Trunodjojo Dalam Perselisihannya Dengan Tjakraningrat II

Didalam suratnja kepada Adipati Anom, Trunodjojo menerangkan adanja permusuhan dengan Tjakraningrat II. Trunodjojo ingin mengganti kedudukan ajahnja sebagai Menteri Anom, dengan djalan demikian Trunodjojo dapat memerintah Madura.

Ajah Trunodjojo R. Malujo adalah putera sulung dari Tjakraningrat I jang mempunjai hak kepada Madura untuk mengganti Tjakraningrat I dengan sendirinja adalah R. Malujo. Oleh karena R. Malujo meninggal dunia hak itu beralih pada Trunodjojo.

Diterangkan selandjutnja oleh Trunodjojo, bahwa Tjakraningrat II menghalang-halangi maksud itu dan mengadakan pelbagai usaha supaja Trunodjojo dibentji oleh Amangkurat I.

Usaha Tjakraningrat II untuk memburukkan nama Trunodjojo kepada Susuhunan dibenarkan oleh Babad Tanah Djawi.

Usaha jang dikerdjakan oleh Tjakraningrat II untuk mentjapai maksudnja antara lain mempengaruhi pembesar-pembesar Keraton dan putera-putera Susuhunan supaja sama-sama bentji kepada Trunodjojo. Djuga dihalang-halangi Trunodjojo mengadakan perhubungan dengan Pangeran Adipati Anom. Tjakraningrat II tidak segan-segan mentjari djalan untuk membunuh Trunodjojo.

Usaha ini berhasil. Walaupun soal ini disampaikan kepada susuhunan, perkara ini tidak diadili. Kemudian Trunodjojo meninggalkan Keraton dan achirnja pemerintahan di Madura dipasrahkan kepada Tjakraningrat II jang didalam hakekatnja tidak mempunjai hak.

Menjingkirkan Trunodjojo dari pemerintahan Madura untuk dikuasai sendiri adalah tudjuan pokok dari Tjakraningrat II.

Diterangkan djuga oleh Trunodjojo didalam suratnja bahwa tjara Tjakraningrat II memerintah Madura, djauh dari bidjaksana. Rakjat menderita oleh karena adanja tindakan-tindakan sewenang-wenang. Harta benda rakjat terdjamin. Pun kehormatan anak-anak perempuan demikian djuga. Karangan Dr. H. J. De Graaf "De opkomst van R. Trunodjojo" muka 69 membenarkan apa jang dikemukakan oleh Trunodjojo. Diterangkan bahwa Tjakraningrat II sangat dibentji oleh rakjat sebab angkara murka, tidak adil memperkosa perempuan terutama anak orang-orang jang baik-baik. Rakjat lebih suka menderita seberat-beratnja daripada diperintah oleh Tjakraningrat II. Kebentjian rakjat terhadap Tjakraningrat II sungguh memuntjak, mendengar namanjapun tidak suka. Kemudian diterangkan bahwa rakjat Madura akan tunduk kepada Susuhunan bilamana pimpinan diganti oleh orang lain.

Sesudah Trunodjojo meninggal dunia, Tjakraningrat II akan memerintah kembali seluruh Madura. Bangsawan dari Pamekasan dan Sumenep menentang sekeras-kerasnja, Atas pimpinan Matjan Wulung atau Juda Negara dari Sumenep, Tjakraningrat II dipukul mundur sampai ke desa Sotjah di Kabupaten Bangkalan (Dagh register 15 April 1680 muka 170).

Pada waktu Mataram ada didalam keadaan genting pembesar-pembesar Keraton meninggal Amangkurat I, antara lain Tjakraningrat pada hal ia diangkat oleh Susuhunan untuk memerintah Madura melampaui Trunodjojo. Kedjadian ini mempertjepat djatuhnja istana Mataram jang oleh Belanda disebut suatu pengchianatan. 

Tjakraningrat II ditangkap oleh tentara Trunodjojo. Walaupun Tjakraningrat II pernah mengantjam djiwa Trunodjojo, nasibnja dan kekajaannja terdjamin. Tjakraningrat II tidak dibunuh, hanja "ditawan" di Lodojo tapi mendapat penghormatan jang lajak. Rumahnja di Mataram tidak dibakar seperti halnja dengan kediaman para pangeran jang lain.

Kemudian Kota Kediri kediaman Trunodjojo direbut oleh Gabungan Pasukan Mataram dan Kompeni. Trunodjojo dapat meloloskan diri, menudju ke arah Malang. Tjakraningrat II dibebaskan dari tempat tawanannja di Lodojo dan menggabungkan diri dengan Amangkurat II untuk rnenghantjurkan Trunodjojo. 

Bintang dari Trunodjojo makin hari makin surut. Dari Malang Trunodjojo di kedjar ke Batu, kemudian ke Ngentang dan achirnja bermarkas di lereng gunung. 

Disini Tjakraningrat II mendjumpahi Trunodjojo, Sang pahlawan dapat digerakkan hatinja untuk menjerah padanja (Roffles History of Java). 

Oleh Tjakranipgrat II disarankan supaja Trunodjojo menjerah kepada Susuhunan. Untuk meredakan rasa amarah dari Susuhunan, supaja Trunodjojo membawa isterinja, adik Amangkurat II. 

Nasehat ini diikuti oleh Trunodjojo jang kemudian menjerah kepada Tjakraningrat. Didalam hubungan perlu dikemukakan fakta-fakta jang mempengaruhi fikiran Trunodjojo.

Diantara Trunodjojo dan Susuhunan sudah terdjadi surat-menjurat. Surat dari Susuhunan kepada Trunodjojo disampaikan oleh 4 orang utusan (bode). Ini adalah tanda kehorrnatan jang besar. Kemudian Trunodjojo membalas surat ini.

Tentang isi surat dari Susuhunan kepada Trunodjojo tidak diketahui. Ini hanja dapat sadja dari djawaban Trunodjojo kepada Susuhunan

Kata-kata jang dipergunakan oleh Trunodjojo kepada. Amangkurat II sangat sopan dan rendah. Didalam surat ini Trunodjojo menjebut dirinja abdi (dienaar). Melihat bahwa surat disampaikan oleh 4 orang utusan, dan djawaban dari Trunodjojo jang sangat sopan dan rendah, dapat ditarik kesimpulan bahwa surat-surat tadi tidak mengandung perrnusuhan.

Tjakraningrat II sebagai paman dari Trunodjojo menjarankan perdamaian. Satu sama lain mempengaruhi fikiran Trunodjojo. 

Maka dari itu Trunodjojo dengan tidak ragu-ragu menjerah kepada Tjakraningrat. Penjerahan kepada Tjakraningrat II diperkuat oleh Babad Tanah Djawi. Sebagai tanda bahwa Trunodjojo menjerah tangannja diikat dengan tjinde sutera.

Sumber-sumber dari pihak Belanda mengatakan bahwa Trunodjojo menjerah kepada Kapten Jonker, Hal ini bertentangan dengan apa jang diterangkan oleh Roffles dan Babad Tanah Djawi... [DI] 



Penulis : R. Moh. Saleh


Previous
Next Post »
Thanks for your comment