Tukang Cukur Madura Pada Era Kolonial di Surabaya

Rambut merupakan mahkota bagi manusia. Dari rambut inilah kita bisa merubah penampilan seseorang dan bisa juga membuat sebuah ekspresi politik sebagai bentuk perlawanan terhadap status quo. Rambut juga menjadi sebuah simbol kesehatan yang dimanfaatkan oleh beberapa produk kecantikan untuk menjual barang mereka. Dengan kata lain bahwa rambut memiliki makna budaya dengan berbagai macam ragamnya. Oleh karena itu aktivitas mencukur rambut bukan hanya semata-mata merupakan suatu rutinitas untuk memendekan rambut, tetapi memiliki makna lebih dari itu.

Rambut ini juga merupakan cerminan ekspresi kepercayaan terhadap kekuatan ghaib. Maka proses ruwatan untuk mencukur rambut tersebut harus dilakukan seperti yang dilakukan oleh masyarakat di dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Bagi anak-anak Dieng yang berambut gimbal maka mereka harus diruwat menurut tradisi Jawa untuk menghindari musibah dalam kehidupan mereka. Rambut gimbal mereka harus dicukur dalam prosesi upacara yang telah dipersiapkan lengkap dengan berbagai sesaji persembahan dan rambut yang telah dicukur dilarung di sungai atau telaga. Maka dengan begitu mereka akan terhindar dari malapetaka dalam mengarungi kehidupan mereka.

Tukang Cukur Madura Tahun 1911
Di sisi lain pada masa pergerakan nasional, ketika nasionalisme China melanda Hindia Belanda pada tahun 1900-an banyak masyarakat China di Hindia Belanda mencukur rambut mereka yang panjang menjadi pendek untuk menunjukkan ekspresi modernitas dan kemerdekaan mereka terhadap kekuasaan feodal. Gerakan mencukur rambut menjadi simbol kesetaraan mereka terhadap bangsa-bangsa lain di dunia dan kesetaraan mereka terhadap bangsa-bangsa Eropa di Hindia Belanda. Memang rambut pendek pada masa kolonial Belanda merupakan cerminan modernitas dan kemerdekaan seseorang. Banyak kaum bangsawan Jawa yang berambut mencukur pendek rambut mereka, juga tokoh-tokoh pergerakan dengan rambut pendek bergaya Eropa.

Sejak jaman dahulu hingga masa kolonial Belanda masyarakat kita mampu menciptakan lapangan kerja kreatif yang mampu bertahan dari segala krisis ekonomi kapitalis dunia. Sebagaimana kita lihat bahwa usaha potong rambut telah bertahan begitu lama hingga saat ini dilakukan oleh masyarakat Madura dan menyebar ke berbagai pulau di Indonesia.

Tukang Cukur Madura Tahun 1911
Usaha potong rambut Madura yang begitu sederhana, bersahabat dan komunikatif dilakukan di tepi jalan berlindungkan pohon-pohon besar di kota Surabaya tahun 1911. Sebuah cerita masyarakat urban yang hingga sekarang terus bertahan.


Sumber : https://phesolo.wordpress.com
Photo koleksi : KITLV


Previous
Next Post »
Thanks for your comment