Kaum Elite Pribumi Keturunan Madura di Bengkulu

Kehadiran kaum elite pribumi keturunan Madura di Bengkulu pada abad ke 18, sebenarnya tidak lepas dari latar belakang situasi politik di wilayah Madura itu sendiri. Panembahan Abdul Kharim Diningrat atau lebih dikenal dengan Panembahan Cakraningrat IV, penguasa dari Bangkalan di Madura Barat, mempunyai empat orang anak. Dari keempat anaknya, yang diketahui namanya hanya tiga orang, yaitu Raden Surodiningrat (anak tertua), Raden Ranadiningrat (anak ketiga), dan Raden Tumenggung Wirodiningrat (anak keempat)[1].

Menurut catatan Broek, Ranadiningrat dan Wirodiningrat lahir dari istri yang berbeda, yaitu Nyai Tengah dan Nyai Magih, yang keduanya berasal dari Banyu Sanka di Bengkulu[2]. Catatan Broek ini sangat memungkinkan, sebab Cakraningrat IV telah mempunyai hubungan yang erat dengan Kompeni Inggris di Bengkulu. Jadi besar kemungkinan, apabila Cakraningrat IV memperoleh istri dari Bengkulu.

Photo Para Bangsawan di Madura

Selanjutnya disebutkan, bahwa hubungan antara Cakraningrat IV dengan anak tertuanya yang telah menjadi Bupati Sedayu, mulai retak karena sikap anaknya yang cenderung pro Kompeni Belanda. Akibat retaknya hubungan keluarga, maka dibuanglah istri Surodiningrat dan keempat anaknya, serta anak Ranadiningrat[3]. Pada waktu pecah perang antara Cakraningrat IV dengan Kompeni Belanda, dikirimlah Raden Temenggung Wirodiningrat (anak yang keempat) bersama dengan Raden Sang Nata (anak Raden Ranadiningrat) ke Bengkulu untuk minta bantuan Kompeni Inggris. Akan tetapi gagal, bahkan mereka akhirya menetap di Bengkulu. Sementara Cakraningrat IV sendiri ditawan oleh Kompeni Belanda dan selanjutnya dibuang ke Cape (Tanjung Harapan)[4].

Kehadiran kelompok elite keturunan Madura di Bengkulu ini, ternyata mendapat respon serta sambutan terhormat dari kalangan elite pribumi setempat. Perkembangan selanjutnya, kelompok elite keturunan Madura ini berhasil menjalin hubungan kekerabatan melalui perkawinan dengan keluarga elite pribumi setempat. Bahkan Pangeran Sungai Lemau telah memberinya tempat tinggal, yaitu di kampung tengah Padang. Berikut isi petikan dalam Naskah Melayu tentang posisi elite keturunan Madura[5].

Maka datang doea orang radja dari Madoera di gelar Radhen Temenggoeng Wiro Diningrat, di gelar Radhen Sangnata menoedjoe kepada toeankoe Soengai Lemaoe dan Daeng Maroepa, maka di lihat roepa orang patoet patoet, maka toeankoe terima dengan patoet poela, maka dikoerniai tempatnja tinggal di kampoeng Tengah Padang, lama-lama Temenggoeng Wiro Diningrat, dan Radhen Sangnata beristri dan beranak di Bangkahoeloe.

Raden Temenggung Wirodiningrat menikah dengan Siti Juriyah, dan Raden Sang Nata menikah dengan Sa’diah. Siti Juriyah adalah anak keturunan elite Bugis, sedangkan Sa’adiah adalah anak keturunan elite Sungai Lemau[6].

Menurut sumber sejarah yang diketemukan, Raden Temenggung Wirodiningrat selanjutnya diterima oleh kompeni Inggris sebagai perwira dalam korps yang terdiri dari orang-orang Bugis. Untuk lebih jelasnya, berikut ini surat yang ditulis oleh anak keturunannya yang telah diterjemahkan:

kami ingin menerangkan kepada Tuan bahwa pada tahun 1734 ketika Belanda menaklukkan Madura, almarhum kakek kami yang bernama Panembahan Abdool Charim Diningrat yang bertempat tinggal di sana telah meminta almarhum ayah kami Raden Temenggung untuk pergi ke Bencoolen mencari perlindungan di bawah pemerintah Inggris yang dinikmatinya sampai akhir hayatnya, dan beliau ditunjuk sebagai perwira dalam suatu korps yang terdiri dari orang-orang Bugis, yang penunjukan itu diturunkan kepada kami dan anak-anak kami. Beliau mempunyai dua belas orang anak yang hidup tinggal kami dan dua orang saudara kami perempuan.

Yang tertua di antara kami bertiga, yaitu Raden Miradiningrat yang pada saat ini masih memegang jabatan sebagai Kapten pada Korps Bugis yang diperolehnya pada tahun 1774, Raden Muhamad dan Raden karim pada tahun 1794. Kami ingin menambahkan, bahwa sejak kami mendapatkan kehormatan untuk melayani kompeni, kami harus kerja agar layak mendapatkan perlindungan dan mematuhi segala perintah yang diberikan kepada kami. Raden Muhamad luka parah pada perang Lehong yang dipimpin oleh almarhum Kolonel Clayton dan telah mendampingi almarhum Kapten Adair dalam perang Longye Tunang dan Pasummah ….[7]

Dari isi surat tersebut di atas, dapat diketahui bahwa Raden Temenggung Wirodiningrat dan anak keturunannya telah menjadi sekutu kompeni Inggris yang tergabung dalam korps Bugis. Di samping itu, juga diketahui bahwa Raden Temenggung Wiriodiningrat mempunyai dua belas orang anak.

Sementara menurut silsilah keluarga bangsawan Madura yang ada di Bengkulu, disebutkan bahwa anak Raden Wiriodiningrat dengan Siti Juriyah berjumlah 9 orang. Adapun kesembilan orang anaknya, yaitu:
1. R. Tawang Alun,
2. R.T. Aria Djanaka (R, Nakaningrat),
3. R. Demang Soeratama,
4. R.A. Boengsoe,
5. R. Mohamad Zein.
6. R.A. Rasmi.
7. R. Abdul Karim,
8. R.A. Sridjati (Ratoe Anom), dan
9. Abdul Rahman (R.T. Adiningrat).

Selanjutnya menurut laporan Daeng Supu mengenai kondisi dan masalah di Bengkulu yang disampaikan ke Batavia, tertanggal 9 Februari 1783, petikannya adalah sebagai berikut :

Ten tiende is de oudste zoon van Radeen Tomangong, Radeen Taawoeng aloen Luitenant, de twelde genaamd Radeen Tenga is na Madras, de derde genaamd Radeen Smaka is van de vierde genaamd Radden Tama is bij wijn voeder vaendrig, en met dienselven na Padang onder T gezag van Mastakries die als Admiral daarnatoe gezonden is, om aldaar else sterkte te bouwen, zijnde de jongste zoon nog in geen functie[8].

Terjemahan bebasnya sebagai berikut :

… yang kesepuluh, anak Tertua dari Raden Tumenggung, Raden Tawang Aloen menjadi Letnan, anak kedua yang bernama Raden Tengah menjadi kelasi, anak ketiga yang bernama Raden Smaka menjadi prajurit, anak keempat yang bernama Raden Tama menjadi ajudan prajurit, dan bersama dia dikirim ke Padang untuk membangun pertahanan di sana. Anak yang bungsu masih belum bekerja….

Dari ketiga sumber sejarah tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa anak tertua Raden Temenggung Wirodiningrat adalah Raden Tawang Aloen atau Raden Temenggung Miradiningrat, yang telah menjadi kapten Bugis. Sementara anak yang kedua, Raden Tengah tidak termasuk yang disebut dari sembilan anak. Jadi sangat mungkin, bahwa anak Raden Temenggung Wirodiningrat jumlahnya ada dua belas orang.

Selanjutnya disebutkan, bahwa Raden Temenggung Wirodiningrat meninggal di Bengkulu pada bulan Februari 1790. Sementara Raden Sang Nata sendiri mempunyai anak yang bernama R.A. Ratna Setaman yang kemudian menikah dengan Daeng Adimelia.

Tampaknya keluarga elite pribumi keturunan Madura ini sebagian besar telah menjadi pasukan tentara Inggris yang tergabung dalam korps Bugis. Di samping itu, melalui perkawinan antar klan tampaknya semakin memperkuat posisi mereka.

Menurut catatan J. Kathirithamby-Wells dan Mohamed Yusoff Hashim, anak keturunan bangsawan Madura yang bernama Raden Anom Zainal Abidin pada tahun 1810 menikah dengan Puteri Halimah Utama, putri keempat Sultan Khalifatullah Inayat Syah dari Muko-Muko. Oleh karena Raden Anom itu cucu Pangeran Sungai Lemau dan Kapten Bugis Daeng Makulle, maka bertemulah keluarga elite pribumi baik dari keturunan Bugis, Madura, Muko-Muko, maupun Sungai Lemau di Bengkulu... [DI]


Pustaka :
[1] J. Kathirithamby-Wells & Mohamed Yusoff Hashim, op.cit., hlm. 145.
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Ibid., hlm. 145-146.
[5] Bahoewa Inila Asal-Oesoel, op.cit., patsal. 39.
[6] Sebagai referensi : Bakri Ilyas, op.cit., hlm. 24-25; Bahoewa Inila Asal -
oesoel, op.cit, patsal. 25-30; H. Delais dan J. Hassan, op.cit., hlm. 48-55.

[7] Het Londonsche Tractaat van 17 Maart 1824, dalam Diverse Stukken : Bijl. 4bl. 287 noot e. Request dd. 6 October 1824 van de Madoereesche radens Mira di Ningrat. Mohamed en Doel Karim aan Resident Prince (B) (Arsip Nasional B : 6/15).

[8] Relaas van de Anachodas Daeng Soepoe en Boegis, Wagens de Staat en Geleegenheid van Bancahoeloe gegeven te Batavia (Arsip Nasional B : 5/6a).



Sumber : http://bangkahoeloe.wordpress.com
Photo Koleksi : KITLV

Previous
Next Post »
Thanks for your comment