Asal Usul Desa Batangan Tanah Merah Bangkalan

Desa Batangan, menurut cerita turun-temurun dari penduduk setempat berasal dari  kata (Bahasa) Madura “Bhethang” yang mempunyai arti Bangkai. Konon jaman dahulu, di Desa Batangan adalah tempatnya para “Blater” atau tokoh masyarakat yang sangat disegani karena ketangguhannya dalam usuran “Charok”. Kata “Charok” sendiri merupakan suatu istilah yang dapat diartikan sebagai suatu penyelesaian masalah melalui kekerasan atau perkelahian menggunakan senjata tajam celurit.

Pada zaman dahulu di Desa Batangan sering terjadi pencurian yang mengakibatkan banyak kerugian harta benda bagi penduduk setempat, khususnya hewan ternak seperti ayam, bebek, kambing dan sapi. Kejadian tersebut berlangsung hampir setiap malam, sehingga meresahkan masyarakat. Akhirnya masyarakat berinisiatif untuk menjebak dan menangkap maling tersebut secara ramai-ramai melalui kegiatan ronda malam.


Akhirnya, setiap berjalan beberapa malam penduduk setempat berhasil menangkap gembong pencuri yang meresahkan tersebut. Karena kemarahan dan kebencian yang sangat mendalam dari penduduk setempat, pencuri tersebut dihakimi dengan cara di bunuh dan dimutilasi. Kemudian potongan tubuh tersebut di gantung di suatu pohon besar dan dibiarkan sampai membusuk atau menjadi bangkai (Bhethang) dan akhirnya tinggal tulang belulang.

Berdasarkan kejadian tersebut, muncullah istilah “Abhethangan” atau berbau bangkai. Sehingga akhirnya, penduduk setempat menamakan desa tersebut dengan Disah Bhethangan atau kalau di Indonesiakan menjadi Desa Batangan. Jadi, Desa Batangan dapat diartikan sebagai suatu tempat kejadian pembunuhan secara sadis para penjahat/pencuri dengan cara dimutilasi dan kemudian potongan tubuhnya di gantung sehingga menjadi bangkai dan tinggal tulang-belulangnya saja.


PENINGGALAN SEJARAH

Jejak-jejak sejarah asal-muasal Desa Batangan sampai saat ini masih dapat kita jumpai dan ditemukan di sana, berikut adalah jejak sejarah yang masih kita temukan di sana:

1. Kampong Glugur

Kampong Glugur menurut ceritanya merupakan tempat kejadian perkara pembunuhan dan pemutilasian gembong pencuri yang meresahkan masyarakat dalam cerita di atas. Glugur sendiri berasal dari kata gur-gur atau sisa-sisa. Artinya Kampong Glugur adalah suatu tempat kejadian dan penyimpanan sisa bangkai penjahat/pencuri yang meresahkan masyarakat.

2. Sungai Pancoran

Sungan Pancoran bukan berarti sungai yang memiliki pancuran, tetapi sungai pancoran oleh penduduk setempat diartikan sebagai sungai tempat penghancuran jasad. Pancoran sendiri berasal dari kata “Pa Anchoran” atau tempat penghacuran. Konon di sinilah tempat digantungnya potongan tubuh pencuri yang meresahkan penduduk seperti yang dikisahkan dalam cerita di atas. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sampai saat ini terkadang penduduk setempat, jika malam hari terkadang pernah/sering melihat potongan-potongan tubuh yang masih bergelantungan di pepohonan yang berada di pinggi sungai tersebut. Sehingga sampai saat ini, sungai tersebut masih terkenal angker.

3. Gua atau Saronggeh

Konon menurut cerita yang berkembang Saronggeh adalah tempat penyimpanan tulang-belulang dan bangkai para pencuri yang merupakan anak buah dari gembong pencuri yang tertangkap. Saronggeh sendiri menurut penduduk setempat diartikan sebagai lubang besar dan dalam. Sampai saat ini, kita masih bisa menemukan tempat tersebut, akan tetapi lubang masuknya sekarang sudah mengecil dan hanya bersisa sebagai aliran air atau sumber air. Masih menurut orang tua terdahulu, mulut  Gua atau Saronggeh tersebut cukup besar dan dapat dimasuki oleh orang dan di dalam gua dapat di jumpai tempat mandi (jedding).

Berdasarkan cerita di atas, dapat disimpulkan tentang asal muasal Desa Batangan Kecamatan Tanah Merah Kabupaten Bangkalan, sebagai berikut:

1. Desa Batangan berasal dari kata “Bhethang” atau “Abhethangan” yang dapat diartikan sebagai suatu tempat kejadian pembunuhan sadis gembong pencuri yang meresahkan masyarakat dengan cara di mutilasi dan kemudian potongan tubuhnya di gantung sehingga menjadi bagkai (Bhetang) dan baunya menyebar ke segala arah (Abhethangan).

2. Jejak-jejak sejarah peninggalan tempat kejadian perkara masih dapat ditemukan sampai saat ini, yaitu: Kampong Glugur atau tempat kejadian perkara dan penyimpanan sisa-sisa (gur-gur) jasad, Sungai Pancoran atau tempat penghancuran (Pa Anchoran) jasad, serta Saronggeh atau lubang besar tempat penguburan jasad.

Cerita di atas merupakan cerita yang diperoleh secara turun-temurun dari penduduk setempat tanpa diketahui kapan kejadiannya dan siapa pelakunya. Oleh karena itu, jika terdapat cerita yang lebih lengkap dengan disertai dengan waktu kejadian dan para pelakunya dapat dijadikan sebagai tambahan untuk kesempurnaan dari makalah ini. Semoga cerita singkat tentang asal muasal Desa Batangan Kecamatan Tanah Merah Kabupaten Bangkalan Madura dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin... [DI]

Sumber : Pembakuan Nama Rupa Bumi Kabupaten bangkalan Tahun 2012
Photo Koleksi : Bangkalan Memory


Previous
Next Post »
Thanks for your comment