Berloberen / Rokat Cahe, Tradisi Masyarakat Saronggi Sumenep

Ritual berloberan/Rokat Cahe juga menjadi bagian tradisi masyarakat Saronggi yang kerap dilakukan pada saat kemarau panjang.Ritual Berloberan yang kali ini dilaksanakan di Desa Langsar Kecamatan Saronggi Sumenep itu, pada prinsipnya memohon kepada Yang Maha Kuasa agar pada musim kemarau seperti ini diturunkan hujan, mengingat wilayah yang cukup gersang ini, adalah tumpuan hidup atas rezeki dari tanah pertanian mereka.

Fotografer : Firman Fauzi (Wonderful Madura)
Kata berloberan sendiri berasal kata lober yang punya arti usai, selesai atau akhir. Jadi makna berloberen mempunyai pengertian yang paling akhir (dari musim kemarau), sehingga para petani tegalan di wilayah mereka dapat melanjutkan usaha taninya dengan menanam jagung, ketela pohon, atau apa saja yang sekiranya dapat menyambung kehidupan mereka. Selain itu, desa Langsar termasuk wilayah penghasil kebun buah srikaya yang cukup populer di wilayah Sumenep.
Prosesi Ritual Berloberen tepat tengah hari. Hampir seluruh masyarakat Langsar berbondong-bondong menuju suatu gua bernama Mandalia. Mereka berkumpul seraya membawa serta makanan dan buah-buahan yang dipetik dari desa mereka, yang kemudian dibawa masuk dan diletakkan di goa.

Fotografer : Firman Fauzi (Wonderful Madura)
Nama gua sendiri awalnya bernama Kandhaliya diambil dari kata dha' kandha'an (bercengkrama) saat sesepuh Desa Langsar yang kebetulan kakak beradik bernama Gung Kamoning dan Gung Marju.  Mereka berdua adalah Pengembara yg akhirnya menemukan gua ini untuk bertapa. Entah mengapa dan sejak kapan berubah menjadi gua Mandaliyah
Ritual ini dilakukan awal musim tanam/akhir kemarau dan awal musim kemarau/berakhirnya musim tanam, 2 kali dalam setahun. Waktu pelaksanaanya atas petunjuk Klebun Cahe yg awalnya dirasuki dulu oleh arwah leluhur.  Dari arahan Klebun Cahe  nantinya akan disebutkan apa saja yang akan dipersiapkan termasuk tumbal apa yg harus diberikan, yang biasanya berupa Replika Perahu, bisa satu atau sepasang.

Pelaksanaan Ritual Cahe yang kemarin adalah akhir kemarau (semoga) kalau dilihat adanya tumbal/katompa'an berupa Replika Perahu, karena untuk perayaan yg kedua tidak ada tumbal yg dilarung ke laut.
Makanan yg dibawa warga ke dalam goa sebenarnya bukan sesajen, namun untuk dido'akan dan pada akhir acara akan digunakan sebagai hidangan makan bersama di sekitar gua.


Fotografer : Firman Fauzi (Wonderful Madura)
Awal Cahe itu sendiri adalah Niat karena telah diberikan keselamatan dan kemakmuran, dua orang sesepuh yang mengajak saudaranya untuk makan dan bergembira ria (Cahe) bersenandung/kidung di sekitar gua Kandhalia.
Previous
Next Post »
Thanks for your comment