kumuh;
  2. Kurangnya kesadaran dari masyarakat Bangkalan dalam mengatasi penyakit Kusta untuk segera berobat.
  3. Terjadinya kontak serumah dengan penderita Kusta merupakan faktor fisik dengan faktor fisik.
  4. Kesalahan diagnose dalam mengobati penyakit Kusta.
  5. Kondisi geografis sebagai faktor penunjang terjadinya wabah Kusta di Bangkalan.
Pengobatan medis yang dilakukan dalam menangani wabah penyakit Kusta di Kabupaten Bangkalan tahun 1934-1939 ini dengan mengambil langkah yang tepat. Pemerintah melakukan penambahan dokter spesialis Kusta dan beberapa staf pendukung. Untuk mengontrol penyakit Kusta pemerintah juga menambah empat mantri lulusan perawat dan enam pembantu Kusta. Pengobatan tersebut meliputi pengobatan 294 pasien hidup tahun 1939 di seluruh kabupaten, karena tidak merata di semua tempat sehingga hanya ditempatkan pada 40 titik pengobatan di seluruh Kabupaten Bangkalan 40 titik tersebar di wilayah Blega, Kamal, Aroesbaja, Geger, Kokop, Bangkalan, Sotjah, Boeloekagoeng, Kwanjar, Tanah Merah, Tragah, Boerneh, Spoelo, Tandjoeng Boemi, Labang, Galis, Konang, dan Modoeng.

Selanjutnya pengobatan bagi orang yang terkena penyakit Kusta adalah dengan mengharuskan pasien secara rutin berobat ke klinik. Kehadiran pasien Kusta ke klinik pengobatan itu rata-rata 70% dari jumlah total yang sakit yaitu 732 penderita Kusta. Dalam hal ini untuk menunjang pengobatan yang ada maka didirikannya 5 klinik rawat jalan dan sekitar 35 pusat kasual. Pada setiap kali kunjungan ada sekitar 9 pembantu perawat Kusta dari 18 kecamatan yang datang mengunjungi berbagai klinik. Jadi tiap-tiap klinik rawat dan pusat kasual mendatangkan 4 pembantu Kusta untuk menangani pasien Kusta. Pengobatan secara medis penyakit Kusta dilakukan dengan cara diberikan suntikan Chaulmoogra (Chaulmoogra merupakan minyak murni yang disterilkan sendiri dan disuntikkan kepada pasien seminggu sekali). Dausse Collobiasse dan Obat Oral Chaulmograpils yang diminum tiga kali sehari.

Biaya-biaya pengobatan ini dibebankan pada anggaran dana yang disebut “Fund Kesejahteraan Madura". Fund kesejahteraan Madura merupakan dana yang dibentuk oleh pemerintah. Tindakan untuk menanggulangi penyakit Kusta tidak hanya berupa pengobatan medis dan pengobatan tradisional melainkan juga dilakukan dengan cara isolasi. 

Para penderita kusta ditempatkan di leprozerieen (karantina) yang terpisah dari masyarakat sekitar. Hal ini dimaksudkan untuk membatasi diri kontak antara yang sakit dengan yang sehat sehingga di harapkan mengurangi resiko penyebar infeksi. 

Dengan adanya Dana Kesejahteraan Madura ini maka akan dapat mendirikannya 496 leprozerieen di Bangkalan untuk dipakai penderita Kusta dalam pengobatan. Isolasi ini sudah dilaksanakan untuk 90% dari pasien.

Pada kenyataannya, Dana Kesejahteraan Madura hanya berjalan lima tahun saja, hal ini disebabkan karena adanya invasi Jepang yang sudah diambang mata sehingga aktivitas-aktivitas dana ini terhenti pada akhir tahun 1941... [DI]


Photo Koleksi : Bangkalan Memory
Previous
Next Post »
Thanks for your comment