Kidung Anak Madura Gai’ Bintang

Gugusan kepulauan Madura di kenal sebagai daerah dengan alam yang tandus. Wilayah Madura terdiri dari sekitar tujuh puluh pulau, daerah minus semacam ini di cap tidak mungkin memiliki kegiatan kesenian dibandingkan dengan pulau tetangganya, yaitu Jawa.

Ternyata anggapan tersebut sangat keliru, karena suku bangsa Madura memiliki kekayaan karya seni yang sangat fenomenal. Ketidak-tahuan tentang kesenian tersebut disebabkan wilayah ini hanya dianggap sebagai daerah pinggiran Jawa, baik di pandang dari sudut geografis, historis dan budaya.

Bentuk kesenian yang ada dan berkembang di masyarakat Madura berupa seni tari, seni pertunjukan, seni musik dan juga upacara-upacara ritual yang sampai saat ini masih di gelar, khususnya oleh masyarakat tradisional. Ini menandakan bahwa sebenarnya kebudayaan Madura cukup tinggi, karena sebagai makhluk sosial manusia Madura mampu menunjukkan hasil kebudayaannya, sebagai makhluk sosial manusia Madura mempunyai naluri kebudayaan yang berasal dari naluri sosial. Naluri tersebut tumbuh dari rasa rohani, rasa intelek, rasa etik dan estetik, rasa seni, rasa agama dan rasa diri.

Dari sekian banyak ragam karya sastra, salah satu peninggalan karya sastra yang cukup membanggakan adalah sastra lisan yang masih tetap bertahan sampai sekarang.. Walaupun jenis puisi lisan mulai tergerus oleh arus budaya global sehingga tidak dikenal lagi oleh masyarakatnya, namun demikian puisi lisan tersebut masih mendapat tempat di hati masyarakat, terutama masyarakat tradisional. Hal ini disebabkan puisi lisan menggunakan bahasa yang sangat sederhana, namun kaya makna. Kesederhanaan dimaksudkan anak-anak cepat menangkap makna yang tersirat dalam puisi yang dikemas dalam bentuk nyanyian dan permainan. Melalui permainan anak-anak diajak untuk mengoptimalkan kecerdasan emosional dengan tujuan untuk memanusiakan manusia. Dengan mengoptimalkan kecerdasan emosional, anak-anak diajak untuk mengasah kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, dan koneksi.


Disamping itu bentuk permainan adalah untuk membangun solidaritas sejak dini dalam komunitas bermasyarakat agar senantiasa rukun dan guyub, disamping itu untuk mengembangkan kecerdasan emosional dengan cara bermain, dimana dalam arena permainan itu ditanamkan sikap-sikap toleran, simpati, empati, dan memahami berbagai karakter yang dimiliki oleh teman bermain. Dalam arena permainan tersebut secara tidak sadar anak-anak akan mengetahui sekaligus ber-interaksi dengan karakter yang berbeda, ada yang mempunyai sikap sabar, pemalu maupun temperamental dan sebagainya.

Bercampur-baurnya berbagai karakter tersebut menyadarkan anak bahwa mereka memang tidak sama. Dengan pemahaman seperti itu maka membangun kesadaran sosial dalam masyarakat komunal ditanamkan sejak dini. Pemahaman interaksi sosial dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu lingkungan bermain teman sebaya, lingkungan keluarga, dan merambah pada lingkup yang lebih luas.

Adapun jenis permainan anak-anak yang sering dimainkan antara lain, Daddaliyan, Ker-tanoker, Lir-Saalir, Jan-Anjin, Gai Bintang, Cung Kuncung Kunce, Pa’ Kopa’ Eling, Ke’ Rangke’. Set-Seset Maloko’, Mon temon Buko, Ba-baba Bulan, Di-Dindi’ Leya’Leyo’, Lar- Olar Kolarjang, Tan-Pangantanan, Dipadhi Cemplo Lo’ling, Po’ kopo’ Ame-ame, lir Saalir, Kosoko Bibir, Aeng Lema’, Bing Ana’. Dul Kannang-Dul Kennong. Pada prinsipnya melalui lantuman dan permainan, jiwa anak-anak ditanamkan pemahaman dan penanaman nilai filosofi kehidupan yang bernafaskan nilai-nilai humanis. Penanaman nilai tersebut disebabkan oleh kewajiban utama orang tua untuk memberikan pendidikan, bukan hanya mengoptimalkan kecerdasan intelektual saja, melainkan mengembangkan kecerdasan emosional serta mengasah kecerdasan spiritual kepada putra putrinya sebagai bekal hidup bermasyarakat.

Berbagai disiplin ilmu ditanamkan agar kelak anak mampu berdikari dan mandiri, baik secara material, emosional, dan spiritual dalam tata pergaulan di masyarakat. Dengan demikian anak mampu memilah dan memilih serta mengamalkan ilmu yang dimiliki, dan bisa menjadi manusia yang paripurna. Untuk mencapai kesempurnaan hidup maka nilai-nilai moralitas perlu ditanamkan sejak dini. Dan penanaman itu dilakukan melalui permainan dan nyanyian.

Permainan merupakan media taman bermain yang sekaligus sebagai area pendidikan di dalam menanamkan nilai-nilai universal kehidupan. Namun sangat disayangkan, area tersebut kini secara perlahan disingkirkan dan tidak mendapat tempat dalam dunia anak-anak. Otak anak-anak masa kini hanya dioptimalkan dalam satu area saja, yaitu pengoptimalan otak kiri dan pendewaan kepada kecerdasan intelektual. Padahal Folklore yang dimiliki oleh suku bangsa Madura merupakan media pengoptimalan otak kanan (kecerdasan emosional). Menurut pakar psikologis, bahwa kecerdasan emosional (EQ) memberikan saham yang sangat besar, yaitu 80 % bagi kesuksesan hidup seseorang. Pengoptimalan EQ adalah kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan pengaruh manusia. Emosi adalah bahan yang tidak tergantikan bagi otak agar mampu melakukan penalaran yang tinggi. Emosi menyulut kreatifitas, Kolaborasi dan inisiatif. Disamping itu juga EQ sangat penting untuk ; proses penyembuhan, pemecahan masalah, kreatifitas serta menjalin dan menikmati hubungan yang bermakna.

Saat ini Kecerdasan Emosional (EQ) menjadi sebuah trend baru di negara-negara maju, padahal suku bangsa Madura telah lama memiliki warisan budaya tersebut. Warisan budaya dalam bentuk Folklore yang berisi nilai-nilai universal kehidupan, nilai-nilai kearifan yang dikemas dalam bentuk permainan dan nyanyian. Seharusnya folklore kembali dijadikan sebagai media pengoptimalan otak kanan, yang lebih berorientasi pada seni musik, seni tari, kesenian, seni rupa, fantasi, imajinasi, mimpi dan halusinasi.

Sumenep, November 2007
Penulis

PA’ KOPA’ ELING

Pa’ kopa’ eling
elingnga sakoranji
eppa’na olle paparing
ana’ tambang tao ngaji
ngaji babana cabbi
ka’angka’na sarabi potthon
e cocco’ dhangdhang pote keba mole
e cocco’ dhangdhang celleng keba melleng

Terjemahan bebas :
Bertepuk-tepuk ingat, sadar sekeranjang
sang bapak mendapatkan anugerah
anak bodoh jadi (bisa) mengaji
mengaji di bawah cabai, suguhannya serabi gosong
di patuk elang putih di bawa pulang
di patuk elang hitam dibawa nakal

Terang bulan (purnama) merupakan waktu yang senantiasa ditunggu-tunggu, karena pada saat terang bulan tersebut bulan hanya anak-anak yang bersuka cita, tetapi juga orang tua. Biasanya pada saat terang bulan anak-anak berkumpul di halaman rumah, dan kemudian berkelompok. Biasanya yang paling disukai oleh anak-anak adalah menyanyikan lagu Pa’ Kopa’ Eling, secara bergantian mereka menyanyikan lagu ini dan disertai pula dengan tepuk tangan.

Makna yang Tersirat dalam Bait-Bait Syair
Syair-syair yang terdapat pada lantuman nada-nada di atas sangatlah sederhana, namun apabila di kaji lebih mendalam maka syair-syair tersebut mengandung makna yang demikian mendalam. Makna tersebut berisi nasehat tentang manusia dan jiwa spiritual yang harus dimilikinya.

Sebagai Khalifah di muka bumi, manusia mempunyai tugas yang sangat mulia yaitu menjadi pemimpin. Oleh sebab itu pemenuhan kebutuhan spiritual sama pentingnya dengan kebutuhan material. Dengan demikian akan tercipta kehidupan yang serasi, seimbang, dan harmonis. Dengan berbekal pengetahuan agama yang kuat maka manusia tidak mudah tergoda dan terombang-ambing oleh perubahan serta dinamika perubahan jaman.

