Siapakah Sebenarnya Cakraningrat IV ?

Untuk mengungkapkan siapa sebenarnya tokoh Cakraningrat IV yang berperan penting dan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya ketegangan hubungan antara pusat Kerajaan Mataram dengan daerah-daerah kekuasaannya, khususnya yang menyangkut wilayah mancanagara timur atau bangwetan, sekitar dua dasawarsa pada pertengahan abad ke-18 (1719-1745), tersedia sumber-sumber lokal dari Madura dalam bentuk penulisan sejarah tradisional berbahasa Jawa dalam bentuk babad Madura. 

Adapun untuk melacak perihal terbentuknya kekuasaan lokal di Madura bagian timur (Madura Timur) antara lain tersedia sumber babad Sumenep. Berbeda dengan Sadjarah Madura yang penulisnya menganggap para penguasa Madura Barat tidak lebih sebagai subordinasi Majapahit dan Mataram, tampaknya penulis babad Sumenep memandang bahwa pendiri dinasti di Madura Timur dengan kemampuannya berhasil memanfaatkan kedua kerajaan Jawa di atas untuk pengembangan dirinya. Dalam hal munculnya tokoh Cakraningrat IV serta hubungannya dengan kerajaan Mataram, VOC dan Cina, ternyata isi sumber Sadjarah Madura banyak berkesesuaian dengan sumber-sumber VOC. Suradiningrat yang kemudian bergelar Cakraningrat IV merupakan anak dari Cakraningrat II dan merupakan adik dari Cakraningrat III. 

Diketahui Cakraningrat III mempunyai rencana untuk dapat berkuasa di Madura, mengetahui ambisi saudara tuanya itu, Suradiningrat melihat peluang untuk mendapatkan posisi yang baik bagi dirinya di masa depan. Ia segera pergi ke VOC dan Patih Cakrajaya di Surabaya untuk menyatakan kesetiaannya pada Sunan dan bersedia membunuh Cakraningrat III. Dari satu insiden yang bermula dari masalah keluarga, kemudian berkembang menjadi konflik terbuka antara kekuatan Madura (Sampang) dan kekuatan Pamekasan. 

Dalam konflik itu Cakraningrat III dapat dikalahkan oleh kekuatan gabungan Suradiningrat dan kekuatan Adikara dari Pamekasan. Tatkala Cakraningrat III menyadari akan nasibnya bermaksud menyerahkan diri kepada kekuatan VOC di kapal Oestgeest yang telah siap di perairan selat Madura, akan tetapi kemudian terjadilah kesalahpahaman antara Cakraningrat III dengan nahkodanya Kapten Dominicus Marius Pasqaues Chavones. Kesalahpahaman terjadi tatkala kapten Chavones menyambut kedatangan isteri Cakraningrat III dengan menggandeng tangan dan mengecup tengkuknya. 

Kejadian itu ternyata sangat mengejutkannya, hingga isteri penguasa Madura itu berteriak-teriak dan meronta-ronta ketakutan. Mengetahui kejadian itu, kemarahan Cakraningrat III tidak dapat dibendung lagi dan melancarkan amuk. Perkelahian antara pengikut Cakraningrat III dengan anak buah kapal Oestgeest tidak dapat dihindarkan. Anak buah kapal Kapten Chavones berhasil membunuh Cakraningrat III. 

Oleh Patih Cakrajaya, kepala Cakraningrat III itu dipenggal dan dikirim ke Mataram, sedangkan bagian tubuhnya dibuang ke laut. Di tengah berkecamuknya perang Surabaya, Suradiningrat menggantikan kedudukan saudara tuanya. Setidak-tidaknya pada April 1718, penguasa baru Madura itu telah menyandang gelar Adipati Suradiningrat. Baru pada 1720, ia secara resmi mendapat gelar bangsawan dari Sunan, Pangeran Adipati Cakraningrat IV...[DI]


Sumber : 

Buku Perlawanan Penguasa Madura Atas Hegemoni Jawa : Relasi Pusat – Daerah pada Periode Akhir Mataram (1726 – 1745)


0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: