Upacara Pelet Kandhung, Tradisi Adat Madura

Upacara Nan’ dai adalah salah satu upacara Pelet Kandhung (upacara kehamilan), apabila seorang ibu di madura mulai mengandung, diadakanlah upacara Nan’ dai, yaitu upacara untuk memberi kesaksian bah­wa seorang ibu telah mulai mengandung. Upacara nandai ini mulai diadakan pada waktu kandungan berusia satu bulan, hingga kandungan berumur sembilan bulan. 

Rentangan masa kehamilan bulan pertama hingga bulan ke sembilan, ditandai dengan upacara sisipan yaitu upacara Pelet kandhung, Upacara ini diadakan pada waktu umur kandungan masuk bulan ke tujuh. Upacara ini merupakan upacara penting yang lazim di­adakan pada waktu seorang ibu untuk pertama kalinya hamil. Biasanya upacara ini berlansung dengan meriah karena, semua kerabat-dekat maupun jauh, diundang dalam upacara ini.

Mulai bulan pertama, upacara nandai, ditunjukkan de­ngan meletakkan Bigilan yaitu buah nangka (dalam bahasa Jawa : beton) di atas sebuah Leper, tatakan cangkir. Bigilan yang diletakkan di atas leper itu jumlahnya selalu bertambah, sesuai dengan hitungan kandungan sang Ibu. Jadi untuk bulan pertama satu biji, bulan kedua, menjadi dua biji, sampai bulan ke sembilan seluruhnya berjumlah sembilan biji.



Di meja terletak leper dengan tujuh biji Bigilan, yang me­nandakan bahwa kandungan Patonah, isteri Pak Marhamah sudah masuk bulan ke tujuh. Di atas meja tersebut, juga ter­dapat sebuah cawan yang berisi bunga Komkoman, yaitu bunga yang terdiri dari bermacam-macam jenis, direndam dalam air. Bunga Komkoman ini tidak lain bunga rampai yang diren­dam. Benda-benda itu dimaksudkan sebagai sajian.

Hari itu, Patonah menjadi pusat perhatian sanak saudara­nya sekoren. Mereka yang hadir itu adalah saudara-saudara dekatnya yang datang dari desa sekitarnya. Karena kandungan Patonah sudah masuk bulan ketujuh, maka orang tuanya me­nyelenggarakan upacara Pelet kandhung atau Pelet Betteng. Arti dari nama upacara tersebut adalah pijat kandungan atau pijat perut.

Upacara pelet kandhung dimaksudkan agar si ibu yang mengandung selalu sehat, sedang bayi yang dikandungnya, sehat dan selamat sampai waktu dilahirkan.

Waktu Penyelenggaraan Upacara

Upacara itu dijatuhkan pada waktu malam hari, dan dila­kukan sesudah sembahyang Isya’. Kebetulan malam itu adalah malam bulan purnama, saat yang baik ini memang dinanti oleh keluarga Pak Marhamah. Sebab menurut perhitungan hari, saat bulan purnama ini, dianggap waktu yang terbaik. Saat bulan purnama, adalah waktu suasana di desa terang, karena sinar bulan. Sedang saat berlangsungnya upacara dijatuhkan pada saat orang-orang baru lepas sembahyang Isya’. Keluarga Pak Marhamah, demikian juga tetangga dekatnya, memilih sesudah sembahyang Isya’ untuk mengadakan kenduri atau melangsungkan hajad selamatan, jika dilakukan pada ma­lam hari. Waktu sesudah Isya’ dianggapnya tepat karena waktu itu cu­kup longgar,karena orang sudah lepas dari kewajiban salat, da­lam siklus lima waktu. Tempat Penyelenggaraan Upacara.

Keluarga Pak Marhamah tinggal di rumah Pegun, rumah tradisional, dengan gaya arsitektur khas Madura. Rumah itu terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian muka, yang berfungsi sebagai pendopo, rumah induk, dan dapur. Di sebelah kanan rumah, terletak surau, dan beberapa bangunan lain di sekeliling tanean (halaman bersama).

Patonah dan suaminya, bertempat tinggal di salah satu kamar dalam rumah induk itu. Mereka masih menumpang pada rumah orang tuanya. Upacara pelet kandhungitu dilangsungkan di bilik Patonah.

Sudah sejak tiga hari, rumah Pak Marhamah kelihatan sibuk, karena adanya persiapan upacara tersebut. Bilik yang ditempati Patonah dan suaminya itu, sebenarnya bagian dari rumah induk yang dibuat sekatnya menjadi kamar. Oleh sebab itu dapur maupun kamar mandi masih menjadi satu dengan orang tuanya.

Penyelenggara Upacara

Upacara Pelet kandhung itu dilakukan oleh emba bine, atau juga disebut agung bine, atau emba nyae. Orang ini adalah nenek Patonah, yaitu ibu dari Pak Marhamah. Ia adalah termasuk orang tertua dalam keluarga Pak Marhamah, oleh karena itu, ia menjadi salah seorang yang berperan dalam upacara ter­sebut. Pelaksanaan upacaranya sendiri, dipimpin oleh dukun bayi.

Pihak-Pihak yang Terlibat Dalam Upacara

Dalam upacara ini, melibatkan baik keluarga dari Pak Marhamah sendiri, maupun dari saudara laki-laki dan perempuan Pak Marhamah maupun isterinya, yaitu ibunya Patonah. Hadir pula dalam upacara ini matowa lake dan matowa bine Patonah, yaitu orang tua suaminya, serta saudara-saudara perempuan suaminya, yaitu yang termasuk epar bine. Semua yang hadir dalam upacara itu adalah perempuan. Patonah sen­diri adalah anak satu-satunya, oleh sebab itu para tetangganya atau saudara-saudara ayahnya, jika menyebut Pak Marhamah, adalah Pak Patonah. Dalam adat Madura nama panggilan ayah, seringkah menyebut nama anaknya yang pertama. Suami Patonah sendiri mempunyai dua orang saudara, semuanya perempuan. Terhadap mereka ini, Patonah menyebut epar bine. Di samping saudara-saudara yang tersebut di atas, para tetangga hadir juga dalam upacara itu. Mereka ini umumnya perem­puan dewasa yang sudah kawin.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara

Persiapan upacara Pelet Betteng ini, dimulai dengan penyediaan makanan dan minuman serta sajian yang akan dihi­dangkan kepada para undangan. Di samping itu juga dipersiap­kan alat-alat yang akan dipakai dalam upacara.

Makanan atau hidangan untuk Arasol, yaitu kenduri, be­rupa kuweprocot, ketan kuning yang dibalut daun berbentuk kerucut. Jubada, yaitu sejenis makanan dari ketan (juadah) Lemmeng, ketan yang dibakar dalam bambu, Tettel, dari bahan ketan, minuman cendul dan La ang, minuman dari bunga siwalan (semacam legen).


Untuk persiapan upacaranya sendiri, yaitu alat-alat untuk man­di dan sajiannya berupa : kain putih, sekitar IV2 meter untuk menutup badan siibu, yang dimandikan.

Air bunga satu Penay (satu belanga). Bunga yang dipakai untuk campuran air mandinya tidak boleh bunga yang bergetah atau gatal.

Gayung dari kelapa, yaitu tempurung dengan kelapa yang disisakan, sehingga econgap, menengadah, tangkai gayungnya terbuat dari ranting beringin yang masih disisakan daun-daunnya.

Telur ayam mentah sebutir dan yang masak sebutir. Satu Leper ketan kuning yang sudah masak, seekor ayam muda, dan minyak kelapa yang dibuat sendiri, untuk memijat. Kemenyan arab, atau setanggi, sepasang Cengker kelapa gading yang muda; Cengker itu digambari Arjuna dan Sembodro, dengan dibubuhi tulisan arab atau Jawa.



Arti dari barang-barang yang akan dipakai dalam upacara ini, menurut keterangan dukun adalah sebagai berikut :

Air Komkoman, air dengan berbagai macam bunga, biasanya berjumlah 40 jenis, merupakan air suci. Dengan demikian air untuk memandikan Patonah ini adalah air suci, yang diharum­kan karena ramuan berbagai ragam bunga. Gayung dari kelapa, menurut keterangan dukun, merupakan pohon yang selalu berbuah tanpa tergantung kepada musim. Dengan kelapa itu di­harapkan agar rezeki ibu serta bayi yang dikandung akan selalu ada. Sedangkan tangkai yang berupa ranting beringin, diharapkan agar si anak kelak dapat terpenuhi segala keinginannya, serta senang hidupnya. Dalam ungkapan masyarakat agar si anak : rampak naong beringin kurung. Seekor ayam muda disiapkan untuk dijadikan pak-tem- pak, yaitu benda yang akan disepak. Ayam itu diikat pada tiang dalam rumah, tetapi oleh karena rumah Pak Marhamah tembok maka ayam itu diikat pada kaki tempat tidur. Makanan yang dihidangkan dalam upacara tersebut mem­punyai arti agar rezeki si anak selalu mudah diperoleh. Bagaimanakah upacara pelet betteng itu dilaksanakan. 

Jalannya Upacara

Setelah para undangan hadir, yaitu para undangan laki-laki, mengambil tempat diserambi muka, duduk di atas tikar. Undangan itu berjumlah sekitar 30 orang. Seorang Kyae, di­minta untuk memimpin pembacaan surat Jusuf dan surat Mary am, dari Al-Qur’an. Sementara para undangan laki-laki ini membaca ayat-ayat Al-Qur’an (surat Yusuf atau surat Maryam), didalam bilik Patonah, pelet kandhung mulai berlangsung. 


Dukun memelet, atau memijit Patonah dengan menggunakan minyak kelapa, dengan maksud untuk mengatur letak bayi, da­lam kandungan. Sementara dukun itu memijat perutnya, seca­ra bergantian para kerabat Patonah yang tua-tua, dimulai oleh emba nyae, yaitu nenek Patonah, matowa bine, mertua perem­puan, e bu majadi, yaitu bibi, atau adik perempuan ayahnya, epar bine, ipar perempuan, secara bergantian mendatangai Patonah, mengusap perut yang tengah di pelet itu. 

Sambil mengusap perut Patonah itu, semua kerabat dan undangan itu memanjatkan harapan/doa agar bayi dan ibunya selamat. Sementara itu suara orang yang membaca ayat suci terus ber- gumam upacara pemeletan pada tahap pertama selesai. Dengan dibantu oleh Dukun, Patonah didudukkan dari pembaringan, kemudian dibimbing kedekat kolong, dimana seekor ayam yang sudah disiapkan itu diikat pada kaki tempat tidur. Serta merta, Patonah menyepak ayam tadi, dengan sepekan yang keras sehingga ayam itu kesakitan

Menurut petunjuk dukun, sepakan itu memang harus keras, sampai ayam itu berbunyi “keok”. Dengan terdengarnya keok ayam yang kesakitan itu, tahap pertama upacara selesai. Ayam yang masih terikat di kaki tempat tidur tadi kemudian ikatannya dilepaskan oleh Mentoa bine, selanjutnya ayam itu dikurung, dan nanti setelah upacara selesai, ayam itu diberikan kepada Dukun.

Tahap kedua pelet betteng, adalah upacara mandi. Dukun dengan bantuan mentoa binenya, menyelimuti badan Patonah dengan kain putih yang sudah disiapkan itu. Kemudian dengan bimbingan dukun, Patonah disuruh berdiri dengan kaki kanan menginjak kelapa muda, kaki kiri menginjak telur mentah. Nampaknya tugas itu agak sukar dilakukan oleh Patonah yang nampak gugup itu, akhirnya dukun mengambil telur yang tidak jadi diinjak kaki kiri itu, dengan cekatan dukun meletakkan telur tersebut di atas perut Patonah, sambil dilepaskan. Telur yang digelindingkan dari perut yang hamil itu, pecah, dan serentak yang hadir disitu berucap : jebing, jebing, artinya perempuan. 

