Ambisi Cakraningrat IV Menguasai Jawa Timur

Cakraningrat IV pada tahun 1718 muncul sebagai penguasa Madura dan sangat berpengaruh dalam kaitanya dengan relasi pusat Kerajaan Mataram yang beribu kota di Kartasura khususnya Madura. Sebelumnya nama Cakraningrat IV adalah Raden Tumenggung Suradiningrat. 

Cakraningrat IV adalah penguasa Madura (1718 – 1745) sekaligus penguasa di Bawean, masa pemerintahanya di Bawean berlangsung antara 1720 – 1745 namun kekuasaannya lebih kuat di Madura. Cakraningrat IV pada tahun 1730-an atau dasawarsa ke empat abad ke-18 bermusuhun dengan atasannya di Kartasura yang rata-rata berusia masih muda, usianya rata-rata baru sekitar 20 tahun. 


Cakraningrat IV  sering membuat sunan gusar,jengkel dan marah karena Cakraningrat IV  tidak begitu saja tunduk kepada Kartasura dan selalu berbuat ulah, hal tersebut dikarenakan beberapa faktor seperti faktor geografis,sulitnya transportasi,kemampuan militer yang cukup kuat dan kedekatan hubungan Cakraningrat IV dengan VOC. 

Pada tahun 1720 Amangkurat IV menikahkan Cakraningrat IV  dengan saudara kandungnya, Raden Ayu Siti Sundari atau Raden Ayu Bengkring pada 21 juni 1726. Keretakan hubungan Kartasura dan Madura terlihat pada awal 1719, hal ini terbukti ketika Cakraningrat IV mengirimkan surat kepada VOC, yang isinya mengajukan dua permohonan yaitu, bantuan senapan kepada VOC dan meminta VOC menjadikan Madura sebagai vasal sekutu kongsi dagang Belanda seperti yang dilakukan kepada Sumenep dan Pamekasan. 

Peristiwa – peristiwa penting yang terjadi di Madura, Sekitar Maret 1718 dua ribu pasukan Bali menyerbu Madura, kemudian saudara muda Cakraningrat II, Raden Cakranagara bersekutu dengan Bali yang telah menduduki Madura bahkan mereka berhasil menggerakan kekuatan setempat. Untuk mengatasi tersebut pasukan kecil VOC dikirim dari Surabaya. 

Pada Mei 1718 kekuatan Belanda itu terkepung dan nyaris kelaparan dan melarikan diri pada Agustus 1719. Pada Agustus 1719 gabungan Mataram, Madura dan VOC memasuki Madura, dan berhasil mendapatkan kota Pamekasan dan Sampang serta pusat pertahanan Madura berhasil dikuasai. 

Pada Desember 1719 , 150 orang serdadu Bali meyerahkan diri kepada pihak VOC, dan semuanya dibunuh. 1718 – 1722 terjadi perang Surabaya, dibawah pimpinan Cakraningrat IV dengan pasukan Madura dan  VOC untuk menghadapi kekuatan Adipati Jaya Puspita  yang dibantu Panji Surengrana. Benteng terakhir kekuatan Jayapuspita Wanakarma berhasil dikuasai pada Agustus 1719. 

Kemudian ada juga Perang Suksesi Jawa II (1719 – 1723) yang hasilnya kebanyakan kekuasaan Mataram dapat dikuasai oleh Amangkurat IV. Menjelang berakhir perang Surabaya (1722) berdasarkan perjanjian Madura-VOC pada 5 oktober 1705, Kartasura menyerahkan semarang kepada VOC. 

VOC mengangkat Martayuda sebagai bupati semarang, pengagkatan tidak diketahui pihak sunan, masalah tersebut dapat diselesaikan oleeh Jacob Wiillen Dubbeldekop, komisaris dan kumendur. Cara yang dilakukan dengan memperpendek masa jabatannya. Ketika Patih Danuredja mengirimkan surat dari Kartasura untuk Cakraningrat IV agar hadir dalam Gerebeg Maulud 1722, surat tersebut ditahan oleh Comannder Semarang Hans Frederik Bergman (1718-1722), ia hanya mengatakan bahwa Cakraningrat IV tidak perlu ke Kartasura, tetap tinggal di Madura Cakraningrat IV mengikuti apa kata comannder ia hanya mengirimkan wakil pada acara tersebut. 

Pada 1722 utusan Amangkurat dibawah pimpinan Patih Danuredja IV tiba di Batavia melaporkan pemindahan pos VOC. Dan menuntut dikembalikannya Jawa Timur sebagai kekuasaan daerah Madura seperti periode cakraningrat II (1680-1707). Meminta pula jabatan bupati senior junior di Surabaya yaitu Suryawinata dan Sasrawinata  segera dipindahkan karena mengancam ambisi Mataram untuk merebut Jawa Timur kembali. 

Untuk itu Danureja IV melaporkan bahwa sunan memanggil kedua bupati tersebut ke Kartasura, pemanggilan itu sekaligus untuk membujuk Cakraningrat IV yang akhirnya bersedia hadir pada Gerebeg Maulud pada Desember 1722. Hasil dari pertemuan tersebut digantikannya bupati junoi dan senior oleh Tumenggung Suradinara dan Tumenggung Secadinara. 

Pada 1723 perlawanan terhadap kekuasaan terhadap suanan terjadi, di masa terakhir pemerintahan Pakubuwana I (1705-1719). Tanah jawa mulai menapaki era perdamaian, dengan berakhirnya perang di Jawa gabungan Mataram – Madura – VOC yang berada diberbagai daerah membubarkan diri dan kembali ketempat asal. 1726 dibawah Pakubuwana II perlawanan bersenjata kekuatan oposisi berhasil ditumpas, dan terjadi konsolidasi dan membentuk kelompok-kelompok ditingkat elite kekuasaan lingkungan keratin kartasura dan penjabat tinggi keratin yang loyal pada Amangkurat IV. 

Pada 1722 Cakraningrat IV bersikap keras melihat perkembangan Polarisasi tersebut 1723 Cakraningrat IV mengajukan permohonan agar VOC menempatkan Madura dibawah kekuasaannya dan Cakraningrat IV menolak hadir pada gerebeg Maulud 1723. 1724 Cakraningrat IV mengikuti usul Patih danureja untuk hadir pada Gerebeg Maulud 1724 dan membawa Gajah kepada sunan untuk mengganti gajahnya yang mati. Sikap Cakraningrat IV sangat berkenan di hati sunan. 

Tahun 1723 berakhirnya perlawanan panembahan purbaya di Lumajang. Pada saaat itu pengikut Surapati menganggap VOC mengkhianati Surapati III karena serangan tersebut hanya membawa petaka. Dalamperistiwa tersebut keluarga sunan dan pasukan Bali berhasil menduduki alun-alun serta menguasai dalem bupati Pasuruan. Sedangkan VOC terkepung oleh surapati III. Mengetahui itu Danureja dan Cakraningrat IV bergabung dengan kekuatan bersenjata. 

Ketika terjadi perebutan pengaruh antar faksi di kartasura, tampaknya banyak terjadi perkawinan untuk mendekatkan kelompok-kelompok yang bersaing. Sementara itu  kekayaan dan pengaruh Jayaningrat semakin meningkat berkat kegiatan bisnisnya. Kuatnya pengaruh Jayaningrat dan Danureja pada tahun 1724 mereka berhasil menggalkan perkawinan putra Amangkurat Raden Ajeng Siti Sundari dengan Cakraningrat IV. 

Yang selanjutnya puti Amangkurat IV itu dijodohkan dengan anaknya sendiri yang menjabat sebagai bupati Tegal Tumenggung Tirtanata. Cakraningrat IV merasa berada dalam intrik yang berbahaya, dan ia percaya sunan telah terpengaruh dengan konspirasi yang meracuni dirinya. Maka dari itu Cakraningrat IV meninggalkan Kartasura. Cakraningrat IV melaporkan apa yang terjadi kepada VOC di Batavia. Hubungan Amngkurat IV dan Madura berlangsung buruk, namun ketika Amngkurat jatuh sakit Maret 1726, Cakraningrat IV berusaha membantu usaha penyembuhanya. Karena sikap Cakraningrat IV seperti itu Amangkurat IV memperizinkan Raden Ajeng Siti Sundari menjadi isterinya. 

Pada 20 April 1726 Amangkurat IV meninggal dunia dan dimakamkan di kompleks pemakaman raja-raja Mataram di Imagiri pada 21 April 1726. Suanan berjanji kepada Cakraningrat IV akan memberikan hadiah perkawinan, namun sampai pertengahan 1728 daeran yang menjadi hadiah tersebut tidak diserahkan juga, sikap tersebut membuat Cakraningrat IV mendekatai lawan polotik sunan.23 september 1728, Cakraningrat IV mengirim surat kepada VOC. VOC breranggapan bahwa sikap penguasa di Jawa yang memberikan wilayah kekuasaan diluar Jawa, khusunya dalam kasus pemberian wilayah kepada Madura akan sangat membahayakan kedudukan raja-raja Jawa dan posisi VOC. 

VOC member solusi kepada Danureja agar Madura diserahkan kepad VOC, pada Agustus 1729 Danureja kembali ke semarang. Dan terjadi masalah dengan Gubernur Jendral Diederik Durven (1729 – 1723). Cakraningrat IV merasa bimbang karna kelunakan sikap keratin dan istrinya yang sedang hamil. Pada 1729 bulan oktober keratin meastikan tidak ada penyerahan Madura kepad VOC., sehingga Cakraningrat IV terhindar dari konfrontasi total dengan pihak keraton. Tersmitten menginginkan perpecan sunan dengan Cakraningrat IV maka dari itu ia selalu membuat masalah provokasi. VOC pun mengadu domba Pakubuwana II dengan menyediakan bantuan untuk menyerang Cakraningrat IV. 

Pada 1733 Danureja dipecat dan dibuang ke cyeilon dan digantikan triumvirat. Dengan Dalil kartasura sedang tanpa hukum Ratu ageng mengajukan agar Cakraningrat IV diangkat menjadi penasihat raja. Cakraningrat IV menyatakan kesediannya dengan syarat Madura diserahkan kepada Raden Tumenggung Suradiningrat, dirinya diberi hak meiliki dan menggunakan upacara-upacara seremonialnya juga diberi lungguh seperti yang telah ia miliki sehubungan dengan jabatnya sebagai seorang pangeran dan saudara ipar sunan. 

Namun hal itu di tentang karena dianggap Cakraningrat IV akan merusak perimbangan kekuatan di keratin Kartasura. Dibalik ketegangan antara kartasura dan Madura banyak peristiwa-peristiwa yang dapat mengendurkan ketegangan tersebut seperti skap anak dari Cakraningrat IV, dan sikap Cakraningrat IV sendiri. 

Hubungan makin membaik pada 1739. Tahun 1739 Cakraningrat IV mengirim pasukan ke Bandawasa tanpa sepengetahuan sunan. Dalam serangan itu Madura berhasil mengambil tawanannya. Keraton mengangap kebebasan Cakraningrat IV secara politik dan budaya terlalu jauh dan menuntut pelindung penguasa Madura itu (VOC). 

Belum reda ketegangan Kartasura dan Madura, konflik berdarah antara Cina dan VOC. Saat huru hara Cina sampai pula di kartasura lingkungan di sekitar Kartasura terpecah menjadi bebrapa faksi. Faksi Patih Natakusuma yang mendukung gerakan Cina untuk mengusir VOC dari Jawa, Ratu Ageng dan Tumenggung Tirtawiguna yang setia kepada VOC. Cakraningrat IV sejak berkuasa di Madura (1719), merupakan isyarat yang jelas ingin melepaskan diri dari Mataram. Pertama Cakraningrat IV berada di Madura yang terletak di ujung atau pinggiran Mataram.  

Kemelut di Kartasura

Setiap suksesi di Mataram senantiasa memunculkan persengkokolan dan faksionalisasi untuk merebutkan tahta kerajaan. Contoh faksionalisasi di kartasura Pertentangan Ratu Ageng dan Mangkunegara dan peristiwa suksesi dari Amangkurat VI. Meningkatnya faksionalisasi di Kartasura pada tahun 1737 telah mendorong Pakubuwana II untuk memintas VOC memulangkan para pangeran keturunan Amangkurat III dari Cyeilon Jawa. Tahun 1739 tampaknya persaingan antar faksi kartasura semakin jelas dan menjurus kea rah disintegrasi yang sangat membahayakan eksistensi kerajaan Mataram. 

Persaingan faksi di kerajaan Matarm berkisar kepada tiga, yaitu pengangkatan pejabat, kelompok – kelompok kepentingan local dan solidaritas keluarga. Adanya faksi itu akan menjadi masalah yang sangat serius ketika ad ancaman dari luar. Pakubuwana II yang berada pada puncak hieraki politik dan kekuatan supranatural di Jawa sebenarnya harus bertanggung jawab atas penggunaaan faksionalisasi dibawah kekuasaanya. Namun ketidak mampuan Pakubuwana II samapai 1738 memang tidak menimbulkan gejolak. Tampak dari munculnya tokoh Danureja dan Demang Urawan. 

Pada tahun 1739 persaingan antar elite di kertasura melibatkan kelompok kelompok seperti, Ratu Ageng yang berusaha menyelamatkan tahta putranya. Kelompok Patih Natakusuma yang sejak semula beresekutu dengan Raden Demang Urawan dan Pringgalaya. Kelompok Tepasana yang terdiri dari 200 anggota keluarga keturunan Sunan Mas atau Sunan Amnagkurat III yang telah meninggal di Celion. Kelompok Adipati Jayaningrat dari pekalongan dan Adipati Citrasoma dari Japara.Kelompok Cakraningarat IV yang tidak secara langsung bertempat tinggal di ibu kota Kartasura seperti penguasa Madura pendahulunya. 

Pada pertengahan Juli 1741 VOC mendapat laporan terjadinya pembunuhan atas orang—orang Cina di Surabaya dan Gresik. Cakraningrat IV mengirimkan surat kepada Abraham Roos.keinginan Cakraningrat IV dalam surat it ¸hanya ingin persetujuan pembebasan Cakraningrat IV dari ikatan kepatuhan Kartasura. Sementara perang makin meluas antara Cina VOC dipesisir utara Jawa Tengah makin meluas.Keraton Kartasura mengalami krisis politik yang membahayakan kerajaan. Moif – motif keagamaan tampaknya ikut mendorong terjadi peristiwa politik berdarah 1741. 

Dilaporkan bahwa pada malam 2 november 1741, Semarang diserang oleh kekuatan Jawa dan Cina yang menggunakan pakaina makasar. Para penyerang menggunakan perahu-perahu kecil. Pada 4 Novemebr 1741 serangan pihak Jawa dilaporkan gagal merebut benteng dan mereka kembali ke posisis masing-masing. Pada 9 – 10 November 1741 pihak VOC berhasil mengusir kekuatan Cina dari sungai Kaligawe Terbaya Pangong. Bersamaan dengan pertempuran yang terjadi di Semarang 11 November 1741 Cakraningrat IVmemberitahu opperhooft wingaarden di Surabaya bahwa ia akan menyerang Gresik, Lamongan, dan Tuban.

Huru- Hara Cina di Kartasura

Dalam uraian terdahulu telah diterangkan bahwa peristiwa yang terjadi antar 13-19 November 1741 merupakan titik balik dari adu kekuatan senjata VOC dan pasukan Cina Jawa di wilayah pesisir utara jawa. Peristiwa penyerbuan benteng VOC di Kartasura tampaknya menunjukkan ketidakserasian hubungan sunan dan patih Natakusuma. 

Kejadian itu diketahui oleh Cakraningrat IV yang kemudian dijadikan kesempatan untu memperluas wilayah kekuasaannya, hal ini pun membuat sunan marah. Namun, berdasarkan keterangan dari seorang utusan sunan yang ditahan oleh VOC mengaakan bahwa sunan ketakutan terhadap serangan Cakraningrat IV tersebut. Beberapa saat kemudian, VOC dan sunan akhirnya berdamai, dan sunan berniat untuk memperbaiki benteng yang rusak akibat peperangan, dari hubungan tersebut membuat sunan berpihak pada VOC sehingga pasukan Cina dan Jawa anti-VOC tidak tinggal diam, mereka pun akhirnya melakukan pemberontakan untuk menurunkan Pakubuwana II dari tahtanya. 

Kemudian para pemberontak mengangkat Mas Garendi sebagai sunan yang baru. Meskipun sudah ada pergantian sunan, tetapi para pemberontak Cina tetap melakukan serangan untuk memperluas jaringan perdagangannya, sampai pada akhirnya pasukan Cina bertemu pasukan Kartasura di Salatiga, dan terjadilah pertempuran yang hebat dan pada akhirnya dimenangkan oleh pasukan Cina, dampak dari peperangan ini Salatiga pun jatuh ke tangan pasukan Cina dan dengan hal ini sunan pun menjadi sangat prihatin... [DI]


Sumber : 

Buku Perlawanan Penguasa Madura Atas Hegemoni Jawa : Relasi Pusat – Daerah pada Periode Akhir Mataram (1726 – 1745)

0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: