Sepenggal Sejarah Menara Air di Bangkalan


Menara Air Bangkalan yang berlokasi di Jl. Jaksa Agung Suprapto ini merupakan salah satu ikon kota Bangkalan dimana selain berada di jantung kota, juga bersebelahan dengan Benteng Erfprins. Keberadaan menara ini dapat dikatakan sangat vital bagi masyarakat kota Bangkalan.


Bangunan yang didirikan pada tahun 1927 oleh pemerintah Belanda atau tepatnya pada masa kepemimpinan R. AA Suryowinoto, adalah merupakan tempat penampungan air bagi masyarakat Kota Bangkalan. Memang jika dilihat dari tujuan awal pembangunannya untuk melayani kebutuhan air bersih bagi seluruh masyarakat Bangkalan. Namun kenyataannya hanya kalangan tertentu yang bias menikmati air bersih ini, yaitu hanya bagi kalangan meneer Belanda itu sendiri dan kalangan Pejabat/Bangsawan Keraton.

Menara Air Bangkalan Tahun 1947

Selain sebagai pemasok air bagi warga sekitar, Menara Air tersebut pada waktu masa penjajahan awalnya difungsikan sebagai Alarm yang tujuannya untuk membodohi masyarakat Bangkalan. Ketika menjelang waktu Maghrib alarm sirene tersebut dibunyikan, kemudian masyarakat diperintah untuk masuk rumah dan tak boleh keluar rumah. Jam malam diberlakukan agar masyarakat tidak mengetahui jika Belanda atau Jepang pada saat itu sedang mengangkut hasil bumi Madura untuk dibawa dan diangkut ke ke pelabuhan.

Pembangunan menara ini juga tidak lepas dari pembangunan perusahaan air milik Pemerintah Kolonial Belanda, dengan nama "Water Leiding bedrijven", yang berpusat di Amsterdam, Belanda. Mungkin sekarang ini anda sering mendengar istilah “air ledeng” dan “air bersih”, kedua istilah diatas memang berasal dari bahasa Belanda, leiding dan ajer beresih. Karena saking lamanya zaman penjajahan Belanda, bahasa yang digunakan masyarakat menjadi campur dengan bahasa Belanda. Bahkan sampai sekarang, istilah tersebut sering digunakan oleh masyarakat Indonesia sehingga kita lebih banyak mendengar kalimat “Air Ledeng” sebagai sebutan air bersih yang dipasok oleh PDAM setempat.

Menara Air Bangkalan

Pada tahun 1980an alarm tersebut masih difungsikan sebagai tanda peringatan bila terjadi banjir di sekitar Kota Bangkalan dan juga sebagai tanda waktu buka puasa sampai sekarang.

Menara Air Bangkalan Tahun 1947

Menara Air tersebut memiliki gaya arsitek bangunan yang unik, menara ini juga menyimpan sejarah dari jaman kolonial Belanda, hingga sekarang. Menara air ini dulunya merupakan Landmark kota Bangkalan, namun sekarang seiring dengan perkembangan jaman yang semakin pesat, menara ini mulai tenggelam di antara bangunan-bangunan besar lainnya yang berdiri di sekitar. Bunyi sirine pun kini tak se lantang jaman dulu. Hanya beberapa ratus meter saja, bunyi sirine itu kini terdengar sayup-sayup di antara hiruk pikuk kota Bangkalan yang mulai padat ini. Kini tinggal bagaimana upaya kita agar bangunan bersejarah tersebut tetap terjaga eksistensi dan keutuhannya.. [DI]


Oleh : Indra Bagus Kusuma
Photo Koleksi : Bangkalan Memory


Previous
Next Post »
Thanks for your comment