Dengan ucapan yang hadir itu kelak diramalkan bayi yang dikandungnya akan lahir perempuan. Sesudah itu, Patonah dibimbing oleh dukun baji, itu ke belakang rumah, dimana persiapan untuk mandi itu akan dilakukan. Dengan diantar beramai-ramai, para wanita yang hadir mengikuti Patonah ke belakang rumah. Patonah didudukkan di sebuah bangku kayu yang rendah. Di dekatnya tersedia air Komkoman pada sebuah periuk tanah. Maka berturut-turut Dukun Bayi, memandikan Patonah dengan lebih dulu mema­sukkan uang logam ke dalam air komkoman itu. Si Dukun menyauk air komkoman dengan gayung belahan kelapa yang sudah dibersihkan dari ijuknya itu, gayung yang tangkainya dari ranting beringin. Sesudah itu kerabat dekatnya baik dari fihak ibunya sendiri maupun dari mertuanya perempuan, mu­lai memandikan seperti yang dilakukan oleh dukon baji. Setelah air yang tersedia habis, maka selesailah tahap kedua upacara Pelet Kandhung ini. 

Tahap ketiga adalah Adandan, artinya menghias diri, Patonah yang sudah dimandikan itu, dibawa ke dalam rumah untuk diberi persalinan. Semua baju dan kain milik Patonah yang terbaik disediakan untuk dipakai. Mertua perempuannya selalu mendampingi menantunya ini bersama dukun dan nenek perempuannya. Patonah sekarang sudah dirias dan memakai baju baru. Kemudian dari biliknya, tempat ia dipelet itu diperlihatkan kepada yang hadir dan semuanya secara spontan berucap : raddin, raddin, artinya cantik-cantik. Ucapan itu di­maksudkan sebagai persetujuan bahwa Patonah dengan dandan­an itu sudah serasi sekali. 

Sementara suara yang hadir menga­gumi kecantikan Patonah, bersama dengan lenyapnya kekaguman itu, para undangan laki-laki yang sejak tadi membaca surat Yusuf dan Mariyam, selesai pula. Dengan selesainya bacaan ayat suci Al-Qur’an, oleh seorang Kyae, mulailah di bacakan doa. Di muka Kyae, diletakkan dua cengker yang telah ada gambarnya tersebut, beserta tulisan Arab. Setelah selesai dengan pembacaan doa yang diamini oleh segenap yang hadir baik yang berada di muka, atau di belakang, maka Kyae memberi keterangan ringkas tentang makna surat Yusuf dan Maryam tadi.

Dikatakan agar bacaan ayat Qur’an tadi membawa berkah ke­pada sang bayi yang dalam kandungan. Jika kelak lahir laki- laki, rupanya agar setampan Nabi Yusuf. 1) Jika bayi telah lahir perempuan agar secantik dan semulia hatinya seperti Dewi Maryam. 2) Cengker yang bergambar Arjuna dan Sembodro yang su­dah dimantrai dengan doa oleh Kyae itu, oleh suami Patonah dibawa masuk diserahkan mertuanya perempuan. Cengker itu kemudian diletakkan di tempat tidur Patonah sampai kelak ia melahirkan bayinya Patonah yang sudah duduk di dalam biliknya kembali, di­beri minuman jamu Dek cacing towa. Jamu tadi ditempatkan pada cengkelongan, yaitu tempurung kelapa gading. Sehabis ia meneguk jamu dari cengkelongan, maka cengkelongan itu segera dilemparkan ke tanean (halaman). Dalam remang cahaya bulan purnama, cengkelongan itu jatuh tertelungkup, maka yang menyaksikan berucap beramai Jebing, jebing, yang berarti perempuan. Seandainya cengke­longan tadi terlentang, maka bayinya kelak akan lahir laki-laki.

Sesudah minum jamu tadi, sekarang Patonah disuapi dengan nasi Ponar, (nasi kuning) ketan yang diberi warna kuning dengan telur ayam rebus. Makanan itu tidak dimakan habis, maka sisanya diberikan kepada Dukon baji. Sedang sajian ma­kanan yang berupa kuwe procot, tettel, dan minuman cendul, semuanya dibiarkan sebagai sesaji. Makanan itu mengandung makna harapan, agar bayi yang akan lahir lancar seperti kuwe procot, (karena bentuknya yang kerucut), sedang cendul agar rezeki si bayi kelak akan melimpah seperti air atau kuah cendul yang terhidang. Dengan penyerahan cengker kepada Patonah oleh suaminya melalui mertuanya, maka itu berarti bahwa sejak saat itu, Patonah akan “bersanding” dengan ceng­ker tersebut, dan sampai melahirkan, si suami tidak boleh menggauli isterinya. Dengan upacara Pelet betteng ini larangan bersanggama berlaku bagi suaminya sampai saatnya bayi lahir.

Pantangan yang harus dihindari Sejak diadakan upacara nandai sampai upacara pelet kandhung, Patonah mulai menjauhi beberapa makanan dan minum an yang sebelum itu boleh dimakan atau diminum. Demikian juga ia harus mengendalikan diri untuk berbuat sesuatu, agar selama dia mengandung jauh dari musibah. Pendek kata ia harus menjauhi pantangan.

Masyarakat Madura mengenal beberapa makanan yang menjadi pantangan orang hamil. Dalam hal ini Patonah pun mengikuti petunjuk dukon baji dan embu’nya maupun mantoa binenya. Pantangan yang berupa makanan itu adalah :

Juko’lake, yaitu makanan yang bersungut, misalnya ke­piting, bilang seyongan, me erne, yaitu sejenis cumi-cumi, me erne parsong, yaitu mimi tunggal, daging kambing, ce cek (kerupuk ram bak) petis. Jenis ikan yang disebutkan tadi pantang untuk dimakan orang yang hamil.

Makan ikan yang bersengat itu dapat mengakibatkan kegugur­an dan bagi bayi yang dikandungnya akan kena saban, yaitu sawan. Menurut kepercayaan masyarakat Madura, ikan sejenis Juko lake mengandung opas, yaitu racun. Misalnya pada ikan me eme tunggal, larangan makan ikan cumi-cumi yang dapat berjalan maju-mundur, dianggap akan mempengaruhi kelahiran bayi yang dikandung yaitu akan berakibat waktu lahir menjadi tertunda karena mundur.

Selain jenis ikan laut, dianggap akan menyebabkan keguguran kandungan. Demikian pula, petis, akan berpengaruh terhadap mata si bayi kelak. Oleh sebab itu jenis buah-buahan yang tidak boleh dimakan ialah : Nenas-muda, durian, tebu, mangga kweni lembayung. Ada anggapan terhadap jenis buah-buahar tersebut, misalnya : tebu akan menyebabkan banyaknya cairan darah, apabila melahirkan. Makanan yang disebut Plotan lembur, juga dilarang dima­kan, karena akan menyebabkan keguguran.

Pantangan yang berupa perbuatan atau tindakan ialah : kerja berat, bekerja secara tergesa-gesa dan mendadak, berjalan cepat, naik turun tangga. Demikian pula ketika Patonah sudah hamil empat bulan, mentowa binenya memberitahukan agar ia jangan menyiksa dan membunuh binatang. Di samping itu perbuatan yang tidak boleh dilakukan ialah : malekko, artinya tidur melingkar, duduk diambang pintu, etampe, yaitu makan sambil menyangga piring atau tempat makan, tedung giri hari. yaitu tidur disembarang waktu. Pantangan lain yang diajarkan oleh embu’na, (ibunya sendiri) yaitu dilarang bersanggama pada hari-hari : Selasa , Rabu, Sabtu dan Minggu. Menjadi larangan besar jika seorang yang hamil bersanggama di malam hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Apabila larangan tersebut dilanggar, masyarakat percaya bahwa kandungannya akan mengalami cacat, kelak apabila lahir. Sanksi atas pelanggaran itu disebut Juba’, artinya tidak patut. Apabila sang suami melanggar bersanggama pada hari pantangan, dengan isterinya yang mengandung itu maka, ma­syarakat percaya akan menimbulkan musibah; baik bagi ibu­nya maupun bagi bayi yang dikandungnya. Malekko pasti akan membawa pengaruh kepada letak bayi, yang berakibat bagi si ibu yang mengandung. Demikian juga tidur di sembarang waktu, akan mendatangkan kebiasaan buruk.

Adapun larangan membunuh hewan, menurut anggapan masyarakat karena akan membekas kepada anaknya yang akan lahir. Seorang ayah yang berburu binatang, kelak anaknya kepalanya akan cacat, benjol, dsb. Dalam masyarakat Madura dikenal Tumut, artinya, apa yang dikerjakan oleh orang tuanya akan membekas pada anak yang dilahirkan. Ada pantangan bagi seorang suami yang isterinya mengan­dung dilarang Aramba, artinya mencari makanan ternak. 

Larangan tersebut sebagai perlambang agar sang suami ketika isterinya mengandung jangan berhubungan kelamin dengan wanita lain. Seringkah wanita yang hamil harus mengendalikan diri untuk bergunjing yang disebut dengan San rasanan. Larangan lain adalah menyumpah, mencela, bertengkar dan carokong, yaitu hidup jorok. Pantangan tersebut pada hakekatnya merupakan hal-hal yang harus dipatuhi oleh seorang perempuan hamil. Di samping pantangan yang berupa makanan, minuman, perbuatan, tindakan, terdapat juga anjuran bagi suami-isteri untuk diperbuat. 

Sejak kehamilan terjadi seorang wanita harus lebih tekun beribadat. Nyebbut, artinya memohon kepada Tuhan agar dihindarkan dari malapetaka, sambil mengelus atau mengusapkan tangan kanan ke perutnya. Seorang wanita yang mengandung harus rajin Ajamo, yaitu minum obat tradisional (jamu), apelet, pijat badan. Bagi seorang perempuan yang hamil muda, harus minum dek cacing ngoda, yaitu jika kandungan berusia satu hingga empat bulan. Sedang kandungan yang sudah berumur antara lima sampai melahirkan, isteri harus rajin minum dek cacing towa. 

Cara untuk minum jamu menurut tradisi di Madura, ialah minum secara teratur setiap hari Senin dan Kamis, sambil menghadap kiblat (Ka’bah). Tatkala minum itu gigi tidak boleh kelihatan, tangan kiri berada di atas buah-dada. Embu’na Patonah selalu menasehati, agar suka makan kelapa yang dimakan bulan, agar kelak paras anaknya cantik. Kelapa yang dimakan bulan adalah kelapa apabila dikupas, dagingnya tinggal separo, atau kurang. Suatu ketika pada waktu Patonah hamil 4 bulan, pernah jatuh terpeleset kulit pisang. Segera melihat hal itu suaminya menyepak pelan, perbuatan itu dilakukan karena adanya ke­percayaan bahwa apabila tidak disepak, anaknya yang lahir rranti makanan seperti daging kambing, akan cacat tubuhnya, mungkin bengkok kaki atau tangan nya, perot, pincang dsb. Sekiranya waktu itu suaminya tidak ada maka laki-laki lain boleh melakukannya, bahkan sesama wanitapun dapat berbuat yang sama.

Apabila terjadi kelambatan untuk melahirkan, maka di- kalangan masyarakat Madura mengenal upacara, memperce­pat kelahiran itu. Upacara itu berupa Arasol, dengan melaku­kan tindakan sebagai berikut : Seekor ayam putih, dimasukkan dalam pagar, kemudian seorang kerabat dekat si isteri, laki-laki berada di luar pagar, siap untuk menerima ayam dari dalam pagar. Ayam yang telah diterima itu kemudian segera

dilepaskan. Cara lain ialah dengan memanggil Dukon baji atau seorang kyae, dimintakan pertolongannya. Biasanya kepada si ibu yang mengandung itu diberikan telor untuk jamu, setelah dimanterai. Kemudian perutnya dioles dengan minyak kelapa, sambil dibacakan doa atau mantra.

Patliye, ipar perempuan Patonah, sering kali keguguran, sehingga anaknya yang tertua sekarang adalah anak ketiga dalam keluarga itu. Kedua kali kematian anaknya karena bayi­nya meninggal sebelum cukup umurnya. Agar ia tidak keguguran lagi, maka di tempat tidurnya diletakkan batu pipisan, atau gandek sebagai pengganti bayi yang meninggal itu.

Dalam masyarakat Madura, upacara kehamilan yang paling penting adalah Pelet Kandhung, atau Pelet Betteng ini. Sedangkan untuk Nandai merupakan salah satu cara untuk mengingat usia kandungan... [DI]




Sumber : http://jawatimuran.wordpress.com/
0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: