Wafatnya Trunodjojo

Atas permintaan Susuhunan (Amangkurat II), Trunodjojo oleh Komandan Couper dihadapkan kepadanja (Amangkurat II). Susuhunan pernah berdjandji kepada Adipati Oerawan, Trunodjojo akan diberi ampun. Tetapi sang Susuhunan pada tahun 1677 pernah mengirim surat kepada Speelman meminta supaja Trunodjojo dihunuh.

Apa jang didjandjikan atau diperintahkan oleh seorang radja, adalalah mengikat baginja. Ini jang disebut "sabda pendita ratu". Rupa-rupanja Amangkurat II memegang teguh "sabda pendito ratu" ini, walaupun tindakannja tidak didorong oleh sesuatu ilham (sapda) sebagaimana dapat diharapkan dari seorang "pendito" jang memegang tampuk kekuasaan (ratu). Pada waktu Trunodjojo menghadap Amangkurat II, Sang Susuhunan memberi ampun kepada Sang Pahlawan, menempatkan Trunodjojo kepada kedudukan jang sama dengan Tjakraningrat II dengan gelaran Adipati Malujo. 

Dengan ini "sabda pendita ratu" jang pertama sebagaimana jang didjandjikan dengan perantaraan Adipati Oerawan telah terpenuhi. 

Sabda pendita ratu jang kedua sebagaimana jang dikesankan kepada Speelman harus djuga dipenuhi. R. Trunodjojo alias Raden Adipati Malujo ditikam dengan keris oleh Amangkurat II sendiri sampai sang pahlawan mendjumpai adjalnja. Kemudian kepalanja dipisahkan dari badannja sebagai djagal menjembelih kambing. 

Amangkurat II merasa  puas karena  kedua  matjam  "Sabda Pendita Ratu" sudah terlaksana. Peristiwa jang menggerakkan bulu roma didorong oleh hawa nafsu jang ingin membalas dendam sekalipun melanggar norma-norma prikemanusiaan dan kesusilaan. Ini terdjadi pada hari Selasa tanggal 29 bulan Dzulhidjah tahun Djimachir atau tanggal 2 Djanuari 1680. w). 

Menurut Mr. de Jonge peristiwa ini terdjadi di daerah Karesidenan Malang dekat perbatasan Kediri. Tempat kuburan Trunodjojo hingga dewasa ini tidak dapat ditentukan dengan pasti. Menurut tjeritera, Trunodjojo dimakamkan di Kota - Gede di Jogjakarta, tetapi namanja disembunjikan. Kuburan tadi tidak terkenal sebagai kuburan Trunodjojo, tetapi nama lain jang dipergunakan. Kata orang badan dan kepala dikubur terpisah. Hal ini perlu diadakan penjelidikan jang saksama sampai dimana kebenaran tjeritera tadi. 

Sangat menarik perhatian bahwa buku-buku sedjarah jang ditulis oleh Belanda, satu pun tidak ada jang menjinggung tentang letak kuburan ini. Seolah-olah sengadja ditimbulkan kesan, bahwa majat Trunodjojo disamakan dengan bangkai chewan. 

Andaikata majat tadi ditinggalkan ditempat dimana sang pahlawan mendjumpai adjalnja, pasti oleh rakjat disekitarnja akan ditanam sesuai dengan kedudukan sang pahlawan.

Trunodjojo sangat ditjintai rakjat. Sebaliknja Amangkurat II sangat dibentji. Amangkurat tidak mendapat tenaga manusia, untuk memperkuat tentara Mataram, sebaliknja rakjat sangat patuh kepada Trunodjojo. 

Melihat fakta-fakta ini andaikata majat Trunodjojo di tinggalkan didekat perbatasan Malang dan Kediri dapat dipastikan bahwa majatnja akan dikubur dengan upatjara jang selaras dengan kedudukan seorang jang hidupnja memperdjuangkan kepentingan rakjat.

Memang siasat Belanda supaja nama Trunodjojo hilang dari alam fikiran rakjat. Belanda mengetahui bilamana kuburan Trunodjojo dikenal, nistjaja akan dipudja-pudja sebagai seorang pahlawan kebangsaan. Maka dari itu sardjana Belanda (didalam ilmu sedjarah sama sekali diam didalam 7 bahasa).

Bilamana di Kota Gede ada kuburan jang badan dan kepalanja terpisah, walaupun memakai nama lain adalah tidak mustahil djika kuburan ini adalah kuburan Trunodjojo. 

Belanda berusaha supaja nama Trunodjojo jang artinja pemuda jang djaja hilang dari kenang-kenangan rakjat. Dengan ini dimaksudkan supaja rasa kebangsaan tidak tumbuh. Tidak segan-segan para sardjana Belanda memperkosa sedjarah. Dengan tidak disertai alasan-alasan atau keterangan-keterangan jang konkrit berdasar kepada analisa sedjarah (historische analise) ajah Trunodjojo disebut "anak djadah" sedang Trunodjojo sendiri disebut "anak selir". Ini semua mempunjai tudjuan jang sama dengan mengrahasiakan kuburan Trunodjojo. Tempat asal dan kelahiran sang pahlawan riwajat jang sebenar-benarnja ditutup dengan tirai besi. Tjak Durasim jang memberanikan diri menghidangkan lakon Trunodjojo pada waktu zaman Belanda kepada challajak ramai, seketika harus berurusan dengan P.I.D. 

Didalam zaman kemerdekaan ini sudah selajaknja bilamana kuburan Trunodjojo dilepaskan dari segala tirai rahasia. 

Trunodiojo berhak mendapat penghormatan jang lajak. Perdjuangannja adalah untuk kemerdekaan Indonesia sebagaimana dapat dibuktikan oleh sedjarah dan oleh suratnja jang disampaikan kepada Amangkurat II.

Tentang wafatnja Trunodjojo dengan tjara seperti jang diderita oleh sang pahlawan adalah suatu kedjadian jang bertentangan dengan rasa perikemanusiaan dan peradaban. Didalam hal ini Belanda berusaha membersihkan tangannja dari segala noda. 

Dr. De Graaf didalam "Tijdschrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde" tahun 1952 muka 304 mungemukakan bahwa noda ini adalah pekerdjaan Susuhunan semata mata. 

"De Susuhunan had zijn vuile was binnenshuis gewassen en geen Hollandse dwarskijkers toegelaten". 

Dilupakan oleh pihak Belanda, bahwa Trunodjojo sudah ada didalam kekuasaan tentara Belanda. Jang menghadapkan Trunodjojo kepada Susuhunan ialah Komandan Couper seorang Belanda. Susuhunan pernah menulis surat kepada Speelman, seorang laksamana Belanda, supaja Trunodjojo dibunuh. 

Satu nama lain dapat diperhitungkan lebih dahulu, bahwa kalau Trunodjojo dihadapkan kepada Susuhunan pasti akan dibunuhnja. Membersihkan diri dengan mengatakan bahwa didalarn peristiwa berdarah ini, Belanda ada diluarnja, tidak sesuai dengan kenjataan. Komandan Couper sangat bergirang hati melihat Trunodjojo dibunuh itu menurut pendapatnja, Trunodjojo lebih baik mati, oleh karena padanja seudjung rambutpun tidak terdapat unsur-unsur jang baik. 

"Waarlyek onzes gevoelena - zoo is hy beter van kant als in het Ieven, want daar was niet een goet hair aan Taal, Land en Volkenkunde : 1952 muka 305".

Tidak hanja Trunodjojo sadja jang dibunuh, pun pengikut-pengikutnja, djuga pasukan Makassar dan Madura jang sudah Iumpuh dan tidak bersendjata, tidak mempunjai kekuatan lagi, lantaran pemimpinnja sudah tertangkap, semuanja dibunuh tidak ada seorangpun jang ketinggalan. Pasukan Belanda dimana sadja mereka berada sampai Jepara, sama mengadakan pesta besar (s.d.a. muka 305). 

Berkat adanja disiplin jang senantiasa terpelihara baik dalam pasukan Trunodjojo, mekalipun didalam keadaan sangat buruk, kekurangan sendjata dan makanan, diserang oIeh penjakit, perdjalanannja dihambat oleh wanita dan anak-anak, pasukan Trunodjojo dapat melintasi lembah dan gunung jang sukar didjalani, Tidak hanja keselamatan pemimpinnja jang didjamin, djuga keselamatan para wanita dan anak-anak tidak diabaikan.

Ini semuanja tjukup mengagumkan pihak Kompeni. Maka dari itu mereka seharusnja diperlakukan lebih baik daripada dibunuh seperti kambing. 

Berdasarkan kenjataan-kenjataan ini tidak ada alasan bagi sardjana Belanda untuk mengatakan bahwa didalam peristiwa berdarah ini, jang sangat bertentangan dengan rasa prikemanusiaan, kesopanan dan peradaban, pihak Belanda tidak ikut bertanggung djawab... [DI] 


Penulis : R. Moh. Saleh


Previous
Next Post »
Thanks for your comment