Menepis Pengaruh Negatif Dalam Kesenian Sandur Madura

Sinopsis Sandiwara Madura "SANDUR" tidak banyak diketahui oleh generasi muda sekrang ini, kemudian makna kenapa "Panjak" bukan seorang wanita dalam beberapa lakon yang mereka pentaskan, sebetulnya kalau betul-betul kita nikmati dan cermati begitu lugasnya mereka berkesenian, intrik-intrik dalam kegiatan "Aremoh" ini perlu di persempit untuk tidak mengarah pada kegiatan negatif.

Hal ini dimaksudkan agar pengaruh negatif seperti tersedianya minuman beralkohol, padahal dahulu hidangan mereka hanyalah kopi atau syrup yg orang madura menyebutnya "setrup" sedangkan camilan untuk para tamu yang datang hanyalah camilan yang amat sederhana sekali, yaitu krupuk, rengginang, atau kacang sangngar (kacang sangrai) tak lepas beberapa tandan pisang yang beraneka macam jenis pisang.


Begitu juga ragam iringan dalam mengiringi Panjak yang melenggak lenggokkan pantatnya bak seorang gadis yang lemah gemulai, nilai sportifitas disini amatlah dijunjung tinggi, seperti misalnya antrean dalam panggilan, tidak ada yang saling mendahului satu dengan lainnya, sikap saling menghormati mereka junjung tinggi, sehingga kalu ada masalah diantara kelompok mereka dapat diselesaikan dengan cara "win win solution" karena mereka mempunyai Orang Tua Asuh yang mereka sebut sebagai "Klebun" atau Ketua Kelompok dari masiong masing Group.


Selanjutnya simak nada nada "Kejungan" yang dibawa oleh Panjak binek ini suara mereka mendayu dayu mengumandangkan kritik-kritik Sosial yang terjadi pada saat itu, kejungan yang dibawakan juga mampu menjadi tuntunan tidak saja berfungsi sebagai tontonan.


by doink
Sumber Video : Youtube


Previous
Next Post »
Thanks for your comment