Pemenuhan kebutuhan spiritual (agama) merupakan sesuatu yang sangat signifikan. Oleh sebab itu sejak usia dini anak-anak diperkenalkan dengan nilai-nilai agama, yaitu dengan jalan melaksanakan proses pembelajaran. Sejak kecil anak-anak diwajibkan mengaji, shalat, puasa serta kewajiban-kewajiban agama lainnya. Proses pembelajaran tersebut dilakukan secara bertahap, terus menerus, dan berkesinambungan serta disesuaikan dengan usia kematangan dan pertumhuhan anak. Sebagaimana terdapat pada kalimat, | ana’ tambang tao ngaj i, ngaji babana cabbi, (anak bodoh jadi (bisa) mengaji, mengaji di bawah cabai)

Sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, masyarakat komunal menciptakan suatu tatanan agar dalam menjalankan kebersamaan (kehidupan bersama) berjalan secara harmonis. Dan tatanan tersebut, baik yang tertulis maupun tidak tertulis secara berkesinambungan ditransferkan kepada generasi berikutnya melalui pendidikan informal dalam keluarga, lingkungan masyarakat maupun pendidikan formal di sekolah-sekolah. Hal itu termaktup dalam kalimat, “Pa’ kopa’ eling, elingnga sakoranji” | Bertepuk-tepuk ingat, sadar sekeranjang |. Kalimat tersebut mengingatkan bahwa betapa pentingnya sebuah kesadaran untuk menuntut ilmu.

Untuk mendapatkan generasi yang ber-kualitas, orang tua mempunyai tanggung jawab serta memegang peranan utama sebagai pendidik pertama sekaligus motivator bag keberhasilan pendidikan putra putrinya. Sebagaimana tertera dalam kalimat, eppa’na olle paparing, (bapak mendapatkan anugerah). Dan anugerah tersebut merupakan kegembiraan, kebahagiaan, dan kebanggaan bagi bapak karena sang anak telah mampu menyerap dan menguasai ilmu.

Adapun nilai etika dan moralitas yang tinggi dalam puisi di atas adalah, hendaknya ilmu yang dimiliki tidak disalahgunakan d an benar-benar diamalkan karena ilmu mempunyai dua sisi dimensi, yaitu kebaikan dan kejahatan. Ilmu akan menjadi suatu bencana apabila dipergunakan oleh orang-orang yang mempunyai moral rendah dan tidak bertanggung jawab, sebaliknya ilmu akan mendatangkan manfaat serta kemaslahatan bagi umat manusia apabila berada di tangan-tangan manusia yang mempunyai moralitas tinggi. Hal tersebut dapat disimak pada bait, ecocco’ dhangdhang pote keba mole, ecocco’ dhangdhang celleng keba melleng (dipatuk elang putih dibawa pulang, dipatuk elang hitam dibawa nakal)

CUNG-KUNCUNG KONCE

Cung kuncung kunce
Koncena lo-olowan
Sabanyong saketheng
Na’kana’ marking-markung
Baba’anna kapung-kapung
Ngek-serngeggan, rut-suruddan
Pangantan tao abajang
Pabajanggnga ketha’ keddung
Ondurragi jung baba’an

Cung-kuncung kolor
Kolorra bintang kangkong
Sater-oler sakomancer
Bibidanna tajin jaba
Lali lana lali lanthung
Ondurragi jung-baba’an

Cung acung lerengan
Kkembang ala’ kembang aling
Taruttut onta-onta
Pamakona kaju sentik
Ondur setthong jung baba’an

Cung acung lerengan, pettha tale lempung
Buwana apung-apung, ta’ ngok-serngogan
Ta’ ngek-serngegan, jumantre-jumantre
Nangga’a bajang
Bajangnga kethak kedhung
Ondurragi jung baba’an

Terjemahan bait bebas bait 1
Kuncung-kuncung kunci,
kuncinya beruas-ruas
sebuku seruas
anak-anak duduk-duduk
dibawah pohon kapuk
cekikikan cekakakan
sang pengantin ber-sembahyang
sembahyang asal gerak

Bentuk Permainannya

Permainan ini dimainkan oleh dua sampai empat anak, permainan ini dilakukan dengan cara duduk berhadapan. Jempol tangan kiri ditegakkan dan keempat jari yang lain dalam posisi menggemgam. Kemudian keempat jari tangan kanan menggemgam jempol tangan kiri, dan jempol tangan kanan ditegakkan. Anak-anak yang lain kemudian meletakkan tangannya di atas tangan anak yang pertama dengan posisi yang sama, begitu seterusnya.

Setelah semua anak meletakkan tangannya dalam posisi tersebut, lalu mereka menyanyikan lagu tersebut sambil menggoyang-goyangkan tangan, pada saat bait terakhir dinyanyikan, ondurragi jung baba’an maka telapak tangan yang paling bawah diposisikan tertelungkup. Kemudian anak-anak tersebut menyanyikan lagu tersebut secara terus menerus sampai semua tangan tumpang tindih tertelungkup. Setelah semua tangan tertelungkup, maka tangan yang paling atas memukul tangan dibawahnya, dan begitu seterusnya. Atau juga dengan cara lain, setelah semua tangan tertelungkup maka tangan yang paling atas mengambil tangan yang dibawahnya kemudian diletakkan di atas kepala masing-masing anak.

Makna Umum dari Syair Cung-Kuncung Konce

Jenis permainan ini seringkali dikonotasikan dengan seksualitas, karena melihat posisi tangan ketika sedang bermain. Posisi jempol kiri yang menggemgam keempat jari lainnya, dan juga ketika genggaman digoyang-goyangkan, seakan-akan sedang melakukan persetubuhan. Hal ini diperkuat oleh baris kedua dengan kata, lo-olowan yang diterjemahkan, tertidur karena terlalu kepayahan. Tentu saja kepayahan disini disebabkan sang pengantin telah selesai melaksanakan kewajibannya.

Konon lagu ini dinyanyikan oleh anak-anak ketika sedang ada hajatan perkawinan. Lagu ini dinyanyikan sebagai tanda sang pengantin telah memasuki peraduan kamar pengantinnya.

Makna Khusus pada Syair Cung-Kuncung Konce

Walaupun secara umum masyarakat menilai bahwa lagu ini syarat dengan muatan seksualitas, namun apabila dikaji lebih mendalam terdapat nilai-nilai filosofi yang sangat mendalam sekaligus nilai-nilai kearifan, etika dan moralitas. Nilai-nilai tersebut terutama terdapat pada bait pertama. Sedangkan bait kedua dan seterusnya merupakan syair-syair tambahan untuk lebih memperpanjang nyanyian tersebut.

Secara gamblang pada bait pertama dalam puisi lisan Cung Kuncung Kunce memberikan gambaran utuh tentang perilaku yang semestinya dimiliki oleh masyarakat. Sopan santun, etika serta tata krama menempati urutan teratas sebagai perilaku yang patut dimiliki oleh setiap anggota masyarakat. Penghormatan dan penghargaan yang tinggi akan diberikan kepada setiap masyarakat dari berbagai kalangan, apabila mampu menunjukkan sifat, sikap serta perilaku yang baik. Sebaliknya, walaupun menyandang status sosial tinggi serta bermartabat tidak akan mendapatkan penghormatan dari anggota masyarakat lainnya apabila menunjukkan perilaku yang cacat dan tercela.

Perilaku yang paling tercela adalah sikap yang ditunjukkan oleh seseorang terhadap penganut agama yang sedang menjalankan ibadah. Gambaran ini dapat dikutip dari kalimat, | Na’kana’ marking-markung | Baba’anna kapung-kapung | Ngek-serngeggan, rut-suruddan, (anak-anak duduk-duduk | dibawah pohon kapuk | cekikikan cekakakan). Kalimat dalam puisi tersebut adalah ungkapan yang ditujukan kepada seseorang yang dengan sengaja tidak menghormati serta menghargai seseorang yang sedang menjalankan ibadah. Melalui sindiran tersebut diharapkan mampu merubah perilaku tercela menjadi perilaku yang terpuji.

Penanaman nilai-nilai etika maupun spiritual (agama) yang dilakukan sejak dini, diharapkankan mampu membentuk kepribadian yang matang sampai dewasa. Apalagi ketika telah memasuki usia matang perkawinan. Nilai-nilai kebaikan, perilaku terpuji serta kematangan kepribadian yang dimiliki akan menjadi bekal serta menjadi benteng kokoh ketika menghadapi problematika kehidupan. Salah satu nilai yang paling penting adalah menjalankan kewajiban shalat lima waktu, namun dalam realita yang ada banyak sekali manusia (umat muslim) melalaikan kewajiban tersebut, sebagaimana diungkapkan dalam kalimat, | Pangantan tao abajang | Pabajanggnga ketha’ keddung | (sang pengantin ber-sembahyang | sembahyang asal gerak).

Bangunan yang kokoh tentunya ditunjang oleh pondasi dan ting-tiang kokoh serta kuat. Perumpamaan tersebut dapat dijadikan tolak ukur kehidupan beragama. Seseorang yang mengaku dirinya beragama, tentunya akan menjalankan semua ketentuan yang disyariatkan oleh agama yang dianutnya. Namun sering terjadi manusia hanya menggunakan agama sebagai identitas diri agar diakui keberadaannya oleh lingkungan masyarakatnya.

Maka filosofi mendalam dalam syair Cung Kuncung Kunce ini membidik sosok manusia yang hanya menggunakan agama sebagai identitas dan simbol. Ibadah shalat lima waktu sebagai tiang penyangga bangunan kokoh Islam, dijalankan hanya sebatas ritual semata. Akibat dari sikap yang tidak konsisten terhadap agamanya, maka perilaku yang dijalankan sama sekali jauh dari nilai-nilai yang disyariatkan oleh agama.

Shalat lima waktu merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan. Ibadah tersebut adalah ibadah pribadi yang langsung berhubungan dengan Sang Khalid, yaitu totalitas kepasrahan pribadi seorang muslim serta implementasi ibadah tersebut dalam kehidupan sosial nya di masyarakat. Keselarasan ibadah vertikal dengan ibadah horizontal harus seimbang. Dengan demikian maka akan terciptalah suatu kehidupan yang harmonis serta tatanan masyarakat yang tertib.

Secara tersirat, syair Cung Kuncung Kunce mengingatkan umat muslim untuk menjalankan ibadah shalat dengan sebenar-benarnya. Karena nilai yang terkandung dalam shalat dapat diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Dengan melakukan ritual shalat, manusia akan lebih dekat dengan Sang pencipta-Nya. Dengan melaksanakan shalat secara baik dan benar akan menjadikannya seorang pribadi yang matang, kuat dan kokoh. Oleh sebab itu melalui syair Cung Kuncung Kunce, manusia diingatkan agar dalam menjalankan ibadah shalat bukan hanya sebatas ritual semata, melainkan melaksanakannya dengan kesungguhan hati dan sepenuh jiwa.

Melalui tulisannya, penyair mengingatkan agar manusia dalam menjalankan ibadah shalat tidak melakukannya setengah-setengah. Dalam arti apabila shalat hanya dilakukan sebatas ritual saja, maka akan mengakibatkan tidak adanya keselarasan tingkah laku. Shalat yang bertujuan menyembah Sang Pencipta, menjauhi semua larangan serta mematuhi semua perintah-Nya hanya dijadikan simbol-simbol keagamaan. Hal itu menyebabkan walaupun manusia rajin beribadah, namun masih mengerjakan perbuatan yang tercela, melanggar aturan, berjudi, berzinah maupun mencuri.

RE-SERE PENANG

Re-sere penang
Penangnga penang jambe
Maju kaka’ maju ale’
Pa bagus tengkana, lako becce’
Kalellan e ka’dinto

Terjemahan bebas :
Sirih-sirih pinang
pinangnya pinang jambe
mari kakak mari adik
perbaiki tingkah laku
berperilaku mulia
diridhoi lewat disini

Usia dini merupakan masa yang paling rawan sekaligus masa yang paling menentukan bagi pembentukan jiwa dan kepribadian. Menurut para pakar psikologi usia tersebut merupakan penentu keberhasilan, karena pada masa itu jaringan otak bekerja maksimal menyerap informasi dari luar serta menyimpannya dengan rapi dalam memori otak. Oleh sebab itu penanaman nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat terutama yang berkaitan dengan adab sopan santun, budi pekerti, etika, norma-norma serta tata krama diperkenalkan sejak usia dini. Penanaman nilai-nilai tersebut ditransformasikan dengan memberikan contoh nyata serta suri tauladan oleh generasi tua. Proses transformasi tersebut dilakukan secara perlahan, bertahap, dan berkesinambungan serta dilandasi oleh perasaan kasih sayang, sebagaimana terungkap dalam kalimat, “Re sere penang | Penangnga penang jambe”(Sirih-sirih pinang | pinangnya pinang jambe) – (daun sirih dan pinang merupakan simbol sejoli (tak terpisahkan) terutama untuk “mena” (Madura) atau “nyusur” (Jawa).

Setelah anak menjelang dewasa dan diakui sebagai bagian anggota masyarakat, maka interaksi sosial dilakukan sebagai upaya membaurkan diri dengan lingkungan masyarakatnya. Di samping itu interaksi sosial dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dalam proses interaksi tersebut dapatlah dilihat bagaimana kemampuan manusia menjalin hubungan yang baik, dikagumi, dihormati, disukai serta menyenangkan. Tak salah kiranya puisi lisan Re Sere Penang memberikan gambaran bahwa kemuliaan manusia hanya dapat dilihat dan dipancarkan dari kepribadian dan budi pekerti luhur. Sebagaimana terungkap dalam kalimat, bagus tengkana, lako becce’ (bagus tingkahnya / berperilaku mulia).

Proses panjang pembentukan akhlak mulia dan kebersihan jiwa mental spiritual bagi kau muda merupakan tanggung jawab orang tua. Untuk menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab mental dan moral, diperlukan keteladanan dari lingkungan keluarga maupun masyarakatnya. Oleh sebab itu kontrol yang dilaksanakan oleh orang tua, keluarga , dan lingkungan masyarakat sangatlah penting. Kontrol sosial yang ketat merupakan ikatan tanggung jawab bersama, tanpa melanggar hak azasi. Kontrol yang sangat ketat tersebut diharapkan akan mampu mencetak pemuda-pemudi yang bertanggung jawab terhadap perilaku, mempunyai akhlak yang mulia serta moralitas tinggi.

Dengan memiliki perilaku yang mulia, kaum muda akan menjadi insan-insan yang bertanggung jawab, patuh, di sukai, di hormati, di hargai dan akan mampu menciptakan lingkungan yang harmoni bagi masyarakatnya. Dengan memiliki ketahanan mental serta moralitas yang kuat, maka akan terbentuklah sebuah generasi yang tangguh. Sebagaimana termaktup dalam kalimat, “Kalellan e ka’dinto”, (diridhoi lewat disini).

KER-TANOKER

Kertanoker, dimma bara’ dimma temor
Ker-soker, sapa nyapa kaadha’ lanjang omor
Ker-tanoker jambuna massa’ saseba’
Ker-tanoker lagguna nyapa kaadha’
Ker-tanoker jambuna massa’ sapennay
Ker-tanoker lagguna nyapa e songay
Ker-tanoker jambuna massa’ sacorong
Ker-tanoker lagguna nyapa e lorong
Ker-tanoker jambuna massa’ pagar
Ker-tanoker lagguna nyapa e langgar

Terjemahan bebas :
Ker-tanoker dimana barat, dimana timur
ker-tanoker, siapa yang menyapa duluan akan panjang umur
Ker-tanoker ada jambu masak separuh
Bila tak bertegur sapa, besok menyapa duluan
Ker-tanoker ada jambu masak sekeranjang
Boleh bertengkar besok menyapa di sendang
Ker-tanoker ada jambu masak setakaran
Boleh bertengkar besok menyapa di jalan
Ker-tanoker ada jambu masak di pagar
Boleh bertengkar besok menyapa di langgar

Ker-tanoker (kepompong) adalah makhluk hidup jelmaan ulat yang sedang menjalankan proses metamorfosis. Ulat yang semula berbentuk bulat panjang, lembek dan menjijikkan kemudian berubah bentuk menjadi kepompong yang dibalut semacam serat, menempel dan bergelantungan di dahan, maupun di daun-daun. Pada masa pertapaan dan menjadi Tanoker inilah anak-anak sering mengambilnya dan menjadikannya sebagai alat bermain. Sebelum Tanoker mengeras, ujung kepala sedikit lembek, dan apabila mendengar suara maka ujung yang berbentuk memanjang ini akan bergerak-gerak, ke kanan, ke kiri maupun ke depan dan ke belakang.

Dan biasanya permainan ini dilakukan ketika anak-anak berselisih ataupun bertengkar dan kemudian tidak saling bertegur sapa (bahasa Madura soker). Nah, anak-anak yang tidak bertegur sapa tersebut sebenarnya ingin menyapa, tetapi karena saling menjaga gengsi mereka bersikeras tidak menyapa. Tetapi ketika salah satu anak sudah tidak tahan untuk menyapa karena tidak punya teman bermain, maka anak tersebut mencari Ker-tanoker (kepompong).

Melihat anak yang satunya akan menyapa, yaitu dengan mencari Ker-tanoker, maka ia pun berlari untuk mencari Ker-tanoker pula.

Masing-masing anak-anak itu sudah mempunyai seekor Tanoker, lalu kedua anak tersebut nangkring di kayu pagar masing-masing rumah. Kemudian kedua anak tersebut saling (sambit) melempar kalimat yang ada pada syair Ker-tanoker dan saling menjawab pula. Nah; kedua anak yang saling tidak bertegur sapa tersebut akhirnya saling menyapa dan saling memaafkan.

Permainan dan nyanyian Ker-tanoker bukan hanya dipakai sebagai media membuka area diplomat di kalangan anak-anak. Tetapi pada musim Tanoker digunakan pula sebagai media bermain, pada musim Tanoker inilah anak-anak bergembira ria, bersenda gurau dan saling melemparkan kalimat dalam bentuk pantun dan saling bersahutan menjawab pantun yang dilontarkan oleh kawan sebayanya. Apabila ujung kepala itu bergerak-gerak, itu menandakan bahwa pantun yang mereka sampaikan itu benar, dan harus pula di jawab oleh yang lainnya. Permainan ini bis dimainkan oleh dua orang, bisa juga berkelompok. Semakin banyak anak bergabung ikut bermain, maka semakin ramai dan mengasyikkan permainan tersebut. Masing-masing anak akan mencari Tanoker untuk dijadikan alat untuk bermain. Biasanya Tanoker yang menjadi incaran anak-anak adalah yang besar, mereka mencarinya di pohon yang sering dijadikan tempat bertelur ulat, misalnya pohon kedondong, jeruk, Ketapang, dan pohon pisang

Makna yang Terkandung dalam Bait-Bait Ker-Tanoker

Kata Ker-tanoker merupakan diksi yang mendekati kata soker (tidak bertegur sapa), dengan demikian terjadi keserasian pengucapan baik di awal kalimat maupun akhir kalimat pada pantun yang diucapkan. Walaupun bahasa yang digunakan sangat sederhana, namun mengandung makna tersirat mendalam. Makna mendalam yang terdapat pada syair ini tentang esensi persaudaraan, persahabatan, dan perdamaian. Hal ini disebabkan dalam interaksi sosial dalam kehidupan yang komunal, setiap pribadi dan individu, masing-masing mempunyai kepribadian, watak, dan karakter yang berbeda. Tentu saja dalam proses interaksi tersebut akan terjadi benturan-benturan, baik pemikiran, persepsi, keinginan, maupun kepentingan. Akibat dari ketidaksamaan tersebut maka akan terjadi perdebatan, pertengkaran bahkan menjurus pada pertikaian fisik.

Untuk meredam berbagai bentuk benturan tersebut syair ini memberikan rambu-rambu bagaimana harus berbuat, yaitu sebuah sikap mengalah. Mengalah belum tentu kalah. Peribahasa mengatakan, 'kalah jadi arang, menang jadi abu'.

Dengan memiliki sikap mengalah maka akan terbangun sebuah kerukunan, dan dalam dimensi yang lebih luas akan terbangun perdamaian yang abadi. Karena hakekat sesungguhnya dari setiap pertengkaran dan pertikaian adalah untuk menguji kerukunan. Bila terjadi perselisihan, berarti kerukunan sedang di uji. Mendahului berbuat baik, mendahului menyapa, mendahului membuka area diplomatik menunjukkan kematangan emosional maupun spiritual yang tinggi. Dengan demikian mendahului berbuat baik, yaitu dengan jalan menyapa maka akan mempererat tali persahabatan dan persaudaraan, tali silaturrahim serta akan melanggengkan perdamaian.

Sikap mengalah dan sifat pemaaf harus dimiliki oleh setiap individu, dan itu perlu ditanamkan sejak dini. Oleh karenanya, syair Ker-tanoker memberikan gambaran kongkrit bagaimana harus bersikap ketika menghadapi pertentangan maupun pertikaian, yaitu dengan cara mengalah dan menyapa. Membuka area diplomatik dapat dilakukan dimana saja, terutama tempat-tempat yang memungkinkan orang bertemu dan berkumpul. Dimana orang melakukan aktivitas keseharian dalam memenuhi kebutuhan hidup maupun saling ber-interaksi sebagai makhluk sosial. Tempat-tempat tersebut, antara lain di jalan, di langgar, di sendang, maupun di pasar. Sebagaimana yang termaktup pada isi syair, | Ker-tanoker lagguna nyapa kaadha’ | Ker-tanoker lagguna nyapa e songay | Ker-tanoker lagguna nyapa e lorong | Ker-tanoker lagguna nyapa e langgar | (Bila tak bertegur sapa, besok menyapa duluan | Boleh bertengkar besok menyapa di sendang | Boleh bertengkar besok menyapa di jalan | Boleh bertengkar besok menyapa di langgar).

Bait-bait sederhana yang terdapat pada syair Ker-tanoker mengajak setiap pribadi untuk menunjukkan kematangan pribadi, baik kematangan psikis maupun fisik. Dengan memiliki kematangan kepribadian, maka perbedaan pendapat, perbedaan persepsi, perbedaan keinginan, karakter maupun watak bukan berarti membuka lebar jalan pertentangan atau pertikaian, malah sebaliknya akan membuka pintu kerukunan dan perdamaian. Sebagaimana dikatakan bahwa perbedaan itu adalah suatu rahmat. Nilai etika dan moralitas tinggi inilah yang mesti dijadikan bahan renungan panjang setiap pribadi untuk membangun masyarakat komunal yang rukun, guyub dan ber-keadilan.

TAN-PANGANTANAN (TAN-MANTANAN)

Tradisi Tan Pangantanan merupakan sebuah permainan yang dilakukan oleh anak-anak di kala senggang. Permainan yang sangat menyenangkan ini dilakukan setelah panen tiba, setelah anak-anak selesai membantu panen di sawah.

Mereka biasanya berkumpul, dan secara spontan membentuk kelompok yang terdiri dari kelompok utama (perempuan) dan kelompok besan (laki-laki). Kedua kelompok tersebut kemudian berlomba untuk menghias pengantin jagoannya di tempat yang berbeda. Adapun hiasan yang dipakai oleh sepasang pengantin anak-anak tersebut sangat sederhana, terdiri dari kain panjang (samper palekat) yang dililitkan ke tubuh masing-masing pengantin sebatas dada.

Sedangkan tata rias memakai lulur yang dibuat dari beras dan temmo (kunir & kunyit putih). Lulur tersebut dibalurkan ke seluruh tubuh dan wajah pengantin, sehingga tampak bagian tubuh yang diluluri berwarna kuning (koneng ngamennyor). Sedangkan untuk mempercantik penampilan, maka di atas kepala di pasang sebuah mahkota yang di buat dari rangkaian daun nangka, dan roncean bunga melati. Aksesoris pengantin agar tampil menarik adalah rumbaian dari roncean daun melati (to’oran dhaun malate) yang digantungkan di leher, serta dilengkapi pula sumping daun kamboja, gelang kaki dan beberapa pelengkap bawaan yang di bawa oleh pengiring.

Setelah siap, kedua belah pihak bersepakat mempertemukan kedua pengantin di tempat yang telah ditentukan. Setelah kedua pengantin bertemu lengkap dengan para pengiringnya, baru kedua belah pihak bersepakat untuk mengarak kedua mempelai. Sepasang pengantin tersebut kemudian di arak keliling kampung, berkeliling dari kampung satu ke kampung lainnya. Arak-arakan tersebut mampu menyedot perhatian masyarakat yang dilewati, dan terkadang iringan pengantin semakin panjang karena diikuti penonton lainnya, terutama anak-anak. Sambil berjalan para pengiring melantumkan syair, Dhe’ Nong Dhe’ Ne’ Nang.

Dhe’ Nong Dhe’ Ne’ Nang

Dhe’ nong dhe’ ne’ nang
Nanganang nganang nong dhe’
Nong dhe’ ne’ nang jaga jaggur
La sayomla haeto lillah
Ya amrasol kalimas topa’
Haena haedhang haena dhangkong
Pangantanna din ba’aju din tamenggung

Ayola’ yole nengkong abli pole ngantol
Koddu’ pace pacenan, langsep buko lon alon
Pangantan ka’imma pangantan
Mantan loji pamaso’a ka karaton
Bu’ saeng lema’, bu’ saeng lema’
Aeng tase’ bang kambangan
Dhu panarema, dhu panarema
Balanjana saare korang

Bidaddari le’ bidaddar kong
Nase’ obi le’ kowa lurking
Ban-gibannna le’ nase’ jagung
Pangerengga le’ pate’ buttong
Ya, hadirin tore so’onnagi
Paneka pangantan sopaja kengeng salamet
Ya salam, ya salam

Kitab suci dah lama-lamanya
Kini pengantin lah tiba lah tiba
Kepada kawan-kawanku semua
Mudah-mudahan berjumpa lagi

Tan-taretan sadajana e dalem somana
Di sana e ka’dinto Karangduwek nyamaepon
Nyara taretan abadi kacintaan abadi kanesseran
Olle tetep Islam ban Iman

Jam yuju jam delapan, ana’ serdadu mekol senapan (dar)
Yam berana’ etekla ayam pengantin baru sudah berjalan

Tette ajam bindhara, pangantan ka’ imma pangantan
Pangantanna din ba’aju din tamongkong

Jas Turki pakaian celana puti
Aan’ ayam berani mati, jas turki sudah mati

La bu’na mela, ajam pote
Cocco’ sengkang e soro pajikaran

Uraian Peristiwa dalam Bait-Bait, 'Dhe’ Nong Dhe’ Ne’ Nang.'

Berdasarkan analisa yang terkandung dalam syair, dan berdasarkan perkiraan sesepuh Sumenep, H. Saleh Muhammady, bait-bait 'Dhe’ Nong Dhe’ Ne’ Nang', bahwa syair ini diciptakan sekitar tahun 1574 M, sebagaimana tertera dalam kalimat, kalimas topa’, yaitu dari kata sa’ (1), lema’ (5), to’ (7) dan pa’ (4). Namun tidak menutup kemungkinan angka tersebut belum menjamin kebenarannya, karena analisa lain, kata, “kalimas topa’” memiliki makna lain pula.

Apabila ditelusuri, maka dapatlah di tarik sebuah rentetan sejarah awal terbentuknya tradisi ini (tan-pangantanan) dapat diuraikan dalam kalimat, “Koddu’ pace pacenan, langsep buko lon alon”. Kata koddu’, yang condong pada jaman pemerintahan Pangeran Keddu (pangeran Wetan – 1574 M), yaitu pada jaman Ratu Tirtonegoro (tumenggung Pacinan, anak tiri Ratu Tirtonegoro) sebagai di sebut dalam kata, “bukong”, artinya kakak tua, yaitu perlambang burung yang menjelaskan bahwa Tumenggung Pacinan adalah kakak Panembahan Sumolo (pendiri masjid Jamik dan keraton Sumenep).

Rentetan Peristiwa Sejarah pada Syair Dhe’ Nong Dhe’ Ne’ Nang

Pengungkapan sejarah pangeran Wetan yang menghancurkan tentara Bali ketika menyerang Sumenep. Sebagaimana di sebut dalam kalimat, “mon ta’ nondhe’ jaga jaggur”, artinya kalau tidak tunduk maka akan dijatuhkan ke laut (jaggur, sinonim suara benda jatuh ke air). Tentara Bali mengalami kekalahan, dan kemudian sisa-sisa tentara Bali tersebut menyingkir ke daerah pinggiran. Daerah pemukiman yang ditempati oleh sisa-sisa tentara Bali dan keturunannya tersebut dinamakan Pinggir Papas. Sampai saat ini tradisi Bali (Hindu) masih dijadikan acara ritual, yang dikenal dengan ritual 'Nyadar'.

Tentang pemerintahan Pangeran Lor II dan Pangeran Wetan II, dan meramalkan masuknya kolonial Belanda, sebagaimana disebut pada kalimat, 'Haena haedhang haena dhangkong', maksudnya (sujud). Kalimat tersebut menjelaskan masuknya sekularisme di Sumenep, yang tentunya isme yang dibawa oleh penjajah Belanda tersebut akan berakibat terganggunya stabilitas pemerintahan, Tumenggung Sumenep.

Pengungkapan masa pemerintahan Cakranegara I, 'Pangantan loji pamaso’a ka karaton', (pengantin lojji dimasukkan ke keraton). Ini berkaitan dengan kisah, ketika pangeran Cakranegara I dalam perjalanan ke Demak. Di tengah perjalanan, tepatnya di daerah Sampang pangeran Cakranegara dirampok sehingga beliau tidak bisa kembali ke Sumenep. Akibat peristiwa tersebut maka terungkaplah kalimat, 'pangantan, ka’imma pangantan, artinya pengantin kemana pengantin (pangeran)?

Kalimat, 'aeng tase’ bangkambangan' (air laut mengambang). Makna pada kalimat tersebut terjadi pada masa pemerintahan Raden Mas Anggadipa yang berasal dari seberang. Pada masa itu rakyat tidak menyenangi pemimpin yang bukan berasal dari istana Sumenep, akibat rasa ketidaksenangan tersebut maka muncullah pemberontakan. Namun pemberontakan rakyat tersebut dapat ditaklukkan oleh Raden Mas Anggadipa. Peristiwa tersebut memunculkan sebuah kalimat, 'duh panarema, duh panarema', yang berarti terimalah semua itu dengan besar hati dan lapang dada.

Pencerminan kisah yang terjadi pada masa pemerintahan Jayeng Pati. Pada masa itu terjadi krisis ekonomi dan mampu mengganggu stabilitas. Krisis yang terjadi tersebut disebabkan oleh ulah Jayeng Pati sendiri karena Jayeng Pati merubah peraturan dan adat istiadat. Di samping itu Jayeng Pati merupakan otak peristiwa perampokan terhadap Cakranegara I. Pada masa pemerintahan Jayeng Pati, mengalami krisis ekonomi dan menyebabkan kehidupan rakyat mengalami masa-masa pahit, dan itu menyebabkan rakyat hanya mampu makan, 'nase’ obi kowa lorkong', artinya makan ubi dan sayur lorkong (jenis tanaman makanan ular).

Pada masa inilah tumbuh subur penyakit mental di kalangan istana, yaitu oportunis, KKN, dan ABS. Peristiwa ini dikiaskan pada kalimat, ”pangerengnga pate’ buttong”, artinya pengiringnya adalah anjing tak berekor.

Kisah tentang masa kepemimpinan Yudha Negara, ialah masa kembalinya dari keturunan Pangeran Cakraningrat I setelah merebut kekuasaan dari Jayeng Pati dengan bekerja sama dengan Pangeran Trunojoyo. Saat itulah rasa patriotisme mulai menjalar, masa usaha menghancurkan kolonialisme Belanda, meski masih memakai sistem pemerintahan feodalisme aristokrat. Namun mendapat pujian rakyat, sebagaimana terdapat pada kalimat, “paneka pangantan sopaja kengeng Salamet, ya salam, salam”, (ini pengantin (pangeran) supaya mendapat keselamatan, ya selamat, selamat), yang pada masa itu masih bergolak perlawanan Trunojoyo.

Kisah tentang masa pemerintahan Pulong Jiwo, “kini pengantin lah tiba”, yang dimaksud dalam kalimat tersebut adalah kembalinya Pulong Jiwo dengan mengadakan perbaikan-perbaikan di dalam sistem pemerintahan dan juga rasionalisme kultur yang rusak akibat masa pemerintahan Jayeng Pati.

Penerus kebijakan Pulong Jiwo, yaitu pangeran Romo. Ia dianggap orang yang mumpuni dengan menerapkan sistem bapaisme yang merupakan perangkat dari sistem feodalisme aristokrat, sehingga terjadi revolusi keraton. Untuk ini terungkap, “tan taretan sadjana e dalem somana”, artinya saudara-saudara yang berada dalam soma (rumah tangga), jadilah kepala rumah tangga yang baik dan bijak. Adat istiadat mulai berkembang dengan harapan, “olle tetep Islam dan Iman”, agar tetap Islam dan Iman.

Kisah masa pemerintahan Wiromenggolo I, yaitu saat terjadi pemberontakan melawan Belanda, disebut, “ana’ serdadu mekol senapan,” (anak serdadu memikul memanggul senjata). Menyebut Wiromenggolo I yang anti Belanda namun masih tertutup, termasuk yang anti Belanda ialah Wiromenggolo II serta cucunya, Jaga Sastro yang tewas ketika menyelamatkan pangeran Diponegoro pada saat pertempuran di Madura.

Kisah masa pangeran Lolos, sebagaimana disebut, 'pangantan ka’imma pangantan', (penganten (pangeran) dimana pangeran), pada waktu pangeran Lolos di serang Raden Buka’. Pangeran Lolos disebut juga pangeran Jimat.

Masa pemerintahan Raden Buka’ (Jimat), dijelaskan pada kalimat, 'jas Turki pakaian celana puti', dimaksud jas Turki celana putih, yaitu pakaian jas bentuk terbuka sebagaimana pakaian orang Turki, dengan kopiah merah berumbai-rumbai. Jas terbuka ini menandakan jaman masa Raden Buka’.

Masa Ke’ Lesap, yang tertera pada kalimat, 'Yam beranak etekla ayam pengantin baru sudah berjalan'. Maksudnya pemerintahan diganti oleh seseorang tapi bukan dari tutrunan pangeran Wetan. Memerintah hanya sebentar karena selalu terjadi peperangan.

'La bu’na mella ajam poté', artinya masa pemerintahan oleh seorang ibu, yaitu Ratu Tirtonegoro. Roda pemerintahan berikutnya diserahkan kepada Bindara Saod (1750-1762 M). namun timbul permasalahan sebagaimana dalam kalimat, “cocco’ sangkang e soro pajikaran”, artinya dipatuk burung gelatik disuruh tukang pedati. Yaitu pemerintahan pedati yang bukan dari keturunan pangeran Wetan, tapi dari orang kebanyakan (golongan masyarakat rendah).

Rentetan analisis di atas hanya merupakan bagian-bagian tertentu dari masing-masing bait. Namun demikian versi lain masih terjadi penafsiran lain yang bersifat dimensional. Jadi makna ganda dan dimensionalis dogma yang terkandung merupakan rangkaian makna yang tersirat. Maknanya juga bisa berarti dialektika sejarah, budaya, filsafat, sufistik melalui Doktrin-doktrin yang memiliki kekuatan politik serta kritik sosial pada jamannya.

Disisi lain, syair Dhe’ nong dhe’ ne’ nang mempunyai pengertian mengangkat ritualisme melalui jalur pengantin anak-anak, sebagaimana harapan penciptanya (anonim) agar lebih mudah dan leluasa dijiwai oleh masyarakatnya, yaitu ritual pengantin yang diangkat menjadi tradisi (folklore).

Demikian pula irama yang dihasilkan, bagaikan lantuman gaung penderitaan, ketidakpuasan, kecintaan, keagungan, kebahagiaan seperti letupan-letupan detak gendang dan gong di pendapa. Maka terciptalah rasa senasib sepenanggungan, sebagaimana dimaksud pada kata, “dhe’-nondhe’”, yang berasal dari kata, “dhu’ nondhu’”, yang artinya menunduk. Dalam pengertian nondhu’ para orang tua Mdura, menyimpulkan kepada, “Bapa’, babu’, guru, rato”, maksudnya tunduk kepada ayah, ibu, guru (ulama), dan ratu (pemimpin).

KANDUNGAN FILSAFAT

Nilai filsafat yang terkandung dalam syair Dhe’ nong dhe’ ne’ nang merupakan manifestasi dari latar belakang sejarah yang terkondisi oleh berbagai permasalahan kehidupan. Kebenaran yang tersirat merupakan makna dimensionalisme dogma. Maknanya bisa berarti dialektika sejarah, budaya, filsafat, sufisme melalui kerangka doktrina-doktrina yang mempunyai kekuatan politik dalam kritik-kritik sosial pada jamannya.

Dari sudut budaya, pengertian Dhe’ nong dhe’ ne’ nang mengangkat ritualisme dari jalur pengantin anak-anak, menuju obyek sasaran yang dikehendaki oleh pembuatnya. Hal ini nampak jela terungkap pada tiap-tiap bait, bait pertama hingga bait tiga belas, merupakan ritualisme dari awal pengantin sampai pada babak kelahiran (bait 9) dan diteruskan sampai beberapa bula berikutnya.

Disebutkan pada awal bait, secara filsafat dapat di teropong sebagai masa bulan madu, yang diiringi dengan suasana gembira dan bahagia dalam irama gamelan, dhe’- nondhu’ (dhu’-nondhu’ artinya masa menunduk), yaitu rasa bahagia tetapi diliputi rasa malu, hati yang tenang karena sudah berlabuh kebahagiaan. Tenang disini diungkap pada kalimat, “ne’ nang jaga (gong) jaggur”. Jaggur berkonotasi dua pengertian, yaitu jatuh dan atau buah pohon jati. Ini merupakan idealisme pengantin yang tinggi, suatu nilai kerahasiaan wanita (keperawanan) yang selalu didambakan pada awal malam pertama. Buah pohon jati (bulat kecil merah membara terdapat noktah hitam) mempunyai maksud setitik, yang melambangkan titik mutfah yang terjaga. Bahkan dalam pengertian haena haedeng haena dhangkong, masa itu adalah masa penyesuaian watak dan karakter.

Menurut sunnnaturrasul dikatakan, waktu mutfah dimasuki ruh yang terdapat pada bait ke-3, dan selamatan pada bait ke-7. perjuangan hidup dan mati pada bait ke-8 dan ke-9, yang mempunyai arti masa kelahiran. Sementara pengamat yang lain mengatakan, kalimat pakaian jas Turki merupakan singkatan bahasa Madura, yang ber-pengertian bahwa masa membersihkan diri pada masa persalinan. Sehingga secara budaya, merupakan ritualisme adat yang secara universal semua orang mengalami peristiwa tersebut.

Dalam pengertian sudut filsafat, sangat jelas sekali bahwa dimaksudkan merupakan ajaran atau doktrina ontologia, yang menjelaskan tentang hakekat asal, akhir dari tujuan hidup. Dan apabila dikaitkan dengan ilmu kebatinan Jawa, hal ini merupakan hakekat Sangkaning Dumadi. Yaitu, hakekat sebelum dan sesudah hidup. Pengertian masa Dhe’ nong dhe’ ne’ nang, yaitu pada masa Awang Wung, masa kekosongan dalam awal azal.

Bait ke-3 memberikan pengertian filsafat yang tinggi sampai bait ke-12. ini merupakan doktrin filsafat tentang hidup. Tentang hakekat, tarekat, dan makrifat dalam syariat hidup. Tentang awal tidak hidup menjadi ada hidup dan tidak ada hidup, dan hidup yang dikekalkan dari semua makhluk. “Ada hidup”, yang dikemukakan dalam, “jaga jaggur”, yaitu hakekat Jati sperma yang hidup, (“jaga berarti bangun dari tidur, bhs. Madura). “Haetolillah” (Hidayatullah), berserah diri kepada Allah. “Ayam beranak etek” (ayam beranak bebek), ini menjelaskan filsafat periodeisme, bukan menjelaskan dan mendukung filsafat Darwinisme, yang digelarkan pada teori evolusinya, dan juga bukan merupakan revolusinya Kal Mark. Tetapi merupakan sebuah realitas di bumi Sumenep tentang periodeisme metamorfosis. Tidak ada manusia dari kera menurut Dhe’ nong dhe’ ne’ nang, tetapi yang ada ialah logika, “Yam beranak, eteklah ayam”, karena ayam mengeram telur etek (bebek). Demikian antara lain kandungan filsafat yang tercakup dari bagian-bagian bait dan baris tertentu.

Ungkapan lain yang terungkap, bahwa Dhe’ nong dhe’ ne’ nang tersimpan doktrin tasawuf yang terkandung didalamnya. Yaitu, pada bait ke-1 sampai bait ke-4 yang menyangkut ilmu psikis. Bait ke-5 sampai ke-8 menjelaskan tentang ilmu methaphisik. Dan bait ke-13 memjelaskan tentang pendapat dari penulisnya, yaitu tentang hakekat, “cocco’ sengkang esoro pajikaran”, yaitu tentang hakekat paruh burung gelatik disuruh pedati. “Soro” dalam bahasa Madura mengandung makna kunci (sorok). Jadi apabila dipadukan bisa berarti paruh burung Gelatik pada kunci pedati. Sehingga dengan kata lain, ungkapan tersebut dapat berarti paruh yang bersudut, berpusat pada titik poros kunci pedati, maka berarti bahwa dorongan perputaran roda pedati. Dalam tasawuf yang dua belas itu, merupakan dialektika dan romantika gerak roda pedati, dalam pengulangan hakekat ajaran tasawuf.

Kajian tentang syair Dhe’ nong dhe’ ne’ nang memng memerlukan peralatan dan wacana yang memadai, karena makna yang terkandung didalamnya mengandung isyarat-isyarat yang sangat mendalam. Sebab tradisi semacam Tan Pangantanan ini memiliki akar budaya yang sangat kuat sebagai landasan terbentuknya tatanan kehidupan masyarakatnya pada jaman dulu hingga sekarang. Secara implisit makna kandungan dalam syair Dhe’ nong dhe’ ne’ nang masih sangat banyak dan perlu pendalaman. Namun untuk mengungkap makna seluruhnya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, karena didalamnya masih tersimpan dimensi lain yang berkaitan dan bersifat transendental.

SET-SESET MALOKO’

Set-seset maloko’
Iya tompe, iya bu’bu’
Tompena bagi ka mama’na
Bu’ bu’na bagi ka embu’na

Terjemahan
capung-capung kecil
ini kulit (dedak kasar/luar) jagung, ini dedak jagung
kulit (dedak kasar) untuk sang bapak
dedak jagung untuk sang ibu

Seset (Capung) adalah sejenis serangga yang banyak diketemukan pada pergantian musim hujan ke musim kemarau. Pada pergantian musim inilah Capung-capung mulai mengepakkan sayapnya, membelah angkasa. Nyanyian yang hanya terdiri dari empat bait ini biasanya dinyanyikan oleh seorang ibu sambil menggendong anaknya ketika sedang menyuapi makanan pada sang anak.
Set-seset maloko’, adalah rangkaian kalimat yang sangat sederhana, namun apabila dikaji lebih jauh lagi maka setiap baris dalam kalimat tersebut mempunyai nilai filosofis yang sangat mendalam. Secara umum bait-bait ini memberikan nuansa umum tentang perbuatan baik dan menyenangkan kepada siapapun. Namun secara khusus, baris ketiga dan keempat memberi penekanan tentang keutamaan makhluk ciptaan-Nya, yaitu keutamaan seorang ibu.

Ketika salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah nabi besar Muhammad SAW, siapakah orang pertama yang wajib dihormati dan diutamakan, Rasulullah menjawab ibu, pertanyaan tersebut dilontarkan sampai tiga kali, dan Rasulullah tetap menjawab ibu, baru keempat kali Rasulullah menjawab bapak. Ruh dari sabda nabi besar Muhammad SAW tersebut telah menjadi darah yang mengalir dalam setiap nadi dan menjadi kultur suku bangsa Madura yang menempatkan sosok ibu menduduki tempat yang sangat istimewa dan utama. 

Tidaklah mengherankan apabila penulis syair ini memberikan sesuatu yang sangat istimewa bagi sang ibu, “bu’bu’na bagi ka embu’na”.
Baris keempat, “bu’bu’na bagi ka embu’na”, kalimat ini sejalan dengan kebutuhan ibu dalam pemenuhan gizi.. Bu’ bu’ (dedak jagung ) adalah bahan makanan mengandung nutrisi gizi yang sangat tinggi. Mengapa bu’ bu’ (dedak jagung) ini diberikan kepada ibu? Bukan kepada Bapak? Mengapa sang bapak cuma di beri tompe (kulit luar/dedak kasar)? Pertanyaan ini tentunya sesuai dengan kebutuhan ibu sebagai pendonor pertama kebutuhan nutrisi gizi bagi putra-putrinya.. Dedak jagung adalah bahan makanan yang halus dan enak, banyak mengandung gizi yang tentunya sangat berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama untuk ibu hamil dan menyusui.

Mengapa bu’bu’, bukan makanan lain seperti beras? Karena ketika penulis syair ini hidup pada masa itu, jagung merupakan makanan pokok suku Madura.
Namun esensi dari baris keempat pada puisi lisan tersebut, bahwa manusia Madura memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada sosok Ibu.

Tentunya ini merupakan ruh dari kultur budaya Madura yang relegius.

LIR-SAALIR

Lir saalir lirsaalir alirkung
Kan akowak epakaje
Ma’ ta’ rengsa se nyare
Lir saalir lirsaalir alirkung
Reng ta’ kowat ja’ akarja
Ma’ ta’ sossa budhi are

Lir saalir lirsaalir alirkung
Ka gunong ngala nyorowan
Kope bella kabadha’an
Lir saalir lirsaalir alirkung
Peker bengong ta’ karowan
Nape bula katamba’a

Lir saalir lirsaalir alirkung
Ngala’ baddha ban-saromben
Nyambi padhi gan sakesse

Lir saalir lirsaalir alirkung
Dika jaga ja’ ban-aban
Duli mandhi ma’le berrse

Lir saalir lirsaalir alirkung
Ngenjam buku pas pabali
Se andhi’ ma’ ta’ seddhi

Lir saalir lirsaalir alirkung
Sabban laggu dika mandi
Ja’ loppa ngossowe gigi

Lir saalir lirsaalir alirkung
Mon teggal badha atoghu
Ba’na entar mon kacapo’

Lir saalir lirsaalir alirkung
Lamon ba’na ngedhing laggu
Duli jaga mokka’ sapo’

Lir saalir lirsaalir alirkung
Molong tarnya’ ekagangan
Ngeba kaju gan saso’on

Lir saalir lirsaalir alirkung
Agabbasan katedungan
Bantal gulung pas esoson

Lir saalir lirsaalir alirkung
Lambajung baddhai kesse
E attassa etopoe

Lir saalir lirsaalir alirkung
Mon terro romana berse
Tanto bai esapoe

Lir saalir lirsaalir alirkung
Mon ka teggal ngeba ladding
Se ta’ parlo pas epoger

Lir saalir lirsaalir alirkung
Samarena pas ka jeddhing
Terros mandhi ma’le segger

Pengertian bebas bait 1 dan 2

Lir saalir lirsaalir alirkung
(sebagai pembatas sampiran dan isi, juga sebagai pembuka)
berteriak kuat-kuat
mencari biar tak penat
kalau tak mampu jangan dipaksakan mengadakan perhelatan
agar tak susah di hari kemudian
ke gunung mengambil tawon (lebah)
botol pecah adanya
pikiran bingung tak karuan
bagiku apakah obatnya

Nyanyian (lagu) Lir-saalir yang bernada riang dan sedikit menggelitik ini senantiasa di awali dengan syair Lir saalir lirsaalir alirkung, dan juga ketika pergantian baris kedua dan di akhir nyanyian.. Biasanya anak-anak membentuk kelompok dan menyanyikan secara bergantian. Ketika sampai pada kalimat, “Lir saalir lirsaalir alirkung” maka secara spontan tangan mereka akan bertepuk tangan dengan riuh serta menyerukan kata kung dengan nada yang panjang.. Bait Lir saalir lirsaalir alirkung merupakan pembatas sampiran dan isi dan juga sekaligus dijadikan pembuka ketika memulai nyanyian.

Makna yang Terkandung

Bait-bait yang disampaikan dalam nyanyian Lir saalir lirsaalir alirkung sangatlah sederhana, namun dari kesederhanaan tersebut mengandung nilai-nilai kearifan yang sangat tinggi, khususnya syair ini memberikan nasehat kepada seseorang tanpa melukai perasaan yang dinasehati.

Syair ini mengingatkan kepada semua orang agar berbuat sesuai dengan kemampuan, ini berkaitan dengan interaksi sosial di masyarakat. Biasanya individu-individu dalam masyarakat ingin lebih dibandingkan dengan orang lain. Sebagai makhluk sosial interaksi instens senantiasa dilakukan, baik dalam bentuk organisasi, perkumpulan, maupun pengajian. Syair ini memberi wejangan kepada siapapun untuk tidak memaksakan diri meniru cara orang lain yang lebih mempunyai peluang di bidang finansial atau materi.

Terutama ketika sedang mempunyai hajatan atau perhelatan, sebagaimana yang termaktub dalam kalimat, “Reng ta’ kowat ja’ akarja, ma’ ta’ sossa budhi are”. (kalau tak mampu jangan dipaksakan mengadakan perhelatan / agar tak susah di hari kemudian).

Dengan kata lain, jangan sok gengsi. Gengsi, kata tersebut merupakan pemicu untuk berbuat memaksakan diri walaupun tidak mampu. Gengsi pula yang menyebabkan seseorang nekat berhutang kian kemari hanya untuk memuaskan nafsu ingin dipuji, karena meskipun secara materi tidak mampu tetapi dengan cara apapun bisa melaksanakan hajatan sangat meriah dan mendapat pujian. Syair ini mengingatkan agar berbuat sesuai dengan kemampuan, tidak memaksakan diri untuk hanya sekedar menaikkan gengsi.

Karena dengan pemaksaan diri yang berlebihan, maka akan mendapatkan kesusahan di kemudian hari. Syair ini memberikan gambaran yang sangat jelas dan utuh, “//Lir saalir lirsaalir alirkung / Ka gunong ngala nyarowan / Kope bella kabadha’an / Lir saalir lirsaalir alirkung / Peker bengong ta’ karowan / Nape bula katamba’a //. (//ke gunung mengambil tawon (lebah) / botol pecah adanya / pikiran bingung tak karuan / bagiku apakah obatnya//)

JAN-ANJIN

Jan anjin lang kocipla’ lan koceblung
Ngala’ aéng badai bagung
Kapandiya jaga tedhung
Ta’ cipla’ ciblung

Terjemahan bebas :
Ayun-ayun kocipla’ lang kociblung
mengambil air didalam tempayan
untuk mandi bangun tidur
kocipla’ kociblung

Biasanya nyanyian ini didendangkan oleh ibu-ibu muda untuk anak balitanya. Sambil duduk di kursi yang agak tinggi sang ibu mendendangkan lagu, kaki sang ibu dijulurkan sampai mencapai tanah. Kemudian anak diletakkan diantara pergelangan kaki. Tangan anak dipegang oleh ibu kuat-kuat. 

Setelah itu kaki sang ibu diayun-ayunkan keatas dan ke bawah sambil mendendangkan lagu tersebut. Tentu sang anak tertawa senang dengan ayunan kaki sang ibu.

Nyanyian ini menggambarkan kegembiraan yang meluap saat mengambil air. Kondisi geografis Madura yang menyebabkan kondisi alam yang kurang menguntungkan. Dengan curah hujan yang sangat kecil menyebabkan lahan-lahan di wilayah Madura tandus. Maka tidaklah mengherankan ketika mengambil air di sungai, di sumber mata air maupun di sendang, luapan kegembiraan itu muncul dalam bentuk nyanyian. Keciplak, keciblung adalah irama yang dihasilkan apabila tangan dipukulkan ke arah air.

Di samping air merupakan sumber kehidupan yang utama, ternyata air juga mempunyai irama. Dan ini sudah dibuktikan oleh ilwuwan Jepang dengan penelitiannya yang intensif pada air. Air bukan hanya melepaskan dahaga semata atau menghasilkan irama saja, melainkan juga sumber tenaga dan muara dari hidup sehat. Oleh karenanya, menjaga kesehatan menjadi sangat penting yaitu dengan melakukan ritual mandi’.

GAI’ BINTANG

Gai’ bintang ya le’ gaggar bulan
pagai’na janor konéng
kaka’ elang ya le’ sajan jau
pajauna e lon-alon
liya lites, kembang ates, tocca’ toccer

Terjemahan bebas :
Menjolok bintang yang jatuh rembulan
alatnya janur kuning
abang pergi kian jauh
jauhnya ke alun-alun
(liya lites, kembang ates, tocca’ toccer)

Menjolok bintang, adalah sesuatu yang sangat mustahil, siapapun tidak akan bisa melakukan pekerjaan tersebut. Apalagi alat yang dipakai menjolok hanya janur kuning, apabila ditegakkan maka janur tersebut akan melengkung. Nyanyian tersebut merupahan sindiran yang sangat halus dan disampaikan kepada siapapun yang berangan-angan terlalu tinggi. Peribahasa Madura juga mengatakan, “mlappae manok ngabang – (membumbui burung terbang)”. Tentu saja ada kesamaan tujuan dari bait pertama puisi gai’ bintang dengan peribahasa Madura, mlappae manok ngabang, yaitu memberikan sebuah persepsi bahwa terkadang sesuatu yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan, bahwa semua yang diinginkan oleh manusia tidak akan menjadi kenyataan. Semuanya tergantung kepada pemberian-Nya. Hal itu terdapat pada syair, gai bintang, ya le’ gaggar bulan (menjolok bintang, yang jatuh rembulan).

Kandungan isi yang dapat di petik pada syair ini adalah nilai relegiuitas. Dalam benak manusia, bintang merupakan benda langit yang paling jauh dari permukaan bumi dan sinarnya mampu memberikan penerangan di malam gelap gulita. Bintang juga menjadi penunjuk arah, terutama untuk para nelayan ketika mengarugi lautan yang luas. Bahkan bintang menjadi penunjuk untuk para petani ketika akan memulai bercocok tanan. Menjolok bintang, merupakan sebuah impian, namun yang terjatuh justru rembulan. Mengapa rembulan ? Karena rembulan merupakan benda paling dekat dengan bumi, dan apabila rembulan secara penuh menampakkan wajahnya, maka untuk meraihnya cukup dengan menjangkaukan tangan.

Kaka’ elang ya le’ sajan jau’ (abang pergi kian jauh), bait ketiga ini memberikan semacam legitimasi pada bait pertama dan kedua. Dan kemudian ditutup dengan kalimat, pajauna e lon-alon, (jauhnya ke alun-alun). Syair ini memberikan semacam sinyal kepada manusia tentang sebuah nilai, yaitu memberikan sebuah persepsi bahwa terkadang sesuatu yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan, bahwa semua yang diinginkan oleh manusia tidak akan menjadi kenyataan. Semuanya tergantung kepada pemberian-Nya

BEBERAPA CONTOH SYAIR KIDUNG ANAK MADURA

DADDALIYAN

Daddali li’ daddalkung
bi’ Sali li’ juwal mennya’
mennya’ nape le’ mennya’ lantung
lantung nape li’, lantung tunggi
gil nape li’, gil-gilbut
but nape li’ but bujel
jel nape li’, jal gaddhang
dhang nape li’, dhang bigi
gi nape li’ gigibang
bang nape li’, bangbangkong

Daddali li’ daddalkung
nase’ obi li’ gangan lurkung
andhi’ ana’ li’ neng settung
e pokola li’ tako’ potong
bu’ salwi li’ dagang mennya’
mennya’ nape li’, mennya’ lantung
porop nape li’, porop jagung
jagung nape li’, jagung kupung

daddali kacung, daddali
pandhanna rampa’ romben
abali kacung abali
parabâna nyandhak odheng
liya lites, kembang ates, tocca’ toccer

DIN-DINDI’

Di’ dindi’ liya’ liyo’ pocedda koddhu’, na’ kana’ alakeya ta’ gellem nodhdu’, noddu’a malem sennen, dika pagar penang, bula pagar bato, dika ana’na demmang, bula ana’na rato; dika ngampar lantay, bula ngampar teker ; dika se akamanto, bula se malekker.

Di’ dindi’ durin, gettana nak onagan, calelet sido nyamplung, bu siro kembang opo, kembang batu, … mantona ratu, ratu tinggal moleya, moleya ketinggalan ennot, te’ ente’ sere sa candhi’ , menang opo menang cile, nang nong le’, man cella’ matana pate’

Di’ dindi’ tana pao, reng bara’ pagunongan, rampa’ kaju kaling, badha natta badhuk celeng, bang balimbing, balimbing buwana emas, emmassa enten enten, pangokorra mesem mesem, pa’ ombel, se mella’ se meddem

Di’ dindi’ gettana pao, reng dhaja gunong, nong papa an, senga’ jebbing. Susuna jambu uring, enten embu’, nyambu’ neng sakoni’

Di’ dindi carumping, papan cangkring, ta’ lut piluddan,ghaludhak mata tikus, lulungnga pulosari, ta’ tengnget-tengnget, tuwa-tuwana man Durahmat, kothak kathek undor settong

Di’ dindi kapas, kapassa lema’ lema’, temanto sapa nyamana manto, mantogi, sapa nyamana togi, togiller, sapa nyamana giller, larbais, sapa nyamana bais, baisto, sapa nyamana isto, es topa’ balang kette’ ketteng

AENG LEMA

Aeng lema’, Ali
aeng lema’, juko’ tase’ sembilangan
maen kanna’ Ali,maen kanna’
kanna’ sengko’ sake’ kabirangan
ajjota patang edder

LAR-OLAR KOLARJANG

Lar kolarjang
kolarjang ngekke’a bunto’
ekasambel ekajuko’
kalemmar matana juko’
jantu !

KO’ TONGKO’AN CALELET

Ko’ tongko’an calelet
janggar baddhung dha’ lao’na
ja’ ngo’ngo’an bu’ ellet
nase jagung dha juko’na

KE’ RANGKE’ KAKONENGAN

Ke’ rangke’ kakkonengan
nemmo sello’ elang pole
sare ajam pote
katopa’ toju’ nengkong abali pole, ngantol

pak rampak kakkonengan
nemmo sello’ elang pole
ka topa’ toju’nengkong
abali pole manjang

KO SOKO BIBIR

ko soko bibir
jurat jurit
komenneran
sakomel saksal
sakomel seksel
re’ kere’ mekol pangonong
garuggak nyodue tajin
jin sasodhu, nas palotan
palotan campore oto’
oto’ bigina palotan

PO’-KOPO’ AME-AME

Po’ kopo’ ame-ame
tallam menta’ kopo’
sabelluna ana’ patme
samalem dhudhu’ mokka susu
susuna lemma’ manis
jenten ereng plappa mora
cangkele’ cangkelongan
thok pathok kaju kalompang
sang ale’ aro’oman
tot patot daddi komantan

LA ILLA HAILLALLA

La illa hailalla
bantal sadat pajung Alla
sapo’ iman sandhing nabbi
kangan kacer

MON-TEMMON BUKO

Mon temon buko
bungkona lonta’ lonteng
ambet tatta’, ambet tetteng
mon ta’ soka ja’ nyaletheng
kalellan nyono’ kai’iya

LELLE NAREYO

lelle nareyo
sang soroy me’ papotong
sang gendhi’ me’ pabiru
bang janggal le’ beyek
bang malegel le’ jaggur
mon bangal le’ ngangsek
mon tako’ le’ mongkor

BA BABA BULAN

Ba baba bulan, bulanna sapa
bulanna Watik
ageleppar. Agelebber
noro’ ompossa penang
buru dha’ emma ana’
buru kagerrungnganna

DIPADHI CEMPLO LO’LING

Diphadi cemplo lo’ling
entara kana’ supang yang sayang
embu’ ambang atutup pindhang
alalap kacang nyang petis
tis kontolir bui’ ayu
dhadha’aran kundhang kalimansur jaran
garegjeggan jaran
garenneggan
no’ lenno’ nyodhu tajin

Dipadhi cemplo lelo
entara kana’ subat hai sayang
embu’ ambang atutup sindhang
alalap kacang yang pettes
lir kontolir bu’ ayu
garegjeggan jaran
garenneggan tamoy
no’ lenno’ nyodhu tajin

Dipadhi cemplo lelo
entara kana’ subat hai sayang
embu’ ambang atutup sindhang
alalap kacang yang pettes
lis-kantulis bu’ ayu
garegjeggan jaran
garenneggan tamoy
no’ lenno’ nyodhu gahwe

CING KINCING KERE’

Cing kincing kere’
ka bara’ bun bun
ka temor ka Paseyan
kabala’a ka Kalebun
apella ataeyan
ta’ biyar nampes, mata bular kecek

Cing kincing kere’ kere’
kaju lamapang paju maleng
malengnga rek-seregan
ka bara’ punpun
ka temor Pasuruan
se kemma kettheng
gutto’ sapolo ebang
ta’ biyer nampes
mata bular kecek

BING ANA’

Bing ana’
Ta’ endha’ nyempang lorongnga
Bing ana’
Mon lorong tombuwi kolat
Bing ana’
Ta’ endha’ ngala’ toronna
Bing ana’
Mon toronna reng ta’ pelak

Sapa rowa andhi’ tarnya’
Bing ana’
mano’ poter le’ le’ pote
bing ana’
sapa rowa andhi’ ana’
bing ana’
sela penter becce’ ate

bing ana ‘
sapa rowa andhi’ tarnya’
bing ana’
plappa kencorla-kellana
bing ana’
sapa rowa andhi’ ana’
bing ana’
andhap asor pon cacana

bing ana’
rampa’ naong bringen korong
bibg ana’
bantal lama’ ka poncana
bing ana’
soka’ along saleng tolong
bing ana’
bakal bannya’ cakancana


DAFTAR PUSTAKA


  1. Artikel Menelusuri Tradisi Tan-Pangantanan, “Unsur Relegius, Ritual dan Kritik Sosial dalam Syairnya”. Syaf Anton WR. Majalah Kalimas 02.1993. Surabaya
  2. Makalah, “Sastra Madura yang Hilang Belum Berganti”. D. Zawawi Imron.
  3. Revolusi IQ/EQ/SQ, dr. Pasiak Taufik, Mizan Pustaka.
  4. 15 Ledakan EQ, J. Stein Steven, PhD dan E, Book Howard, M.D, Mizan Pustaka.
  5. ESQ, “Berdasarkan 6 rukun Iman dan 5 Rukun Islam”, Ary Ginanjar Sebastian, Arga Jakarta
  6. Basa Madura, “Kaangguy Na’ Kana’ SMTP”. Badrul Rasjid. Pamekasan. 1982
  7. Bulletin Konkonan 25. Tim NABARA Kandep Dikbud Sumenep. 1992
  8. Arach Djamali. Apresiasi Sastra, bab Tembang, Konkonan Edisi 53, 54, 55. Sumenep, 1989
  9. Tim Nabara, Mekkar Sare, kelas 1, 2, 3, Kaangguy Sekolah Dasar. Sick. Surabaya.
  10. Tim Nabara, Sekkar Tanjung, Pangajaran Basa Madura Kaangguy SD-MI. ECM. 2005
  11. D. Zawazi Imron. Makalah, Warisan Sastra Lisan Madura, Sebuah Perkenalan.
  12. Drs. H. Moh. Imron (wawancara)
  13. S. Heriyanto, S. Pd. (wawancara)


Sumber: Pesat on 21 Oktober 2008
Label: budaya, dokumentasi


Previous
Next Post »
Thanks for your comment