Resimen 35 Pimpinan Letkol Chandra Hasan

(jangan malu meskipun diolok" 35... ada mysteri terpendam di angka itu)
Karena keadaan sudah kritis selaku Komandan Resimen 35, Letnan Kolonel Chandra Hassan mengundang Dewan Pertahanan Daerah (DPD) bersidang di Manding....!!!

Dalam rapat tersebut ia mengemukakan bahwa Resimen tidak dapat lagi mempertahankan daerah Madura lebih dari satu bulan, karena kita sudah kehabisan amunisi. Tetapi perlawanan rakyat harus tetap dijalankan supaya Madura tetap dijadikan "Neraka" bagi Belanda...!!!

Tentara dan pejuang-pejuang lainnya supaya tetap berjuang bersama rakyat, pada waktu itu semua pejabat Negara di bawah pimpinan Cakraningrat bersumpah tetap setia kepada pemerintah dan Negara Republik Indonesia....!!!

Seluruh Slagorde yang masih bersenjata diperintahkan mundur ke Jawa dengan tempat berkumpul di Kediri caranya dengan mempergunakan kesempatan masing-masing...!!!

Yang tidak bersenjata bergabung dengan rakyat, tetap di tempat menjalankan gerakan bawah tanah, menstimulir pemberontakan terhadap pasukan dan orang-orang Belanda tetap dijalin hubungan dengan pedalaman (Jawa)...!!!

Bagi tentara TNI tidak dibenarkan bekerja kepada Tentara Belanda bagaimana pun besar resikonya, hanya anggota inteligens yang boleh menyusup ke kesatuan-kesatuan Belanda...!!!

Kami akan kembali dengan pasukan-pasukan kami ke Madura untuk menghancurkan kolonialisme Belanda. Setelah perintah terahir dikeluarkan maka rakyat memecah diri dan membuat rencana sendiri-sendiri...!!!

Pada umumnya mereka mencari perahu besar kecil untuk menyebarang ke Basuki, atau lewat Tuban menuju ke Kediri, jadi hijrah ke Jawa memang strategi dan taktik Resimen Jokotole oleh karena itu rencana hijrah ini sudah dilaporkan kepada divisi, maka anggota Jokotole yang tiba oleh Divisi ditampung di kesatuan khusus...!!!

Mayor Mangkuadiningrat dan Kapten Mohammad Saleh tinggal di Madura, demikian pula Kapten (CPM) Hafiluddin dan Kapten Mudhar Amin. Setelah Chandra Hasan mengadakan pertemuan dengan Residen, Bupati-bupati, dan beberapa pengawal sipil berangkat ke Ganding (Guluk-guluk) untuk mengambil isterinya di tempat pengungsian dan kemudian berjalan menuju Pasongsongan. Disana ia bertemu dengan Sidik pemimpin dari daerah itu yang tergolong kaya.

Chandra Hassan menanyakan perahunya untuk dipakai ke Tuban dan ia diberi perahu tersebut dengan anak buahnya.

Pada tanggal 11 Nopember 1947 Chandra Hassan meninggalkan Pasongsongan menuju Tuban tetapi setelah sampai di lautan terbuka di kejauhan terlihat sebuah kapal. Para anak buah perahu sama-sama gelisah ketakutan dan kemudian mereka menolak untuk melanjutkan perjalanan, Chandra Hassan tidak memaksa untuk terus akan tetapi ia minta kepada juru mudi perahu agar sekembali ke Pasongsongan tetap merahasiakan perjalanannya.

Setibanya di Pasongsongan Komandan Resimen Jokotole ini terus menelusuri pantai dan naik ke Bukut Bindang yang terletak di antara Pasongsongan dan Sotabar. Setelah beberapa jam ia beristirahat di rumah janda tua itu di atas bukit, sekitar jam 12.00 terdengar beberapa kali tembakan dan teriakan-teriakan adanya serdadu Belanda. Dua orang melompat dari semak-semak dan berkata "Pak Chandra, Sidik digiring Belanda dan pasukan Cakra menuju kemari. Lekas saja menyingkir!!"

Chandra Hassan lekas menarik isterinya sambil berpesan kepada si janda dan orang-orang lainnya yang berada ditempat itu jika ditanya Belanda dimana ia berada supaya dijawab tidak tahu. Kemudian ia melompat ke kandang sapi bersama isterinya yang tiarap di tempat pakan sapi di bawah timbunan rumput-rumput.

Tak lama kemudian datanglah Sidik bersama tentara Belanda dan pasukan Cakra menanyakan Chandra Hassan. Lalu janda tua itu menjawab bahwa ia tidak tahu, ia hanya melihat sore harinya ada rombongan orang-orang menuju ke Barat mungkin ke Waru. Mereka berpendapat bahwa Sidik berbohong dan janda tua itu di tembak mati.

Setelah Belanda dan pasukan Cakra pergi Chandra Hassan yang hanya bersenjatakan pistol saja keluar dari persembunyiannya yang diikuti anak buahnya, ialah Sersan Gani seorang keturunan Cina Swie King dan seorang pembantu.

Mereka menuju Prenduan dengan penuh kesadaran bahaya-bahaya apa yang mereka hadapi. Di Prenduan Chandra Hasan mengirim surat kepada camat R P Moh Noer minta diusahakan perahu untuk menyeberang ke Paiton. RP Muhammad Noer segera menjawab bahwa perahu sudah siap tersedia dan siap untuk diberangkatkan. Dengan demikian Chandra Hassan berangkat ke Prenduan dengan sebuah jukong perahu kecil penangkap ikan bernama ''Se Gigir'' menuju Paiton


Sekarang perahu "Se Gigir" disimpan di musium Brawijaya Malang. Dua hari dua malam mereka terapung apung di Selat Madura dengan dibayangi oleh pesawat terbang Belanda yang rupa-rupanya mencari jejak tokoh-tokoh Madura yang sedang meninggalkan pulaunya menuju ke Jawa.

Pada tanggal 25 Nopember 1947 sekitar jam 19.00 sore, mereka tiba di pelabuhan ikan Karanganyar dekat Paiton. Selama tiga hari Chandra Hassan mengadakan orientasi medan/daerah, dan ia bertindak sangat hati-hati hanya mau berhubungan dengan ornag yang dikenal sebagai pemimpin masyarakat.

Di Karanganyar mereka tinggal tiga orang dan ia terus menuju ke Lumajang setelah dua hari perjalanan pada tanggal 1 Desember 1947 mereka sampai di Gading sebuah kota di atas Probolinggo. Disana Chandra Hassan berjumpa dengan Mayor Majid beserta perwira-perwira dan prajurit-prajurit lainnya yang mendahului sampai di tempat itu. Di tengah-tengah tanaman tebu mereka merencanakan gerakan.

Menghindari kontak senjata

Gerakan secara menyebar (dua orang), tujuan markas Divisi Kediri. Setibanya di Kediri melapor kepada panglima Divisi dan menghimpun kembali anggota Jokotole.

Chandra Hassan diterima oleh penghulu Gading untuk tinggal di rumahnya ia mendengar bahwa Wedana Gading adalah Bustamin Nitisasmito, seorang Mosvian dari Sampang, menurut penghulu tersebut ia seorang Republikein yang konsekuen.

Oleh karena itu Chandra Hassan ingin bertemu Bustamin untuk meminta bantuan kendaraan guna dipakai ke Lumajang. Pada waktu itu ia melihat pemuda-pemuda di Pendapa Kawedanan, Bustamin kelihatan menelpon meminta bantuan jeep untuk dipakai ke Lumajang, namun Chandra Hassan mempunyai firasat yang kurang baik terhadap kerumunan orang-orang yang ada di kantor itu.

Firasat kurang baik benar karena setelah pemimpin Resimen Jokotole itu selesai sholat shubuh tiba-tiba di sekitar rumah yang ditempati ada suara orang dan banyak orang-orang berlari-lari dan dua orang tentara KNIL (orang Ambon) menerjang pintu kamar dan sambil mengacungkan karabennya berteriak "Angkat tangan keluar!"

Chandra Hassan yang sedang memakai kopyah haji yang diberi pinjam penghulu terus angkat tangan dan keluar kamar. Di luar ada kurang lebih 1 peleton menjaga orang-orang yang sedang ditawan dan sewaktu tawanan itu yang berjumlah lebih 60 orang disuruh naik truk, lalu ada teriakan dari belakang.

"Itulah pak Chandra Komandan Resimen", ternyata teriakan itu adalah suara bekas sersannya yang bernama Mukbar yang dengan angkuhnya menodongkan senjata pada bekas Komandan Resimennya.

Segera timbullah perkelahian tetapi seorang Kapten Belanda melerainya, dengan terus terang Komandan Resimen Jokotole ini mengakui bahwa ia adalah Overste Chandra Hassan.

Kapten Belanda itu bersikap tegap menghormat kepada seorang Letnan Kolonel yang menjadi tawanannya. Karena Chandra Hassan menolak untuk di interogasi di lapangan oleh seorang Letnan Muskita (orang Ambon) maka ia lalu dibawa ke Surabaya ditangani oleh Kolonel Rietfeld.

Selama tiga hari ia terus menerus diinterogasi oleh staf A Divisi Belanda, Chandra Hassan tetap pendiriannya, bahwa tindakannya logis dan ia tidak akan menyerah bagaimana pun juga. Tawaran-tawaran dari Jendral Baay dan Kolonel Riedfeld kemudian Van der Plas, Komisaris Polisi Sneep yang membujuknya untuk mau menjadi Kolonel Cakra, Komisaris Polisi, atau menjadi Bupati dengan mentah-mentah ditolak oleh Chandra Hassan dan ia mengatakan bahwa ia sudah bersumpah setia dan saksi Tuhan bahwa ia akan setia pada Republik Indonesia.

Sikap keras yang ditunjukan oleh Chandra Hassan menyebabkan ia dibawa ke penjara Sidoarjo dengan diborgol. Dari penjara Sidoarjo kemudin ia dipindah ke Hoofd Bureau polisi dekat Jembatan Merah Surabaya. Selanjutnya Chandra Hassan dipindah lagi ke sel khusus dan dikumpulkan dengan dua orang gila selama 3 bulan.

Pada bulan Pebruari 1948 setelah terjadinya affair Madiun ia diambil dan diperiksa oleh dua orang Auditor Militer Belanda Van der Hoogte. Auditor ini juga menawarkan bantuannya kepada Chandra Hassan kalau ia mau masuk ke dalam pemerintahan negara Madura, sebagai Bupati, dan Komandan Cakra. Tetapi tawaran-tawaran tersebut dengan tegas ditolaknya.

Dalam sel khusus di antara dua orang gila, Chandra Hassan masih sempat menulis surat laporan kepada Bung Karno, Panglima Sudirman, dan Panglima Divisi Sungkono. Pada bulan Maret 1948 jam 03.00 Chandra Hassan diambil dari sel khusus dan dibawa ketempat interogasi di jalan HBS dan ditanyakan tentang surat-surat yang dikirim ke Yokyakarta.

Karena dalam pemeriksaan ini Chandra Hassan tetap mempertahankan pendirian maka ia dibawa kembali ke penjara Kalisosok dan langsung dimasukkan ke kamar gelap di dalam kamar gelap inilah ia mendekam kurang lebih satu setengah tahun.. [DI]




Sumber : "Buku Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Madura"


Previous
Next Post »
Thanks for your comment