Melacak Jejak Empu Keris Madura

Kesulitan untuk menelusuri jejak para empu keris di Madura sejalan dengan kesulitan yang dialami Kuntowijoyo dalam penyusunan desertasinya bahwa akses kepada dokumen-dokumen keraton yang sulit didapat. Sejauh ini, penelitian telah merangkum dan mendokumentasi cerita-cerita tutur dan alur pewarisan ilmu pengetahuan empu dari para empu dan pengrajin generasi pertama sejak pertengahan abad 20 yang masih hidup. 


Untuk melacak rekam jejak sebelum itu, kesaksian dari para narasumber masih perlu dikroscek lagi. Namun, sebagai sebuah data, pengarsipan sumber sejarah lisan yang telah dilakukan bisa menjadi gerbang awal untuk menelusuri lebih lanjut seperti apa suasana perempuan yang terjadi di Madura, khususnya Sumenep pada dekade pertengahan abad 19. Perihal ini akan dibahas di fragmen-fragmen selanjutnya dalam tulisan ini.

Sejauh penelusuran dari arsip Belanda milik Royal Tropical Institute yang telah digitalisasi dan saat ini tersimpan dan terintegrasi dengan arsip milik perpusatakaan Universitas Leiden, hanya menemukan potongan-potongan cerita yang tak terlalu berarti untuk merekonstruksi sejarah keris di Madura pada masa abad 19. Satu artikel yang paling panjang membahas keris adalah tulisan C.C.F.M Le Roux tahun 1946 tentang keris Madura. Pun itu juga tidak membahas tentang sejarah empu keris di Madura. Namun menganalisa ukiran-ukiran handle yang terdapat pada keris Sumenep yang disimpan di museum di Leiden. Hubungan antara ukiran-ukiran di handle keris-keris Sumenep yang bercorak sayap dan kuda terbang dengan ukiran-ukiran yang ada di keraton Sumenep serta folklore yang mengaitkan antara kuda sembrani dengan Djokotole.

Dua tulisan babon yang membahas Madura, desertasi Kuntowijoyo dan Huub de Jonge pun tak memberikan tempat untuk para empu dan pengrajin ini dibahas. Entah karena tidak ada kaitan dengan tema tulisan yang mereka tulis atau memang keterbatasan sumber yang membahas perihal itu. Hanya dikisahkan berdasar catatan residen Belanda pada tahun 1863, berbagai macam aktivitas jual beli di pasar yang terjadi di seluruh pelosok madura. Tidak seperti halnya di Jawa, pasar-pasar di Madura tidak penuh sesak. Biasanya pasar di kota kecil seperti pertemuan kecil di bawah naungan pohon-pohon besar dan di sekitar pohon itu orang-orang sibuk berusaha. Para perempuan dan laki-laki berdagang di dalam pasar (diceritakan bahwa yang laki-laki membawa tombak dan keris) (Kuntowijoyo, 1980).

Menarik kemudian kalau kita melihat salah satu buku karya Zainalfattah yang terbit tahun 1952. Pengertian Tentang Keris di Madura, walaupun pembahasan tentang bagaimana alur keturunan dan sejarah empu keris di Madura hanya berdasar folklore, namun di sisi lain tulisan ini cukup rinci membahas bagaimana orang Madura memaknai keris, pada pertengahan abad 20. 

Cerita rakyat yang berkembang di Madura tentang keris berkisah bahwa menurut ajaran orang-orang di zaman dahulu di kepulauan Madura, apabila seorang anak perempuan atau seorang istri atau seorang cucu hamil, maka orang berusaha membuat sebilah keris atau tombak untuk kelak kemudian hari diberikan kepada anak yang nanti akan dilahirkan. Besi yang dipakai untuk membuat senjata ditaruh di bawah tempat tidur, sedangkan bapak dari si anak yang berniat membuat keris ini bertapa atau berpuasa untuk mendapatkan wangsit (pertanda) yang baik dari Tuhan kapan ia dapat membuat keris. 

Apabila wangsit baik telah disampaikan entah melalui mimpi atau media sejenisnya, maka ia membawa dan menaruh sepotong besi tersebut ke tempat ramai, semacam pasar. Manakala potongan besi tidak terlihat oleh orang-orang di pasar, maka besi dapat diproses untuk membuat keris. Jika hal ini tidak terjadi, proses bertapa dilanjutkan sampai berhasil. Besi ini kemudian diberi nama besi tjalon. Besi untuk mengapit bahan besi pamor yang besinya berasal dari besi meteor (Zainalfattah, 1952).

Buku yang ditulis pada masa bupati Sumenep, R.T.A Pratamingkusumo ini membuktikan bahwa paling tidak pada masa buku ini ditulis, pengetahuan masyarakat Madura tentang keris sudah banyak. Zainalfattah juga menyebutkan bahwa cerita rakyat tentang keris di atas lahir dan berkembang dari masyarakat kelas bawah madura. Cerita tutur yang memang berkembang turun-temurun di pulau ini. Ada pengetahuan tentang pamor dan dapur beserta makna filosofi yang terkandung di dalamnya pengetahuan tentang besi, pengetahuan tentang marangi, pengetahuan tentang penjamasan dan lain sebagainya.

Di madura, alur genealogis dan pewarisan pengetahuan tentang dari mana asal empu keris yang sekarang ada di Sumenep memang cukup sulit dilacak. Beberapa cerita tutur yang kami dapatkan menyebutkan berulang-ulang tentang empu Keleng. Darimana dan siapa saja keturunan dari empu ini, entah. Beberapa cerita tutur yang ditulis oleh Zainalfattah memang menyebut empu-empu keris di tanah Madura. Namun, cerita ini perlu dikembangkan dan dikaji ulang lebih jauh dengan beberapa sumber tulis.

Di pulau Madura terdapat empat empu keris yang cukup terkenal. Mereka hidup di zaman menjelang akhir pemerintahan majapahit menjelang masuknya dan berkembang islam di tanah jawa. Bujut Modjopahit, empu pertama yang paling terkenal di Madura yang darinya kemudian menelurkan banyak murid di seluruh penjuru pulau. Salah satu muridnya adalah Bujut Palengghijan. Murid Bujut Modjopahit yang setelah lulus bekerja sendiri menjadi empu keris di tempat yang nama daerah tersebut diambil dari namanya, desa Palengghijan kawedanan Kedundung kabupaten Sampang. Di akhir masa hidupnya empu Bujut Modjopahit bertempat tinggal di pulau sebelah timur madura, pulau poteran atau biasa disebut masyarakat lokal dengan pulau tlango atau pulau gapurana. Kuburannya sekarang berada di desa Kombang pulau tersebut.

Empu kedua adalah empu Pekandangan, bapak angkat dari Jokothole. Menurut cerita berada di daerah Pekandangan, Sumenep. Satu lagi empu dari golongan ini adalah empu Keleng Pademawu di daerah Pamekasan. Sedangkan empu yang paling tua dari ketiga empu di atas adalah empu Nepa di daerah dekat Ketapang kabupaten Sampang. Disinyalir empu Nepa hidup sama dengan Raden Sagoro, laki-laki pertama di tanah madura. Diantara zaman keraton Pajang dan Mataram, ada seorang empu yang terkenal dengan nama kijahi Supo, saudara ipar dari Sunan Kalijogo.

Kijahi Supo merupakan empu paling pandai di jamannya. Empu dari keris yang bernama kijahi Sengkelat, salah satu keris keraton. Pada suatu ketika kijahi Sengkelat hilang dicuri. Pencarian telah dilakukan dengan hasil yang sia-sia. Kjahi Supo kemudian dipanggil sunan Kalijogo untuk menelusuri seluk-beluk pulau jawa guna mencari keris kijahi Sengkelat. Melalui perjalanan ini kemudian kijahi Supo menurunkan ilmu kebanyak empu di jawa dan madura.

Di Tuban, Kijahi Supo bermukim kemudian menamai dirinya kijahi Tapen. Masih di daerah Tuban yang lain kemudian dia berpindah, dan menamai dirinya Kijahi Sukolipuro. Selang beberapa waktu, dia berpindah ke Surabaya dan menamai dirinya kijahi Romojati dan di tempat lain di Surabaya menamai dirinya Kijahi Kembang Djepun. Dari Surabaya, berpindah ke Bangkalan, bermukim di kampung Bara’ Tambha dan menamai dirinya dengan kijahi Brodjoguno. Keris hasil karyanya pada masa itu dikenal di Madura dengan sebutan Bhadjhra Ghuna. Salah seorang temannya yang ikut serta bermukim di Dhuko anjar yang sekarang tempat tersebut masuk dalam kawasan dua desa, Dhlemer dan Kobanjar. Keris buatannya terkenal dengan nama Kobanjar dan Dhlemer. Selanjutnya, pada masa panembahan Tjakraningrat II (Sidhing Kamal), kijahi Supo pindah ke desa Tonjhung.

Dari Bangkalan, beliau pindah ke timur ke Pamekasan, bertempat tinggal di desa Gherra Mandjheng. Di sana ia menamakan dirinya kijahi Koso. Di Pamekasan, ia meminang istri dan melahirkan dua orang anak, kijahi Masana dan kijahi Tjitronolo yang kemudian sama-sama menjadi empu keris.

Seorang teman kijahi Supo juga bermigrasi ke Madura. Bertempat tinggal di Barurambat, yang sekarang menjadi sebuah desa di sekitaran kota Pamekasan. Seorang yang bernama kijahi Dukun, yang kuburannya masih dikunjungi orang dengan sebutan djharat dhukon. Dia bekerja bersama kijahi Koso di daerah Gherra mandjheng. Keris yang dibuat mereka dinamai oleh orang dengan sebutan Koso Madhuro dan Barurambat. Kemudian rombongan kijahi Dukun dan kijahi Koso ini berpindah ke desa Banju aju di daerah Sumenep, dan seseorang yang bernama kijahi Bromo bertempat di desa Pandejan. Desa Banju aju sekarang menjadi desa di daerah kawedanan Batang-batang dan desa Pandejan sekarang menjadi desa Pandijan di kecamatan kota Sumenep. Kemudian kijahi Supo berpindah lagi ke desa Karang Duwa’ di kota Sumenep. Keris buatannya di Banju-aju disebut keris Banjuaju, di Karang Dhuwa disebut keris Djudha ghate (tisno gati), sedangkan buatan kijahi Bromo dikenal orang dengan keris Bhramabato.

Di Sumenep kijahi Supo dan beberapa temannya tinggal lebih lama dari tempat lain yang mereka singgahi. Sehingga di daerah ini mereka menelurkan dan sekaligus mewariskan ilmu ke banyak murid dalam hal pembuatan perkakas dari besi dan keris, diantaranya di kampung Barungbung kota Sumenep dan desa Barungbung di kawedanan Batang-batang, dekat desa Banju aju. Perjalanan kijahi Supo di pulau madura berakhir di Sumenep. Pencarian keris kijahi Sengkelat berlanjut ke daerah Blambangan yang sekarang kita kenal dengan Banyuwangi.

Metode dan cara pewarisan pengetahuan yang dilakukan kijahi Supo bersama dengan kijahi Dukun dan kijahi Bromo konsisten pada saat mereka bertempat dalam hal ini lebih tepat menggunakan kata singgah- di daerah yang mereka lewati, mulai dari Tuban sampai Sumenep. Cara yang mereka lakukan ini yang kemudian melahirkan banyak pandai besi yang di Madura, cikal bakal dari empu-empu keris Madura.

Beberapa nama yang kemudian dikenal sebagai empu keris madura, murid salah satu dari keempat empu keris yang telah disebut di atas antara lain: empu Bhira yang bertempat tinggal di tempat yang sekarang terkenal dengan nama desa Bhira-tengah, kawedanan Ketapang, kabupaten Sampang; empu Chatib Omben yang membuat keris di tempat yang sekarang menjadi desa Omben Kawedanan di wilayah kabupaten Sampang; empu Tjombhi di desa Tjombhi kawedanan Kedundung kabupaten Sampang; empu Blega (Bhaligha) membuat keris di tempat yang sekarang menjadi desa Blega kawedanan Blega kabupaten Bangkalan; empu Pakong yang membuat keris di tempat yang sekarang menjadi desa Pakong kawedanan Pegantenan kabupaten Pamekasan; empu Blumbungan di desa Blumbungan kawedanan Bulaj kabupaten Pamekasan; empu Pangolo Bagandan membuat keris di tempat yang sekarang menjadi sebuah nama untuk desa Bagandan kawedanan dan kabupaten Pamekasan; empu Tambak Agung membuat keris di daerah yang sekarang dikenal dengan nama desa Tambak Agung, kawedanan Ambunten kabupaten Sumenep; empu Ario Patjinan membuat keris di kampung Patjinan yang sekarang menjadi kota Sumenep.

Beberapa raja Sumenep juga terkenal sebagai sultan sekaligus pembuat keris terminologi yang digunakan Zainalfattah adalah pembuat, bukan empu. Sultan Pakunotoningrat, ayahnya yang bernama Panembahan Sumolo (Notokusumo I), raden Bandjir alias Pangeran Adipati Ario Suriokusumo adalah para pembuat keris juga. Seorang kyai alim ulama bernama kijahi Imam (Bujut Patjangakan) di Sumenep sering disebut sebagai kyai pembuat keris. Panembahan Adipudaj dikatakan juga sering membuat keris.

Sebagai sebuah cerita rakyat, tahun-tahun kejadian para empu tersebut eksis di Madura memang terlalu bias. Namun seperti apa yang telah disampaikan di atas, minimal pada pertengahan abad 19, di pasar-pasar para laki-laki telah banyak membawa tombak dan keris sebagai senjata saat keluar rumah. Politik Verslag tahun 1862 sebagai sebuah catatan klasifikasi pekerjaan-pekerjaan orang-orang Madura mencatat terdapat 162 pandai besi yang tersebar di seluruh Madura. Pun dengan pembuat warangka. Ada 9 mranggi dan 16 mranggis tukang rongko pada pencatatan tahun itu. Mereka, seperti yang dikatakan Kuntowijoyo, menjajakan hasil garapan warangkanya di pasar-pasar besar dan kecil di seantero Madura (Kuntowijoyo, 1980).



Sejalan dengan catatan kolonial di atas, sebuah wawancara dengan pak Ahmad Ghofar di daerah Lenteng Barat, yang beliau adalah keturunan ke tujuh dari seorang pandai besi sekaligus empu keris yang bernama je’ Pande. Jika ditarik pada masa je’ Pande hidup dengan perkiraan selisih tahun dari tiap generasi adalah 20 tahun, maka akan sama tahunnya (sekitar pertengahan abad 19) dengan apa yang ditulis dengan Kuntowijoyo. Minimal pada masa itu telah terdapat pandai besi keris dan keris di Madura tidak menjadi barang dominasi keraton, namun telah dibuat dan diperjualbelikan di masyarakat bawah Sumenep.

Hal ini didukung dengan catatan di Kolonial Verslag tahun 1892 yang mencatat bahwa terdapat 296 pembuat senjata dan 54 pembuat alat-alat rumah tangga (Kuntowijoyo, 1980). Mengacu pada pengklasifikasian keris sebagai senjata dan beberapa pandai besi pembuat alat-alat rumah tangga dan pertanian bisa jadi sekaligus pembuat keris, maka bisa diperkirakan bahwa sampai pada akhir pertengahan abad ke 19, di Madura dari sebagian jumlah pembuat senjata dan pembuat alat-alat rumah tangga di atas ada pengrajin dan empu keris. Seberapa besar golongan pandai besi yang menekuni pembuatan keris ini memang masih menjadi persoalan karena catatan selanjutnya tidak menjelaskan lebih rinci hal-hal demikian.


Tidak ada catatan-catatan setelah tahun-tahun ini tentang klasifikasi pekerjaan di Madura. Namun, menurut pengakuan pak Murka’ (72 tahun), mbah Tayyam, kakeknya adalah seorang maranggi (pembuat warangka). Pun dengan keturunan-keturunan di bawah pak Tayyam. Mereka adalah keluarga maranggi. Jika digunakan cara yang sama untuk melihat selisih tahun antar generasi (20 tahun), maka data ini kemudian sejalan dengan Kolonial Verslag tahun 1892, yang menyatakan bahwa telah terdapat para pembuat warangka di Sumenep pada tahun-tahun tersebut.

Yang terputus kemudian adalah fakta tentang pewarisan ilmu pengetahuan keris dari je’ Pande ke generasi-generasi di bawahnya. Karena data dari Kolonial Verslag hanya mencapai tahun 1892, sedangkan pencarian fakta dengan melakukan penggalian narasumber sebanyak-banyaknya tidak menemukan fakta-fakta telah ada pandai besi peralatan pertanian dan keris pada masa setelah itu. Sebuah hipotesa tercetus bahwa ada kemungkinan kasus di Sumenep mirip dengan apa yang terjadi di Gunung Kidul pada masa yang sama. Pandai besi tidak beroperasi karena ketakutan yang luar biasa kepada pemerintah kolonial Belanda akan adanya razia barang-barang logam yang akan dibuat senjata bagi prajurit dan serdadu mereka. Pun sama dengan masa Jepang seperti yang dituturkan pak Jemar (90 tahun), paman dari pak Murka’. Pada masa itu, mereka mengubur keris di tanah dan pekarangan rumah. Beberapa dimasukkan wadah dan ditanam di bawah sumur.

Menjadi penting untuk lebih kemudian menelusuri fakta-fakta yang terputus pada dekade akhir abad 19 dan awal abad 20. Kembali melihat jalur pewarisan ilmu pengetahuan keris melalui alur genealogi yang sekarang para keturunannya tersebar di 3 kecamatan: Saronggi, Lenteng dan Bluto di Sumenep. Penjelasan lebih rinci dari jalur genealogis pengrajin dan empu keris di Sumenep akan dipaparkan di fragmen selanjutnya dalam tulisan ini. Pak Murka’ sebagai generasi pertama pengrajin dan empu keris di Sumenep pada dekade pertengahan abad 20, akan menjadi kunci kita untuk melihat pewarisan-pewarisan ini sebelum beliau dan kepada murid-murid setelah beliau. Seorang guru yang kemudian menelurkan banyak murid serta mewariskan banyak ilmu... [DI]


Oleh : W.H Rassers 


Bahan Literatur :
  1. Abd. Latif Bustami. Sejarah, Etos Masyarakat dan Perilaku Sosial Orang Madura dalam Aswab Mahasin dkk (eds.). Ruh Islam Dalam Budaya Bangsa. Jakarta: Kumpulan Karangan, 1996.
  2. Abdurachman. Sejarah Madura Selayang Pandang. Sumenep: Sun. 1971
  3. Breman, J.C. The Desa on Java and the Early Colonial State. Rotterdam: CASP.
  4. Djoko Soekiman. Keris: Sejarah dan Fungsinya. Seri Penerbitan Proyek Javanologi. Yogyakarta: Proyek Javanologi, 1983.
  5. Geertz, Clifford. Involusi Pertanian : Proses Perubahan Ekologi di Indonesia. Jakarta : Bhratara Karya Aksara, 1983.
  6. I Kuntara Wiryamartana (eds). Keris: Dua Tulisan W.H. Rassers. Naskah tidak diterbitkan.
  7. Jonge, de Huub. Madura Dalam Empat Zaman: Pedagang, Perkembangan Ekonomi dan Islam: Suatu Studi Antropologi Ekonomi. Jakarta: Gramedia, 1989.
  8. Kuntowijoyo. Perubahan Sosial Dalam Masyarakat Agraris: Madura 1850 – 1940. Yogyakarta: Mata Bangsa, 2002.
  9. Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern: 1200 – 2004. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2005.
  10. Zein M. Wiryoprawiro. Arsitektur Tradisional Madura Sumenep: Dengan Pendekatan Historis dan Deskriptif. Surabaya: Laboratorium Arsitektur Tradisional ITS, 1986.
  11. Zainalfattah. Kebudajaan: Pengertian Tentang Keris di Pulau Madura. Pamekasan, 1952.
  12. Artikel
  13. C. F. M. LeRoux. Madoereesche Krisheften. 1946. Diakses dari http://colonial.library.leiden.edu/ pada tanggal 13 Oktober 2014 pukul 14.00 WIB

Previous
Next Post »
Thanks for your comment