ERFPRINS 1849

Ditengah-tengah padatnya lalu lalang kendaraan di kota Bangkalan, tepatnya disamping Kantor Laka Lantas Polres Bangkalan, telah berdiri kokoh sebuah bangunan tua. Bangunan tersebut dikelilingi tembok setinggi 4,5 meter, dengan ketebalan tembok 0,5 meter dan didalamya terdapat gedung yang memiliki luas 980 m2 dengan luas seluruh bangunan tersebut 7.249 m2... [DI]

Masyarakat Bangkalan pada umumnya lebih mengenal bangunan tersebut dengan sebutan Benteng Bangkalan atau Benteng Kolonial, namun sebenarnya nama benteng tersebut adalah “ERFPRINS”  nama Raja Williem III sebelum dilantik menjadi Raja Belanda hal ini didasarkan pada Surat yang dikirim KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde) dan ditujukan pada Direktur Museum Cakraningrat, pada bulan Mei 2010. Sebab benteng tersebut dibangun Raja Willem 1 yang hidup antara 1817-1848. Raja ini memiliki dua anak. Pertama bernama Prins Van Oranye dan bergelar Raja Willem II pada 1840 dan kedua bernama Erfprins atau Willem III yang menjadi Raja pada tahun 1849. 


Adapun data-data yang berhasil dihimpun, menyatakan bahwa bangunan tua  yang berlokasi di Sumur Kembang, Kelurahan Pejagan Kota Bangkalan ini lebih mengarah pada gudang persenjataan pada masa kolonial. Menurut Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Bangunan Benteng ERFPRINS merupakan salah satu Cagar Budaya di kabupaten bangkalan yang harus dilestarikan, dan dipertegas lagi dengan Surat Keterangan Benda Cagar Budaya dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Trowulan (BP3 Trowulan), tertanggal 12 Desember 2003.

Menurut penuturan R. Abdul Hamid Mustari, bahwa Bangunan Benteng ERFPRINS tersebut dulunya pernah difungsikan sebagai Kantor Residen Madura Barat pada masa Panembahan Shido Mukti  atau Panembahan Tjakraadiningrat VII pada periode Tahun 1745-1770. Selain itu juga pernah menjadi Kantor Residen Madura, dan Benteng ERFPRINS juga pernah digunakan sebagai Markas Brimob, pada tahun 1960-an.


Bangunan Benteng ERFPRINS juga merupakan bukti sejarah keberadaan Kerajaan Madura Barat, hal ini tertulis dengan jelas di GEDENK BOEK atau (Buku Kenang-kenangan) yang diterjemahkan dari bahasa Belanda oleh R.A.A. Cakraningrat yang waktu itu menjabat sebagai Bupati ke-III di Bangkalan” tutur Ketua Paguyuban Kesultanan Bangkalan.


Pintu masuk Benteng ERFPRIN yang dibangun di tanah seluas kurang lebih 1 hektare ini terletak di sebelah selatan. Saat masuk bau menyengat langsung merayap ke hidung. Untuk menyusuri bagian atas benteng ini, hanya ada satu-satunya tangga batu yang sudah ditumbuhi rumput liar di Bagian Barat Daya. Pada bagian ini terdapat menara intai dengan tiga lubang intai yang bertujuan untuk memonitor keadaan disekitar Benteng.



Di sisi Barat Laut Benteng ERFPRIN ada satu lagi menara intai. Tapi kondisinya lebih buruk dari menara pertama. Rupanya ditempat itu telah terjadi alih fungsi lahan dimana sebagian lantai sudah dijadikan ternak ayam. Selain itu lahan tersebut ditanami berbagai macam tanaman diantaranya pohon nangka, pisang, mangga, papaya, jati hingga kelapa tumbuh subur dalam benteng.


Kolonial Belanda waktu itu juga melengkapi benteng tersebut dengan berbagai fasilitas diantaranya kamar mandi dan WC yang sampai saat ini masih berfungsi serta terdapat sebuah bangunan berbentuk simetris dari Utara ke Selatan. Dan kini bangunan tersebut dijadikan rumah dinas anggota polisi. 


Kondisi Benteng ERFPRINS pada saat ini semakin memprihatinkan, dimana Bangunan Benteng ERFPRINS tampak semakin kumuh, temboknya sudah banyak yang rusak dan diperparah lagi di sekeliling benteng banyak terdapat pedagang kaki lima dimana dengan seenaknya meletakkan gerobak dagangannya di areal benteng tersebut serta perumahan warga yang bersentuhan langsung dengan dinding benteng sehingga menambah kumuh di areal bangunan Benteng. 


Sementara itu masih didalam benteng itu sendiri terdapat 17 kepala keluarga yang mendiami, mereka adalah keluarga purnawirawan Brimob yang dahulu ditempatkan di Bangkalan.

Kurangnya perhatian dan kurang pedulinya masyarakat Bangkalan terhadap peninggalan sejarah ini dirasakan Muhammad Irwanto yang menjadi Juru Pelihara sejak tahun 1997, menggantikan almarhum ayahnya. “Jarang sekali masyarakat mengetahui sejarah benteng ini, padahal benteng ini merupakan bukti sejarah penting di Bangkalan”.


Menurut penuturan Muhammad Irwanto selaku Juru Pelihara Benteng, pada zaman Bupati Ir. Moh. Fatah, MM, bangunan benteng tersebut rencananya akan dikelola menjadi museum dan pusat pagelaran budaya, namun sayangnya tidak terealisasi karena antara Pemerintah Daerah dan Pihak yang menempati Benteng tersebut atau dari Angkatan Darat belum ada kata sepakat sehingga apa yang sudah direncanakan Pemerintah Daerah tersebut belum terwujud.

Lantas yang ada di benak kita sekarang adalah, “sampai kapan mimpi itu terwujud?, apakah sampai bangunan benteng tersebut rata dengan tanah karena terlindas putaran waktu, baru mimpi kita terwujud?” 



Photo Koleksi : Bangkalan Memory


0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: