Wasingrono Pengikut Trunojoyo yang Ditakuti Belanda

Wasingrono adalah kerabat dekat bupati Cakraningrat II, namun ia dikenal sebagai pengikut Trunojoyo yang militan. Pada awal tahun 1685 kompeni mengutus Jeremias van Vliet ke Jawa (saudagar kepala dagang kompeni) dengan pengawalan 190 prajurit bersenjata lengkap. Ia mendapat tugas menumpas bajak laut di Jawa dan menyelesaikan konflik di antara konsul dagang kompeni di Surabaya serta menyelesaikan persoalan intern para bangsawan Madura. 



Beberapa hari setelah tiba di Surabaya muncullah juga bupati Cakraningrat II, Ia tidak sendirian tapi disertai pemimpin bajak laut (Wasingrono) yang paling dicari-cari oleh kompeni. Wasingrono memang sengaja ingin unjuk gigi dihadapan van Vliet. 

Van Vliet tdk suka terhadap Cakraningrat II karena beliau suka melindungi kepala bajak laut yang kharismatik tersebut. Wasingrono semakin over acting dan beberapa waktu kemudian ia bersama rekannya (anak buahnya) nampang di depan kantor Karesidenan Soerabaia dan hal itu semakin membuat van Vliet gemes. Namun ia tetap berpikir jernih, maka ia perintahkan bawahannya yakni Martel dan Hirskorn yang berpura-pura sedang berjalan-jalan. Mereka berdua menyapa Wasingrono dan berjabat tangan dan ngobrol dengannya seperti layaknya sahabat yang sudah lama tidak bartemu. Kedua perwira rendahan itu kemudian mengundang Wasingrono dan beberapa orang anak buahnya untuk singgah dtempat peristirahatan mereka berdua. Nampaknya wasingrono agak lengah dan mudah terbujuk oleh oleh kedua bawahan van Vliet. Begitu Wasingrono dan anak buahnya tiba di penginapan tersebut ia langsung disergap oleh serdadu-serdadu kompeni.

Dalam arsip kompeni dilukiskan bahwa penangkapan pemimpin bajak laut yang paling disegani itu (Wasingrono) adalah sungguh diluar dugaan. Ia benar-benar diperlakukan sebagai bandit, tangan dan kakinya di ikat lalu dijebloskan ke penjara. Dan setelah melalui proses pengadilan yang cukup lama, ia dijatuhi hukuman mati. Cakraningrat II tidak bisa melakukan apa-apa walaupun ia sangat melindungi dan menyayangi Wasingrono. Untuk menghindari hal-hal yang tak di inginkan, terutama menjaga perasaan Cakraningrat II, maka pelaksanaan hukuman terhadap Wasingrono itu sengaja diserahkan oleh kompeni pada pihak mataram. Wasingrono sama sekali tidak gentar tatkala dua kali ujung keris terhujam ke dadanya. Kepalanya lantas dipenggal dan ditancapkan ke ujung tombak lantas di arak disepanjang jalan-jalan di Kadipaten Soerabaia.

Tapi apa benar mereka itu bajak laut atau pemberontak? tentu saja itu semua tergantung dari sisi mana kita memandang. Kalau Pemerintah Belanda sangat jelas menyebutnya pemberontak. Akan tetapi kalau Rakyat Soerabaia apalagi Madura, mereka pasti menganggapnya sebagai pahlawan karena terbukti melawan penjajah. Terbukti selama bertahun-tahun mereka memberi perlindungan terhadap bajak laut itu. Apalagi Cakraningrat II, ia sangat melindungi Wasingrono.

Ketika Wasingrono tertangkap Cakraningrat II tidak bisa melakukan banyak hal, ia begitu sedih, karena Cakraningrat sendiri sebenarnya diam-diam sangat tidak suka terhadap VOC, mereka hanya berpura-pura mendukung pergerakan VOC. Pulau Madura waktu itu masih dikuasai oleh kekuasaan Kerajaan Mataram yang begitu kuat dengan dukungan VOC, maka dari itu Cakraningrat harus berpura-pura mendukung dan memihak kepada VOC.

Wasingrono merupakan pengikut Trunojoyo yang sangat militan, ia lbih banyak melakukan pemberontakan di laut (mereka mengatakan ia adalah bajak laut) Wasingrono pun banyak tidak disukai oleh para petinggi kerajaan Mataram karrna ia juga tak segan-segan mengambil harta benda dari kapal kerajaan mataram yang melewati selat madura. pergerakan perlawanan Trunojoyo pun sebenarnya didukung secara diam-diam oleh Cakraningrat II dan dia sendiri sebenarnya ingin berkuasa keseluruhan tanpa berada dibawah pengaruh kekuasaan Kerajaan Mataram.



Oleh : Nuzul Fahmi
0 Comments
Comments Tweets
Comments Facebook

0 komentar: