Perang Saudara antara Arosbaya dengan Blega

Setelah Panembahan Lemah Duwur meninggal, maka yang menggantikannya adalah putranya yang bernama Raden Koro dengan gelar Pangeran Tengah. Blega dipimpin oleh saudaranya yang bernama Pangeran Blega, dalam hal ini ia tidak mau tunduk kepada Arosbaya, sehingga timbul peperangan antara Arosbaya dengan Blega. Tentara Arosbaya tiga kali menyerang Blega namun serangan tersebut bdapat dipatahkan oleh tentara Blega, bahkan tentara Blega dapat memukul mundur pasukan Arosbaya.


Dikisahkan diantara Pangeran Tengah dan Pangeran Blega terjadi kesalah pahaman.Di saat jaya-jayanya kedua bersaudara timbul masalah hanya urusan sepele yaitu telat pembayaran upeti oleh karena Pangeran Blega masih dibawah pemerintahan Pangeran Tengah (Arosbaya). Sudah biasanya Pangeran Blega setiap tahun membayar uang upeti kepada raja Arosbaya (Pangeran Tengah).

Diwaktu tahun berikutnya, Pangeran Blega terlambat membayar uang upeti, sehingga ada utusan dari Pangeran Tengah untuk menagih uang upeti tersebut. Disaat itulah penjaga pintu gerbang atau tempatnya sekarang diberi nama Desa Bates (Kec Blega) melihat iring-iringan prajurit menunggang kuda lengkap dengan senjatanya. Seketika itu pula kedua penjaga pintu gerbang sambil menunggang kudanya kencang sekali menuju ke Kraton Blega. Sesampainya di hadapan Pangeran Blega, ke dua prajurit penjaga pintu gerbang memberi tahu bahwa ada iring-iringan prajurit banyak sekali dan lengkap dengan senjatanya.

Setelah mendengarkan apa yang dikatakan kedua prajurit itu, akhirnya Pangeran Blega menyuruh patihnya yaitu : Pangeran Macan Putih. Pngeran macan putih langsung bertiga bersama kedua prajurit penjaga pintu gerbang menuju perbatasan atau desa Bates. Kemudian utusan Pangeran Tengah telah sampai di pintu gerbang. Setelah ditanya oleh Pangeran Macan Putih apa maksud dan tujuan sehingga membawa prajurit banyak sekali dan lengkap dengan senjatanya. Akhirnya dijawab oleh Prajurit Pangeran Tengah.

Maksud dan tujuan untuk menagih uang upeti. Tidak layak kalau hanya menagih uang upeti membawa prajurit sebanyak itu, seharusnya orang dua cukup katanya Patih Pangeran Macan Putih. Pokoknya mau tak mau harus masuk, katanya Prajurit Pangeran Tengah yang dari Arosbaya. O, kalau begitu langkahi mayat saya dulu, baru bisa masuk,katanya : Patih Pangeran Macan Putih.Maka terjadilah perang diantara prajurit Arosbaya dengan Pangeran Macan Putih dan kedua penjaga pintu gerbang.

Dengan peperangan yang tidak seimbang itu Pangeran Macan Putih dengan gagah dan beraninya, seketika itu Patih Pangeran Macan Putih menjelma menjadi Macan Putih Kembar. Dengan kedua penjaga pintu gerbang itulah mengamuk bagaikan banteng tato (gila) sehingga Prajurit Arosbaya banyak yang terbunuh, sebagian melarikan diri ke Arosbaya. Kemudian Patih Pangeran Macan Putih bersama kedua penjaga pintu gerbang bergegas pulang untuk memberi tahu kepada rajanya yaitu Pangeran Blega. Setelah memberi tahu segala apa yang terjadi di perbatasan yaitu di pintu gerbang, akhirnya kedua penjaga pintu diperkenankan kembali ke penjagaan pintu gerbang di perbatasan. Tak lama kemudian sekitar jam 03.00 sore penjaga pintu gerbang mendengar khabar, bahwa ada prajurit banyak sekali.

Anehnya prajurit-prajurit itu mengamuk tidak pilih kasih orang tua muda laki perempuan dibunuh. Setelah mencari tahu penjaga pintu gerbang, ternyata prajurit-prajurit itu tidak lain adalah prajurit dari Arosbaya. Dengan hati yang tidak menentu penjaga pintu gerbang langsung menunggang kudanya kencang sekali,menuju kraton Pangeran Blega untuk memberi tahu kepada raja Pangeran Blega bahwa ada prajurit mengamuk dan membunuh banyak orang. Pada waktu itu hari sudah semakin sore sekitar pukul 05.00 sore. Setelah mendengar apa yang telah diucapkan kedua penjaga pintu gerbang itu, Pangeran Blega sangat terkejut sekali. Seketika itu juga Pangeran Macan Putih disuruh memimpin perang.

Dalam keadaan yang tidak siap, seorang prajurit menghidupkan lampu (tukang lampu) sampai sekarang makamnya diberi nama Makam Pademaran (Makam Tukang lampu) dan tempatnya ada di Kampung Karang Kemasan sebelah timurnya Pangeran Makam Agung Karang Kemasan Blega. Seorang prajurit lagi membunyikan kenong (menabuh kenong) sehingga prajurit-ptajurit se kerajaan Blega berkumpul semua untuk menghadapi musuh. Sampai sekarang dinamakan makam Pangeran Kenong tempatnya di kampung Mandala Desa Nyormanis.

Dengan keadaan tidak siap itu, maka datanglah prajurit-prajurit Arosbaya dan langsung disambut oleh Pangeran Macan Putih, Kiyai Panombak dan prajurit-prajurit Blega, mengamuk sehingga terjadilah peperangan yang sengit. Tidak ketinggalan pula Pangeran Gidang Tengah, konon diwaktu prajurit berkumpul dan kuda peperangan sudah di tunggangi prajurit – prajurit semua.

Pangeran Gidang Tengah tidak kebagian kuda. Dengan tidak sengaja mengambil gidang ( uda-kudaan dari gedek) langsung mengamuk ke arah prajurit Arosbaya, dan ternyata gidang yang ditunggangi oleh prajurit itu, menjadi kuda sungguhan. Sampai sekarang diberi nama Makam Pangeran Gidang Tengah. Bertempat di Kampung Tendereh desa Blega Oloh. Ada juga prajurit Blega setelah menginjakkan kakinya ke bumi tiga kali langsung menjadi manusia raksasa.

Makamnya ada di Kampung Tendereh Desa Blega Oloh. Artinya Oloh adalah atas.Maka tempatnya di penghulu Desa Blega. Tapi naas bagi Pangeran Kambeng (mengambang). Beliau terbunuh dan mengambang di Kampung Sebbeggen Desa Blega. Sampai sekarang dikenal dengan sebutan Makam Pangeran Kambeng. Di dalam peperangan itu, banyak prajurit yang terbunuh, dengan amukan Pangeran Macan Putih dan semua kesatria prajurit Blega. Juga dengan mengamuknya Kiyai Panumbak, prajurit-prajurit banyak sekali yang terbunuh, sebagian melarikan diri.

Dan, ternyata yang memimpin perang prajurit Arosbaya itu ialah Pangeran Siding Gili kakak tertua dari kelima bersaudara dan beragama Budha. Oleh karena itu, setelah kalah perang Pangeran Siding Gili melarikan diri ke Pulau Mandangin yaitu pulau di sebelah selatan Kabupaten Sampang. Sampai sekarang diberi nama Pulau Gili Mandangin.

Pangeran Blega tidak membayar upeti atau sampai terlambat, karena Pangeran Blega berfikir dalam hati, saya di utus dan mengajak orang beragama Islam sedangkan kakak sendiri Pangeran Siding Gili beragama Budha. Bermula dari itulah sehingga menjadi kesalah pahaman.

Akhirnya Pangeran Tengah mengumumkan bahwa peperangan dihentikan, yang mana pernyataan ini disambut baik oleh Pangeran Blega dan Gusti Macan. Pada suatu hari Pangeran Blega berkunjung ke Arosbaya untuk memperbaiki makam ayahnya (Panembahan Lemah Duwur) bersama kakaknya (Pangeran Tengah).

Setelah selesai memperbaiki makam ayahnya, Pangeran Tengah menitipkan pakaian kebesaran untuk Gusti Macan yang bahannya terbuat dari sutera. Sesampainya di Blega, pakaian tersebut disampaikan kepada Gusti Macan, oleh Gusti Macan disambut dengan senang hati, maka pakaian kebesaran tersebut dipakainya untuk selimut tidur. Alangkah terkejutnya setelah bangun tidur badannya terasa kaku dan tidak berapa lama ia meninggal dunia. Orang mengira bahwa baju kebesaran tersebut diisi dengan racun, setelah Gusti Macan meninggal maka Pangeran Blega menjadi gelisah, takut kalau Blega nanti diserang kembali oleh pasukan Arosbaya. Karena Gusti Macan yang selama ini ia andalkan sudah tidak ada lagi. Dengan adanya hal itu, maka Pangeran Blega menyerah dan tunduk kepada kakaknya (Pangeran Tengah) Arosbaya.

Dalam tahun 1621 Pangeran Tengah meninggal dunia dan ia tidak mempunyai putra dewasa untuk menggantikannya. Satu-satunya anak yang ditinggalkan ialah Raden Praseno yang masih dibawah umur. Ia dibawa pulang oleh ibunya ke Madekan (Sampang), sedangkan yang melanjutkan atau menggantikan Pangeran Tengah adalah Pangeran Mas, adik dari Pangeran Tengah... [DI]


Diketik Ulang Oleh : Bangkalan Memory

Dikutip dari :
Makam Kuno “AERMATA” di Arosbaya Bangkalan.
Oleh :
Agus Dwi Tjahjana
Previous
Next Post »
Thanks for your comment