Trunodjojo Adalah Manusia Jang Berdjiwa Besar

Djiwa Trunodjojo lebih banjak dipengaruhi oleh rasa keadilan dari pada didorong oleh napsu untuk mengedjar kedudukan dan kekuasaan. 

Pertimbangan jang berdasarkan moral lebih diutampakan dari pada berpedoman kepada pendapat, bahwa semua djalan adalah baik untuk mentjapai sesuatu tudjuan, sekalipun djalan itu harus melalui majat, darah dan air mata, jang sangat bertentangan dengan norma-norma prikemanusiaan dan peradaban.

Sikap Trunodjojo terhadap Tjakraningrat II adalah suatu sikap jang menundjukkan adanja budi jang luhur. Pun djawaban Trunodjojo kepada Couper menundjukkan getaran djiwanja jang diliputi oleh perasaan keadilan. Oleh Trunodjojo senantiasa tentang pengertian keadilan jang dikemukakan sekalipun oleh Couper hal ini tidak pernah dipersoalkan. 

Kedjudjuran dan keadilan merupakan titik permulaan dan titik penghabisan dari surat Trunodjojo kepada Couper. Njatalah, bahwa kedjudjuran dan keadilan mendjadi dasar utama dari perdjuangan Trunodjojo. Bilamana Trunodjojo ingin menggantikan kedudukan ajahnja. sebagai Menteri Anom dan ingin memerintah Kepulauan Madura, ini tidak didorong semata-mata oleh nafsu ingin memperoleh kekuasaan, tetapi untuk menegakkan kembali keadilan jang sudah diperkosa dengan pengangkatan Tjakraningrat II sebagai Kepala pemerintahan di Madura. Bahwa bukan kekuasaan dan kedudukan jang mendjadi tudjuan hidup Trunodjojo, ini terbukti waktu mahkota Modjopahit ada didalam kekuasaannja. 

Menurut adat dikalangan rakjat Djawa, barang siapa jang menguasai mahkota Modjopahit dan menempatkan diatas kepalanja jang mempunjai kekuasaan sebagai radja untuk memerintah Pulau Djawa.

Rakjat dengan sendirinja akan mengakui kekuasaan ini. Trunodjojo tidak pernah menempatkan mahkota Modjopahit diatas kepalanja, pun djuga tidak pernah menamakan dirinja Susuhunan. 

Mahkota jang ada padanja, oleh Trunodjojo akan dikembalikan kepada Susuhunan, bilamana sang Susuhunan datang ke Kediri dengan tidak berteman Belanda. Dengan lain perkataan, mahkota akan dikembalikan kepada Amangkurat II, djika Susuhunan memutuslan hubungan dengan Belanda. 

Dalam suratnja kepada Susuhunan Trunodjojo mempergunakan kata-kata jang sopan dan rendah, tetap menganggap Amangkurat II sebagai Susuhunan dan menjebutkan dirinja sebagai abdinja. Ini semuanja menundjukkan bahwa Trunodjojo tidak gila pangkat dan haus kekuasaan. 

Trunodjojo berpendapat tidak adil, bilamana hangsa asing seperti Belanda ikut serta menentukan djalannja pemerintahan di Keradjaan Mataram. Lantaran tidak dapat ikut bertanggung djawab terhadap barang sesuatu jang tidak adil. Trunodjojo tidak suka kembali kepada Susuhunan, selama Mataram tetap bersekutu dengan Belanda. Belanda, kata Trunodjojo adalah ratjun jang mengeringkan zat hidup organisme. Selama Matatam bersekutu dengan Belanda, Keradjaan akan kering, lumpuh dan achirnja mati, oleh karena zat hidupnja dihisap oleh Belanda. 

Untuk menjelamatkan Keradjaan Mataram dari bentjana jang mengantjam hak hidupnja, sjarat pertama adalah memutuskan hubungan dengan Belanda. Selama Mataram tidak dengan keinginannja sendiri memutuskan hubungan ini, Trunodjojo merasa berkewadjiban untuk mengusahakan, supaja hubungan itu terputus, sekalipun dengan djalan kekerasan. Dari sudut inilah hendaknja perdjuangan Trunodjojo ditindjau. 

Ini diperkuat dengan bunji suratnja kepada Tumenggung Sura Nata, salah seorang pembesar Keradjaan Mataram. Sura Nata meminta dengan hormat kepada Trunodjojo supaja menghadap kepada Susuhunan. Trunodjojo menolak dengan tegas, bahwa Sang Pahlawan dengan rakjatnja akan menjembah lagi kepada Susuhunan, bilamana pemerintahan Keradjaan Mataram kembali lagi kepada kedudukannja jang semula (daghregister 17 - 3 - 1679 muka 99 -100). 

Keradjaan Mataram kembali lagi kepada kedudukan jang semula, bilamana pemerintah mempunjai kekuasaan penuh didalam wilajahnja seperti sediakala. Keradjaan Matataram pada waktu itu oleh Trunodjojo dianggap tidak mempunjai kekuasaan penuh, sebab Belanda ikut berkuasa. 

Maka dari itu kepada Susuhunan diperingatkan, bahwa leluhurnja tidak pernah membagi kekuasaan Keradjaan Mataram dengan Belanda. Mungkin jang dimaksud dengan "leluhur” ini adalah Sultan Agung, oleh karena politik Sang Sultan ditudjukan untuk mengusir Belanda.

Dengan ini djelaslah, hahwa perdjuangan Trunodjojo ialah meneruskan politik Sultan Agung. Pertama hubungan melepaskan antara Mataram dan Belanda dan kemudian mengusir Belanda dari wilajah Keradjaan Mataram. 

Djika nanti perhubungan dengan Belanda sudah dapat diputuskan oleh Trunodjojo dipertimbangkan supaja istana dipindahkan ke Modjopahit. Pertimbangan ini bermaksud supaja Keradjaan Mataram menghirup udara baru seperti pernah didalam mengisap mengalir tubuh dan djiwa Brawidjaja. Udara di sekitar Keraton Karta mengandung penjakit bertjampuran ratjun jang mengeringkan zat Ini perlu diganti dengan udara jang bersih dan sehat, jang pernah menumbuhkan Modjopahit sebagai Keradjaan jang gilang-gurnilang. 

Inilah tjita-tjita Trunodjojo, seorang manusia jang berdjiwa besar. Tjita-tjita jang berakar kepada djiwa besar ini oleh Belanda sengadja ditutupi dan ditempatkan dibelakang tirai besi. Agar supaja rakjat Indonesia tidak mengenal kepada tjita-tjita luhur ini dilemparkan tuduhan-tuduhan. kepada Trunodjojo bahwa ia menginginkan hekuasaan dan ingin duduk diatas singgasana Keradjaan Mataram. 

Perkembangan sedjarah selandjutnja seudjung rambutpun tidak luput dari pada apa jang dichawatirkan oleh Trunodjojo. 

Mataram terus bersekutu dengan Belanda. Pada permulaan semua pelabuhan diseluruh Keradjaan Mataram digadaikan kepada Kompeni. Kemudian seluruh daerah dipantai utara pulau Djawa lepas dari kedaulatan Mataram dan djatuh mendjadi daerah kekuasaan Kompeni. Bagian daerah ini terkenal dengan nama daerah pesisir. Dengan itu Keradjaan Mataram kehilangan zat hidup jang maha penting, oleh karena sumber penghasilan jang utama melalui pelabuhan-pelabuhan mendjadi hak milik Belanda. Perhubungan dengan daerah-daerah diluar Mataram dikuasai oleh Belanda, berarti, bahwa Mataram setjara ekonomis dikuasai oleh Kompeni. 

Oleh karena daerah pesisir sudah ada dibawah kedaulatan Kompeni, para Bupati didaerah ini tidak lagi menundjukkan baktinja kepada Mataram, tetapi kepada Kompeni sebagai tuannja. 

Kedjadian jang malang ini, diikuti oleh kedjadian lain jang serupa. Pada tanggal 13 Pebruari 1755 diadakan perdjandjian Gianti, jang menetapkan Keradjaan Mataram mendjadi dua bagian ialah Surakarta dan Jogjakarta. Kemudian pada tanggal 17 Maret 1757 bagian Surakarta diperketjil lagi dengan adanja Mangkunegaran. Keradjaan Mataram sengadja dipotong-potong. Senantiasa diusahakan supaja masing-masing bagian tetap ketjil, sedang pesisir wilajah Kompeni diperluas. Ini adalah politik Kompeni supaja Mataram tidak kuat, bahkan djika mungkin supaja lumpuh dan tidak berdaja. 

Kompeni mendjelma mendjadi pemerintah Belanda. Mataram tidak lagi merupakan Keradjaan jang berdaulat, tetapi mendjadi Koloni Keradjaan Belanda. Achirnja seluruh Indonesia dikuasai oleh Belanda. 

Sungguh tidak salah, apa jang diramalkan oleh Trunodjojo. Hubungan antara Mataram dan Belanda adalah suatu hubungan jang mengandung ratjun. Zat hidup Keradjaan Mataram lambat laun mendjadi kering. 

Keradjaan jang hidup dan berdaulat mendjadi lumpuh tak berdaja. Belanda mentjapai tudjuannja. Mataram kehilangan hak hidupnja, karena Amangkurat II mengabaikan nasehat Trunodjojo. Kematian Trunodjojo dengan tjara jang sangat hina, kepala dipisahkan dari badannja, anggauta badannja dipotong-potong, adalah lambang tentang nasib Keradjaan Mataram dikelak kemudian hari.

Radja Mataram jang pada mulanja sangat disegani dan ditakuti oleh Kompeni, kemudian dihina habis-habisan. Bilamana daerah pesisir dimitsalkan merupakan kepala dati Keradjaan Mataram, daerah pedalaman mendjadi badannja. Oleh Belanda daerah pesisir dipisahkan dari daerah pedalaman, jang berarti kepala dipisahkan dari badannja. 
Tubuh Keradjaan Mataram mendjadi surut, jakni : Surakarta, Jogjakarta, Mangkunegaran dan Pakualaman adalah anggauta-anggautanja jang sudah dipotong-potong. 

Trunodjojo membawa tjita-tjitanja keliang kubur. Djasadnja hantjur lebur, tetapi tjita-tjitanja tetap hidup. Mataram lepas dari Belanda adalah tjita-tjita Trunodjojo. Tjita-tjita ini tetap hidup, sekalipun melalui bermatjam-matjam usaha. Silih berganti para pemimpin jang membawa tjita-tjita tadi. Pada tanggal 17 Agustus 1945 seruan Trunodjojo, "putuskan hubungan dengan Belanda", berkumandang diudara. Pada hari 17 Agustus 1945 lahirlah Negara jang merdeka dan berdaulat. Perhubungan dengan Belanda masih ada, didalam bentuk K.M.B, sekalipun tidak kuat. Republik Indonesia jang merdeka dan berdaulat mengabaikan perhubungan ini. 

Achirnja perhubungan berdasarkan K.M.B. jang didalam kenjataan tidak ada artinja oleh Kabinet Burhanudin diputuskan sama sekali. 

Tjita-tjita Trunodjojo jang diperdjuangkan sedjak kira-kira abad jang lampau, sekarang mendjadi kenjataan. Betapa tadjam pandangan Pangeran Maduratna mengenai perkembangan tanah airnja didalam hubungannja dengan Belanda, sungguh mengagumkan. 

Pangeran Trunodjojo adalah seorang Indonesia jang pertama, jang melihat kemuka dengan tadjam dan dalam, betapa nasib Keradjaan Mataram djadinja, bilamana perhubungan dengan Belanda dilandjutkan. Belanda sendiri pada waktu itu asing dari pandangan jang sedemikian. Perkembangan sedjarah selandjutnja membenarkan pandangan Sang Pahlawan. 

Suara para pemuda jang menginginkan, supaja hubungan dengan Belanda diputuskan adalah suara R. Trunodjojo. 

Usaha Kabinet Burhanudin jang melaksanakan pembatalan K.M.B, kemudian disjahkan oleh Parlemen pada waktu Kabinet Ali, adalah realisasi tjita-tjita Trunodjojo tadi. 

Trunodjojo menginginkan supaja keraton Karta dipindah ke Modjopahit untuk menghindarkan udara buruk dan tidak sehat. Apakah ini dapat diartikan bahra Ibukota Negara Indonesia achirnja akan dipindahkan ke Djawa Timur, pusat Keradjaan Modjopahit jang udaranja lebih bersih dan lebih sehat, wallahua'lam... [DI]


Penulis : R. Moh. Saleh 


0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: