Sejarah Tembakau di Madura

Dalam bukunya “Madura Dalam Empat Zaman” : Pedagang Perkembangan Ekonomi, dan Islam” (1989 : 45), Huub de Jonge menulis bahwa timbul nya dan penyebarluasan penanaman tembakau komersial di Madura sangat banyak ditentukan oleh perkembangan agraris di pualu tetangga Jawa. Baik tanaman perdagangan waktu sistem Tanam Paksa maupun pertanian perkebunan dalam tahun-tahun kemudian, secara tidak langsung mempunyai arti penting bagi budidaya tembakau rakyat Madura.

Tulisan Huub de Jonge di atas merupakan bukti sangat sederhana bahwa proses tataniaga di Ma dura, sebenarnya merupakan tradisi impor yang datang dari luar Madura dan bukan merupakan tradisi asli masyarakat Madura. Walaupun, kini tem bakau telah menjadi bagian dari Madura Tembakau dan Madura telah menjadi satu bagian yang notabene tidak bisa terpisahkan.

Bahkan, kini tembakau madura menjadi tembakau yang selalu diperhitungkan. Tidak heran kalau pada gilirannya tembakau Madura menjadi incaran pengusaha, karena kualitas yang sulit ditemukan di daerah-daerah lain di luar madura. Tembakau Madura sepertinya telah menjadi idiomfaktual yang menaburkan aroma harum dan enak sebagai konsumsi rokok.

Tembakau Prancak misalnya, merupakan tembakau idaman di daerah Kabupaten Sumenep yang diyakini memiliki kualitas sebagai tembakau terbaik dalam konteks lokal Sumenep, bagi masyarakat Prancak Pasongsongan ini, musim tembakau benar-benar menjadi musim terindah dengan kenikmatan uang yang berlimpah akibat panen tembakau. Bisa jadi, bagi masyarakat Prancak, musim tembakau merupakan musim kemenangan yang selelu ditunggu dan ditunggu.

Artinya, walaupun tembakau merupakan tradisi impor dari luar Madura, ternyata tanah Madura yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai tanah yang meranggas dan tidak produktif, pada sisi yang lain menyimpan potensi tembakau yang tidak bisa disepelekan. Madura diakui ataupun tidak telah menjadi penyumbang tanaman yang tidak bisa disepelekan. Karena tembakau yang dilahirkan dari rahim tanah Madura telah membuktikan sebagai salah satu tembakau yang sangat bernilai dan menjadi rebutan pabrik rokok.


Karena secara historis, usaha untuk mentembakaukan Madura pada awalnya tidak lepas dari rin tangan dan penuh dengan liku-liku, sebelum masuk ke Madura proses uji coba penanaman tembakau di Madura tidak seperti yang terjadi saat ini. Pertimbangan-pertimbangan dari Pemerintah Belanda pada waktu itu benar-benar menjadi alasan betapa penanaman tembakau di Madura menghadapi rintangan. Stigma klasik tanah Madura yang tidak produktif menjadi catatan bagi pemerintahan ketika itu untuk mempertimbangkan penanaman tembakau di bumi Madura.

Menuru Huube de Jonge (hlm. 148), di Madura dalam tahun 1830 diadakan percobaan dengan tembakau. Namun residen Surabaya segera memberitahukan kepada Gubernur Jenderal, Madura sama sekali tidak cocok untuk penanaman tembakau. Lahan-lahannya yang rendah penuh dengan batu-batu dan tanahj yang tinggi mengandung terlalu banyak kapur. Lagi pula sangat kekurangan air, sehingga “semua budidaya tanaman yang membutuhkan pengairan atau kelembaban, tidak akan berhasil disana”. Karena ekspremen dengan tanaman-tanaman lain, pada waktu itu Madura selamat dari tanaman paksa yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial.


Namun demikian, menurut Huube (halaman 149), orang-orang Madura dapat mengenal penanaman tembakau dengan cara lain. Banyak orang Madura dalam waktu singkat atau lama memperoleh pekerjaan di budidaya tembakau gubernemen di Jawa. Para migran ini bekerja sebagai kuli di gudang-gudang tembakau atau dengan menerima bayaran, mereka mengganikan petani jawa, yang dengan jalan ini dapat melepaskan diri dari kerja paksa.

Setidaknya sejak itulah, orang-orang Madura mulai dapat mengenal budidaya tembakau, yang pada gilirannya menjadi tanaman unik dan idaman masyarakat Madura. Tembakau dalam bahasa yang terlalu ideal bisa disebut telah menjadi pangkuan utama bagi masyarakat Madura sepanjang masa. Orang-orang Madura sampai kini mungkin masih menganggap tembakau sebagai dewa penolong yang selalu menaburkan berkah dan diidamkan dalam setiap tahun.

Selanjutnya, darimanapun asal mula penanaman tembakau, hari ini Madura telah membuktikan sebagai daerah produk tif untuk budidaya tembakau. Asumsi yang pernah ditakutkan oleh Pemerintah kolonial Belanda dulu, ternyata tidak bisa dija dikan sebagai kesimpulan untuk mengatakan Madura sebagai daerah kering yang tidak bisa menyimpan apa-apa. Madura memang meranggas, tetapi tidak sepenuhnya, karena budidaya tembakau yang setiap musim menjadi primadona masyarakat Madura menjadi bukti konkrit tentang Madura yang sebenarnya. Tembakau Madura masih tetap bisa diandalkan... [DI]



Photo Koleksi : Collectie Tropenmuseum
Previous
Next Post »
Thanks for your comment