Gereja Maria Fatima Bangkalan

Keluarga Yusuf Budiharto bersama dengan istrinya Maryam Suryani dan 3 orang putrinya datang dan menetap di Kota Bangkalan dan tinggal di kompleks rumah Kapitan Kapiten Tan Kuan Pang) pada tahun 1949. Mereka sekeluarga sudah menganut agama Katholik, kecuali Bpk. Yusuf yang hanya sebagai simpatisan, Namun di Bangkalan waktu itu masih belum ada gereja Katholik sebagai tempat ibadah maupun pastor yang menetap di Bangkalan.

Pertengahan tahun 1950 seorang pastor keturunan Belanda, Pastor Kramer bekunjung ke rumah keluarga Bapak Yusuf untuk mencari kepastian apakah keluarga Yusuf merupakan keluarga Katholik. Minggu berikutnya Pastor Kramer,o.carm datang lagi untuk mempersembahkan misa, dan misa pun diadakan di rumah keluaga Yusuf yang merangkap pabrik roti, dengan perlengkapan misa sederhana. Sejak saat itu Pastor Kramer yang merupakan pastor paroki Pamekasan datang setiap bulan untuk memimpin misa. Pada saat itu jumlah umat yang mengikuti misa tersebut dapat di hitung dengan jari, selain itu juga ada beberapa orang simpatisan. Walaupun jumlah mereka sedikit tetapi setiap pelaksanaan kegiatan gerejani berlangsung dengan semarak karena eratnya hubungan kekeluargaan di antara umat.


Selama lebih kurang satu tahun mengadakan misa di Bangkalan, pastor Kramer meningkatkan pelayanan misa dari sebulan sekali menjadi dua minggu sekali, Pada pertengahan tahun 1951, Uskuo Malang, Mgr A.E.Albers,Ocarm berkunjung ke keluarga Bapak Yusuf. Bapak Uskup merestui untuk di adakannya misa setiap dua minggu sekali yaitu Pastor Kramer. Sedangkan dua minggu sisanya akan di pimpin oleh pastor dari lawang yaitu pastor Sosrowardaja,O.carm. Tidak lama kemudian karena Pastor Kramer O.carm di gantikan oleh pastor Arc. Tedjapratama,O.carm sebagai pastor paroki Pamekasan yang baru, maka misa di Bangkalan dilayani oleh pastor Tedjapratama dan pastor Sosrowardaja,O.carm.


Dengan adanya misa kudus setiap minggu di Bangkalan, Maka jumlah umat katholik di Bangkalan makin bertambah, Umat tidak hanya dari Bangkalan saja, tetapi juga berdatangan dari Sepulu, Banyuates dan Batuporon. Sejak saat itu mulai di pikirkan untuk membangun Gedung Gereja katholik di Bangkalan. Usaha untuk mengumpulkan dana pun dimulai, Dan pada tahun 1952 mulailah di pikirkan pula untuk mendirikan sekolah katholik.

Dari hasil pengumpulan dana dari tahun 1951-1952 ternyata membuahkan hasil, yakni dengan berhasil di belinya sebuah rumah bekas pabrik tenun di daerah Sak-Sak. Melihat keadaan gedung yang tidak cocok untuk dijadikan sebuah gereja, maka di dalam gedung itu dibuat dua ruang kelas satu kelas untuk Taman kanak-kanak dan satu kelas untuk SD.

Sekitar bulan juli 1953 di buka Sekolah Dasar Fatima, Sedangkan kegiatan pengumpulan dana untuk pendirian Gedung Gereja terus berlangsung sambil memperbaiki gedung tersebut untuk ruang sekolah. Kemudian pada tanggal 29 Juli 1953 diresmikan berdirinya Paroki dan Gerejanya di daerah Sak-Sak yang saat itu bernama Jalan Letnan Mestu. Sejak saat itu umat katholik di paroki Bangkalan semakin bertambah. Kegiatan gereja pada waktu itu lebih banyak terpusat pada pendidikan sekolah. Selain TK dan SD, Umat juga berhasil mendirikan SMP dan SMAK pada tahun 1961. Semula SMAK bertempat di kompleks gedung mulia milik Bapak Ong Ban Hoo dan di tempat ini pula para guru tinggal.

Kelangsungan sekolah ini tidak lepas dari semangat dan bantuan beberapa sponsor dari Bapak Kho Tjwan Ing, Bapak Lo Tjie Tjhing, Bapak The Tjhing Yang dan Bapak Nyoo Tiang Tjie dan berkat ke empat orang inilah meraka membeli sebidang tanah seluas satu hektar milik Bpk. Tan siek Tjie di Kranan (Pangeranan) dan kemudian dilanjutkan dengan pembangunan gedung sekolahnya.

Dalam perkembangan selanjutnya SMAK ditutup, bukan saja karena masalah financial tetapi juga karena peraturan pemerintah yang mengharuskan adanya siswa pribumi sekian persen. Pada saat itu hingga sekarang, sekolah katholik sungguh menghadirkan gereja di masyarakat, sehingga eksistensi Gereja Katholik diakui dan dihargai oleh masyarakat melalui sekolah katholik.

Pernah suatu waktu gereja dan tempat tinggal pastor boleh dikatakan menjadi satu. Pastoran mengalami pembangunan pertama waktu Romo Ath.Soebonokamdi, Pr. Menjabat sebagai pastor paroki Bangkalan. Kemudian pernah suatu waktu diadakan pembangunan dan rumah pastor dipindah dekat sungai. Dan pada pembangunan berikutnya dipindah ke sebelah Timur gereja dan sampai saat ini berada disana.

Tahun demi tahun jumlah umat katholik di Bangkalan semakin bertambah sementara itu gedung gereja tidak bertambah luas. Terlebih lagi pada hari-hari Raya Natal dan Paskah harus di pasang tenda di halaman Gereja. Umat semakin merasakan kebutuhan Gedung gereja yang lebih luas. Lalu timbullah keinginan di antara umat untuk mendirikan gereja yang lebih luas sehingga umat dapat dengan lebih khidmat melaksanakan ibadahnya di gereja. Umat sudah lama merindukan gereja yang lebih layak, sebab selama ini seperti sebuah gudang saja. 
Keinginan itu bertambah kuat, Sehingga terbentuklah panitia Pembangunan Gereja pada tanggal 30 Juli 1993. Pengurusnya telah dua kali mengalami perubahan karena masa kerjanya yang telah habis. Untuk mendukung pengumpulan dana pembangunan gereja, diadakanlah kegiatan Arisan Gotong Royong diantara umat.

Setelah beberapa tahun dana sudah mulai terkumpul dan siap untuk memulai pembangunan gereja. Tetapi karena situasi politik dan keamanan yang tidak memungkinkan, maka pelaksanaan pembangunan ditunda. Sementara itu setiap Perayaan Ekaristi setiap hari sabtu dan minggu, Umat selalu berdoa untuk pembangunan Gereja mereka.

Setelah situasi di masyarakat memungkinkan, mereka pun berani memulai pembangunan dengan terlebih dulu menyerahkan kedudukan ketua panitia pembangunan gereja dari Bapak FX. Janto I Kusumah yang meninggal dunia kepada Bapak Vincentius Hartono.

Pelaksanaan pembangunan gereja di mulai dengan peletakan batu pertama oleh Bapak Uskup Malang, Mgr. H.J.S Pandoyoputro.O.carm pada tanggak 17 maret 2002. Sejak itu umat semakin bersemangat dan sumbangan dari umat mulai mengalir baik dari umat yang berada di Bangkalan maupun umat yang telah pindah kota, selain itu juga ada banyak orang yang bukan umat Paroki Bangkalan ikut menjadi donatur untuk membantu pembangunan ini. Ada yang menyumbang salib, patung, jalan salib, altar dan mimbar dan lain-lain. Yang paling mengesankan selama pembangunan menjelang Natal 2002 atap gedung yang baru sudah di tertutup dengan genteng, namun tembok baru sebagian dan misa Natal pun berlangsung di gedung gereja yang masih di bangun itu. Begitu juga untuk misa Paskah tahun 2003 dan Natal 2003 dan Paskah 2004 betempat di gedung gereja yang masih dalam proses pembangunan.


Pembangunan Gereja tersebut selesai, untuk itu segepap panitia pembangunan gereja mengucapkan terima kasih kepada masyarakat sekitar gereja yang mendukung dalam pembangunan gereja kami. Ini merupakan suatu tanda adanya kebersamaan dan persaudaraan yang baik antara gereja dengan masyarakat sekitar.


Dan akhirnya pada tanggal 29 Agustus 2004 Gedung Gereja diresmikan. Semoga dengan adanya Gedung Gereja baru yang megah dan indah, tumbuh pula semangat, iman dan kasih dalam diri umat paroki “MARIA FATIMA” Bangkalan dalam membangun persaudaraan, bukan hanya di antara sesama umat Katholik, tetapi juga persaudaraan lintas agama di Bangkalan ini... [DI]


Keterangan :
Paroki adalah komunitas kaum beriman yang dibentuk secara tetap dengan batas-batas kewilayahan tertentu dalam Keuskupan (Gereja Partikular). Sebagaimana Gereja terutama adalah himpunan umat beriman, bukan gedung, maka pengertian paroki pun pertama-tama adalah himpunan orang, bukan sekedar wilayah, walaupun sifat kewilayahan sebagai aspek yang tetap juga inheren padanya (Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik, kanon 515 art. 1). Uskuplah yang berwenang mendirikan, membubarkan atau mengubah Paroki (Kitab Hukum Kanonik kanon 515 art 2). Pada umumnya Paroki bersifat teritorial, bukan personal, bukan kategorial, di dalam prinsip organisasinya.


Photo Koleksi : Bangkalan Memory
Sumber : http://mariafatimabangkalan.blogspot.com/


0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: